Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (HR Ibnu Majah:244)
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Syahidnya Husein Radhiallahu ’anhu di padang karbala




Tulisan berikut ini diterjemahkan dari tulisan dan sebagian ceramah Syaikh Utsman al-Khomis, seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Syiah-.

Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali ‘alaihissalam telah banyak ditulis, namun beberapa orang ikhwan meminta saya agar menulis sebuah kisah shahih yang benar-benar bersumber dari para ahli sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut –sebelumnya Syaikh telah menulis secara rinci tentang kisah terbunuhnya Husein di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.

Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan wafat, penduduk Irak mendengar kabar bahwa Husein bin Ali belum berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan utusan kepada Husein yang membawakan baiat mereka secara tertulis kepadanya. Penduduk Irak tidak ingin kalau Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan mereka tidak menginginkan Muawiyah, Utsman, Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Melalui utusan tersebut sampailah 500 pucuk surat lebih yang menyatakan akan membaiat Husein sebagai khalifah.

Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk meneliti kebenaran kabar baiat ini. Sesampainya Muslim di Kufah, ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan Husein menjadi khalifah. Lalu mereka membaiat Husein melalui perantara Muslim bin Aqil. Baiat itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.

Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah untuk mencegah Husein masuk ke Irak dan meredam pemberontakan penduduk Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia terus menanyakan perihal ini hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan dan di situ juga Muslim bin Aqil tinggal.

Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang segala kabar yang beredar. Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Muslim bin Aqil adalah keponakan Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.

Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiatnya mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.

Ubaidullah bin Ziayd merespon ancaman Muslim dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.

Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”. Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal saat itu adalah hari Arafah.

Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Husein, Muhammad al-Hanafiyah dll.

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan (mudah berubah pen.). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang (penakut pen.)’.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beluai antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”. Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan”.

Setelah meneruskan keberangkatannya, datanglah kabar kepada Husein tentang tewasnya Muslim bin Aqil. Husein pun sadar bahwa keputusannya ke Irak keliru, dan ia hendak pulang menuju Mekah atau Madinah, namun anak-anak Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang, sampai kita menuntut hukum atas terbunuhnya ayah kami”. Karena menghormati Muslim dan berempati terhadap anak-anaknya, Husein akhirnya tetap berangkat menuju Kufah dengan tujuan menuntut hukuman bagi pembunuh Muslim.

Bersamaan dengan itu Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghadang Husein agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Husein di Qadisiyah, ia mencoba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah. Husein mengatakan, “Celakalah ibumu, menjauhlah dariku”. Al-Hurru menjawab, “Demi Allah, kalau saja yang mengatakan itu adalah orang selainmu akan aku balas dengan menghinanya dan menghina ibunya, tapi apa yang akan aku katakan kepadamu, ibumu adalah wanita yang paling mulia, radhiallahu ‘anha”.

Saat Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Saad. Husein mengatakan, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbun (musibah) dan balaa’ (bencana).”

Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan, “Aku ada dua alternatif pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.

Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata Ubadiullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan agar Husein ditawan menghadapnya. Mendengar hal itu Husein menolak untuk menjadi tawanan.

Terjadilah peperangan yang sangat tidak imbang antara 73 orang di pihak Husein berhadapan dengan 5000 pasukan Irak. Kemudian 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husein seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya, masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melemparkan panah lalu mengenai Husein, Husein pun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husein akhirnya syahid, semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah yang memotong kepala Husein sedangkan dalam riwayat lain, orang yang menggorok kepala Husein adalah Sinan bin Anas, Allahu a’lam. Yang perlu pembaca ketauhi Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan Sinan bin Anas adalah pembela Ali (Syiah nya Ali) di Perang Shiffin.

Ini adalah sebuah kisah pilu yang sangat menyedihkan, celaka dan terhinalah orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Husein dan ahlul bait yang bersamanya. Bagi mereka kemurkaan dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meridhai Husein dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di antara ahlul bait yang terbunuh bersama Husein adalah:

-          Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.

-          Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.

-          Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.

-          Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.

-          Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.

Dari Ummu Salamah bawasanya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husein wahai Muhammad?” Nabi menjawab, “Tentu” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya. Kalau engkau mau, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat yang dinamakan Karbala. (HR. Ahmad dalam Fadhailu ash-Shahabah, ia mengatakan hadis ini hasan). Adapun berita-berita bahwa langit menurunkan hujan darah, dinding-dinding berdarah, batu yang diangkat lalu di bawahnya terdapat darah, dll. karena sedih dengan tewasnya Husein, berita-berita ini tidak bersumber dari rujukan yang shahih.

Benarkah Sikap Husein ‘alaihissalam Pergi ke Irak?

Tidak ada kemaslahatan dalam hal dunia maupun akhirat dari sikap Husein ‘alaihissalam yang keluar menuju Irak. Oleh karena itu, banyak sahabat Nabi yang berusaha mencegahnya dan melarangnya berangkat ke Irak. Husein pun menyadari hal itu dan ia sempat hendak pulang, namun anak-anak Muslim bin Aqil memintanya mengambil sikap atas terbunuhnya ayah mereka. Husein dengan penuh tanggung jawab tidak lari dari permasalahan ini. Dari peristiwa ini tampaklah kezaliman dan kesombongan orang-orang Kufah (Syiah-nya Husein) terhadap ahlul bait Nabi ‘alaihumu ash-shalatu wa salam.

Sekiranya Husein ‘alaihissalam menuruti nasihat para sahabat tentu tidak terjadi peristiwa ini, akan tetapi Allah telah menetapkan takdirnya. Terbunuhnya Husein ini tentu saja tidak sebesar peristiwa terbunuhnya para Nabi, semisal dipenggalnya kepala Nabi Yahya oleh seorang raja, karena calon istri raja tersebut meminta kepala Nabi Yahya bin Zakariya sebagai mahar pernikahan. Demikian juga dibunuhnya Nabi Zakariya oleh Bani Israil, dan nabi-nabi lainnya. Demikian juga dengan dibunuhnya Umar dan Utsman. Semua kejadian itu lebih besar dibanding dengan peristiwa dibunuhnya Husein ‘alaihissalam.

 Bagaimana Sikap Kita Terhadap Peristiwa Karbala?

Tidak diperbolehkan bagi umat Islam, apabila disebutkan tentang kematian Husein, maka ia meratap dengan memukul-mukul pipi atau merobek-robek pakaian, atau bentuk ratapan yang semisalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek saku bajunya.” (HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik, apabila mendengar musibah ini hendaknya ia mengatakan sebuah kalimat yang Allah tuntunkan dalam firman-Nya,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengtakan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Tidak pernah diriwayatkan bahwa Ali bin Husein atau putranya Muhammad, atau Ja’far ash-Shadiq atau Musa bin Ja’far radhiallahu ‘anhum, para imam dari kalangan ahlul bait maupun selain mereka pernah memukul-mukul pipi mereka, atau merobek-robek pakaian atau berteriak-teriak, dalam rangka meratapi kematian Husein. Tirulah mereka kalau engkau tidak bisa serupa dengan mereka, karena meniru orang-orang yang mulia itu adalah kemuliaan.

Tidak seperti orang-orang yang mengaku Syiah (pembela) Husein, Syiahnya ahlul bait Nabi pada hari ini, mereka merusak anggota tubuh, memukul kepala dan tubuh dengan pedang dan rantai, mereka katakan kami bangga menyucurkan darah bersama Husein. Demi Allah, sekiranya mereka berada pada hari dimana Husein terbunuh mereka akan turut serta dalam kelompok pembunuh Husein karena mereka adalah orang-orang yang selalu berhianat.

Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini

Dalm permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak turut campur. Aku mengakatakan hal ini bukan untuk membela Yazid tetapi hanya untuk mendudukan permasalahan yang sebenarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Ini adalah kesepatakan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mencegah Husein untuk memasuki wilayah Irak. Ketika Yazid mendengar tewasnya Husein, Yazid pun terkejut dan menangis. Setelah itu Yazid memuliakan keluarga Husein dan mengamankan anggota keluarga yang tersisa sampai ke daerah mereka. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Yazid merendahkan perempuan-perempuan ahlul bait lalu membawa mereka ke Syam, ini adalah riwayat yang batil. Bani Umayyah (keluarga Yazid) selalu memuliakan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah).

Sebelumnya Yazid telah mengirim surat kepada Husein ketika di Mekah, ternyata saat surat itu tiba Husein telah berangkat menuju Irak. Surat itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husein agar tidak berangkat ke Irak dan Yazid juga menyatakan kedekatan kekerabatan mereka. Bibi Yazid, Ummu Habibah adalah istri Rasulullah dan kakek (Jawa: mbah buyut) Yazid dan Husein adalah saudara kembar.

Kepala Husein

Tidak ada riwayat yang shahih yang menyatakan bahwa kepala Husein dikirim kepada Yazid di Syam. Husein tewas di Karbala dan kepalanya didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Tidak diketahui dimana makamnya dan makam kepalanya.

Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Sumber:
http://almanhaj.net

Diterjemahkan dengan beberapa tambahkan oleh Nurfitri Hadi
Artikel
http://www.KisahMuslim.com

Jumat, 16 Januari 2015

Ingin Melupakan Mantan Kekasih

Judul Asli: Syaikh Al-Arifi pun Tertawa

Artikel ini hanya ingin membuat anda tersenyum. Bukan untuk mengobral tawa atau canda, namun hanya melepas penat ketika seharian bekerja.
Kisah ini terjadi pada seorang syaikh yang ditanya tentang sebuah persoalan. Seorang pemuda yang ingin bertaubat menemui Syaikh ‘Arifi. Pemuda itu taubat dari melakukan hubungan di luar mahram sebelum ada ikatan pernikahan, alias pacaran.
Ketika bertemu dengan syaikh dia berkata,”Wahai syaikh, Alhamdulillah… aku menyesal atas apa yang aku perbuat selama ini dan aku ingin taubat.” “Tapi ada satu hal yang sulit aku lupakan ya syaikh, aku sulit melupakan kekasihku yang selama ini aku pacari.” lanjutnya.
Syaikh ‘Arifi kemudian menasehatkan kepadanya untuk berdoa dengan sebuah doa yang insya Allah dapat menghapus ingatan tentang kekasihnya tadi.
Maka dikatakanlah kepada pemuda tadi,”Berdoalah dengan doa..!!! Ya Allah penuhilah iman di dalam hatiku, penuhi iman di dalam pendengaranku, penuhi iman di dalam penglihatanku, dan terangilah jalanku dengan iman.”
Pemuda itupun langsung terdiam. Lantas berkata kepada syaikh,”Ya syaikh, tahukah engkau, nama kekasihku itu “iman”. Mendengar itu, Syaikh ‘Arifi pun tertawa.

Senin, 01 September 2014

Tukang Becak pun Bisa Berhaji

Judul Asli: Si Miskin Naik Haji

Siapa yang tidak kenal dengan Pak Muslim. Semua orang di kampung Kebon Kopi kenal dengan Pak Muslim. Dia terkenal sebagai seorang tukang becak yang sealu murah senyum. Sudah puluhan tahun dia menjalani profesinya itu. Tidak seperti kebanyakan tukang becak yang lain, Pak Muslim tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib, ia pun gemar melaksanakan shalat Tahajud dan shalat Dhuha.

Pak Muslim memiliki lima orang anak, anaknya yang paling besar sudah menginjak bangku SMA. Pak Muslim sangat senang karena dapat menyekolahkan semua anak-anaknya walaupun ia hanyalah seorang tukang becak.

Pak Muslim pulang dari masjid usai shalat subuh bersama-sama dengan istrinya, berjalan beriringan seperti biasa. Kelima anak-anaknya sudah mendahului mereka pulang ke rumah.

“Bu, Bapak tuh sudah semakin tua.”

“Iya. Ibu tahu pak. Ibu juga sudah semakin tua. Anak-anak juga sudah pada besar.”

“Bapak senang anak-anak kita soleh dan solehah.”

“Ya, Pak.”

“Sejak dulu Bapak pendam saja impian ini, Bu.”

“Apa itu, Pak?”

“Bapak ingin sekali naik haji bu.”

Mendengar omongan suaminya, Bu Muslim hanya tertawa kecil. Bukan tertawa untuk melecehkan suaminya, tetapi tertawa karena itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi, pikirnya. Hampir semua orang Islam ingin sekali naik haji, namun hanya beberapa saja yang beruntung, karena untuk sampai ke tanah Mekkah dari Indonesia membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi untuk Pak Muslim yang hanya seorang tukang becak, bisa makan dan menyekolahkan anak-anak saja rasanya bersyukur sekali.

“Bapak serius, Bu.”

“Ibu, tahu Pak. Tapi…”

“Bapak akan menabung dari sekarang. Sekarang keempat anak-anak kita bisa bersekolah dengan gratis, kita hanya memikirkan biaya anak sulung kita saja. Jadi Bapak putuskan mulai sekarang Bapak akan menabung untuk naik haji.”

Ibu menarik napas panjang, “Sejak dulu pun kita sudah menabung, Pak. Tapi tabungan kita tidak pernah penuh, sebab selalu saja ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, akhirnya tabungan pun terpakai terus.”

“Bapak harus pakai cara lain, Bu.”

“Apa Bapak mau menabung di bank? Jangan Pak, nanti malah habis buat biaya administrasi karena saking kecilnya tabungan kita.”

“Bukan di bank, Bu.”

“Trus dimana, Pak.”

Pak Muslim hanya tersenyum kecil tetapi pasti. Ya, Pak Muslim sudah membulatkan tekadnya. Sekarang hari Jum’at, ia akan melaksanakan niatnya sekarang juga.

“Kok, malah senyum-senyum, Pak. Memangnya dimana Bapak mau menabung?”

“Ibu tenang saja. Nanti juga Bapak akan cerita.”

“Cerita sekarang saja, Pak.bikin ibu penasaran saja.”

“Nanti saja, Bu. Nanti juga ibu tahu sendiri.”

“Ya, sudah. Bapak memang sukannya bikin ibu penasaran. Yang penting uang tabungannya jangan hilang ya, Pak.”

“Jangan khawatir, Bu. Bapak jamin uang tabungannya tidak akan pernah hilang.”

“Bapak yakin sekali toh, Pak. Biasanya Bapak selalu memakai kata Insya Allah, begitu, Pak.”

“Bapak yakin karena Bapak menabung langsung kepada Allah. Ups…” Bapak menupup mulutnya, “Wah keceplosan.”

“Apa maksudnya toh Pak?” ibu malah mengerutkan keningnya.

“Kita lihat saja nanti, Bu.”

Bu Muslim tidak menanyakan lebih jauh tentang rencana suaminya itu karena mereka sudah tiba di rumah. Yang Bu Muslim pikirkan sekarang adalah hari ini Bu Muslim akan memasak sayur asam, ikan asin dan sambal terasi. Makanan sederhana yang tak asing lagi bagi keluarga Pak Muslim.

Pak Muslim dengan langkah pasti mendorong becaknya keluar halaman rumah sebelum akhirnya mengayuh becak tersebut. Ia harus yakin dan optimis bahwa rencananya pasti akan berhasil. Yakinlah pada Allah. Karena Allah itu sebagaimana prasangka hambanya. Kalau kita yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita maka pasti Insya Allah, Allah akan mengabulkannya.

Kata-kata Ustadz Amin lah yang menguatkan hatinya akan rencananya tersebut. Dan Pak Muslim akan menabung agar bisa naik haji setiap hari Jum’at. Tak seorang pun yang tahu dimana Pak Muslim menabungkannya.

------------------------------------

“Loh kok, tidak mau dibayar. Bapak ini bagaimana sih. Buat apa narik becak kalau tidak mau dibayar.”

Dengan tetap tersenyum Pak Muslim berkata, “Ini untuk tabungan saya naik haji.”

“Ya, sudah.” Jawab penumpangnya sambil melengos pergi. “Aneh-aneh saja bapak itu, sudah gila kali. Hari gini,gitu loh. Masih ada orang yang kayak gitu.” Batinnya.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kini hampir semua orang di kampung Kebon Kopi tahu dengan kebiasaan Pak Muslim yang selalu menarik becak secara gratis setiap hari Jum’at. Banyak sekali orang-orang yang bersimpati pada Pak Muslim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memikirkan untuk menolong Pak Muslim, lah mereka sendiri saja pengen naik haji nggak kesampaian, yang ada tiap bulan harus pusing mikirin bayar kreditan ataupun utang di bank.

Fiuh… hidup lagi susah. Malah banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup ataupun hanya untuk menjaga gengsi. Tapi yang dilakukan Pak Muslim justru tidak pernah terpikirkan oleh siapapun diantara mereka.

Ada yang kasihan pada Pak Muslim, ada pula yang senang karena setiap hari Jum’at mereka dapat naik becak Pak Muslim secara gratis, terutama anak-anak sekolah yang dengan senang hati naik becak Pak Muslim, padahal kalau hari-hari biasa mereka jarang sekali naik becak. Tapi Pak Muslim dengan senang hati mengayuh becak tersebut walaupun tanpa bayaran sepeser pun setiap hari Jum’at.

Ia yakin semakin banyak mengayuh maka semakin banyak tabungannya. Dan setiap hari Jum’at banyak sekali penumpangnya tidak sebanyak pada hari-hari biasa. Tetapi hal tersebut justru membuatnya bertambah senang.

Lain dengan Bu Muslim yang justru tidak senang dengan kebiasaan suaminya itu.

“Coba dipikir-pikir lagi, Pak. Masak menabung untuk naik haji dengan cara seperti itu.”

“Loh, ibu itu gimana. Justru Bapak sudah memikirkannya masak-masak, Bu.”

“Masak iya sih, Pak.”

“Ibu, ini.” Pak Muslim geleng-geleng kepala, “Kita harus yakin kepada Allah, Bu. Karena Allah itu akan seperti prasangka hambanya. Kalau kita berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan seperti itu, tapi kalau sebaliknya maka yang terjadipun akan sebaliknya, Bu.”

“Ya sudah, kalau begitu, Pak. Ibu do’a kan semoga cepat naik haji.”

Bukan Cuma Bu Muslim, anak-anak Pak Muslim pun tidak setuju dengan apa yang Pak Muslim lakukan. Apa lagi yang sulung, dia malu dengan teman-temannya yang sudah memandang bapaknya layaknya orang edan. Fiuh… jaman sekarang kalau orang baik-baik dibilang edan. Orang edan beneran (yang doyan makan uang rakyat) lalu disebut apa?

----------------------------------
Entah sudah berapa tahu Pak Muslim melakukan kebiasaannya itu. Bu Muslim sendiri bahkan sudah melupakan kebiasaan suaminya itu. Orang lain pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kebiasaan Pak Muslim itu. Dan Pak Muslim tetap yakin dengan caranya itu. Kalau pun ada penumpang yang memaksa untuk membayar Pak Muslim pasti akan menolaknya setiap hari Jum’at, apapun yang terjadi.

Seperti hari Jum’at kali ini ada seorang bapak yang memaksa untuk membayar Pak Muslim setelah ia menaiki becaknya.

“Loh, kenapa tidak mau dibayar, Pak.”

“Ini untuk tabungan saya naik haji, Pak.”

“Memang bapak sudah daftar?”

“Belum.”

“Ya, sudah kalau begitu. Besok temui saya disini, di depan hotel ini, jam tujuh pagi.”

“Baik, Pak.”

Tidak ada yang menyangka bahwa penumpang Pak Muslim kali ini adalah seorang yang kaya raya yang kebetulan sedang singgah di daerah itu untuk urusan bisnis dan sebenarnya orang tersebut tidak pernah naik becak sekalipun dan ketika urusan bisnisnya selesai ia ingin merasakan bagaimana rasanya naik becak, dan terkejut sekali bahwa si tukang becak tersebut justru tidak mau dibayar. Dan lebih terkejut lagi adalah dengan alasan si tukang becak itu. Maka bapak tersebut memutuskan untuk membiayai semua biaya naik haji untuk si tukang becak tersebut, yang tidak lain adalah Pak Muslim. Subhanallah…

---------------------------
Bu Muslim menangis tersedu-sedu, anak-anaknya pun terlihat sedih, bukan sedih karena mereka benar-benar sedih, namun itu semua adalah ungkapan keharuan atas Pak Muslim. Bukan hanya mereka, orang-orang yang mengetahui akan kebiasaan Pak Muslim pun merasa sangat terharu, terutama orang-orang yang selama ini mencemooh kebiasaan Pak Muslim tersebut.

Banyak pula yang merasa tidak percaya dengan kenyataan ini. Namun mereka kini dapat melihat bahwa sebentar lagi Pak Muslim akan naik haji. Dan mereka tahu bahwa selama ini Pak Muslim tidak menabung dengan sia-sia. Kini tabungan Pak Muslim sudah cukup untuk bisa ke tanah suci.

sumber: www.tempatwisatamu.com

Rabu, 21 Mei 2014

Salat yang Terakhir pada Malam Pengantin

Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya..
Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal..
Dia berkata pada ibunya : Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya..!!
Ibunya terkejut : Apa kamu sudah gila..??
Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu..??
Semuanya akan terbasuh oleh air..
Lalu ibunya menambahkan : Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang..!!
Demi ALLAH, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu..
Anaknya menjawab : Demi ALLAH, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat..
Ibu, ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta..!!
Ibunya berkata : Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up..??
Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu..!!
Anak nya berkata dengan tersenyum : Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk..??
Bagaimana dengan Penciptaku..??
Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat,saya tidak akan tampak cantik Dalam Pandangan-NYA..
Lalu dia berwudhu,dan seluruh make-up nya terbasuh..
Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu..
Lalu dia memulai shalatnya..
Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya..
Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-NYA..
Ya,ia wafat dalam keadaan bersujud..
Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi TUHAN nya..
Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini..
Ia telah menjadikan ALLAH dan ketaatan kepada-NYA sebagai prioritas pertama..
(..Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi..)
SubhanALLAH,Semoga kisah nyata ini bisa menjadi I'tibar bagi kita semua.

Sabtu, 04 Januari 2014

Penyejuk Hati bagi Anda yang Terlambat Menikah

 Judul Asli: Lamaran dari Seorang Bujang Lapuk

Pada tahun 1047 H, ketika melakukan suatu tugas pekerjaan saya bertemu dengan seorang lelaki. Tugas itu memakan waktu lebih dari sebulan.oleh karena itu,terjadilah suatu persahabatan yang akrab diantara kami berdua. Suatu ketika aku bertanya kepadanya, “Temanku yang terhormat,aku tahu kamu belum menikah,padahal umurmu sekarang hampir 40 tahun. Kenapa kamu mesti terlambat menikah. Orang sepertimu pasti mengetahu manfaat-manfaat yang banyak dari menikah..?”
Temanku diam, kemudian katanya,”Ah…ah…! Sobat. Demi Allah, aku benar-benar telah lelah mencari dan mencari calon istri sampai aku putus asa,dan akhirnya aku tidak ingin menikah. Sejak lebih dari tujuh tahun yang lalu aku sudah sering melamar lalu ditolak. tahukah kamu sobat, aku melamar lebih dari 18 wanita, setiap kali aku mengetuk, aku berkata dalam hati, mereka pasti akan menerimaku, insyaallah.
Akan tetapi, ternyata mereka menolak. Oleh karena itu, aku merasa sedih, tidak bisa tidur, dan sering kali melamun hingga timbullah pikiran-pikiran dalam benakku, benarkah memang harus demikian nasibku? Benarkah? Sehingga, aku benar-benar ragu terhadap diriku, bahkan aku menuduh yang tidak-tidak terhadap diriku, akhlakku dan keluargaku. Betapa sering aku merasa semakin sakit hati dan sedih ketika ada sebagian kerabatku atau orang yang aku kasihi menanyaiku, kenapa kamu tidak menikah..? Aku merasa kesulitan sekali untuk menerangkan apa duduk persoalan yang sebenarnya kepada setiap orang.”
Aku berkata kepada temanku itu -meski aku malu, karena aku merasa telah membuatnya kesulitan-, aku katakan,”Sobat, bergembiralah menerima kebaikan. Karena,yang baik adalah apa yang dipilihkan Allah untuk hamba-Nya, dan kamu jangan putus asa. Mintalah taufiq dan kesudahan yang baik kepada Tuhanmu.”
Kemudian, terhentilah pembicaraan kami berdua.
Selanjutnya, hampir lima bulan lamanya kami tidak bertemu. Tiba-tiba temanku itu menghubungi aku. Dia mengundangku untuk menghadiri pesta pernikahnya. Aku senang sekali dan mengucapkan selamat kepadanya.

Kira-kira dua tahun setelah menikah, aku bertemu lagi dengannya. Dan dia tampak bahagia sekali. Dia memberi kabar tentang kelahiran anaknya. Kemudian,aku katakan kepadanya,”Bagaimana keadaanmu dan istrimu?”
“Masya Allah,” katanya, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya yang terlahir maupun yang batin. Aku beri tahu kamu bahwa aku mendapat nikmat yang besar sekali. Sungguh, Allah telah mengaruniakan aku kepadaku seorang istri yang menentramkan mataku dari segala seginya. Dia adalah wanita yang shalih, terpelajar, cerdas, cantik fisik dan akhlaknya, dan baik sikapnya. Allah telah menjadikan kasih sayang di antara kami sehingga merasa sangat bahagia. Dia benar-benar memuliakan aku dan keluargaku, khususnya kedua orang tuaku, orang tuaku telah berusia lanjut, keduanya sangat butuh perhatian khusus dan istriku telah melakukan itu dengan sangat sempurna, Alhamdulillah. Demi Allah, aku benar-benar memuji Allah setiap kali aku mengingat penderitaan-penderitaanku ketika ditolak oleh orang-orang yang dulu itu, dan aku katakan , Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan mereka tidak menerima lamaranku.

Aku senantiasa memohon kepada Allah agar senantiasa memberi kebahagiaan kepadaku dan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman:
“Barangkali kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S An Nisa : 19)
Sumber: Buku Obat Penawar Hati Yang Sedih hal 253-255, Sulaiman bin Muhammad bin Abdullah Al-Utsaim, Penerbit Pustaka Darussunnah.

AKU MALU MENATAP WAJAH SUAMIKU

Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.
Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.
Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
“Haah, pergi?”. Kata sang istri.
“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.