Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)

Jumat, 13 Desember 2013

Bolehkah Berobat kepada Dukun?

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya berobat ke dukun/paranormal setelah sebelumnya berobat ke medis dengan maksimal namun tidak kunjung sembuh-sembuh, justru (tentunya dengan izin allah-ed) sembuhnya oleh dukun/paranormal. Penyakitnya medis parah yang mengancam jiwa dan kalau segera tidak diobati. Bagaimana pula apabila kita waktu berobat niatnya ingin sembuh tidak peduli dengan prakteknya si dukun tersebut?
Jawaban:
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji’un suatu musibah yang besar bagi seorang muslim ketika dia melakukan perbuatan-perbuatan yang mengandung kesyirikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perdukunan merupakan bagian dari sihir, dan sihir ini cakupannya luas. Baik yang berkenaan dengan memisahkan suami istri atau membuat mereka saling terikat atau menyakiti orang lain bahkan sampai membunuh atau mengobati penyakit dengan sarana-sarana yang mengandung unsur kerjasama antara manusia dengan bangsa jin.
Maka apabila seseorang ditimpa sakit, diuji sakit oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah pasti tidak akan terpikir untuk melakukan hal tersebut. Pikirannya adalah bahwa sakit merupakan ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk meningkatkan kadar iman, dan kita disyariatkan untuk berobat. Betul.. sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam:
إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ (رواه ابو داود)
Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan bersamanya obat. Maka berobatlah wahai anak cucu adam dan janganlah berobat dengan yang haram” (H.R Abu Dawud)
Tetapi Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam juga menyebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menurunkan obat dalam sesuatu yang diharamkan. Jadi pengobatan dengan cara yang diharamkan maka itu bukanlah sebab syar’i. Tidak boleh .. sebab kesembuhan dari penyakit ada dua sebab, ada sebab qodari dan sebab syar’i. Sebab qodari mungkin saja bisa dilakukan tetapi apabila bertentangan dengan syari’at maka tidak boleh untuk dilakukan.
Kemudian berikutnya .. ketika seorang muslim ditimpa penyakit yang parah bahkan vonisnya adalah vonis meninggal ketika dia tahu bahwa penyakit ini akan mengantarkannya kepada ajal dan berjumpa dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka hendaklah dia bersabar dan meningkatkan kesabaran. Dan berdo’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kalaupun menemui ajal dalam keadaan husnul khotimah.
Namun ketika belum sanggup untuk menemui kematian karena merasa masih banyak dosa, sedikit amal soleh maka mintalah kesembuhan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebab kekuatan do’a tidak bisa diperkirakan. Maka.. kuatkan iman oleh karena di dalam sebuah hadits disebutkan ada seorang wanita yang terkena penyakit semacam ayan yang suka kambuh sehingga kalau kambuh menjadi tontonan orang dia malu bahkan dipermalukan bukan hanya tidak sembuh tapi malah dipermalukan dan ditonton orang banyak. Ketika datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam untuk berobat dan minta dido’akan dan doa Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam itu mustajab agar disembuhkan dari penyakitnya, apa kata Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam.. “Kalau engkau mau aku akan berdo’a agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyembuhkan engkau tapi kalau engkau mau bersabar saja dengan penyakit itu sampai mati maka bagimu surga“. Apa katanya…? Dia (Wanita hitam ini-ed) orang yang beriman jawabnya “Aku pilih sabar ya Rasulullah” sehingga dia senantiasa kambuh sampai matinya. Tapi dia meminta satu permintaan lagi “Ya Rasulullah aku kalau kambuh pakaianku terbuka kemana-mana sehingga auratku terlihat, mintakanlah pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika aku kambuh pakaianku jangan tersingkap sehingga auratku tertutup“.
Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam mendo’akannya maka Ibnu Umar Radiyallahu’anhu -ketika beliau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah wafat-  kepada murid-muridnya mengatakan “Siapa dari kalian yang mau tahu seorang wanita yang dijanjikan dan dipastikan sebagai ahli surga?” maka mereka lalu mengatakan “Mau” kata beliau “Lihatlah wanita hitam ini! wanita walaupun hitam jangan dihinakan karena warna kulitnya tapi dia termasuk ahli surga karena kesabarannya menanggung penyakitnya sampai dia mati.”
Nah, kita harus belajar dari kisah-kisah itu maka seorang muslim ketika dia mendapatkan ujian seberat apapun pikirannya bukan dunia, kesehatan adalah dunia tapi yang dipikirkan adalah bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridho padanya, mengampuni dosanya, menerima amal solehnya. Kalaupun dia ingin hidup, ingin sembuh, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sambil menangis ditengah malam ketika orang lain tidak tahu, mungkin Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan kesembuhan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala ingin tahu kadar keimanannya.
Tadi disebutkan bahwa dalam hadits seorang muslim senantiasa ditimpa kesulitan, ditimpa musibah sehingga akan menghapuskan dosa-dosanya sampai ketika kita berjumpa dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dia tidak menanggung dosa sedikitpun, dan itu adalah sebagai tanda bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala cinta kepadanya atau dia menyadari kenapa do’a saya tidak dikabulkan, mungkin masih punya kedzoliman kepada orang lain yang menghalangi do’anya atau masih ada makanan yang haram yang menghalangi do’anya atau perbuatan lainnya.
Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.
Jangan ambil jalan pintas… datang ke dukun untuk mencari kesembuhan adalah jalan pintas yang dimurkai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun karena hal ini sudah terjadi, dan kesembuhan yang didapat bukan berarti itu kebenaran. Segala sesuatu perbuatan dengan suatu yang haram bisa jadi mendatangkan kesembuhan semua itu dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak lepas dari itu… tetapi itu sebagai istidraj. Apa itu istidraj? Yaitu kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ditunda dan diulur sampai dia merasa itu adalah sebuah kebenaran-kebenaran sampai mencapai ajalnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala murka sekali, ditimpakan kepada orang tersebut dan dia tidak bisa mengelak dari azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala katakan .. kami biarkan mereka melakukan apa yang mereka sukai, rencanaku sangat kuat maka takutlah…

Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.(Q.S Al-’Araf : 183)
Namun karena sudah terjadi dan mungkin ketidaktahuan tentang masalah hukum ini maka segeralah bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sesali perbuatan yang telah lalu dan jangan diulangi perbuatan tersebut. Mohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bertaubat kepadanya dengan taubat nasuha dan isi hari-hari ke depan mulai dari sekarang dengan amal soleh dan menjalankan ketaaatan. Dan satu lagi.. dalami ilmu agama agar kita tahu hukum.. mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.. mana yang halal dan mana yang haram… itu yang akan membuat tenang dan semakin taat dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Wallahu a’lam.
Pertanyaan di jawab oleh Ustadz Tata Abdul Ghoni dalam program acara KISAH (Kajian Ilmiyah Siang Hari) Meraih Kehidupan Bahagia pukul 13.00-14.00