Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)

Senin, 08 Februari 2016

Imam Syafi’i Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi

Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi’, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi’i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi’, sendiri termasuk sahabat kibar(senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja. Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kunyahUmmu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukanistinbath.
Waktu dan Tempat Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 150. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.
Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.
Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.
Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi’bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi’i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, ‘Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.’” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ -yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah -ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma’il bin Ja’far, Ibrahim bin Sa’d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan -satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi’i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi’i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu’, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi’ah. Bahkan Imam Syafi’i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Quran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi’i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma ‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi’i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabaryang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi’i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh -yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi’i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.
Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi’i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya.” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi’i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.
Wafatnya
Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.
Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi’i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?”Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus.”
Karangan-Karangannya
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.
Sumber:
  1. Al-Umm, bagian muqoddimah hal. 3-33
  2. Siyar A’lam an-Nubala’
  3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi ‘i, Cirebon
***
Sumber: Majalah Fatawa
Penyusun: Ustadz Arif Syarifuddin
Dipublikasikan kembali oleh www.muslim.or.id

Rabu, 29 April 2015

Beriman kepada Takdir

Bolehkan membicarakan takdir?1

Sebagian orang melarang membicarakan takdir, dengan alasan hal itu akan menimbulkan keraguan dan kebingungan, terlebih adanya nash yang melarang seseorang untuk terlalu dalam membicarakan masalah takdir. Akan tetapi disisi lain, kita temukan dalil dalil Al Qur’an maupun As Sunnah yang menjelaskan tentang takdir, serta percakapan antara Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan para sahabatnya dalam rincian masalah takdir. Begitu juga kalau kita membaca perjalanan hidup pendahulu kita dari kalangan salaf, akan kita dapati banyaknya pembicaraan mereka dalam rincian masalah takdir.
Maka hal yang benar adalah, membicarakan takdir diperbolehkan, dengan syarat harus dilakukan dengan metode ilmiah yang benar, yang disandarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya bersandarkan kepada akal semata, tidak juga hanya untuk sebagai ajang perdebatan. Apalagi jika pembicaraan masalah ini, menunjukan kita kepada kebenaran, maka tidaklah dilarang, bahkan bisa jadi diwajibkan.

Apa perbedaan antara qadha dan qadar?2

Dua kata ini banyak kita jumpai dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maupun dalam kitab kitab yang berbicara tentang takdir. Lalu apa perbedaan antara keduanya? Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa qadha dan qadar maknanya sama, tidak ada perbedaan sama sekali.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qodar adalah penetapan adapun qodho adalah penciptaan apa yang sudah ditetapkan. Sebagaimana diketahui bahwa takdir ada empat tingkatan, ketika Allah berkehendak kemudian menuliskannya ini yang dinamakan qadar. Kemudian ketika terjadi dan diciptakan ini yang dinamakan qadha. Maka dua hal ini sesuatu yang berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Ketika Allah menghendaki dan menetapkan sesuatu (qodar) Allah pasti akan menciptakannya (qadha). Ulama yang lain mengatakan sebaliknya; qadar adalah penetapan dan qadar adalah penciptaan.
Tapi yang paling benar adalah, bahwa kata qadha dan qadar ketika dipisah, disebutkan sendiri sendiri, maka masing masing kata mewakili kata yang lain. Ketika disebut kata qadha maka masuk di dalamnya qadar. Dan ketika disebut kata qadar masuk di dalamnya makna qadha. Namun ketika kedua duanya disebutkan secara bersamaan, maka qadha dan qadar memiliki makna masing masing sebagaimana disebutkan diatas.

Kenapa Allah menciptakan keburukan dan mentakdirkannya?

Sebagian orang sering bertanya tanya akan hal ini. Jika Allah Maha kuasa, dan Allah memerintahkan kepada kebaikan, kenapa Allah menghendaki keburukan dan mentakdirkannya? Jawaban hal ini adalah bahwa Allah tidak menghendaki dan menciptakan sesuatu yang bersifat buruk secara mutlak. Tapi dalam setiap keburukan yang Allah ciptakan, pasti terkandung hikmah yang baik. Dalam artian dari satu sudut pandang memang terlihat sesuatu yang buruk, namun jika dilihat dari sudut pandang lain akan terlihat bahwa disana ada hikmah yang baik yang Allah kehendaki.3
Sebagai contoh, kenapa Allah menciptakan iblis? bukankah iblis dan bala tentaranya menyesatkan manusia dari jalan Allah? jawabannya karena Allah menghendaki dengan adanya iblis manusia akan teruji, mana yang benar benar beriman dan mana yang hanya main main. Allah ingin mengangkat derajat orang beriman dengan ujian berupa iblis.
Contoh yang lain, kenapa Allah menciptakan nyamuk? Padahal kalau dilihat sekilas mata, nyamuk hanyalah makhluk pengganggu yang tidak ada manfaatnnya sama sekali. Kalau kita melihat lebih detail, bukankah dengan nyamuk orang akhirnya berusaha membuat obat nyamuk, yang dengannya lahir pabrik obat nyamuk, yang disana ribuan orang bekerja untuk mencari nafkah?! Berapa orang yang akan menganggur jika tidak ada pabrik obat nyamuk?!
Maka segala sesuatu yang ditakdirkan Allah pasti mengandung hikmah, baik yang diketahui maupun tidak diketahui oleh manusia.

Apakah takdir bisa dirubah?

Ada beberapa nash yang menunjukan bahwa umur, ajal, dan rizki seseorang bisa dirubah dengan amalan tertentu. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahmi4 dan sabda beliau, “tidak ada yang merubah takdir kecuali doa dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan5. Padahal sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa takdir sudah dicatat jauh sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Apakah ini berarti takdir bisa dirubah?
Jawabannya ada dalam firman Allah ta’ala (yang artinya), “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (Qs. Ar Ra’du : 39)
Secara umum penetapan takdir terbagi menjadi dua6, yang tertulis di lauhul mahfudz dan yang tertulis di lembarang lembaran yang dibawa oleh para malaikat. Ayat tadi menjelaskan bahwa Allah menghapus dan menetapkan apa yang dia kehendaki, itu maksudnya dalam lembaran lembaran yang berada di tangan malaikat. Dan Allah memiliki Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz) sebagai patokan. Bahwa apa yang berubah dilembaran para malaikat akan sesuai dengan apa yang ditulis di lauhul mahfudz.
Sebagai contoh, seseorang telah ditetapkan bahwa masa hidupnya adalah delapan puluh taun. Kemudian ditulis di lauhul mahfudz. Namun ketika di alam kandungan, Allah memerintahkan malaikat untuk menulis bahwa umurnya hanya akan mencapai tujuh puluh tahun. Jika dia bersilaturahmi (dan Allah maha mengetahui bahwa dia akan bersilaturahmi), Allah akan memerintahkan malaikat untuk menambah umurnya menjadi delapan puluh tahun, sebagaimana tertulis di lauhul mahfudz. Dan malaikat tidaklah mengetahui, apakah umur orang tersebut akan bertambah atau tidak. Karena tidak ada yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfudz kecuali Allah ta’ala.
Wallahu ‘Alam bis Showab.
***
Catatan kaki
1 Lihat Rosaail fil Akidah, Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, hal. 377
2 Lihat Mushtolahat fie kutubul Aqooid, Muhammad Bin Ibrohim Al Hamd, hal. 174-175
3 Al Qadha Wal Qadar, Dr Sulaiman Al Asyqor hal. 70-71
4 HR. Bukhori no. 5640 dan Muslim, no. 2557
5 HR. Ibnu Hibban dan Hakim. Hakim berkata, “isnadnya sohih”
6 Al Qadha Wal Qadar, Dr Sulaiman Al Asyqor hal. 67

Penulis: Abdullah Hazim
Artikel Muslim.Or.Id

Kamis, 16 April 2015

Fatwa Para Ulama tentang Kisah Fiksi


هل يحل في الإسلام تأليف الكتب الخيالية أم يعتبر هذا نوعاً من الكذب؟

Pertanyaan, “Apakah di dalam Islam diperbolehkan menulis buku cerita fiksi atau cerita fiksi dinilai sebagai bagian dari dusta?”
الفتوى
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “حدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج” رواه أحمد وأبو داود وغيرهما، وزاد ابن أبي شيبة في مصنفه: “فإنه كانت فيهم أعاجيب”.
وقد صحح الألباني هذه الزيادة
Jawaban, “Terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sampaikanlah cerita-cerita yang berasal dari Bani Israil dan itu tidaklah mengapa” (HR Ahmad, Abu Daud dll). Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah terdapat tambahan, “Karena sesungguhnya dalam cerita-cerita Bani Israil terkandung cerita-cerita yang menarik”. Tambahan Ibnu Abi Syaibah ini dinilai sahih oleh Al Albani.

قال أهل العلم: وهذا دالٌّ على حل سماع تلك الأعاجيب للفرجة لا للحجة، أي لإزالة الهم عن النفس، لا للاحتجاج بها، والعمل بما فيها.
Para ulama mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita Bani Israil yang menarik sekedar untuk hiburan, bukan untuk berdalil. Dengan kata lain, hanya untuk menghilangkan kegundahan hati, bukan untuk berdalil dan beramal dengan isi kandungannya.
وبهذا الحديث استدل بعض أهل العلم على حل سماع الأعاجيب والفرائد من كل ما لا يتيقن كذبه بقصد الفرجة، وكذلك ما يتيقن كذبه، لكن قصد به ضرب الأمثال والمواعظ، وتعليم نحو الشجاعة، سواء كان على ألسنة آدميين أو حيوانات إذا كان لا يخفى ذلك على من يطالعها.
هكذا قال ابن حجر الهيثمي – رحمه الله – من الشافعية.
Hadits di atas dijadikan dalil oleh sebagian ulama untuk menunjukkan bolehnya mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik dengan tujuan hiburan dengan syarat cerita tersebut tidak diketahui secara pasti kebohongannya. Sedangkan jika cerita tersebut sudah diketahui secara pasti kebohongannya maka boleh diceritakan dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat berani baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan asalkan semua orang yang membacanya pasti faham bahwa cerita tersebut hanya sekedar imajinasi atau karangan semata. Inilah pendapat Ibnu Hajar al Haitaimi, seorang ulama bermazhab syafii.
وذهب آخرون وهم علماء الحنفية إلى كراهة القصص الذي فيه تحديث الناس بما ليس له أصل معروف من أحاديث الأولين، أو الزيادة، أو النقص لتزيين القصص.
Di sisi lain para ulama bermazhab Hanafi berpendapat makruhnya kisah yang isinya adalah hal-hal yang tidak berdasar berupa kisah-kisah tentang kehidupan masa lalu atau memberi tambahan atau pengurangan pada kisah nyata dengan tujuan memperindah kisah.
ولكن لم يجزم محققو المتأخرين منهم كابن عابدين بالكراهة إذا صاحب ذلك مقصد حسن، فقال ابن عابدين رحمه الله: (وهل يقال بجوازه إذا قصد به ضرب الأمثال ونحوها؟ يُحَرَّر).
Akan tetapi ulama muhaqqiq (pengkaji) yang bermazhab hanafi dari generasi belakangan semisal Ibnu Abidin tidak menegaskan makruhnya hal tersebut jika orang yang melakukan memiliki niat yang baik. Ibnu Abidin mengatakan, “Mungkinkah kita katakan bahwa hukum hal tersebut adalah mubah jika maksud dari membawakan kisah tersebut untuk membuat permisalan dengan tujuan memperjelas maksud atau niat baik semisalnya? Perlu telaah ulang untuk memastikan hal ini”.
والذي يظهر جواز تأليف الكتب التي تحتوي قصصاً خيالياً إذا كان القارئ يعلم ذلك، وكان المقصد منها حسناً كغرس بعض الفضائل،
Kesimpulannya, diperbolehkan menulis buku yang berisi cerita fiksi dengan dua syarat:
a. Semua orang yang membacanya menyadari bahwa cerita tersebut hanyalah fiksi.
b. Maksud dari ditulisnya cerita tersebut adalah niat yang baik semisal menanamkan akhlak-akhlak mulia.
أو ضرب الأمثال للتعليم كمقامات الحريري مثلاً، والتي لم نطلع على إنكاره من أهل العلم مع اطلاعهم عليها، وعلمهم بحقيقتها، وأنها قصص خيالية لا أصل لها في الواقع.
والله أعلم.

Atau dengan tujuan sekedar membuat permisalan dalam proses belajar mengajar sebagaimana al maqamat karya al Hariri. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada satupun ulama di masa silam yang mengingkari al maqamat tersebut padahal mereka mengetahui adanya buku fiksi tersebut dan mereka mengetahui bahwa hakikat buku tersebut adalah kisah-kisah fiksi yang tidak ada di alam nyata”.
(Sumber:
http://www.islamweb.net/ver2/fatwa/ShowFatwa.php?Option=FatwaId〈=A&Id=13278)
02. No fatwa: 8493 tentang cerita yang ada dalam pelajaran ta’bir (membaca teks dalam pelajaran Bahasa Indonesia).
السؤال س: ما رأي فضيلتكم في القصص التي تطلب في المدرسة في مادة التعبير والتي تكون في غالبها قصصًا مكذوبة ولم تقع؟
Syeikh Ibnu Jibrin rahimahullah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apa pendapat Anda tentang teks bacaan yang ada dalam buku pelajaran ta’bir yang biasanya berupa cerita rekaan yang tidak pernah terjadi secara real di alam nyata?”
الاجابـــة
إذا عرف الحاضرون أنها قصص خيالية ابتكرها الكاتب، أو القاص لشحذ أذهان الطلاب واجتذاب أفهامهم وضرب الأمثلة لهم فلا بأس بها
Jawaban Syeikh Ibnu Jibrin, “Jika para hadirin (baca:murid) yang ada di kelas seluruhnya paham bahwa kisah tersebut semata-mata cerita fiksi yang dibuat oleh penulis atau guru yang mengisahkan cerita tersebut dengan tujuan menarik konsentrasi dan perhatian para murid atau sebagai permisalan maka hukumnya adalah tidak mengapa.
فقد أقر العلماء القصص المؤلفة كما في مقامات بديع الزمان الهمذاني ومقامات الحريري ونحوها مع أنه يُفضل أن يبحث عن قصص واقعية يصوغها بعبارته ويظهر ما فيها من المعاني والفوائد. والله أعلم.
Alasannya adalah karena para ulama (terdahulu) membolehkan kisah-kisah fiktif yang ada dalam buku Maqamat karya Badiuz Zaman al Hamdzani dan al Maqamat karya al Hariri dan buku-buku sejenis.
Akan tetapi yang lebih baik adalah mencari kisah-kisah nyata yang disampaikan dengan bahasa sendiri lalu guru menyampaikan pesan dan pelajaran yang terkandung di balik kisah tersebut”.
(Sumber: http://ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=8493&parent=4160)
03. Pertanyaan, “Apa hukum cerita fiksi islami?”
أما بالنسبة للسؤال الثاني : فالظاهر أن القصة إذا كانت متخيلة لأشخاص متخيلين بأحداث متخيلة فهي جائزة، مادام أن الشخص يقصد تقريب المعاني الشرعية، وتقريرها.
Jawaban Syaikh Dr Muhammad Bazmul,
“Yang tepat kisah fiksi itu diperankan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam rangkaian peristiwa yang juga fiktif hukumnya boleh jika penulis cerita fiksi bermaksud untuk menyampaikan dan memahamkan kepada pembaca pesan-pesan yang sejalan dengan syariat.
والأفضل لهذا الذي رزقه الله موهبة الكتابة القصصية أن يقتصر على ما ورد في القرآن العظيم والسنة النبوية، فهذه أحسن القصص، ومعاني الشرع فيها متقررة على أتم وجه، بلا محظور.
Namun yang terbaik bagi orang yang Allah beri bakat untuk menulis kisah adalah mencukupkan diri dengan kisah yang terdapat dalam al Qur’an dan sunnah Nabi. Itulah sebaik-baik kisah dan nilai-nilai yang yang ada di dalamnya juga disampaikan dengan demikian sempurna tanpa ada hal terlarang di dalamnya”.
(Sumber: http://uqu.edu.sa/page/ar/119883)
04. Fatwa Syaikh Shalih al Munajjid:
Soal : Apakah boleh menulis kisah-kisah fiktif dengan tujuan dakwah dan menjelaskan pemahaman Islam kepada manusia, terutama bagi anak-anak kecil? Apakah termasuk maksiat jika kita mengkhayalkan keadaan-keadaan dan menuliskannya seolah-olah ia kisah nyata?
Jawab : Alhamdulillah, jika hal itu disampaikan dengan jelas dan gamblang bahwa kisah itu memang tidak pernah terjadi, akan tetapi hanya sekedar perumpamaan, maka tidak mengapa, dengan catatan harus memperhatikan bahwa kisah tersebut bermanfaat, baik cara penyampaiannya, isi dan tujuannya. Maka saat itulah kisah tersebut menjadi penjelas agaman dan sebagai sarana yang efektif untuk memberikan pengarahan dan bimbingan. Kita memohon taufik kepada Allah untuk kalian.
(Lihat fatwa beliau di: http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=4505&ln=ara&subsite=17 )
05. Tulisan Syaikh Abdul Aziz Ibnu Rais Al Rais tentang dialog fiktif.
Di dalam kitabnya Kasyfusy Syubuhat al Asyriyyah ‘An al Da’wah al Ishlahiyyah al Salafiyyah di halaman 24 hingga halaman 31 beliau memuat dialog fiktif antara orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Fauzan, Syaikh Abdul Muhsin al Abbad yang beliau sebut dengan julukan an Nashih (orang yang menasehati), dan antara orang yang memiliki syubhat takfiri yang beliau sebut dengan julukan al Mansuh (orang yang dinasehati).
Kemudian di catatan kaki beliau memberi keterangan sebagai berikut:
“Sesungguhnya metode mendekatkan ilmu dengan dialog (perdebatan) antara dua orang fiktif adalah cara yang dilakukan oleh sejumlah ulama yang teliti seperti: Abul Wafa’ ibnu Aqil, Ibnul Qayyim dan al Sa’di. Ini adalah dalam rangka mendekatkan ilmu dan memudahkannya, seperti ucapan ahli nahwu: Zaid telah memukul Amr.”
(Kasyfusy Syubuhat al Asyriyyah ‘An al Da’wah al Ishlahiyyah al Salafiyyah, Darul Imam Ahmad, Kairo, cet. 1, 1426/2005, hal.24-31)
06. Fatawa al azhar:
Ketika menjawab pertanyaan hukum mempelajari at Tamtsil (peragaan, sandiwara) dan prakteknya, Syaikh ‘Athiyah Shaqr rahimahullah (tahun 1997) menjawab: “At Tamtsil adalah menirukan atau mengisahkan pribadi-pribadi yang memiliki peristiwa sejarah nyata atau sejarah fiktif (rekaan, khayalan) di masa lampau atau sekarang atau akan datang. Tamtsil adalah satu cara tatsqif (menanamkan pengetahuan) dan tarfih (hiburan).”
Sampai kemudian mengatakan: “Jika orang-orang tadi fiktif, sebagaimana kebanyakan kisah-kisah yang tidak memaksudkan orang tertentu, yang terkadang menggunakan lisan sebagian hewan seperti yang ada pada kitab Kalilah wa Dimmah, jika tujuannya benar, materinya tidak berisi sesuatu yang dilarang, peragaannya konsisten dengan adab-adab islam, belajarnya dan prakteknya tidak mengakibatkan lalai dari kewajiban, atau mudharat di badan, akal, harta, akhlaq, atau mudharat lain maka tamtsil ini halal, bisa digunakan untuk menampakkan makna-makna (nilai-nilai, ajaran-ajaran) dalam bentuk visual seolah-olah nyata,”
(Fatawa al Azhar: 10/105).
07. Soal : “sebagian penulis sengaja mengarang kisah fiktif, begitu pula para penyair (sastrawan) memiliki ungkapan-ungkapan fiktif, apakah hal tersebut masuk dalam kategori dusta, menyalahi kenyataan?”
Jawab : “Tidak masalah menulis kisah-kisah fiktif atau syair fiktif jika bertujuan baik, dan menyingkirkan keburukan. Hal itu seperti kisah hewan yang berbicara dalam kitab Kalilah wa Dimmah.
Jadi ukurannya adalah tidak mendustakan sesuatu yang tetap dalam agama, terutama hal-hal yang aksiomatik, dan tidak menuju pada tujuan yang buruk atau tidak mengakibatkan keburukan.” (Fatawa al Azhar: 10/260, 1997).
08. Soal : Ada sebagian cerita atau kisah yang ditujukan untuk anak, tujuannya untuk memberikan pengajaran ataupun hiburan bagi anak. Yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut adalah hewan, di mana digambarkan hewan-hewan tersebut dapat berbicara layaknya manusia (dongeng fabel). Untuk mengajarkan anak akibat jelek dari berdusta misalnya, dikisahkan ada seekor musang berpura-pura jadi dokter hingga ia dapat memperdaya seekor ayam. Kemudian si musang terperosok ke dalam lubang akibat perbuatan dustanya. Apa pendapat antum terhadap kisah seperti ini?
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin menjawab, “Tentang permasalahan seperti ini, saya tawaqquf (mendiamkan, belum bisa mengatakan boleh atau tidak). Karena mengisahkan seperti itu berarti mengeluarkan si hewan dari keadaan asal penciptaannya. Dikatakan ia bisa berbicara, bisa mengobati/jadi dokter, dan bisa mendapat hukuman atas perbuatannya. Terkadang mungkin dikatakan bahwa ini hanya permisalan/perumpamaan. Namun wallahu a’lam, saya tawaqquf dalam perkara ini. Saya tidak mengatakan apa pun dalam hal ini.” (Fatwa-fatwa di atas diambil dari kitab Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 138-141, 148-149)
09. Hukum Anekdot atau Cerita Lucu Ringan
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah…” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani).
Berdasarkan hadits inilah sebagian ulama memfatwakan haramnya cerita lucu. Namun yang dimaksud para ulama itu adalah cerita lucu yang benar2 dusta. Adapun tentang Nukat atau anekdot/cerita lucu yang ringan yang dijadikan sebagai sarana ishlah terutama untuk anak2, pendidikan dan akhlaq, maka tidak ada seorangpun yang bisa menetapkan bahwa pada dasarnya ia adalah sebuah kedustaan dan kebohongan. Ada beberapa sisi dalam masalah ini yang wajib dipahami:
Pertama, banyak di antara anekdot benar2 terjadi, lalu keluar kepada manusia dalam bentuk sesuatu yang membuat tertawa dan menyenangkan orang yang mendengarnya. Maka yang demikian bukanlah termasuk dusta atau kebohongan.
Kedua, bahwasanya anekdot telah dinukil dari mulut ke mulut di masyarakat. Ia adalah hasil interaksi budaya dan menjadi bagian dari peradaban dan pengetahuan umat manusia. Anekdot tertentu kadang benar telah terjadi nyata pada sebuah masyarakat tertentu. Akan tetapi yang lebih penting lagi, kami tidak akan menyuguhkan nukat bagi mereka kecuali apa yang baik dan mubah, serta bersih dari bahaya apapun, apakah dalam masalah pendidikan, ataupun akhlaq hingga kita bisa menjaga fitrah2 mereka.
Ketiga, sebagian nukat tersebut datang dari khayalan (imajinasi). Penjelasannya adalah kadang manusia mengalami sebuah peristiwa tertentu dalam kehidupan, apakah peristiwa tersebut berupa ucapan atau gerakan. Kemudian dia berkhayal seandainya dia menjawab atas pertanyaan seseorang dengan jawaban tertentu maka jawaban itu akan membuat tertawa, atau bisa juga seandainya peristiwa tersebut melewati seorang manusia kemudian dia mengkhayalkan sebuah jawaban tertentu atas peristiwa itu yang kemudian membuat orang tertawa. Maka yang demikian ini mendorong kita untuk bertanya, apakah berkhayal termasuk dusta ataukah tidak?
Tidak diragukan lagi bahwa berkhayal pada asalnya adalah perkara yang diperbolehkan. Tatkala kami membuat blog ini misalnya, dulu hanya sekedar khayalan dan pemikiran, kemudian bersamaan dengan berlalunya masa angan2 tersebut menjadi kenyataan. Jika demikian halnya maka berkhayal tidak diharamkan. Ini satu keahlian dari berbagai keahlian yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Oleh karena itu, wajib memperhatikan sebuah masalah penting yaitu bahwa sumber hal2 lucu pada orang dewasa maupun anak2 sangatlah banyak. Di dalam kitab2 sirah dan biografi para sahabat radhiyallahu anhum, tabi’in, salafush shalih dan orang2 yang mengikuti mereka banyak terdapat nukat atau anekdot dan peristiwa2 yang membuat tertawa yang hanya dapat dicerna dan dinikmati oleh orang dewasa bukan oleh anak kecil. Ini belum lagi kemampuan manusia dewasa dalam membuat jawaban yang unik dalam sebuah dialog yang membuat suasana lucu bagi orang yang mendengarnya, kemudian manusia pun saling menukilnya. Sementara anak2 kecil sangat memerlukan perkara2 semacam ini sebagai sarana kegembiraannya.
Dengan penghargaan dan kecintaan kami kepada orang yang menegur kami dalam masalah yang sederhana dan ringan ini, kami pun mengharapkan kepadanya untuk bersikap adil sekalipun terhadap dirinya sendiri.Janganlah kemudian mengalahkan sisi lain yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Kami berharap agar orang yang menegur kami tidak termasuk dari orang yang memang memiliki sikap keras terhadap canda dan tawa, hingga dia sendiri senantiasa dalam keadaan cemberut dan bermuka masam, karena menganggap bahwa sikap yang demikian merupakan bentuk dari keshalihan dan ittiba’ yang benar. Hingga sebagian manusia menganggap bahwa yang demikian itu adalah merupakan tabiat dari agama islam dan cara beragama yang benar. La hawla wala quwwata illa billah.
Sebagai tambahan perlu diketahui bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah teladan kita semua yang baik dalam segala hal, termasuk dalam memperlakukan secara beda orang yang memang beda kapasitasnya dan kadar keimanannya. Misalnya diriwayatkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam mengizinkan al Aswad ibnu Surai’ radhiyallahu anhu untuk melantunkan bait2 syi’ir yang berisi puji2an kepada Allah. Akan tetapi ketika Umar radhiyallahu anhu masuk, beliau menyuruhnya diam. Setelah Umar keluar ia diizinkan lagi, kemudian saat Umar masuk lagi beliau memintanya diam. Hal ini terjadi hingga tiga kali, sampai al Aswad bertanya siapakah gerangan sampai Rasulullah menyuruh al Aswad diam. Maka Rasulullah menjawab, “Itu adalah orang yang tidak menyukai kebatilan.” (HR: Ahmad: 3/435/15628, 15623. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad: 342. Abu Ya’la dalam Hilyatul Aulia': 1/46, Usdul Ghabah: 1/54 dalam biografi al Aswad ibnu Surai)
Rasululullah menyebutkan bahwa Umar radhiyallahu anhu adalah orang yang selalu serius, tidak suka sesuatu yang tidak serius. Orang yang menjadikan pujian dengan syi’ir sebagai profesi untuk mendapatkan imbalan dari yang dipuji, atau memuji orang yang tidak layak dipuji adalah batil. Umar pokoknya tidak suka syi’ir pujian ini secara umum (Fadhlullah al Shamad: 1/618, Hilyatul Auliya: 1/46). Sampai Umar sendiri tidak mau berdusta dalam hal yang telah dihalalkan di dalamnya untuk berdusta, tetapi cukup dengan sindiran2. (Ibnu Abdil Barr, at Tamhid: 16/252).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa mendengar bait2 syair itu pada dasarnya adalah sia2, tidak ada imbalannya di dunia dan di akhirat. Itu tidak disenangi oleh Umar. Akan tetapi Rasulullah memberikan kesempatan kepada al Aswad untuk memperdengarkannya kepada beliau (yang berisi pujian kepada Allah). Maka Syaikh Fadhlullah al Jaelani mengomentari bahwa keengganan Umar untuk mendengarkan syair itu adalah kesempurnaan baginya, sedangkan perkenan Rasulullah kepada al Aswad untuk melantunkan bait2 syair adalah kesempurnaan bagi Rasulullah, dan keadaan Rasulullah adalah yang paling sempurna. (Fadhlullah al Shamad, Syarah Adabul Mufrad: 1/618)
Jadi apa yang tidak cocok bagi orang “dewasa” karena sudah tidak memerlukannya, terkadang masih cocok bagi orang di “bawahnya” karena masih memerlukannya. Dan memberikan fasilitas kepada yang memerlukannya bukan hal yang tercela, bahkan bisa jadi menjadi kesempurnaan bagi dirinya.
Wallahu a’lam.
(Dinukil dari majalah Qiblati edisi 08 tahun II, oleh Syaikh Mamduh Farhan alBuhairi dengan beberapa perubahan, penambahan dan pengurangan seperlunya)
10. Kisah-kisah Israiliyyat dalam Pandangan Islam
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaahu
Israiliyat adalah kabar-kabar yang kebanyakannya dinukilkan dari orang-orang Yahudi Bani Israil dan sebagian kecil berasal dari orang-orang Nashara.
Kisah-kisah Israiliyyat terbagi menjadi tiga macam:
a. Kisah yang dibenarkan oleh Islam, maka hal tersebut adaah haq.
Contohnya: Imam Al-Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, dia mengatakan: “Datang salah seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami, pent.) bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan meletakkan semua langit di atas satu jari, semua bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Allah berfirman: ‘Akulah Raja.’’ Mendengar hal tersebut, tertawalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sehingga nampak gigi-gigi geraham beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ‏‎ ‎قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيْعًا‎ ‎قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ‏‎ ‎وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ‏‎ ‎بِيَمِيْنِهِ ۚ سُبْحَانَهُ‏‎ ‎وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67)
b. Kisah yang diingkari oleh Islam dan dipersaksikan bahwa kisah tersebut adalah dusta, maka ini adalah bathil.
Contohnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Dahulu orang Yahudi apabila ‘mendatangi’ istrinya dari belakang berkata: ‘Anaknya nanti bermata juling’, maka turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ‏‎ ‎فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى‎ ‎شِئْتُمْ
“Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tempat bercocok tanammu bagaimana saja kamu menghendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)
c. Kisah yang Islam tidak membenarkan tidak pula mengingkarinya, maka kita wajib mendiamkannya.
Berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: “Dahulu Ahlul Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya untuk orang-orang Islam dengan bahasa Arab, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian benarkan Ahlul Kitab dan jangan kalian dustakan mereka namun katakanlah:‎
‏ آمَنَّا‎ ‎بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ‏‎ ‎إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ‏‎ ‎إِلَيْكُمْ ‏
(Kami beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan pada apa yang telah diturunkan kepada kami dan apa yang telah diturunkan kepada kalian).”
Bercerita dengan kabar seperti ini boleh apabila tidak ditakutkan menyebabkan terjatuhnya seseorang ke dalam larangan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat dan tidak mengapa kalian menceritakan tentang Bani Israil. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari)
Kebanyakan berita yang diriwayatkan dari Ahlul Kitab dalam hal ini tidak mempunyai manfaat untuk urusan agama, seperti penentuan warna anjing Ashhabul Kahfi dan yang lainnya.
Adapun bertanya kepada Ahlul Kitab tentang suatu perkara agama maka hukumnya haram, berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jangan kalian bertanya sesuatu kepada Ahlul Kitab karena mereka tidak akan memberi petunjuk bagi kalian dan sungguh mereka telah tersesat, karena bisa jadi kalian akan membenarkan sesuatu yang batil atau mendustakan yang haq. Seandainya Musa ‘alaihis salaam hidup di antara kalian, maka tidak halal baginya kecuali mengikutiku.”
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma bahwa dia berkata: “Wahai kaum muslimin! Bagaimana kalian bisa bertanya sesuatu kepada Ahlul Kitab sedangkan Al-Qur’an yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan kepada Nabi kalian telah menceritakan sesuatu yang benar dan murni tentang Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti dan merubah isi Al-Kitab kemudian mereka menulisnya sendiri dengan tangan-tangan mereka, lalu berkata ‘Ini berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla’, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatannya. Tidakkah pengetahuan kalian tentang (pengkhiatan) mereka itu memalingkan kalian dari bertanya kepada mereka. Lalu, sekali-kali tidak demi Allah! Tidak pernah kami melihat seorangpun dari Ahli Kitab bertanya kepada kalian tentang apa yang telah diturunkan kepada kalian.”
Sikap Ulama tentang Kisah-kisah Israiliyat
Para ulama terutama ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam menyikapi berita-berita israiliyat, mereka terbagi menjadi tiga kelompok:
– Di antara mereka ada yang banyak meriwayatkan kisah-kisah ini dengan menyebutkan sanad-sanadnya dan berpandangan bahwa dengan menyebutkan sanad-sanadnya maka telah gugur tanggung jawabnya. Di antara mereka adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullaahu.
– Di antara mereka ada yang banyak meriwayatkan kisah-kisah israiliyat dan kebanyakan tanpa menyertakan sanadnya, maka ibarat (mereka) adalah pencari kayu bakar di malam hari. [Ini bahasa kiasan yang sering dipakai ulama kita bagi seorang yang menempuh langkah atau bicara asal-asalan yang akan membahayakan dirinya, sebab malam gelap boleh jadi dia mengambil ular sedangkan dikiranya kayu bakar, wallahu a’lam, ed.]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaahu berkomentar tentang kitab Tafsir Al-Baghawi rahimahullaahu: “Itu adalah ringkasan dari Tafsir Ats-Tsa’labi, hanya saja Al-Baghawi menjaga tafsirnya dari hadits-hadits maudhu’ (palsu) dan pemikiran-pemikiran yang bid’ah.” Sedangkan Syaikhul Islam rahimahullâhu mengomentari tentang Tsa’labi bahwa dia adalah pencari kayu bakar di malam hari karena Tsa’labi menukilkan semua yang dia dapati dari kitab-kitab tafsir baik shahih, dha’if ataupun maudhu’.
– Di antara mereka ada yang banyak meriwayatkan kisah-kisah ini lalu ada ulama yang mengkritik sebagian riwayatnya bahwa itu dhaif atau mungkar. Contohnya Ibnu Katsir.
– Di antara mereka ada yang berlebihan dalam menolak kisah-kisah israiliyat dan sama sekali tidak menyebutkan dalam kitab tafsir Al-Qur’an-nya. Contohnya Muhammad Rasyid Ridha.
(Dinukil dari ‎‏”Bagaimana Kita Memahami Al-Qur’an”, karya Asy-Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-‘Utsaimin, penerjemah: Muhammad Qawwam, Lc., Abu Luqman, penerbit: Cahaya Tauhid Press Malang, cet. ke-1 Muharram 1427 H / Pebruari 2006 M, hal. 89-92)
Wallahu a’lam.
Diposting oleh Abu Fahd Negara Tauhid
Referensi:
– Artikel http://www.ustadzaris.com.
– Majalah Qiblati.
http://almuslimah.wordpress.com/2009/08/28/kisah-kisah-israiliyat-dalam-pandangan-islam/
http://konsultasisyariah.com
http://www.asysyariah.com