Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2014

Alhamdulillah Harga BBM Naik

“Alhamdulillah harga BBM naik“. Bisakah kita berkata seperti itu ketika kita mendapatkan hal yang tidak kita sukai, yang membuat kita bahkan hidup susah?

Keadaan Seorang Mukmin Seluruhnya Baik

Yang jelas, seluruh keadaan seorang mukmin itu baik, ketika ia susah maupun senang. Keadaan susah, ia bersabar. Keadaan senang, ia bersyukur.
Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ar Rumi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999).
Intinya hadits di atas berisi dorongan untuk bersabar dan bersyukur. Bersabar ketika susah, bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Keadaan seorang mukmin sesuai yang Allah tetapkan seluruhnya baik. Jika ia diuji dengan suatu musibah, ia bersabar atas takdir Allah dan menanti kelapangan dari Allah, juga mengharap pahala dari-Nya. Itu baik baginya. Di antara yang meraih seperti ini adalah orang yang berpuasa.
Jika ia diberi nikmat agama seperti ilmu dan amalan shalih, juga nikmat dunia seperti harta, anak dan keluarga, ia bersyukur. Syukur tersebut dibuktikan dengan melakukan ketaatan pada Allah. Karena syukur bukanlah hanya ucapan lisan, “Saya bersyukur pada Allah.” Namun syukur yang hakiki adalah dengan menjalankan ketaatan pada Allah.”
Jadi, bersyukur pada Allah termasuk kebaikan. Syukur ini pada dua nikmat yaitu nikmat agama dan nikmat dunia.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 198).

Bisakah Kita Mengucapkan Alhamdulillah Saat BBM Naik?

Tengok saja bagaimana suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan pada kita ketika mendapatkan hal yang menyenangkan dan hal yang tidak menyenangkan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
‘[Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat] Segala puji hanya milik Allahyang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.’ Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
‘[Alhamdulillah ala kulli hal] Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’.” (HR. Ibnu Majah no. 3803. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Kenapa sampai ditimpa musibah pun disyukuri? Mengapa BBM naik malah mengucapkan alhamdulillah?
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hal yang tidak disukai tersebut malah disyukuri karena Allah memberikan pahala bagi siapa saja yang mau bersabar pada musibah lebih dari musibah tersebut.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 175).
Kata Syaikh Ibnu Utsaimin pula bahwa sebagian wanita ahli ibadah ada yang terluka di jarinya, malah ia memuji Allah (bersyukur pada Allah). Lalu ditanya kenapa sampai ia bersykur. Ia pun menjawab, “Pahala dari musibah ini telah melupakanku dari luka yang sakit tersebut.” (Idem).

Harga Barang Naik, Tidak Mempengaruhi Rezeki

Ingatlah bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Allah. Jadi tak perlu khawatir dengan BBM yang naik, tak perlu punya rasa takut dengan harga barang kebutuhan pokok pun yang ikut naik. Buktinya sejak dulu BBM naik, malah kendaraan makin banyak, malah masyarakat tetap konsumtif.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)
Dalam ayat lain disebutkan pula,
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30)
Ibnu Katsir menjelaskan, “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat manakah di antara hamba-Nya yang pantas kaya dan pantas miskin.” Sebelumnya beliau rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kaya dan miskin bagi siapa saja yang Allah kehendaki. Di balik itu semua ada hikmah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5: 71)
Jadi rezeki sudah diatur, jangan pernah khawatir.
Semoga kita bisa bersabar atas segala musibah, termasuk bersabar dalam kebijakan kenaikan BBM saat ini.
Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H.
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.
—
Selesai disusun di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 25 Muharram 1436 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Rabu, 29 Oktober 2014

Tips Agar Tegar Menghadapi Ujian Hidup

  1. Sadarlah bahwa Anda tidak sendirian, ada Allah bersama Anda.
  2. Ingatlah bahwa di balik takdir Allah pasti ada hikmah yang indah.
  3. Tidak ada yang dapat memberi kebaikan dan menyelamatkan dari keburukan kecuali Allah, maka janganlah menggantungkan harapan kecuali kepadaNya.
  4. Apapun yang ditakdirkan menimpamu; ia tidak akan meleset darimu. Dan apapun yang ditakdirkan meleset darimu; ia tidak akan dapat menimpamu.
  5. Ketahuilah hakekat dunia, maka jiwa Anda akan menjadi tenang.
  6. Berbaik-sangkalah kepada Rabb Anda.
  7. Pilihan Allah untuk Anda, itu lebih baik daripada pilihan Anda untuk diri Anda sendiri.
  8. Cobaan yang semakin berat, menunjukkan pertolongan Allah semakin dekat.
  9. Jangan pikirkan bagaimana datangnya pertolongan Allah, karena jika Allah berkehendak, Dia akan mengaturnya yang cara yang tidak terlintas di akal manusia.
  10. Anda harus berdoa meminta kepada Allah, yang di tangan-Nya ada kunci-kunci kemenangan.
Kalau kita perhatikan, kebanyakan prinsip di atas mengaitkan kita dengan Allah ta’ala. Karena memang manusia itu makhluk lemah, dan dia tidak akan menjadi kuat kecuali jika mendapatkan suntikan kekuatan dari luar, dan tidak ada yang mampu memberikan kekuatan seperti Allah azza wajalla.
Dari sini, kita juga bisa memahami, mengapa semakin orang dekat dengan Allah, semakin kuat pula jiwanya.. dan mengapa semakin kuat akidah seseorang, semakin kuat pula kepribadiannya, wallohu a’lam.
—
Penulis: Ust. Musyafa Ad Darini
Artikel Muslim.Or.Id

Senin, 28 April 2014

Tak Lebih Berharga daripada Sayap Seekor Nyamuk

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dalam hal dunia dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR. Muslim)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya” (HR. Tirmidzi, dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

—
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi S.Si.
Artikel www. Muslim. Or. Id 

Sabtu, 28 September 2013

Jangan Menjadi Muslim KTP!


Jangan jadi muslim hanya di KTP. Orang Islam yah sudah dimaklumi dikenal anti syirik, bukan jadi pemuja kubur, dan bukan gemar sesajen dan atau sedekahan. Orang Islam benar-benar menjalani rutinitas shalat 5 waktu, semua shalat tersebut terus dijaga. Orang Islam juga selalu mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal.
Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaaffah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).
Ayat ini menerangkan -kata Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya- perintah pada para hamba Allah yang beriman yang membenarkan risalah Rasul-Nya untuk mengambil (mengamalkan) seluruh ajaran Islam semampunya, termasuk menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.
Yang dimaksud ‘udkhulu fis silmi’, masuklah dalam Islam. Demikian kata Al ‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas dan lainnya. Sedangkan Robi’ bin Anas katakan bahwa maksudnya adalah laksanakanlah ketaatan.
Adapun maksud ‘kaaffah’ dalam ayat tersebut -sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas dan selainnya-‘ adalah keseluruhan. Mujahid mengatakan, “Lakukanlah seluruh amalan dan berbagai bentuk kebajikan.” Ibnu Katsir menegaskan bahwa maknanya adalah lakukan seluruh ajaran Islam, yaitu berbagai cabang iman dan berbagai macam syari’at Islam.
Ibnu ‘Abbas juga mengatakan mengenai ayat tersebut,
ادخلوا في شرائع دين محمد صلى الله عليه وسلم ولا تَدَعَوا منها شيئًا وحسبكم بالإيمان بالتوراة وما فيها.
“Masuklah dalam syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan tinggalkan ajarannya sedikit pun, maka itu sudah mencukupkan kalian dari Taurat dan ajaran di dalamnya.”
‘Ikrimah mengatakan bahwa ayat di atas itu turun pada segolongan orang yang baru masuk Islam dari kalangan Yahudi dan lainnya. Mereka adalah seperti ‘Abdullah bin Salaam, Tsa’labah, Asad bin ‘Ubaid di mana mereka meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibolehkan membaca taurat di malam hari, maka Allah memerintahkan untuk menyibukkan diri dalam menjalankan syari’at Islam saja sehingga bisa melupakan ajaran yang lainnya. Keterangan ini dan sebelumnya disarikan dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat yang kita kaji.
Ketika menjelaskan ayat di atas, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Laksanakanlah seluruh ajaran Islam, jangan tinggalkan ajaran Islam yang ada. Jangan sampai menjadikan hawa nafsu sebagai tuan yang dituruti. Artinya, jika suatu ajaran bersesuaian dengan hawa nafsu, barulah dilaksanakan dan jika tidak, maka ditinggalkan,. Yang mesti dilakukan adalah hawa nafsu yang tunduk pada ajaran syari’at dan melakukan ajaran kebaikan sesuai kemampuan. Jika tidak mampu menggapai kebaikan tersebut, maka dengan niatan saja sudah bisa mendapatkan pahala kebaikan.” Lihat Taisir Al Karimir Rahman karya Syaikh As Sa’di tentang tafsiran ayat di atas.
Pelajaran dari ayat di atas, jika syari’at Islam memerintahkan untuk meninggalkan ajaran dan tradisi syirik, maka kita sami’na wa atho’na. Jangan karena alasan mempertahankan budaya, akhirnya tradisi yang dimurkai Allah tersebut terus dilariskan, seperti kita lihat saat ini masih saja laris manis tradisi ruwatan, sedekah laut, minta keberkahan dengan menggantung jimat dan lainnya yang dijalankan oleh orang yang ‘ngaku Islam’. Jika Islam memerintahkan untuk melaksanakan ibadah badan yang mulia seperti shalat dan zakat, maka kita terus berusaha menjaganya. Jika ajaran Islam memerintahkan kita bersedekah yang wajib dengan harta kita, maka kita pun manut dan menjalankannya, tanpa ada rasa kikir dan pelit. Begitu pula ketika ajaran Islam memerintahkan untuk berlepas diri dari ajaran orang kafir yang berkaitan dengan perayaan mereka, maka kita pun tidak boleh menghadiri, memeriahkan atau sekedar mengucapkan selamat. Oleh karenanya, jangan jadi Islam yang separuh-paruh, alias Islam KTP. Jadilah Islam yang kaaffah, yang menjalankan seluruh syari’at Islam.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
—
Berkat nikmat Allah @ Riyadh-KSA, 1 Rabi’ul Akhir 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Rabu, 23 Januari 2013

Renungan Musibah Banjir

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,
Pembaca yang budiman,
Kita semua tentu sangat berharap agar hujan yang Allah turunkan menjadi rahmat dan bukan adzab. Namun tidak semua harapan bisa menjadi realita. Hujan yang kita harapkan menjadi rahmat, ternyata justru menjadi tentara Allah yang siap menghukum kita, dan menjadi azab bagi mereka yang durhaka. Hujan bak pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan sekaligus bisa merugikan.
Tentunya anda masih ingat peristiwa yang pernah terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Bagaimana Allah membalas keangkuhan umat Nuh denagn hujan dan air yang berlimpah.
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ { } وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al Qamar: 11-12).
Di saat itulah, tidak ada yang bisa menyelamatkan diri, selain mereka yang Allah rahmati.
وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ { } قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 42-43)
Apa Sebab Banjir?
Ayat yang sering didengungkan ketika terjadi musibah, adalah firman Allah di surat Ar-Rum:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ada satu hal yang telah menjadi mindset hampir semua orang terkait ayat ini, tafsir ‘perbuatan tangan-tangan manusia’ hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Mereka menyimpulkan bahwa banjir, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan. Di saat banjir mulai melanda, rame-rame orang menyalahkan buang sampah sembarangan, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol, dst…
Namun, tahukah anda, ternyata sebab utama banjir atau bencana alam lainnya, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah sebagaimana anggapan di atas. Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah maksiat.
Perbuatan maksiat dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta, merupakan sebab terbesar Allah mendatangkan bencana alam. Dosa dan maksiat adalah sebab terbesar Allah mendatangkan banjir. Itulah tafsir yang dipahami oleh para sahabat ulama masa silam terhadap surat Ar-Rum di atas. Berikut diantara tafsir mereka,
At-Thabari menyebutkan ketarangan dari Al-Hasan Al-Bashri ketika menafsirkan ayat ini,
أفسدهم الله بذنوبهم، في بحر الأرض وبرها بأعمالهم الخبيثة
“Allah menghancurkan mereka disebabkan dosa mereka, berupa kerusakan di daratan maupun dilautan, disebabkan perbuatan buruk mereka..” (Tafsir At-Thabari, 20/108).
As-Suyuthi menyebutkan keterangan dari Abu Bakr bin Ayyasy, ketika beliau ditanya tentang ayat ini, beliau berkomentar,
إِن الله بعث مُحَمَّدًا إِلَى أهل الأَرْض وهم فِي فَسَاد فأصلحهم الله بمحمدا صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَمن دَعَا إِلَى خلاف مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَهُوَ من المفسدين فِي الأَرْض
“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke penduduk bumi ketika mereka dalam kondisi rusak (masa jahiliyah). Kemudian Allah memperbaiki mereka dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang mengajak kepada perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia termasuk orang yang berbuat kerusakan di muka bumi.” (Ad-Dur Al-Mantsur, 3/477).
Dikisahkan oleh Shofiyah radhiyallahu ‘anha, tentang gempa yang terjadi di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu,
“Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu, sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar berkhotbah:
أيها الناس ، ما هذا ؟ ما أسرع ما أحدثتم . لئن عادت لا تجدوني فيها
Wahai sekalian manusia, apa yang terjadi? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah.” (HR. Baihaqi dalam Sunan-nya (3/342), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (2/473) dengan sanad yang shahih).
Gempa itu belum pernah terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar khawatir, dia juga tertimpa sebab maksiat yang dilakukan manusia. Beliau mengancam, jika terjadi gempa yang kedua, beliau akan keluar madinah.
Setelah memahami hal ini, dan dengan adanya musibah banjir, selayaknya kita berusaha untuk semakin dekat dengan Allah. Memohon ampunan kepada-Nya seraya berharap agar Dia segera melepaskan kaum muslimin dari musibah ini.
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآياتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ * وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ * لِكُلِّ نَبَأٍ مُسْتَقَرٌّ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”. Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 65 – 67)
Allahu a’lam
Oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Selasa, 19 April 2011

Suratku Untukmu


Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Allah ta’ala

Segala puji ku panjatkan ke hadirat Allah ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.
Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.

Wahai anakku …

Surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.
Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.

Wahai anakku …
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.

Wahai anakku …

25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.
Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.
Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.
Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.

Anakku …
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.
Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.
Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.

Wahai anakku …

Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.
Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…
Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.
Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.
Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.
Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.
Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku…
Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.
Yang ibu pinta kepadamu:
Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.
Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.
Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.
Yang ibu tagih kepadamu:
Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.
Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku…
Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…
Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:
هل جزاء الإحسان إلا الإحسان
Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!
Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.
Wahai anakku…
Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…
Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!
Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!
Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!
Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!
Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!
إن الله يحب المحسنين
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai anakku…
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.
Wahai anakku…
Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.
Wahai anakku…
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!
Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.
Wahai anakku…
Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:
الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه
Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)
Anakku…
Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…
Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:
سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)
Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…

Wahai anakku…
Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…
Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…
Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.
Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.
Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.
Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…
Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…
Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!

Anakku…
Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:
رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)
Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)
Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.

Anakku…
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…
Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…
Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.
الجزاء من جنس العمل
Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.
الجزاء من جنس العمل
Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.
Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.

Wahai anakmu…
Bertakwalah kepada Allah… takutlah engkau kepada Allah… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…
Anakku…
Setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.
Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Dari Ibumu yang merana.

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- oleh ustadz Abu Abdillah Ad-Daariny, Lc)

Artikel www.muslim.or.id

Sabtu, 05 Februari 2011

Nasihat Ulama' tentang Tragedi Mesir Saat ini


disalin dari blog ustadz abu salma, http://abusalma.wordpress.com

Berikut ini adalah terjemahan transkrip ceramah asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Ali Hasan al-Halabî yang berkaitan dengan krisis yang terjadi di Mesir baru-baru ini (termasuk juga di Tunisia). Karena banyaknya faidah dan manfaat di dalamnya, maka saya turunkan terjemahannya dalam dua seri –insyâ Alloh-. Syaikh ‘Alî al-Halabî hafizhahullâhu berkata :

Assalâmu’alaikum Warohmatullâhu Wabarokâtuh

Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh. Kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami memohon perlindungan dari keburukan jiwa dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang dileluasakan dalam kesesatan maka tiada seorangpun yang dapat memberikannya hidayah. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Alloh semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’d :
Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kalâmullâh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan seburuk-buruk suatu urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap urusan (di dalam agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan tiap kebid’ahan itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu berada di neraka. Wa ba’d :

Ada sebuah riwayat dari sahabat yang mulia ‘Alî bin Abî Thâlib, yang berisi tentang wasiat yang agung yang disampaikan beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kumail bin Ziyâd. Wasiat beliau tersebut berbunyi :

النَّاسُ ثَلاثةٌ : فَعَالمٌ رَبَّانِيٌ ، وَمُتَّبِعٌ عَلى سَبِيْلِ نَجَاةٍ ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أتْبَاعِ كُلِّ نَاعِقٍ

“Manusia itu ada tiga macam : yaitu (1) seorang ‘âlim rabbânî, (2) seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan, dan (3) orang rendahan yang membebek setiap ocehan.

Manusia tidak akan keluar dari ketiga sifat tersebut, bagaimanapun dan dimanapun keadaannya. Yaitu, (1) sebagai seorang ‘âlim robbânî, yang dinisbatkan (nama ini) kepada Rabb yang Maha Agung Jalla Jalâluh, yang mendidik manusia di atas sifat ini.

(2) atau sebagai seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan. Dia bukanlah seorang muqollid (pembebek), muta’ashshib (fanatik) maupun mutahazzib (sektarian). Dia hanya mengharapkan Alloh dan negeri akhirat saja. Dia menginginkan Alloh dan negeri akhirat karena kedua hal inilah jalan keselamatan itu. Adapun selain daripada ini adalah jalan yang menuju kepada kerugian yang nyata, menurut tingkatan penyelisihannya yang mengantarkan kepada kerugian, sedikit maupun banyak.

(3) Dan golongan ketiga yaitu orang rendahan yang mengikuti semua ocehan. Mereka tidak memiliki kaidah ilmiah maupun landasan yang syar’i, dan tidak pula metoda dan asas yang diperhatikan di dalam kerangka syariat islam. Mereka ini turut berteriak bersama setiap penyeru dan mengembara di setiap lembah. Mereka ini adalah orang rendahan, yang tidak digerakkan oleh ilmu dan tidak pula dimotivasi oleh syariat. Mereka hanya membebek setiap ocehan, berdasarkan mana yang ocehan dan teriakannya paling keras, dan berdasarkan mana yang paling banyak jumlah dan kuantitasnya.

Setiap orang yang berakal dan memiliki hati nurani, pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai golongan ketiga ini. Walaupun terkadang, di saat emosi lebih dominan dan luapan semangat revolusi sedang menggebu-gebu, acap kali mereka ini (secara tidak sadar) termasuk golongan ketiga ini, atau berada di antara (barisan) mereka atau bahkan berada di (barisan) yang terdepan dari mereka. Karena itu hendaknya mereka mengevaluasi diri mereka, dan memperhatikan tempat berpijak kedua kakinya, serta memperhatikan perubahan hatinya dan pergerakan lisannya. Agar tidak ada lagi pada dirinya dosa dan penyelewengan, berupa sikap ikut-ikutan belaka, fanatisme, kebodohan dan semangat yang meluap-luap.

Demikianlah dia menolak untuk digolongkan kepada golongan ketiga ini, maka sesungguhnya hal ini lantaran Alloh menganugerahkan akal kepadanya, sehingga ia juga tahu bahwa dirinya tidak termasuk golongan pertama. Golongan pertama ini adalah para ulama robbâniyîn, yang umat ini wajib mencontoh mereka, bukan sebagai bentuk fanatik kepada mereka namun sebagai bentuk peneladan. Bukan pula sebagai bentuk sikap sektarianisme (tahazzub) namun sebagai bentuk sikap yang tsabat (mantap) dan istiqômah (konsisten) di atas syariat Alloh, yaitu di atas Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Mereka ini bukanlah termasuk golongan pertama bukan pula ketiga. Namun mereka berupaya mengerahkan kesungguhan dan kemampuannya agar bisa menjadi golongan yang pertengahan diantara dua golongan tadi. Mereka bukanlah seorang yang ahli dan pantas untuk menyandang sebutan ‘âlim robbânî, dan dirinya juga enggan dan tidak suka jika dianggap seperti golongan orang rendahan, yang sungguh amat disayangkan, betapa banyak mereka ini di seluruh penjuru dan belahan dunia.

Akan tetapi, jika ia ridha untuk digolongkan sebagai golongan pertengahan, yang mengikuti jalan keselamatan, lantas apakah status golongan pertengahan ini dapat dicapai hanya dengan sekedar angan-angan? Atau dicapai hanya dengan sekedar mimpi dan khayalan belaka? (Tidak), dia harus berupaya untuk bisa menjadi golongan pertengahan ini dengan mengerahkan segala daya upaya dan kesungguhan jiwa, bersabar di dalam menuntut ilmu dan konsisten di atas perintah Alloh, walaupun menyelinap masuk ke dalam dirinya rasa enggan terhadap beberapa hal, hanya saja ia tetap berjalan dan meniti di atas sebagian jalan, walaupun tidak di atas petunjuk dari Alloh, dan meskipun tidak berada di atas keitiqomahan di dalam menjaga perintah Alloh. Hendaknya yang seperti ini dapat mendorong dan menjaga jiwanya dari hal tersebut.

Hendaknya dia selalu ingat perkataan seorang penyair yang mengingatkan dirinya sendiri dan selainnya :

فهذا الحق ليس به خفاء *** فدعني من بنيات الطريق

Inilah kebenaran yang tidak ada padanya kesamaran

Aku tidak akan tertipu dengan banyaknya persimpangan jalan

Semua ini adalah termasuk persimpangan jalan yang berlika-liku dan berkelak-kelok, yang bengkok tidak lurus, yang terletak di atas kedua sisi jalan dan manhaj yang lurus, yang Alloh dan Rasul-Nya yang mulia –Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în- memerintahkan untuk mengikutinya. Jalan ini adalah jalan yang Alloh dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam perintahkan kepada umatnya, para pengikutnya, para sahabatnya dan saudara-saudaranya yang hidup setelah beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, agar mengikuti jalan keselamatan ini.

Sesungguhnya hal ini membutuhkan kesungguhan jiwa, sebagaimana Alloh Ta’âlâ berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (QS al-Ankabût : 69)

Dan Nabi yang mulia Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în bersabda :

المجاهد من جاهد هواه في ذات لله

“Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”

Seorang mujahid yang melawan hawa nafsu itu, wahai saudara-saudaraku, bukanlah dikatakan orang yang terus menerus melawan syahwatnya. Karena terkadang pada beberapa keadaan, dia harus berjihad melawan syubuhat. Dan jihad melawan syubuhat ini, adalah lebih utama dan lebih besar tingkatan dan derajatnya daripada jihad melawan syahwat. Lebih mudah bagimu berjihad melawan syahwatmu jika Alloh memberikanmu taufiq, namun tidaklah mudah berjihad melawan syubuhat yang datang menghampiri atau menyusup lalu menyesatkanmu, dan menjauhkanmu dari al-haq dan kebenaran. Ini adalah poin mendasar.

Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang hal ini dan hanya sekedar sebagai pengingat saja di malam hari yang penuh berkah ini –insyâ` Alloh-. Penuh berkah karena udaranya begitu harum dengan Kalâmullâh, dan penuh berkah lantaran di dalamnya sarat dengan petunjuk Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan nafas para ulama Rabbâniyîn serta fatwa-fatwa mereka yang benar lagi dapat dipercaya.

Saya berkata : Kesemua hal yang ada di hadapan kita ini adalah sebuah peringatan bagi keadaan yang sebenarnya, kita sering mendengarkannya dan diperdengarkan kepada kita, kita hidup dengannya dan merisaukan kita. Bukan hanya merisaukan kita di dalam urusan dunia saja, namun juga merisaukan, mencemaskan dan menggelisahkan di dalam urusan agama kita, sama persis. Bahkan, untuk sampai menghukumi insiden dan kejadian yang terjadi dengan hukum yang benar dan diakui, wajib untuk membangun hukum ini di atas pondasi yang tepat dan diatas pendalilan yang bagus. Yaitu dengan ucapan Alloh dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabî –semoga Alloh merahmatinya- :

العلم قـال الله قـال رسولـه *** قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهة *** بين الرسول وبين رأي فقيه

Ilmu itu adalah firman Alloh dan sabda Rasul-NYa

Serta perkataan sahabat, bukan sekedar kamuflase

Bukanlah ilmu bagimu, orang bodoh yang mempertentangkan

Antara (ucapan) Rasul dengan pendapat seorang ahli fikih

Mari kita perhatikan peristiwa yang terjadi di Mesir, sebagaimana kita perhatikan pula yang terjadi baru-baru ini di Tunisia. Kita coba cermati juga peristiwa yang terjadi saat ini di Libanon, bahkan juga yang terjadi di Amman dan yang terjadi belum lama ini di Shan’a` (Yaman). Peristiwa demi peristiwa yang selalu up to date yang hampir saja umat kita ini tidak melewatkannya dan tidak mengetahuinya. Akan tetapi, sampai saat ini, kita selalu kehilangan kebebasan bersuara secara syar’i, untuk menghukumi suatu peristiwa dengan dalil-dalilnya, tidak berdasarkan orang yang mengucapkannya, dan dengan hujjah-hujjahnya, tidak dengan implikasi yang berasal dari kejadian suatu peristiwa sebagai suatu hukum syar’i yang lebih dekat dengan kebenaran tanpa ada keraguan lagi.

Betapa sering kita mendengarkan terminologi Fiqhul Wâqi’, yang dua kubu saling bergumul tentang terminologi ini. Kubu pertama adalah kubu para penyeru revolusi dan politisi yang sentimentil dan terlalu bersemangat. Mereka menjadikan fiqhul wâqi’ ini sebagai alasan untuk mengikuti berita-berita politik dan menelaah metoda-metoda jurnalis, di antara semua kejadian untuk membakar semangat revolusi dan membebaskan luapan perasaan yang tak terkendali.

Adapun kubu kedua adalah kubu para ulama robbâniyûn, yang memahami fiqhul wâqi’ di atas landasan syar’i. Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah pernah menyebutkan tidak hanya di dalam satu buku pada karya tulisnya. (Yaitu) yang pertama dari fiqhul wâqi’ itu adalah, tidak terbatas hanya pada masalah politik dan derivasinya saja. Namun sesungguhnya fiqhul wâqi’ itu adalah metoda untuk menggambarkan keadaan segala peristiwa, sehingga implikasinya adalah suatu kebenaran dan keadilan. Sama saja, baik peristiwa tersebut adalah perkara politik atau syar’iyah, ataupun bahkan perkara materi duniawiyah.

Beginilah kita memahami pengertian fiqhul wâqi’ secara syar’i, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama di dalam buku-buku terminologi (ishtilâh) yang mengandung pendapat, landasan dan terminologi mereka, yaitu :

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

“Menghukumi sesuatu hal itu adalah cabang dari gambaran realita keadaannya”

Lalu kita dekatkan dua ungkapan (dari dua kubu) tersebut, dan kita ikuti makna yang benar di antara dua kalimat dan dua terminologi tersebut.

Maka kami katakan : Fiqhul wâqi’ yaitu peristiwa yang menjadikanmu berada di atas batasan sikap yang benar. Apabila engkau tidak memahami wâqi’ (realita) ini dengan pemahaman yang benar, maka akan menyebabkanmu jauh dari kebenaran tersebut sebatas kurangnya pengetahuan dan pemahamanmu terhadapnya. Beginilah pengertian yang benar. Bukanlah makna fiqhul wâqi’ itu dipenuhi dengan luapan semangat dan tindakan revolusi, dan disempitkan maknanya hanya pada batasan politik dan pelakunya (politisi) saja. Bukan demikian keadaannya!

Saya katakan, inilah pendahuluan lain dariku yang berisi ayat, hadits, atsar, kaidah fikih dan fatwa para ulama yang akan kusampaikan di majlis kita di malam yang penuh berkah ini –insyâ Alloh-, sebagai bagian dari firman Alloh :

لتبيننه للناس ولا تكتمونه

“Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya” (QS Âli ‘Imrân : 187)

Silakan bagi yang ridha meridhainya, bagi yang marah silakan marah, yang mau menuduh silakan menuduh, yang ingin mencela silakan mencela dan yang ingin menghujat silakan menghujat. Karena sesungguhnya hubungan seorang hamba terhadap Rabb-nya adalah hubungan yang tinggi. Hendaknya kejujuran di dalamnya menjadi syiar dan penolongnya tanpa melihat orang yang menyelisihi atau menyetujuinya. Kiblatnya adalah mengharapkan wajah Alloh, dan cahaya hatinya adalah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi wa man wâlahu.

Adapun dasar ayat al-Qur`ân adalah firman Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ :

وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri).” (QS an-Nisâ` : 83)

Seluruh ucapan para ulama tafsir tentang ayat ini berkaitan dengan dua poin, yaitu poin pertama bahwa urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak adalah termasuk problematika yang tidak boleh menyebarluaskan dan menyiarkannya kecuali dengan poin kedua, yaitu bahwa urusan ini adalah termasuk wewenang orang-orang khusus dari kalangan ahli ilmu dan ahli istinbâth (yang pandai menggali suatu hukum syar’i). Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ath-Thohâwî, Imam Ibnu Taimiyah, Imam ath-Thobarî dan selain mereka dari kalangan para ulama bahwa :

الأمور العامة في الأمة لا يفتي فيها ولا يعطي الحكم بشأنها إلا أهل العلم الربانيون ، الذين جعلوا قبلتهم كتاب الله ، ومهجة قلوبهم سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم -

“Urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak di tengah umat ini, tidak boleh seorangpun berfatwa dan memberikan hukum tentangnya kecuali ulama robbâniyûn yang menjadikan kitâbullah sebagai kiblat mereka dan sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sebagai cahaya hati mereka.”

Mereka hanya menginginkan kebaikan bagi umat ini, bukannya menginginkan suatu balasan dari mereka. Mereka menginginkan kebaikan, keistiqomahan, kebahagiaan dan keberhasilan bagi umat ini, bukan menginginkan suatu bagian dari dunia, sedikit maupun banyak. Ini adalah landasan pertama dan nash (dalil) yang kita kemukakan pertama kali penjelasannya.

Adapun dasar kedua adalah hadits yang diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim dari Abu Hurairoh –semoga Alloh Ta’âlâ meridhai beliau- yang berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

العبادة في الهرج كهجرة إليّ

“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku.”

Al-Haraj adalah (masa yang penuh dengan) pembunuhan, pencampuradukan, kegoncangan dan fitnah. Manusia di saat seperti ini, hati mereka menjadi tidak menentu, akal fikiran mereka menjadi bingung dan jiwa mereka tidak tentram. Ada diantara mereka yang pada keadaan seperti ini bergabung bersama dengan orang-orang rendahan yang menyebar ke seluruh penjuru tempat, tanpa dia sadari dan dia fahami. Karena fitnah ini menyebabkan dirinya tidak sadar dan terpukul hingga menyebabkan dirinya jatuh ke tempat yang rendah, dan dia tidak mampu menoleh ke tempat yang lebih tinggi dan lebih penting.

Hadits ini merupakan arahan dari Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, rasul Islam dan penghulunya anak keturunan Adam. Sebagai suatu bentuk pengajaran, peringatan dan arahan ketika berada di suatu tempat yang penuh dengan fitnah, maka wajib untuk menyibukkan diri dengan amalan yang paling utama dan paling penting, yaitu beribadah kepada Rabb Tabâroka wa Ta’âlâ, satu-satunya sesembahan yang benar subhânahu fî ‘alâhu. Daripada menyibukkan diri dengan peristiwa fitnah, yang malah semakin menyebabkan seseorang semakin jauh dari Alloh dan memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan padahal masih ada hal yang memiliki keutamaan.

Memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan adalah suatu perkara yang lebih sulit, sedangkan meninggalkan hal yang lebih memiliki keutamaan adalah lebih mudah. Memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan adalah jauh dari syariat Islam, dan menjauhkannya dari sesuatu yang memiliki keutamaan, maka hal ini adalah perkara yang diperintahkan oleh syariat.

“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku”, yaitu tatkala setiap orang pada sibuk masing-masing dan melakukan perbuatan yang dikehendakinya, berkumpul sekehendak mereka dan mengobarkan revolusi semau mereka. Janganlah sampai perbuatan mereka ini mengalihkan perhatianmu dari agamamu, dari manhaj kitab suci tuhanmu dan dari sunnah nabimu Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Inilah nash al-Qur`ân dan hadits nabi, jangan sampai menjadikan kita mempersamakan antara kezhaliman dengan keadilan, atau antara kebenaran dan kebathilan. Namun hendaknya menjadikan kita mengikat cara pola pikir kita, dan cara kita memperbaiki kondisi ini. Bukannya malah menyebarkan hasutan yang malah semakin berimplikasi mendatangkan bencana dan malapetaka, dan musibah demi musibah.

Syariat yang bijaksana ini mengikat akal, hati, lisan dan amal perbuatan kita. Mengikat hal ini seluruhnya dengan hal yang lebih sesuai dan lebih layak secara sempurna dengan tabiat dasar manusia yang telah Alloh ciptakan. Dia- berfirman :

ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia adalah Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (QS al-Mulk : 14)

Yang Maha Halus dan Mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Baik itu jauhnya seorang manusia dari manhaj robbânî yang benar, atau jatuhnya seseorang kepada kehinaan, atau rancunya seseorang dengan kezhaliman dan kedustaan, semoga Alloh melindungi kita dan kalian.

Syariat yang bijaksana ini, mengikat dua aspek yang dikira oleh sebagian orang bahwa kedua hal ini saling kontradiksi, padahal hakikatnya saling bersesuaian dan berpadu. Aspek pertama adalah, larangan syariat secara keras dari sikap memberontak (keluaran dari ketaatan) terhadap penguasa muslim. Ingat, yang kita bicarakan adalah penguasa muslim, kita tidak membicarakan penguasa yang memerangi hijâb, atau memerangi adzân, atau jenggot, ataupun bahkan yang memerangi Islam. Namun kita berbicara tentang seorang penguasa muslim, walapun dirinya menyelisihi sebagian perintah Alloh, atau ada pada dirinya sifat kefasikan dan kemaksiatan, namun hal ini tidaklah menyebabkan dirinya keluar dari lingkaran agama dengan kesepakatan ahlus sunnah. Ini adalah aspek pertama.

Aspek kedua, adalah aspek yang dikira kontradiksi dengan aspek pertama. Yaitu seorang penguasa yang Anda berada di bawah kekuasaannya, Anda tidak wajib untuk mencintainya lantaran sebab penyelewengannya terhadap syariat Alloh. Dan ketidakcintaan Anda kepadanya bukanlah termasuk bentuk keluar dari ketaatan kepadanya, atau sebagai bentuk mengobarkan revolusi. Namun hal ini, masuk ke dalam konteks sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، ذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.”

Inilah aspek kedua yang telah kuisyaratkan, bahwa aspek ini selaras secara sempurna dengan aspek pertama tadi sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm dalam sabdanya. Dengarkanlah hadits nabi ini yang mulia ini, yang begitu menakjubkan, begitu agungnya, begitu indahnya dan begitu mulianya. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

خير أمرائكم الذين تحبونهم ، ويحبونكم ، وتدعون لهم ، ويدعون لكم ، وشر أمرائكم…

“Sebaik-baik penguasa kalian, adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan kepada mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan pada kalian. Sedangkan seburuk-buruk penguasa kalian…”

Perhatikanlah, walaupun mereka disebut sebagai “seburuk-buruk”, apa yang dikatakan oleh Nabi selanjutnya? Beliau mengatakan “penguasa kalian”, dengan menyandarkan kata “sejelek-jeleknya” ini kepada “penguasa kalian”. Seburuk-buruk penguasa kalian dengan adanya keburukan pada mereka dan kalian tidak mencintainya, namun kedua hal ini masih menjadikan mereka tetap berada di dalam lingkup Islam walaupun dengan kekurangan dan keburukan padanya. Hal ini tidak menyebabkannya keluar dari agama. Mereka tidaklah melarang umat dari sholat dan tidak pula memerangi hukum-hukum Islam. Mereka tetap berpegang secara umum dengan hukum-hukum Islam, karena itulah Rasulullah menyebut mereka dengan “penguasa kalian”, sehingga kekuasaan mereka kepada kalian adalah tetap adanya.

Lanjutan hadits tersebut :

… وشر أمرائكم الذين لا تحبونهم ولا يحبونكم ، وتدعون عليهم ويدعون عليكم

“Dan seburuk-buruk penguasa kalian adalah mereka yang tidak kalian cintai dan mereka tidak mencintai kalian. Kalian doakan mereka dengan keburukan dan merekapun juga mendoakan keburukan bagi kalian.”

Hadits ini menunjukkan dhawâbith (koridor) di dalam beramal dan berbicara.

Namun, setiap aspek dari kedua aspek di atas ada tempatnya tersendiri, dan setiap bab dari kedua bab tersebut ada bagiannya tersendiri. Kita tidak boleh mencampuradukkannya, membuatnya rancu dan menyamarkannya, serta merubah tata letaknya tanpa dalil dan argumentasi, tanpa hujjah dan metoda. Ini adalah kebiasaan orang-orang rendahan. Adapun ahlus sunnah dan ahli ittibâ’ yang mengharapkan keselamatan, maka mereka senantiasa mengikatkan diri dengan hukum-hukum syariat, dan mengikatkan diri dengan landasan yang diperhatikan dan kaidah-kaidah fiqhiyah.

Adapun yang ketiga adalah sebuah atsar yang terdapat di dalam Shahîhain dari Syaqîq dari Usâmah bin Zaid. Beliau ditanya :

ألا تدخل على عثمان فتكلمه …

“Bersediakah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara padanya…”

Yaitu di zaman yang di dalamnya penuh dengan fitnah, ujian dan malapetaka. Sebagian orang menghadap Usâmah dan meminta serta menuntut beliau agar mau berbicara dengan penguasa, dan ‘Utsmân adalah penguasa pada saat itu, agar perkara ini dilihat sebagai bagian dari amar ma’rûf nahî munkar.

Mereka berkata kepadanya : “Bersediakah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara kepadanya?” Lantas Apa gerangan jawaban beliau? Beliau berkata :

أترون أين أكلمه إلا أسمعكم ؟

“Apakah kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengan belau lantas aku harus memperdengarkannya kepada kalian?”

Yaitu, kalian menghendaki bahwa saya tidak boleh berbicara dengan beliau (‘Utsmân) melainkan saya harus memperdengarkan, atau mengabarkan, atau menceritakan atau menunjukkan kepada kalian secara jelas dan terang, ataupun dengan isyarat maupun tercatat?!!

Lalu perhatikanlah, bagaimana beliau membantah hal ini dengan bagusnya. Beliau berkata :

والله لقد كلمته فيما بيني وبينه من دون أن أفتح أمرا لا أحب أن أكون أول من فتحه

“Demi Alloh! Saya telah berbicara empat mata dengan beliau. Tanpa perlu saya membuka hal yang tidak saya senangi jika saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.”

Beginilah akhlak seorang sahabat, akhlaknya para salaf, akhlak umat yang terbaik. Ini adalah akhlak kaum mukminin generasi awal, yang berilmu, berpengetahuian dan memiliki kesabaran.

Landasan pertama tadi ayat al-Qur`ân, yang kedua adalah hadits dan yang ketiga adalah atsar dari para salaf yang shalih. Sekarang landasan keempat, yaitu kaidah fikih. Kaidah fikih ini berbeda dengan kaidah ushul fikih. Kaidah fikih itu lebih berkaitan dengan urusan kaum muslimin di dalam aktivitas kehidupannya dan kejadian pada umumnya. Sedangkan kaidah ushul fikih itu lebih dekat dengan akal dan pemahaman para ulama, di dalam memahami dan menggali hukum dari nash. Adapun kaidah fikih, sesungguhnya landasan dasarnya digali dari keumuman kaidah-kaidah syar’iyah atau dalil-dalil syar’i, baik di dalam Kitabullah maupun di dalam sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Kaidah mendasar yang telah disepakati oleh para ulama yang kredibel di dalam memahami syariat dan pondasinya yang kokoh adalah kaidah :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil maslahat.”

Kaidah ini termasuk kaidah fikih yang independen lagi luas maknanya.

Ada kaidah lain yang melekat pada kaidah pertama ini, yang memiliki konteks yang serupa, yaitu :

إن ارتكاب أخف الضررين هو الأصل دفعا لأكبرهما

“Sesungguhnya mengambil keburukan yang teringan dari dua keburukan, adalah landasan untuk menolak keburukan yang lebih besar.”

Misalnya ada dua keburukan di hadapan kita, dan mau tidak mau kita harus memilih salah satunya dan tidak ada pilihan lain bagi kita. Lantas bagaimana perbuatan yang benar? Yang benar adalah kita memilih yang paling ringan keburukannya dan menolak yang paling besar keburukannya.

[Bersambung –insyâ Alloh-]

Dialihbahasakan dari Muntadayat Kullas Salafiyin