Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)

Rabu, 04 Desember 2013

Ketika Pinangan (khitbah) Harus Berakhir

Bagaimana hukumnya membatalkan pinangan setelah waktu yang ckup lama dia menerima pinangan itu. Kemudian dia minta dipinang oleh yang lain, hingga akhirnya menikah dengan orang kedua??
Jawab :
Kami memahami dari pertanyaan Anda terjadinya pembatalan pinangan secara sepihak dari satu sisi padahal penungguan sudah lama terjadi, kemudian pihak yang membatalkan pinangan/lamaran menikah dengan orang lain. Kami di sini ingin lebih menekankan pembahasan dari hukum boleh atau tidaknya pembatalan lamaran dan tidak meluaskan pembahasan dalam masalah lain.

Komite Tetap Fatwa dan Riset Ilmiah Arab Saudi menulis:
Hanya terjadi lamaran/pinangan antara laki-laki dan perempuan tidaklah bermakna terjadinya akad nikah, maka, laki-laki atau perempuan tersebut (masing-masing) berhak untuk meninggalkan (membatalkan.pen) lamaran bila ia melihat ada masalahat dalam pembatalan itu. Baik itu direlakan oleh pihak lain atau tidak direlakan. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 18/69

Perlu difahami bahwa lamaran yang diajukan oleh salah satu pihak dan diterima oleh pihak lain bukanlah akad nikah sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Meskipun lamaran keterikatannya tidak sama dengan pernikahan, akan tetapi pembatalan lamaran tanpa ada alasan syar'i tidaklah layak dilakukan (meski itu dibolehkan), sebab orang yang membatalkannya telah membatalkan janji tanpa alasan syar'i

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Oleh : Redaksi salamdakwah.com


Syaikh Abdullah Al-Bassam mengatakan, "Tidaklah makruh hukumnya bagi wali calon pengantin perempuan dan calon pengantin perempuan untuk membatalkan lamaran atau khitbah jika beralasan dengan alasan yang bisa diterima, karena akad nikah adalah akad yang jika salah langkah bisa menyebabkan penderitaan berkepanjangan, sehingga boleh bagi calon pengantin perempuan untuk bertindak hati-hati dalam melangkah. Sementara itu, membatalkan lamaran tanpa alasan yang jelas hukumnya makruh, baik dilakukan oleh pihak pengantin laki-laki, maupun pihak pengantin perempuan. Hal ini hukumnya makruh karena hakikat dari pembatalan lamaran adalah menyelisihi janji menikahi atau janji mau dinikahi. Namun, hukumnya tidak sampai derajat haram karena masing-masing pihak belumlah terikat dengan akad pernikahan."

[Taudhih al-Ahkam min Bulughil Maram juz 5 hlm. 281-282, penjelasan hadits Bulughul Maram no. 844, terbitan Dar al-Mainan, Riyadh, cet. kedua, 1430 H]

Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 7, Shafar 1433H