Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)

Selasa, 03 Maret 2009

Kisah Muslimah Jerman



Kisah Muslimah Jerman
Disalin dari majalah Qiblati

Aku pernah berkunjung ke sebuah markas Islam di Jerman. Ku lihat di sana ada seorang wanita berhijab (jilbab) syar’i yang menutupi seluruh tubuhnya. Sedikit sekali ditemukan wanita seperti itu di negeri barat. Aku pun memuji Allah Subhanallahuwata’ala atas hal tersebut. Kemudian salah seorang ikhwan (laki-laki) memberi isyarat kepadaku untuk mendengarkan kisah keislamannya langsung dari suami wanita tersebut. Maka ketika aku duduk bersamanya, dia pun bercerita…..
Istriku adalah seorang wanita Jerman asli.Demikian pula orang tua dan nenek moyangnya. Dia seorang dokter spesialis penyakit wanita dan kandungan. Dia memberikan perhatian khusus kepada terhadap penyakit-penyakit kelamin yang menimpa kaum wanita. Kemudian ia melakukan berbagai penilitian atas banyaknya kaum wanita yang berpenyakit kelamin yang datang ke polikliniknya. Salah seorang dokter spesialis menyarankan agar dia pergi ke Negara lain, untuk menyempurnakan penelitiannya pada lingkungan yang secara relatif berbeda.
Maka pergilah ia ke Norwegia, selama 3 bulan. Ternyata dia tidak mendapati sesuatu yang berbeda dari yang telah dilihatnya di Jerman. Kemudian ia memutuskan untuk bekerja di Arab Saudi selama setahun.
Berkatalah dokter wanita tersebut,
“ Ketika aku berkeinginan kuat untuk hal tersebut, aku mulai membaca bacaan tentang suatu daerah, sejarah, dan peradabannya. Aku merasakan adanya pelecehan yang besar terhadap kaum wanita muslimah. Aku heran, mengapa mereka rela dengan kehinaan hijab dan pengekangannya, dan bagaimana mereka bersabar, sementara mereka dihinakan dengan kehinaan ini! Tatkala aku sampai di Saudi, aku baru tahu, kalau aku terpaksa mengenakan abayah (jubah hitam panjang yang menutupi ke dua pundakku). Aku pun merasakan kesempitan yang sangat luar biasa, seakan-akan aku mengenakan tali besi yang membelenggu dan melumpuhkan kebebasan dan kehormatanku!! Akan tetapi aku memnilih untuk menanggung itu semua dengan harapan agar aku bisa menyempurnakan penelitian ilmiahku.
Tinggallah aku bekerja pada sebuah poliklinik selama empat bulan. Aku telah melihat kaum wanita dalam jumlah besar, akan tetapi aku tidak mendapati satu orang wanita pun yang memilki penyakit kelamin. Mulailah aku meras cemas dan bosan.
Hari pun terus berlalu, hingga aku telah menyempurnakan masa kerjaku selama tujuh bujan. Hingga suatu hari, aku keluar dari poliklinik dalam kedaan marah. Kemudian salah seorang perawat muslimah bertanya kepadaku tentang sebab kemarahanku tersebut. Aku pun mengabarkan kekecewaanku karena tidak mendapati penyakit kelamin yang ku cari. Dia pun tersenyum dan berkata lirih dengan bahasa arab yang tidak dapat aku pahami.
Aku bertanya kepadanya, “Apa yang kamu katakan tadi?
Dia menjawab, “Itu adalah buah kesucian dan konsekuensi dari firman Allah Subhanallahuwata’ala, “Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya (QS. Al-Ahzab : 35).”
Ayat ini mengguncangkan jiwaku, dan mengenalkan hakikat sesuatu yang tidak ku ketahui. Itulah jalan pertamaku untuk mengenal Islam dengan benar. Aku pun membaca Al Qur’an dan Hadits Nabi Sallahualaihiwassalam, hingga Allah melapangkan dadaku untuk memeluk Islam. Aku yakin bahwa kehormatan dan kemuliaan seorang wanita ada pada hijab dan kesuciaannya. Dan aku mendapati tulisan-tulisan barat tentang tentang hijab dan wanita muslimah kebanyakan di tulis dengan semangat barat arogan (congkak) yang tidak mengetahui kemuliaan dan sifat malu. Sesungguhnya nilai sebuah kehormatan tidak tertandingi oleh sesuatu pun, dan tidak ada jalan untuk menuju hal tersebut, kecuali dengan konsisten terhadap Kitabullah dan Sunnah Nabi Sallahualaihiwassalam. Dan kehormatan sorang wanita tidak akan hilang kecuali jika dia gunakan sebagai permainan oleh tangan-tangan westernisasi dan kepongahan media yang berbisnis dengan pornografi dan pornoaksi.
Dan perkara yang paling kita takutkan adalah kehancuran rumah tangga kaum muslimin, apabila kaum muslimin mengikuti terompet dan genderang barat, serta seruan orang-orang sekularis dan liberalis untuk meninggalakan kehormatan hijab, kesucian dan rasa malu serta akhlak yang telah dirumuskan oleh agama kita dengan manhaj yang sempurna bagi kehidupan manusia.
Diantara peringatan yang pantas diperhatikan adalah sebuah laporan belakang ini yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang penyebaran penyakit Aids di kawasan Arab. Penelitian yang telah diterbitkan tersebut sangat menyakitkan, menunjukan adanya fakta yang menyedihkan. Sungguh sangat disayangkan!!!
Sesungguhnya penyakit ini adalah buah busuk dari kebebasan akhlak dan penyimpangan terhadap lawan jenis. Buah dari peperangan sengit yang mematikan yang diarahkan oleh media massa terhadap akhlak dan adab Islam. Buah dari sapuan topan film dan sinetron menjijikan, yang disiarkan oleh banyak siaran stasiun televisi dari belahan barat sampai timur.
Buah dari ajakan terselubung para pengajak kenistaan dan kerusakan yang mendorong para pemuda dan pemudi Islam memenuhi teriakan Barat dengan mengatasnamakan kebebasan dan peradaban. Mereka menghiasai perbuatan keji dengan segala warna perhiasan yang menipu. Sesungguhnya keselamatan dari penyakit tersebut dan yang semacamnya tidak ada kecuali dengan jujur kembali ke kolam kesucian, dan mendidik umat di atas kesucian dan sifat malu, serta di atas murqabah (merasa diawasi oleh Allah Subhanallahuwata’ala secara tersembunyi dan terang-terangan). Maka hendaklah pena-pena kotor yang senantiasa menyebarkan kekejian , mengajak putra-putri kita untuk terjerumus ke dalam Lumpur kehinaan dengan mengatasnamakan kemajuan tersebut diam, dan bungkam….!
Hendaklah suara-suara setan yang menebarkanajakan untuk menanggalkan hijab, ajakan untuk ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan) dengan mengatasnamakan kebebasan dan peradaban diam….! Sungguh Allah Subhanallahuwata’ala telah berfirman
“ Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mnengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur : 19)
Terakhir, saya menilai bahwa permasalahan terbesar yang dihadapkan kepada para da’I dan para muslihin (orang-orang yang memperbaiki ) adalah mengadakan pendidikan dan pembinaan masyarakat, yang di bawahnya para pemuda dan pemudi Islam bernaung, terjauhkan dari percikan keburukan dari para penyeru sekulerisme dan kebatilan.
Firman Allah Subhanallahuwatya’ala:
Dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatamnya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut ( nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar
(QS. Al-Ahzab : 35)