<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444</id><updated>2012-01-25T19:37:52.314-08:00</updated><category term='umum'/><category term='bid&apos;ah'/><category term='Profil Ulama&apos;'/><category term='akhlak tercela'/><category term='Aqidah'/><category term='muslimah'/><category term='Fatwa'/><category term='video'/><category term='tafsir Qur&apos;an'/><category term='adab'/><category term='Fiqh'/><category term='Manhaj'/><category term='renungan'/><category term='info'/><category term='keluarga'/><category term='Koreksi'/><category term='Nasihat'/><category term='Kisah'/><category term='Firqah'/><category term='Pemuda'/><category term='hikmah'/><category term='Akhlak Karimah'/><title type='text'>Dakwah Salafiyah</title><subtitle type='html'>"Dan orang-orang yang terdahulu, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Demikianlah kemenangan yang agung (QS. At-Taubah:100)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>173</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1244210605059204561</id><published>2012-01-25T19:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-25T19:21:43.126-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><title type='text'>Menciumi Kemaluan Istri</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eTXUN2-w7UI/TyDGwUkd_tI/AAAAAAAAAaM/gh7tENv8mCw/s1600/c1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eTXUN2-w7UI/TyDGwUkd_tI/AAAAAAAAAaM/gh7tENv8mCw/s200/c1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701775661708738258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu ‘alaikum. Bolehkah mencium kemaluan istri sendiri, menurut Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarif (cie**@***.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa’alaikumussalam warahmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbolehkan bagi masing-masing suami-istri untuk menikmati keindahan tubuh pasangannya. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هن لباس لكم وأنتم لباس لهن&lt;.p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para istri kalian adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian.” (Q.S. Al-Baqarah:187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para istri kalian adalah ladang bagi kalian. Karena itu, datangilah ladang kalian, dengan cara yang kalian sukai.” (Q.S. Al-Baqarah:223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ada dua hal yang perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhi cara yang dilarang dalam syariat, di antaranya: (1) Menggauli istri di duburnya; (2) Melakukan hubungan badan ketika sang istri sedang “datang bulan”. Kedua perbuatan ini termasuk dosa besar.&lt;br /&gt;Hendaknya dalam koridor menjaga adab-adab Islam dan tidak menyimpang dari fitrah yang lurus.&lt;br /&gt;Tentang mencium atau menjilati kemaluan pasangan, tidak terdapat dalil tegas yang melarangnya. Hanya saja, perbuatan ini bertentangan dengan fitrah yang lurus dan adab Islam. Betapa tidak, kemaluan, yang menjadi tempat keluarnya benda najis, bagaimana mungkin akan ditempelkan di lidah, yang merupakan bagian anggota badan yang mulia, yang digunakan untuk berzikir dan membaca Alquran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, selayaknya tindakan tersebut ditinggalkan, dalam rangka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga kelurusan fitrah yang suci dan adab yang mulia.&lt;br /&gt;Menjaga agar tidak ada cairan najis yang masuk ke tubuh kita, seperti: madzi.&lt;br /&gt;Ini semua merupakan bagian dari usaha menjaga kebersihan dan kesucian jiwa. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang menjaga kebersihan.” (Q.S. Al-Baqarah:222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ayat adalah Allah mencintai orang menjaga diri dari segala sesuatu yang kotor dan mengganggu. Termasuk sesuatu yang kotor adalah benda najis, seperti: madzi. Sementara, kita sadar bahwa, dalam kondisi semacam ini, tidak mungkin jika madzi tidak keluar. Padahal, benda-benda semacam ini tidak selayaknya disentuhkan ke bibir atau ke lidah. Allahu a’lam. (Disarikan dari Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).&lt;br /&gt;Artikel www.KonsultasiSyariah.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1244210605059204561?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1244210605059204561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/menciumi-kemaluan-istri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1244210605059204561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1244210605059204561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/menciumi-kemaluan-istri.html' title='Menciumi Kemaluan Istri'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eTXUN2-w7UI/TyDGwUkd_tI/AAAAAAAAAaM/gh7tENv8mCw/s72-c/c1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-6411364697581804367</id><published>2012-01-20T04:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T04:14:37.535-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>LOWONGAN GURU PROFESIONAL &amp; ISLAMI BINTANG PELAJAR INSTITUTE</title><content type='html'>membangun pendidikan islami dan berkompoetensi tinggi, Bintang Pelajar Institut maju di garis depan sebagai lembaga yang berorientasi menyiapkan guru profesional &amp; islami dalam rangka mendukung pembentukan insan berprestasi tingi dan berakhlak terpuji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat Lulus:Sarjana/S1&lt;br /&gt;Jurusan      :Semua Jurusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat:&lt;br /&gt;Syarat Umum&lt;br /&gt;Persyaratan Umum Mengikuti Diklat di Bintang Pelajar Institut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Muslim/muslimah, bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah.&lt;br /&gt;   2. Mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;   3. Berkomitmen tinggi dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;   4. Menguasai bahasa inggris minimal pasif.&lt;br /&gt;   5. Berpenampilan rapih, bersih, dan ceria.&lt;br /&gt;   6. Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.&lt;br /&gt;   7. Amanah, mandiri, tekun, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;   8. Bersedia ditempakan di seluruh cabang Bintang Pelajar.&lt;br /&gt;   9. Besedia mengikuti ikatan dinas 2 tahun setelah lulus dari Diklat Bintang Pelajar Institut.&lt;br /&gt;  10. Berbadan sehat, kuat, dan tidak merokok.&lt;br /&gt;  11. Usia per 1 Januari 2012 maksimal 35 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apply lamaran langsung via online ke website Bintang Pelajar Institute di www.bintangpelajar.com atau www.bintangpelajarinstitute.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Guru Profesional&lt;br /&gt;          * GAJI Rp.3.000.000,00/Bulan dan mendapatkan Training Senilai Rp.10.000.000,00&lt;br /&gt;          * Sarjana atau mahasiswa semester akhir semua jurusan, diutamakan dari FKIP, MIPA, Bahasa, Teknik, Ilmu Sosial, dengan IPK minimal 2,75 (skla 4).&lt;br /&gt;          * 2 Khusus muslimah dan belum menikah, berjilbab sesuai syar'i, dan bersedia diantar oleh mahromnya dari kota tempat tinggalnya menuju lokasi diklat saat awal diklat.&lt;br /&gt;          * Khusus guru bahasa inggris dan Bilingual/RSBI mampu berkomunikasi aktiv dalam bahasa inggris.&lt;br /&gt;          * Siap bekerja full time (Senin sampai Sabtu).&lt;br /&gt;          * Diutamakan berpengalaman mengajar minimal selama 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kriteria Khusus: Pilihan Menjadi Guru Bidang Studi&lt;br /&gt;          * Eksak (Matematika &amp; IPA) SD dan Matemaika SMP, Kode G1.&lt;br /&gt;          * Bahasa Indonesia, Kode G2.&lt;br /&gt;          * Bahasa Inggris, Kode G3.&lt;br /&gt;          * IPS SD, IPS SMP, dan Geografi SMA, kode G4.&lt;br /&gt;          * Ekonomi SMA, IPS SMP, dan IPS SD, G5.&lt;br /&gt;          * IPA SMP &amp; Kimia SMA, G6.&lt;br /&gt;          * IPA SMP &amp; Fisika SMA, G7.&lt;br /&gt;          * IPA SMP &amp; Biologi SMA, G8.&lt;br /&gt;          * Matematika SMP &amp; Matematika SMA, G9.&lt;br /&gt;          * Matematika SMP &amp; Fisika SMA, G10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Kepala Cabang, Kode KC&lt;br /&gt;   3. Bertanggungjawab penuh dalam pengelolaan cabang Bintang Pelajar dalam seluruh aspek pemasaran, pengelolaan kegiatan belajar mengajar, dan kerjasama dengan instansi lain sehingga tercapai pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan. Staf Quality Control, Kode QC&lt;br /&gt;Bertanggungjawab atas semua penyiapan dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) di Bintang Pelajar.&lt;br /&gt;Merancang, Melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan untuk pengembangan kegiatan belajar mengajar (KBM).&lt;br /&gt;   4. Front Liner (Administrasi) Ikhwan, Kode FL&lt;br /&gt; Bertanggungjawab terhadap layanan informasi dan pendaftaran siswa Bintang Pelajar&lt;br /&gt; Penanganan transaksi keuangan Bintang Pelajar.&lt;br /&gt;   5. Guru Kajian Keislaman, Kode GKK&lt;br /&gt;Bertanggungjawab dalam mengajar materi akidah, fiqih, dan akhlak terhadap guru dan Staf Bintang Pelajar, Bertanggungjawab dalam mengajarkan Al-Quran dan hafalan juz amma guru dan Staf Bintang Pelajar, Persyaratan: Ikhwan lulusan LIPIA atau S1 Timur Tengah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-6411364697581804367?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/6411364697581804367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/lowongan-guru-profesional-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6411364697581804367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6411364697581804367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/lowongan-guru-profesional-islami.html' title='LOWONGAN GURU PROFESIONAL &amp; ISLAMI BINTANG PELAJAR INSTITUTE'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-3147956956483520436</id><published>2012-01-18T20:18:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T20:21:02.802-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Apa Batasan Aurat Wanita di Depan Wanita yang Lain?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JesntxjboGM/TxeaKawHTZI/AAAAAAAAAaA/_N2VzRdw4DE/s1600/akh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JesntxjboGM/TxeaKawHTZI/AAAAAAAAAaA/_N2VzRdw4DE/s200/akh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699193357231148434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa batasan aurat seorang perempuan di hadapan perempuan yang lain? Jika batasannya adalah antara pusar hingga lutut, maka apakah dibolehkan seorang perempuan menampakkan payudaranya di hadapan sesama perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan untuk menampakkan di hadapan sesama perempuan atau laki-laki yang masih mahramnya lebih dari apa yang biasa nampak ketika seorang perempuan berada di dalam rumah. Jadi yang boleh dinampakkan adalah rambut, betis, hasta dan semisalnya. Hukum asal perempuan adalah ditutupi dan dilindungi. Terdapat banyak dalil dalam syariat yang menunjukkan hal tersebut. Praktek shahabat secara khusus dan salaf secara umumpun menunjukkan demikian. Meremehkan permasalahan menutup aurat di hadapan sesama perempuan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Sedangkan yang disebutkan dalam berbagai kitab fiqh kebanyakannya adalah keterangan yang tidak berdalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Albani rahimahullah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedangkan perempuan muslimah di hadapan sesama perempuan muslimah maka perempuan adalah aurat kecuali bagian tubuhnya yang biasa diberi perhiasan. Yaitu kepala, telinga, leher, bagian atas dada yang biasa diberi kalung, hasta dengan sedikit lengan atas yang biasa diberi hiasan lengan, telapak kaki dan bagian bawah betis yang biasa diberi gelang kaki.&lt;br /&gt;Sedangkan bagian tubuh yang lain adalah aurat, tidak boleh bagi seorang muslimah demikian pula mahram dari seorang perempuan untuk melihat bagian-bagian tubuh di atas dan tidak boleh bagi perempuan tersebut untuk menampakkannya. Dalilnya adalah firman Allah yang tegas: -beliau lalu membawakan QS an Nur 31-.” (Talkhish Ahkam Janaiz hal 30, sebagaimana dalam Masail Nisaiyyah Mukhtaroh karya Ummu Ayyub Nurah bin Ahsan Ghawi hal 143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ustadzaris.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci Terkait: aurat wanita dihadapan wanita, batas aurat wanita dengan wanita, pertanyaan tentang aurat wanita dalam islam, aurat, hukum, aurat sesama wanita, batasan aurat perempuan, aurat sesama muslimah, rambut, aurat sesama jenis#hl=id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-3147956956483520436?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/3147956956483520436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/apa-batasan-aurat-wanita-di-depan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3147956956483520436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3147956956483520436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/apa-batasan-aurat-wanita-di-depan.html' title='Apa Batasan Aurat Wanita di Depan Wanita yang Lain?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JesntxjboGM/TxeaKawHTZI/AAAAAAAAAaA/_N2VzRdw4DE/s72-c/akh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4080035657109916289</id><published>2012-01-14T01:49:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T01:52:07.955-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Menjadikan Kubur Sebagai Masjid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-bxjV0Im94jU/TxFQQJ9Oa4I/AAAAAAAAAZ0/b-AGV-_4yaw/s1600/kuburan-masjid-7401_175x175.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 175px; height: 175px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-bxjV0Im94jU/TxFQQJ9Oa4I/AAAAAAAAAZ0/b-AGV-_4yaw/s200/kuburan-masjid-7401_175x175.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697423242081233794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya masjid adalah bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Di dalam masjid dilakukan berbagai bentuk ibadah kepadaNya, seperti sholat jama’ah, membaca Al-Qur’an, tholabul ilmi (kajian agama) dan sebagainya yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,&lt;br /&gt;أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا&lt;br /&gt;Yang paling Allah cintai dari bagian kota-kota adalah masjid-masjidnya, dan yang paling Allah benci dari bagian kota-kota adalah pasar-pasarnya. (HR. Muslim, no: 671)&lt;br /&gt;Dan di dalam agama Islam, tidak diperbolehkan menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DALIL-DALIL LARANGAN&lt;br /&gt;Larangan tentang hal ini sangat banyak sekali. Inilah di antara dalil-dalil larangan tersebut:&lt;br /&gt;1-Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah melarangnya. Dan setiap larangan Nabi, hukum asalnya adalah haram.&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini,&lt;br /&gt;عَنْ جُنْدَبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ&lt;br /&gt;Dari Jundab, dia berkata: Lima hari sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku mendengar beliau bersabda: “Aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku memiliki kekasih di antara kamu. Karena sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasihNya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim menjadi kekasihNya (QS. 4:125-pen). Jika aku menjadikan kekasih di antara umatku, pastilah aku telah menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu telah menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang sholih mereka sebagai masjid-masjid! Ingatlah, maka janganlah kamu menjadikan kubur-kubur sebagai masjid-masjid, sesungguhnya aku melarang kamu dari hal itu!” (HSR. Muslim no:532)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2-Laknat Allah kepada orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid.&lt;br /&gt;Hal ini diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menjelang wafat.&lt;br /&gt;أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas –semoga Allah meridhoi mereka- mengatakan: “Ketika kematian datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau mulai meletakkan kain wol bergaris-garis pada wajah beliau, sewaktu beliau susah bernafas karenanya, beliau membukanya dari wajahnya, ketika dalam keadaan demikian, lalu beliau mengatakan: “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashoro, mereka menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. Beliau memperingatkan apa yang telah mereka lakukan. (HSR. Bukhari no: 435, 436; Muslim no:531)&lt;br /&gt;Syaikh Ali Al-Qori mengatakan: “Sebab laknat kepada mereka: kemungkinan karena mereka dahulu sujud kepada kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, karena mengagungkan mereka. Ini adalah syirik yang nyata. Kemungkinan karena mereka dahulu melakukan sholat karena Allah di tempat-tempat dikuburnya para Nabi mereka, dan sujud di atas kubur-kubur mereka, dan menghadap kepada kubur-kubur mereka pada sholat, karena anggapan mereka hal itu merupakan ibadah kepada Allah dan berlebihan di dalam mengagungkan para Nabi. Ini adalah syirik yang samar, karena mengandung pengagungan terhadap makhluk yang tidak diidzinkan baginya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya dari itu, kemungkinan karena perbuatan itu menyerupai jalan orang-orang Yahudi, atau karena mengandung syirik yang samar”. (Mirqootul Mafaatiih Syarh Misykaatul Mashoobiih, juz 1, hlm: 456. Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 32, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3-Para pelakunya adalah seburuk-buruk manusia.&lt;br /&gt;Perkara ini disebutkan di dalam hadits-hadits shohih, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمَّا اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَتْ بَعْضُ نِسَائِهِ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ وَكَانَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَتَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ فَذَكَرَتَا مِنْ حُسْنِهَا وَتَصَاوِيرَ فِيهَا فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya-, dia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, sebagian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, yang dinamakan gereja Mariyah. Dahulu Ummu Salamah dan Ummu HAbibah –semoga Allah meridhoikeduanya- pernah mendatangi negeri Habasya. Keduanya menyebutkan tentang keindahannya dan patung-patung/gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengankat kepalanya, lalu bersabda: “Mereka itu, jika ada seorang yang sholih di antara mereka mati, mereka membangun masjid di atas kuburnya, kemudian membuat patung/gambar orang sholih itu di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk manusia di sisi Allah”. (HSR. Bukhari no:1341; Muslim no:528)&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Hadits ini menunjukkan keharoman membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur orang-orang sholih, dan menggambar gambar-gambar mereka di dalamnya, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang Nashoro. Tidak ada keraguan bahwa tiap satu dari keduanya itu diharamkan, membuat gambar-gambar manusia diharamkan, dan membangun masjid-masjid di atas kubur-kubur, perbuatan ini saja juga haram”. (Fathul Bari, dinukil dari Tahdzirus Sajid, halm: 13, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)&lt;br /&gt;Dalam hadits lain disebutkan:&lt;br /&gt;عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ&lt;br /&gt;Dari Abdulloh, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah bersabda: “Sesungguhnya di antara seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang ketika hari kiamat datang mereka masih hidup, dan orang-orang yang menjadikan kubur-kubur sebagai masjid”. (HSR. Ahmad 1/432; no: 4132; Ibnu Hibban; Thobaroni di dalam Mu’jamul Kabir. Dishohihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MAKSUD LARANGAN&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Telah jelas dari hadits-hadits yang lalu bahaya menjadikan kubur sebagai masjid, dan ancaman keras di sisi Allah ‘Azza wa Jalla terhadap orang yang melakukannya. Maka kita wajib memahami makna menjadikan kubur sebagai masjid itu agar kita mewaspadainya. Aku katakan, yang mungkin difahami dari menjadikan kubur sebagai masjid adalah tiga makna:&lt;br /&gt;1-Sholat di atas kubur, dengan arti sujud di atasnya.&lt;br /&gt;2-Sujud menghadap kubur, dan menghadap kubur dengan sholat dan doa.&lt;br /&gt;3-Membangun masjid di atas kubur, dan menyengaja sholat di kuburan-kuburan.&lt;br /&gt;Dan pada tiap satu dari makna ini telah dikatakan oleh sekelompok ulama, dan telah datang dengannya nash-nash yang nyata dari penghulu para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “. (Tahdzirus Sajid, halm: 21, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)&lt;br /&gt;Kemudian syaikh menyebutkan perkataan para ulama tentang makna-makna di atas di dalam kitab beliau itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAMBAHAN KETERANGAN:&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sholat di semua masjid yang dibangun di atas kubur terlarang secara umum, kecuali masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (di kota Madinah), karena sholat di sana pahalanya seribu kali lipat, karena masjid itu dibangun di atas taqwa, dan kemuliaannya ada sejak kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para kholifah yang lurus sebelum masuknya kamar (kubur) di dalam masjid. Karena itu dimasukkan setelah habis masa sahabat”. (Dinukil dari Tahdzirus Sajid, hlm: 137, karya Syaikh Al-Albani, penerbit: Al-Maktabul Islami)&lt;br /&gt;Al-Hamdulillah Robbil ‘Alamin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penyusun: Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari&lt;br /&gt;Artikel www.UstadzMuslim.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4080035657109916289?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4080035657109916289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4080035657109916289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4080035657109916289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2012/01/menjadikan-kubur-sebagai-masjid.html' title='Menjadikan Kubur Sebagai Masjid'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bxjV0Im94jU/TxFQQJ9Oa4I/AAAAAAAAAZ0/b-AGV-_4yaw/s72-c/kuburan-masjid-7401_175x175.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1350161592384281557</id><published>2011-12-10T07:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T07:31:42.506-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muslimah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Tentang KB bagi Keluarga Muslim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-jFAP5CQTcyw/TuN7QNTitUI/AAAAAAAAAZo/LMDBkEzovyA/s1600/kb.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 163px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jFAP5CQTcyw/TuN7QNTitUI/AAAAAAAAAZo/LMDBkEzovyA/s200/kb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684522673051448642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KB yang kami maksud adalah Keluarga Berencana dengan merencanakan dan mengatur jarak kelahiran. Adapun KB dengan maksud membatasi kelahiran, apalagi mengharuskan hanya dua saja maka hal ini adalah bertentangan dengan ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;Kemudian latar belakang kami menulis hal ini adalah ada beberapa ikhwan-akhwat, walaupun tidak banyak, menganggap KB atau menggunakan KB terlarang secara mutlak semuanya. Ada beberapa ikhwan-akhwat yang kurang paham tentang bagaimana mengatur jarak kelahiran. Atau beralasan kaku bahwa kita tidak boleh menolak anak yang akan dianugrahkan kepada kita. Ataupun juga menganggap kaku bahwa tindakan KB yang harus melakukan tindakan invasif pada kemaluan yang kurang sesuai dengan syariat dan alasan lainnya. Padahal mengenai KB ada rincian penjelasan dari para ulama mengenai hukumnya berdasarkan metodenya. Sehingga tidak jarang kita mendengar berita ada ikhwan yang istrinya mengalami rupture rahim/ rahimnya jebol, atau harus operasi caesar atau minimal bayinya kurang sehat dan harus dirawat intensif di NICU [Neonatal Intensif Care Unit] dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini bisa disebabkan jarak kehamilan yang sangat dekat kemudian ditambah lagi kondisi istri yang kurang begitu baik atau sedang mengidap penyakit tertentu.&lt;br /&gt;Hukum KB&lt;br /&gt;Hukumnya sudah dijelaskan oleh para ulama dengan rinciannya. Kami mendapat faidah dari guru kami, Ustadz Aris Munandar, SS. MA. Hafidzahullah bahwa Secara umum hukum KB sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.       [تحديد النسل] Tahdidun nasl/ membatasi kelahiran&lt;br /&gt;Jelas hukumnya terlarang karena bertentangan ajaran Islam. Baik dengan alasan tidak bisa mencari rezeki ataupun susah mengurus anak.&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك قال كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا وَيَقُوْلُ تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;br /&gt;Anas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat ” [HR Ibnu Hibban 9/338,Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784]&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيراً&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan Kami jadikan kelompok yang lebih besar. [Al-Isra’: 6]&lt;br /&gt;Dan jumalah yang banyak adalah karunia semua kaum. Kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam diperingati tentang karunia mereka,&lt;br /&gt;وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ&lt;br /&gt;Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. [Al-A’raf: 86]&lt;br /&gt;2.       [تنظيف الاسل] tandzifun nasl/mengatur kelahiran&lt;br /&gt;Hal ini boleh jika dengan alasan kesehatan dan berdasarkan saran dari dokter yang terpercaya, karena jika sudah jelas berdasarkan fakta dan penelitian bahwa itu berbahaya maka tidak boleh dilakukan. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ&lt;br /&gt;“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Baqarah: 195]&lt;br /&gt;Cara yang mudah dan aman&lt;br /&gt;Ini berdasarkan  penglaman kami dan Alhamdulillah kami berhasil. Cara yang tidak perlu menggunakan hormon dan obat. Yaitu kombinasi antara KB metode penanggalan, coitus interuptus/ ‘azl dan barier seperti kondom. Cara ini sederhana tetapi butuh kedisiplinan dan kemampuan menahan hasrat. Tidak dianjurkan bagi mereka yang tidak bisa mengendalikan hasrat dan tidak istiqomah menjalankannya&lt;br /&gt;Metode penanggalan&lt;br /&gt;Yaitu mengetahui masa subur istri. Masa subur istri adalah 14 hari setelah hari pertama menstruasi. Masa subur adalah dimana ovum/sel telur wanita telah matang dan siap untuk dibuahi.  Para ahli mengambil kemungkinan empat hari sesudah ataupun sebelumnya bisa terjadi masa subur.&lt;br /&gt;Metode KB dengan penanggalan yaitu jangan menumpahkan sperma kedalam rahim saat masa subur.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Hari pertama menstruasi adalah tanggal 1 oktober. Maka perkiraan tanggal suburnya adalah tanggal 14, berpatokan dengan maka empat hari sebelum dan sesudahnya. Jangan menumpahkan sperma ke dalam rahim pada dari tanggal 10-18 oktober. Jika menstruasi berhenti pada tanggal 7 Oktober,&lt;br /&gt;Berarti waktu yang boleh:&lt;br /&gt;-tanggal 8-9 Oktober kita boleh menumpahkan sperma ke rahim&lt;br /&gt;-tanggal 19 Oktober sampai dengan menstruasi selanjutnya.&lt;br /&gt;Untuk jaga-jaga bisa juga dipakai lima hari sebelum dan sesudahnya. Dan biasanya 1 atau 2 hari setelah mentruasi adalah waktu yang aman.&lt;br /&gt;Bisa juga dibantu menggunakan kalender dengan menandai/membulatkan tanggal hari mulai menstruasi misalnya tanggal 5 Oktober, maka perkiraan hari subur adalah tanggal 19. Empat hari sebelum dan sesudah berarti tanggal 15-23 Oktober. Maka arsir merah atau tandai deretan tanggal tersebut di kalender dan menjadi patokan bahwa rentang tanggal tersebut tidak boleh menumpahkan sperma ke rahim.&lt;br /&gt;Metode coitus coitus interuptus/ ‘Azl&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al-Asqalaniy rahimahullah menukil bab dalam shahih Bukhari menjelaskan tentang ‘Azl,&lt;br /&gt;باب العزل أي النزع بعد الإيلاج لينزل خارج الفرج&lt;br /&gt;“Bab tentang Al-‘Azl yaitu mencabut (penis) setelah penetrasi agar (air mani) tertumpah di luar farji/vagina” [Fathul-Bariy 9/305, Asy-Syamilah]&lt;br /&gt;Hukum ‘Azl ada perselisihan diantara ulama, namun pendapat terkuat adalah mubah. Dengan beberapa dalil.&lt;br /&gt;Perkataan sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu&lt;br /&gt;كنا نعزل على عهد النبي صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;“Kami (para shahabat) melakukan ‘azl di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [HR.Bukhari no. 5207/ 5208-5209, Muslim no. 1440]&lt;br /&gt; Diriwayat lainnya,&lt;br /&gt; كنا نعزل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم ينهنا عنه.&lt;br /&gt;“Kami melakukan ‘azl di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak melarang kami darinya” [Shahih Muslim no. 1440, Musnad Abi Ya’laa no. 2255].&lt;br /&gt;Jika ada yang mengatakan bahwa ‘Azl adalah pembunuhan terselubung/kecil-kecilan, maka kita jawab dengan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;عن أبي سعيد الخدري، قال : بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم أن اليهود يقول إن العزل هو الموؤودة الصغرى. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كذبت يهود، ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لو أفضيت لم يكن إلا بقدر.&lt;br /&gt;dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata : “Telah sampai kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya orang Yahudi berkata : ‘Sesungguhnya ‘azl itu pembunuhan kecil-kecilan’. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang Yahudi telah berdusta. Seandainya engkau menyetubuhinya, tidaklah akan menghasilkan anak kecuali dengan takdir Allah” [HR.Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 3/31-32 no. 4348 dengan sanad hasan, At-Tirmidzi no. 1136, Abu Dawud no. 2173, Ahmad no. 11110  dengan sanad yang shahih]&lt;br /&gt;Jadi ‘Azl bisa dilakukan pada rentang waktu yang tidak boleh menumpahkan sperma ke dalam rahim. Pada contoh kita yaitu tanggal 10-18 Oktober&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga bahwa jika melakukan ‘Azl pada istri kita sebaiknya meminta izin kepada istri terlebih dahulu,&lt;br /&gt;وَقَدْ رَخَّصَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ فِي العَزْلِ وقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ: «تُسْتَأْمَرُ الحُرَّةُ فِي العَزْلِ، وَلَا تُسْتَأْمَرُ الأَمَةُ&lt;br /&gt;“Para ahli ilmu dari sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sabahat yang lain memberikan rukshah/keringanan tentang ‘azl.”&lt;br /&gt;Maalik bin Anas radhiallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;“Dimintai ijin (untuk melakukan ‘azl) bagi wanita merdeka, dan tidak dimintai ijin bagi budak wanita” [HR. At-Tirmidzi 3/435 no.1137, dishahihkan oleh Al-Albani, tahqiq Ahmad Syakir, Asy-Syamilah].&lt;br /&gt;Metode barier/kondom&lt;br /&gt;Kondom bisa kita kiaskan dengan ‘Azl karena alasan/illat adalah mencegah tertumpahnya sperma ke dalam rahim. Maka hukumnya juga mubah. Karena penggunaan kondom bisa menggantika ‘Azl. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah,&lt;br /&gt;حكم البدل حكم المبدل منه&lt;br /&gt;“hukum pengganti sama dengan hukum yang digantikan”&lt;br /&gt;Jika tidak bisa menahan saat akan ejakulasi dengan ‘Azl, maka bisa menggunakan kondom. Kodom bisa digunakan pada rentang waktu yang tidak boleh menumpahkan sperma ke rahim.&lt;br /&gt;Metode yang lainnya yang sederhana&lt;br /&gt;Ada beberapa metode lainnya yang sederhana juga tetapi kurang praktis, misalnya metode lendir yaitu wanita subur jika lendir vagina agak kental, cara mengetahuinya dengan memasukkan sedikit ibu jari dan telunjuk ke vagina kemudian ada lendirnya dan merenggangkan ibu jari dan telunjuk. Jika lendirnya masih menyatu ketika dipisahan oleh kedua jari, berarti kental dan ini adalah waktu subur&lt;br /&gt;Kemudian metode suhu yang menyatakan bahwa wanita yang subur mengalami kenaikan suhu 0,5-1 derajat. Metode ini mengukur suhu setiap hari ketika bangun tidur dan mencatatnya dikalender kemudian akan menjadi sebuah pola. Menurut kami ini tidak praktis.&lt;br /&gt;Metode lainnya yang menggunakan alat dan obat&lt;br /&gt;-Menggunakan hormon baik dengan obat dan suntik KB&lt;br /&gt;kami berpendapat jika ada metode sederhana seperti yang kami jelaskan kemudian ia sanggup melakukannya. Maka sebaiknya ini ditinggalkan. Belum lagi ada pendapat dikalangan medis bahwa penggunaan Obat dan suntikan KB berupa hormon estrogen dan progesteron bisa memacu kanker. Walaupun ini perlu penelitian jangka panjang. Dan juga kita perlu mengingat hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa haid dan nifas adalah ketetapan/kodrat wanita. Sebaiknya kita tidak melawan kodrat kita.&lt;br /&gt;فَإِنَّ ذَلِكَ شَىْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, haid adalah ketetapan/kodrat yang Allah tetapkan bagi para wanita keturunan Adam.” [H.R. Bukhari dalam bab Haidh dan Muslim]&lt;br /&gt;-Alat Kontrasepsi Dalam Rahim [AKDR] misalnya spiral&lt;br /&gt;Boleh menggunakannya. Karena secara medis insya Allah tidak merusak rahim. Hanya sebgai pencegah atau mematikan sperma ketika hendak masuk ke rahim. Tetapi hendaknya diperhatikan bahwa ini akan membuka aurat wanita. Jika yang memasang dokter kandungan laki-laki jelas haram jika masih ada dokter wanita atau bidan. Sebenarnya wanitapun tidak boleh melihat aurat sesama wanita begitu juga laki-laki. Tetapi karena ini adalah satu-satunya jalan. Kami tetap menyarankan memakai cara sederhana yang kami paparkan jika ia sanggup.&lt;br /&gt;- Vasektomi dan tubektomi&lt;br /&gt;Jelas metode ini adalah haram karena membuat laki-laki dan wanita tidak bisa membuat keturunan selamanya. Dan ini termasuk menggubah ciptaan Allah dan keluar jauh dari tujuan penciptaannya yaitu untuk memperoleh keturunan. Kita telah jelaskan dalil mengenai perintah agar memperbanyak keturunan. Kemudian ini juga ditempuh dengan metode operasi yang melakukan invasif pada tubuh dengan alasan yang kurang benar.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Jika ada cara yang aman dan sederhana sebaiknya kita pakai yaitu kombinasi metode kalender, coitus interuptus/ ‘azl dan barier/kondom. Ini lebih selamat karena terbebas dari efek samping hormon, membuka aurat dan tindakan invasif ada tubuh dengan cara melukai tubuh.&lt;br /&gt;Kami tutup dengan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;كان النبي صلى الله هليه و سلم أجود الناس، و أشجع الناس، ما سئل شيئا قط فقال : لا. و كان دائما البشر، سهل الخلق، لين الجانب، ما خير بين أمرين إلا اختار أيسر هما؛ إلا أن يكون إثما؛ فيكون أبعد الناس عنه&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,, maka beliau akan memilih yang paling mudah, kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut.” [HR. Bukhari 6/419-420 dan Muslim 2327]&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat untuk kita semua&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. &lt;br /&gt;Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid&lt;br /&gt;8 Dzulqo’dah 1432 H, Bertepatan  6 Oktober 2011&lt;br /&gt;Penyusun: dr. Raehanul Bahraen&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Paling Mulia, Yang Paling Bertakwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 28 Oct 2011 08:00 PM PDT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang menyangka bahwa yang paling mulia adalah yang kaya harta, dari golongan konglomerat, yang cantik rupawan, yang punya jabatan tinggi, berasal dari keturunan Arab atau bangsawan. Namun, Allah sendiri menegaskan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat yang patut jadi renungan saat ini adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كرم الدنيا الغنى، وكرم الآخرة التقوى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun muliany seseorang di akhirat karena takwanya.” Demikian dinukil dalam tafsir Al Baghowi. (Ma’alimut Tanzil, 7: 348)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Al Alusi, ayat ini berisi larangan untuk saling berbangga dengan keturunan. Al Alusi rahimahulah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa (kalian).” (Ruhul Ma’ani, 19: 290)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir Al Bahr Al Muhith (10: 116) disebutkan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagaimana yang disebutkan dalam ayat (yaitu ada yang berasal dari non Arab dan ada yang Arab). Hal ini bertujuan supaya kalian saling mengenal satu dan lainnya walau beda keturunan. Janganlah kalian mengklaim berasal dari keturunan yang lain. Jangan pula kalian berbangga dengan mulianya nasab bapak atau kakek kalian. Salinglah mengklaim siapa yang paling mulia dengan takwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Yang bertakwa itulah yang berhak menyandang kemuliaan, yaitu lebih mulia dari orang yang tidak memiliki sifat takwa. Dialah yang paling mulia dan tinggi kedudukannya (di sisi Allah). Jadi, klaim kalian dengan saling berbangga pada nasab kalian yang mulia, maka itu bukan menunjukkan kemuliaan. Hal itu tidak menunjukkan seseorang lebih mulia dan memiliki kedudukan utama (di sisi Allah).” (Fathul Qodir, 7: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir Al Jalalain (528) disebutkan, “Janganlah kalian saling berbangga dengan tingginya nasab kalian. Seharusnya kalian saling berbangga manakah di antara kalian yang paling bertakwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Allah menjadikan kalian berbeda bangsa dan suku (ada yang Arab dan ada yang non Arab) supaya kalian saling mengenal dan mengetahui nasab satu dan lainnya. Namun kemuliaan diukur dari takwa. Itulah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, yang rajin melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Standar kemuliaan (di sisi Allah) bukan dilihat dari kekerabatan dan kaum, bukan pula dilihat dari sisi nasab yang mulia. Allah pun Maha Mengetahui dan Maha Mengenal. Allah benar-benar tahu siapa yang bertakwa  secara lahir dan batin, atau yang bertakwa secara lahiriyah saja, namun tidak secara batin. Allah pun akan membalasnya sesuai realita yang ada.” (Taisir Al Karimir Rahman, 802)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadits pula yang menyebutkan hal di atas, yaitu semulia-mulia manusia adalah yang paling bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ النَّاسِ أَكْرَمُ قَالَ « أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِىُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِىِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ » . قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ . قَالَ « فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِى » . قَالُوا نَعَمْ . قَالَ « فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada, “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari no. 4689)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ « انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلاَ أَسْوَدَ إِلاَّ أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kulit putih membuat kita mulia, bukan pula karena kita keturunan darah biru, keturunan Arab, atau anak konglomerat. Yang membuat kita mulia adalah karena takwa. Semoga pelajaran tentang ayat yang mulia ini bermanfaat dan bisa kita renungkan serta realisasikan. Wallahu waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@ Sabic Lab Riyadh KSA, 27 Dzulqo’dah 1432 H (25/10/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.&lt;br /&gt;    Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, terbitan Dar Thoyyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H&lt;br /&gt;    Ruhul Ma’ani fii Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim was Sab’il Matsanii, Mahmud bin ‘Abdullah Al Husaini Al Alusi, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.&lt;br /&gt;    Tafsir Al Bahr Al Muhith, Abu Hayan Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan, sumber kitab: Mawqi’ Tafasir.&lt;br /&gt;    Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, 1422 H.&lt;br /&gt;    Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;    Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.&lt;br /&gt;    Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1350161592384281557?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1350161592384281557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/12/tentang-kb-bagi-keluarga-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1350161592384281557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1350161592384281557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/12/tentang-kb-bagi-keluarga-muslim.html' title='Tentang KB bagi Keluarga Muslim'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jFAP5CQTcyw/TuN7QNTitUI/AAAAAAAAAZo/LMDBkEzovyA/s72-c/kb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1646785150004685521</id><published>2011-11-09T18:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-09T18:40:49.478-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><title type='text'>Kunyah, apakah sebuah Sunnah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-wejk6ZFt4qU/Trs4cxikC6I/AAAAAAAAAZM/ueIGwOrf4nw/s1600/sil.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-wejk6ZFt4qU/Trs4cxikC6I/AAAAAAAAAZM/ueIGwOrf4nw/s200/sil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673190222589070242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MUQODDIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada sebagian kalangan yang melecehkan Sunnah “kunyah[1] ”. Penulis tahu hal ini ketika membaca komentar-komentar di situs kami.  Menurut mereka: sok Arab, sok alim dan lainnya. Demikianlah sikap dan komentar sebagian kalangan tentang Sunnah ini. Bagaimanakah sebenarnya hakikat permasalahannya?! In sya Alloh pada kesempatan ini, akan kita bahas tentang jawabannya. Semoga Alloh subhanahu wa ta’aala selalu menambahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI KUNYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyah adalah nama yang diawali dengan “Abu” atau “Ibnu” untuk laki-laki, seperti Abu Abdillah dan Ibnu Hajar. Sedangkan “Ummu” atau “Bintu” adalah untuk perempuan, seperti Ummu Aisyah dan bintu Malik.&lt;br /&gt;Kunyah apabila bergabung dengan nama asli maka kunyah boleh diawalkan atau diakhirkan. Contoh Abu Hafsh Umar atau Bakr Abu Zaid. Namun yang lebih masyhur, kunyah diawalkan karena maksud dari kunyah adalah untuk menunjukkan kepada dzat bukan sebagai sifat.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyah secara umum merupakan suatu penghormatan dan kemuliaan.[3]Seorang peyair berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُكْنِيْهِ حِيْنَ أُنَادِيْهِ لِأُكْرِمَهُ&lt;br /&gt;وَلاَ أُلَقِّبُهُ وَالسَّوْءَةُ اللَّقَبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memanggilnya dengan kunyah sebagai penghormatan padanya&lt;br /&gt;Dan saya tidak menggelarinya, karena gelar adalah jelek baginya.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terkadang kunyah juga bisa bermakna celaan seperti Abu Jahl, Abu Lahab dan lain sebagainya.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALIL-DALIL DISYARI’ATKANNYA KUNYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَبِيُّ - صلى الله عليه وسلم-أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا, وَكَانَ لِيْ أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ عُمَيْرٍ, قَالَ أَحْسَبُهُ فَطِيْمٌ, وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ نُغَيْرٌ ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya mempunyai saudara yang biasa dipanggil Abu Umair. Apabila Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam datang, beliau mengatakan, ’Wahai Abu Umair apa yang sedang dilakukan oleh Nughoir (Nughoir adalah sejenis burung)?’”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhori rahimahulloh membuat bab hadits ini dengan ucapannya “Bab kunyah untuk anak dan orang yang belum mempunyai anak”. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh berkata: “Imam Bukhori mengisyaratkan dalam bab ini untuk membantah anggapan orang yang melarang kunyah bagi yang belum mempunyai anak dengan alasan bahwa hal itu menyelisihi fakta.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i rahimahulloh berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah tentang bolehnya memberi kunyah kepada orang yang belum mempunyai anak.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لِلنَّبِيِّ - صلى الله عليه وسلم-: يَا رَسُوْلَ اللهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِيْ, فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ: إِكْتَنِيْ أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللهِ, فَكَانَ يُقَالُ لَهَا أُمُّ عَبْدِ اللهِ حَتَّى مَاتَتْ وَلَمْ تَلِدْ قُطُّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Urwah bahwasanya ’Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam: “Wahai Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam, seluruh istrimu mempunyai kunyah selain diriku.”Maka Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berkunyahlah dengan Ummu Abdillah.” Setelah itu ’Aisyah radhiyallahu ‘anha selalu dipanggil dengan Ummu Abdillah[9] hingga meninggal dunia, padahal dia tidak melahirkan seorang anak pun.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahulloh berkata: “Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya kunyah sekalipun belum mempunyai anak. Karena hal ini termasuk adab Islam yang menurut pengetahuan kami tidak ada dalam agama-agama lainnya. Maka hendaknya kaum muslimin menerapkan Sunnah ini baik kaum pria maupun wanita.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ عُمَرَ قَالَ لِصُهَيْبٍ مَا لَكَ تَكْتَنِى بِأَبِى يَحْيَى وَلَيْسَ لَكَ وَلَدٌ. قَالَ كَنَّانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِأَبِى يَحْيَى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Shuhaib: ‘Kenapa engkau berkunyah dengan Abu Yahya padahal kamu belum mempunyai anak?’ Maka dia menjawab: ‘Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam yang memberiku kunyah Abu Yahya.’”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah disyari’atkan kunyah bagi yang belum mempunyai anak, bahkan dalam shohih Bukhori dan lainnya bahwa beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam memberikan kunyah kepada putri kecil dengan Ummu Kholid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh disayangkan, banyak kaum muslimin yang melupakan Sunnah ini. Amat jarang sekali kita menjumpai orang yang berkunyah padahal dia mempunyai anak banyak. Apalagi lagi yang belum mempunyai anak?![13]&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad al-Banna berkata: “Hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya kunyah bagi anak kecil dan dewasa baik sudah mempunyai anak atau belum (dan ini bukanlah suatu kebohongan), baik lelaki atau wanita, dan bolehnya berkunyah dengan selain anaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang namanya Bakr, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang bernama Hafsh, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tidak memiliki anak yang bernama Dzar, dan seterusnya banyak sekali tak terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibolehkan pula bagi wanita untuk berkunyah dengan nama anak orang lain sekalipun ia tidak memiliki anak, sebagaimana Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memberi kunyah ’Aisyah dengan Ummu Abdillah. Jadi, kunyah itu tidak harus memiliki anak terlebih dahulu dan tidak harus juga ia berkunyah dengan nama anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama mengatakan: “Mereka memberikan kunyah kepada anak kecil sebagai rasa optimisme bahwa dia akan hidup hingga mempunyai anak dan sebagai penghindaran diri dari gelar-gelar jelek. Oleh karenanya seorang di antara mereka mengatakan: “Cepatlah berikan kunyah untuk anak-anak kalian sebelum didahului oleh gelar.” Wallohu a’lam.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUNYAH PARA SALAF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits-hadits di atas yang menunjukkan disyari’atkannya kunyah bagi anak kecil dan orang dewasa sekalipun belum mempunyai anak, maka merupakan kebiasaan salaf dari kalangan sahabat adalah berkunyah sekalipun belum dikaruniai anak. Imam az-Zuhri rahimahulloh berkata: “Adalah beberapa sahabat, mereka berkunyah sebelum dikaruniai anak.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ath-Thobroni meriwayatkan dengan sanad shohih dari Alqomah dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memberinya kunyah Abu Abdirrohman sebelum dikarunia anak.”&lt;br /&gt;   2. Al-Bukhori dalam Adabul Mufrod meriwayatkan dari Alqomah radhiyallahu ‘anhu: “Abdulloh bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”&lt;br /&gt;   3. Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibrahim, berkata: “Adalah Alqomah radhiyallahu ‘anhu diberi kunyah Abu Syibl padahal dia mandul tidak mempunyai anak.”&lt;br /&gt;   4. Al-Bukhori meriwayatkan dari Hilal al-Wazan berkata: “Urwah memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”&lt;br /&gt;   5. Al-Bukhori dalam Tarikh Kabir meriwayatkan dari Hisyam: “Muhammad bin Sirin memberiku kunyah sebelum aku dikaruniai anak.”[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, semua ini dapat membantah pendapat sebagian kalangan yang melarang kunyah bagi orang yang belum mempunyai anak. Jika kita ingin mengutip semuanya, maka banyak sekali ulama salaf dan ahli hadits yang memiliki kunyah[17], sehingga banyak pula ditulis kitab-kitab khusus yang membahas tentang kunyah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam muqoddimah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Murod terhadap kitab al-Muqtana fil Kuna hlm. 22-31 beliau menyebutkan lebih dari tiga puluh judul kitab tentang kunyah para perawi hadits, di antaranya adalah al-Kuna oleh Imam Muslim (2 jilid), al-Kuna wal Asma’ oleh ad-Daulabi (2 jilid), al-Kuna oleh Imam Ahmad, al-Hakim Abu Ahmad, Nasai’, Ibnu Mandah, Ali bin Madini dan lain sebagainya.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUNYAH DENGAN ABUL QOSHIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan mengenai penggunaan kunyah bagi kaum laki-laki dengan menggunakan kunyah Abul Qosim, beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ- صلى الله عليه وسلم-: سَمُّوْا بِاسْمِيْ, وَلاَ تَكْتَنُوْا بِكُنْيَتِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu berkata, Abul Qosim shalallahu ‘alayhi wa sallam berkata: “Pakailah namaku dan jangan berkunyah dengan kunyahku.” [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih dalam penggunaan kunyah Abul Qosim ini, al-Hafizh Ibnu Qoyyim rahimahulloh berkata: “Pendapat yang benar adalah boleh bernama dengan nama Muhammad dan dilarang berkunyah dengan kunyah Abul Qosim. Larangan ini lebih keras lagi pada masa beliau dan dilarang pula menggabung nama beserta kunyah beliau yakni Muhammad dan Abul Qosim.”[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan singkat tentang sunnahnya kunyah dalam nama. Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Baca kun-yah. Bukan kunyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Syarh Ibnu Aqil ‘ala alfiyah Ibni Malik 1/115 dan al-Qowaid al-Asasiyyah Li Lughotil Arobiyyah hlm. 67 oleh Sayyid Ahmad al-Hasyimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Para ulama berselisih pendapat tentang memberi kunyah kepada orang kafir dan ahli bid’ah. Pendapat yang benar pada asalnya adalah tidak boleh karena termasuk menghormati mereka, tetapi terkadang diperbolehkan apabila ada tujuan dan sebab syar’i. (Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah Min Ahlil Bida’ wal Ahwa’ 2/584 oleh Dr. Ibrohim ar-Ruhaili hafidzahullah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]  Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hlm. 232 oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahulloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Bekal Menanti Si Buah Hati hlm. 36 oleh Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafidzahullah, cet. Media Tarbiyah, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Bukhari 6203, Muslim 2150&lt;br /&gt;Faedah: Ibnu Qash asy-Syafi’i rahimahulloh di awal kitabnya Juz fi Fawaid Hadits Ya Aba Umair, menyebutkan bahwa sebagian manusia mencela ahli hadits dan menuding bahwa mereka meriwayatkan sesuatu yang tidak ada faedahnya seperti hadits Abu Umair. Kata beliau: “Apakah mereka tahu bahwa hadits ini ternyata menyimpan faedah dalam masalah fiqih, adab dan faedah lainnya sehingga mencapai enam puluh faedah?!.” (Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar 10/716, Mu’jam al-Mushannafat fi Fathil Bari oleh Masyhur bin Hasan hafidzahullah hlm. 167-168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]  Fathul Bari 10/714&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]  Juz Fiihi Fawaid Hadits Abi Umair hlm. 27, Tahqiq Shobir Ahmad al-Bathowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]  Abdulloh di sini adalah keponakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yaitu Abdulloh bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa ’Aisyah radhyallahu ‘anha pernah keguguran anaknya, maka riwayat ini adalah bathil secara sanad dan matan. (Lihat Tuhfatul Maudud hlm. 231 oleh Ibnu Qoyyim rahimahulloh, al-Adzkar 2/725 oleh an-Nawawi rahimahulloh, al-Ijabah hlm. 41 oleh az-Zarkasyi, Silsilah Adh-Dho’ifah no. 4137 oleh al-Albani rahimahulloh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Ahmad 6/107, 151, Abu Dawud 4970, Abdur Rozzaq dalam al-Mushannaf 19858 dengan sanad shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 132&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Silsilah Ahadits ash-Shohihah 1/257&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]  HR. Ibnu Majah: 3738 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ahadits al-Aliyat no. 25 dan dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Silsilah Ahadits ash-Shohihah 1/110-111. Lihat pula Nihayatul Hajah Fi Syarh Sunan Ibni Majah 2/1361 oleh as-Sindi dan Silsilah Atsar ash-Shohihah 1/14 oleh Abu Abdillah ad-Dani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]  Bulughul Amani fi Asrori Fathur Robbani 2/2013. Lihat pula Tuhfatul Maudud hlm. 232 oleh Ibnu Qoyyim dan Aunul Ma’bud 13/212 oleh Adzim Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (5/26278).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16]  Lihat atsar-atsar ini dalam Fathul Bari 10/714 oleh Ibnu Hajar dan Fadhlullohi ash-Shomad 2/677 oleh Fadhlulloh al-Jilani. Dan atsar no. 2 dan 3 dishohihkan al-Albani dalam Shohih Adab Mufrod hlm. 228.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Al-Hafizh Khothib al-Baghdadi berkata dalam al-Jami’ li Akhlak Rowi wa Adabi Sami’ 2/77: “Dalam ahli hadits banyak sekali para perawi yang cukup disebut dengan kunyah mereka tanpa nama dan nasab mereka karena kemasyhuran mereka dengan kunyah dan tidak dikhawatirkan tercampur dengan lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Lihat al-Baitsul Hatsits 2/594 oleh Ahmad Syakir, tahqiq Syaikhuna Ali Hasan al-Halabi hafidzahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19]  HR. Bukhori 3539, Muslim 2134&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Zaadul Ma’ad 2/347. Lihat perbedaan ‘ulama dalam masalah ini secara luas beserta dalil-dalilnya dalam Ahkamul Maulud Fi Sunnah Muthohharoh hlm. 95-103 oleh Salim asy-Syibli dan Muhammad Kholifah ar-Robbah.&lt;br /&gt;Disalin dari http://abiubaidah.com/kunyah-sebuah-sunnah-dalam-nama.html/#more-834&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1646785150004685521?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1646785150004685521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/11/kunyah-apakah-sebuah-sunnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1646785150004685521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1646785150004685521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/11/kunyah-apakah-sebuah-sunnah.html' title='Kunyah, apakah sebuah Sunnah?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wejk6ZFt4qU/Trs4cxikC6I/AAAAAAAAAZM/ueIGwOrf4nw/s72-c/sil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-6755180342265795235</id><published>2011-11-01T03:19:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T03:32:00.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Jilbab Selain Warna Hitam, Bolehkah ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-8zvjZNa8PzA/Tq_KlaWYulI/AAAAAAAAAZA/m3hAl1Kdx5k/s1600/mus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8zvjZNa8PzA/Tq_KlaWYulI/AAAAAAAAAZA/m3hAl1Kdx5k/s200/mus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669973199959931474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz, ada beberapa hal yang ingin ana tanyakan sehubungan dengan busana muslimah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Bolehkah wanita memakai busana muslimah berwarna selain hitam (tetapi cenderung ke warna gelap,mis : biru tua, coklat, ungu tua )?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     Bolehkah wanita memakai busana muslimah yang bermotif,bercorak batik /bordir/renda/payet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon penjelasan dari Ustadz berkaitan dengan masalah tersebut, Jazakumullahu khoiron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ali Farkuus yang berasal dari Algeria pernah ditanya dengan suatu pertanyaan yang ada hubungannya dengan pertanyaan di atas. Maka saya akan menukilkan pertanyaan dan jawaban beliau –hafidzohulloh-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian wanita memakai khimar (tutup kepala/jilbab bagian atas-pent) yang warnanya berbeda dengan warna 'abaa'ah (jilbab bagian bawah-pent), terkadang hal ini menarik perhatian. Apakah boleh memakai jilbab yang warnanya berbeda antara jilbab atasan dan bawahannya? Warna-warna khimar apakah yang manakah yang mungkin dikatakan warna yang disyari'atkan?, semoga Allah membalas kebaikan bagi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban beliau –hafidzohulloh- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah Robbul 'aalamiin, sholawat dan salam kepada Nabi yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi semesta alam, dan juga bagi keluarganya dan para sahabatnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang wajib dalam permasalahan khimar adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : khimar (atasan jilbab) tersebut hendaknya dijulurkan dari atas kepalanya dan dilipat di lehernya, juga menjulurkannya di atas dadanya, sehingga ia menjulurkan jilbabnya dengan menutup kepalanya dan menutup lehernya, kedua telinganya, dadanya dan yang semisalnya, karena Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya" (QS An-Nuur : 31)&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Sebagaimana telah diketahui bahwasanya para wanita dan para lelaki sama dalam permasalahan hukum selama tidak ada dalil yang membedakan antara para wanita dan para lelaki dalam hukum. Demikian juga bahwasanya hukum asal dalam warna-warna pakaian adalah halal dan diperbolehkan, kecuali jika ada dalil yang melarang warna-warna tersebut bagi kaum lelaki dan kaum wanita atau ada dalil yang melarang warna-warna tersebut untuk kaum lelaki atau dalil yang melarang warna-warna tersebut untuk kaum wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai warna-warna (yang diperbolehkan untuk jilbab para wanita) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun warna hitam untuk (jilbab) para wanita maka telah datang dalam hadits Ummu Salamah –radhiallahu 'anhaa- ia berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:« لَمَّا نَزَلَتْ ?يُدَنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ? خَرَجَ نِسَاءُ الأنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُؤوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنَ الأكْسِيَةِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala turun firman Allah  (Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka) maka keluarlah para wanita dari kaum Anshoor, seakan-akan di atas kepala-kepala mereka ada pakaian seperti burung-burung gagak" (HR Abu Dawud no 4101 dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Jilbab Al-Mar'ah Al-Muslimah hal 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Salamah menyamakan kain khimar yang ada di atas kepala-kepala para wanita yang dijadikan jilbab dengan burung-burung gagak dari sisi warna hitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil lain yang menunjukan akan bolehnya warna hitam bagi para wanita adalah hadits Ummu Kholid, ia berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« أُتي النبيُّ بثيابٍ فيها خَميصةُ سوداءُ صغيرةٌ فقال:« مَن تَرَون أن نكسوَ هذهِ »؟ فسكتَ القومُ. قال:« ائتُوني بأمِّ خالدٍ »، فأتيَ بها تُحمل، فأخذ الخميصةَ بيدهِ فألبَسَها وقال: أبْلِي وأخلِقي. وكان فيها عَلمٌ أخضرُ أو أصفر »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi diberikan baju-baju, diantaranya ada khomiisoh kecil yang berwarna hitam. Maka nabipun berkata, "Menurut kalian kepada siapakah kita berikan kain ini?". Orang-orang pada diam, lalu Nabi berkata, "Datangkanlah kepadaku Ummu Kholid !", maka didatangkanlah Ummu Kholid dalam keadaan diangkat (karena masih kanak-kanak, lihat Umdatul Qoori 31/473-pent), lalu Nabipun mengambil kain tersebut dengan tangannya lalu memakaikannya kepada Ummu Kholid dan berkata, "Bajumu sudah usang, gantilah bajumu". Pada kain tersebut ada garis-garis (corak) berwarna hijau atau kuning. (HR Al-Bukhari no 5485, Abu Dawud no 4024, dan Ahmad no 26517)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun warna hijau untuk pakaian para wanita maka telah absah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari bahwasanya Rifa'ah menceraikan istrinya maka istrinyapun dinikahi oleh Abdurrahman bin Az-Zubair Al-Qurozhi. Aisyah radhiallahu 'anhaa berkata, وعليها خِمارٌ أخضر، فشكَتْ إليها، وأرَتها خُضرةً بجلدها..  "Ia memakai khimar berwarna hijau, maka iapun mengadu kepada Aisyah dan memperlihatkan kepada Aisyah adanya warna kehijau-hijauan di kulitnya…." (HR Al-Bukhari no 5487)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pakaian berwarna merah maka hanya boleh untuk kaum wanita dan tidak boleh bagi kaum lelaki. Dalilnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhu, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَأَى النَّبِيُّ عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ. فَقَالَ:« أَأُمُّكَ أَمَرَتْكَ بِهَذَا؟ » قُلْتُ: أَغْسِلُهُمَا، قَالَ:« بَلْ احْرِقْهُمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallahu 'alaihi wa sallam melihatku memakai dua belah baju yang mu'ashfar. Maka Nabi berkata, "Apakah ibumu memerintahmu untuk memakai baju ini?". Aku berkata, "Aku cuci kedua baju ini?", Nabi berkata, "Bahkan bakarlah kedua baju itu" (HR Muslim no 5436)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang dimaksud dengan dua buah baju mu'ashfar adalah dua baju yang dicelup dengan celupan berwarna merah (atau dicelup dengan warna kuning yang terbuat dari tumbuhan tertentu-pent). Imam An-Nawawi berkata tentang sabda Nabi "Apakah ibumu memerintahmu untuk memakai baju ini?" : Maknanya adalah ini termasuk pakaian para wanita, model, dan akhlak mereka" (Syarh Shahih Muslim 14/55), beliau juga berkata : "Adapun perintah Nabi untuk membakar baju tersebut maka –dikatakan- karena sebagai hukuman dan sikap keras terhadapnya dan terhadap orang lain agar meninggalkan perbuatan seperti ini. Hal ini semisal dengan perintah Nabi kepada wanita yang telah melaknat ontanya agar sang wanita melepaskan onta tersebut…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang lain yang menunjukan akan hal ini adalah hadits 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَبَطْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وآله وسَلَّم مِنْ ثَنِيَّةٍ فالْتَفَتَ إلَيَّ وَعَليَّ رَيْطَةٌ مُضَرَّجَةٌ بالْعُصْفُرِ فقال: مَا هذِهِ الرَّيْطَةُ عَلَيْكَ؟ فَعَرَفْتُ مَا كَرِهَ، فأَتَيْتُ أهْلِي وَهُمْ يَسْجُرُون تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتُهَا فِيهِ ثُمَّ أتَيْتُهُ مِنَ الْغَدِ، فقال: يَا عَبْدَ اللهِ مَا فَعَلْتَ الرَّيْطَةَ، فأَخْبَرْتُهُ، فقال: ألاَ كَسَوْتَهَا بَعْضَ أهْلِكَ فإنَّهُ لاَ بَأْس بِهِ لِلنِّسَاءِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami turun bersama Rasulullah shallallahu 'alaih wa sallam dari Tsaniyyah. Kemudian beliau menoleh kepadaku dengan keadaan memakai pakaian lembut yang dicelup dengan ushfur. Maka beliau bertanya: “Apa ini yang engkau pakai?” Maka akupun mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyukainya. Akupun mendatangi keluargaku dalam keadaan mereka menyalakan api tanur dan aku lemparkan baju itu ke dalamnya. Kemudian aku mendatangi beliau pada besok harinya. Beliau bertanya: “Bagaimana nasib bajumu?” Maka aku ceritakan apa yang aku lakukan pada baju itu. Maka beliau berkata: “Kenapa engkau tidak memakaikan baju itu pada sebagian keluargamu. Karena baju tersebut tidak apa-apa jika dipakai wanita.” (HR. Abu Dawud: 4066, Ibnu Majah: 3603, Ahmad: 6813 dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 4066).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pakaian berwarna putih maka telah diketahui bersama sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْبِسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فإنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakailah pakaian-pakaian kalian yang berwarna putih, sesungguhnya itu merupakan pakaian kalian yang terbaik, dan hendaknya kalian mengkafani mayat-mayat kalian dengan kain putih" (HR Abu Dawud no 3878, At-Thirmidzi no 944, Ibnu Majah no 1472, Ahmad no 3332, dan hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin dalam al-Badr al-Muniir 4/671, Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad Ahmad 5/143, dan Al-Albani dalam Jilbab al-Mar'ah al-Muslimah hal 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga warna kuning (diperbolehkan) bagi kaum lelaki. Telah abasah dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhumaa ia berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا الصُّفْرَةُ فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَصْبِغُ بِهَا فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَصْبغَ ِبهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun warna kuning maka aku telah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyelupkan pakaian ke warna kuning, maka aku suka untuk mencelupkan pakaian dengan warna kuning" (HR Al-Bukhari no 164, Abu Dawud no 1772, Ahmad no 5316). Dan dalam sunan Abu Dawud dari Ibnu Umar beliau berkata وَقَدْ كَانَ يَصْبِغُ بِهَا ثِيَابَهُ كُلَّهَا حَتَّى عِمَامَتَهُ "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencelupkan seluruh pakaiannya ke warna kuning, bahkan sorban beliau juga" (HR Abu Dawud no 4064)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits diatas menunjukan akan bolehnya memakai pakaian berwarna hitam, hijau, dan merah bagi para wanita dengan nash dari Nabi, dan ini juga berlaku bagi kaum lelaki berdasarkan hukum asal yang telah lalu penjelasannya, kecuali warna merah yang khusus bagi para wanita. Adapun warna putih dan kuning maka boleh juga bagi wanita dengan dasar hukum asal yang telah lalu penjelasannya tentang bolehnya menggunakan seluruh warna karena tidak ada dalil yang melarangnya atau mengkhususkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu untuk diingatkan bahwasanya warna-warna yang menggoda (menarik perhatian) atau yang menyala (mengkilat) yang dipakai oleh para wanita pemuja nafsu, pengucap kata-kata kotor dan hina, maka warna-warna tersebut menjadi terlarang dari sisi larangan bertasyabbuh dan juga bisa membangkitkan gejolak syahwat. Demikian juga halnya dengan warna-warna pakaian yang khususnya dipakai oleh sebagian jama'ah-jama'ah keagamaan, maka dilarang sengaja mengikuti model dan warna yang merupakan ciri-ciri jama'ah-jama'ah tersebut, karena kawatir akan timbulnya bid'ah dalam agama. Sebagaimana pula dilarang bermodel (bergaya) dengan warna bendera negara tertentu atau group atau perkumpulan tertentu –terutama yang berasal dari negara kafir- karena hal ini akan mengantarkan kepada syirik mahabbah dan ta'dziim, serta penerapan al-walaa wa al-baroo yang bukan pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan dengan bebas dan sedikit perubahan oleh Firanda Andirja dari fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkuus Al-Jazaairi no 992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah boleh seorang wanita menggunakan jilbab selain warna hitam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau –rahimahullah- menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seakan-akan penanya berkata : Apakah boleh seorang wanita memakai khimar (penutup jilbab bagian atas kepala?) selain berwarna hitam?. Maka jawabannya adalah : Iya, boleh bagi sang wanita untuk memakai khimar yang selain berwarna hitam dengan syarat khimar tersebut tidak seperti gutrohnya lelaki (gutroh adalah kain penutup kepala yang sering digunakan oleh penduduk Arab Saudi-pent). Kalau khimar tersebut seperti gutrohnya lelaki maka hukumnya haram karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang meniru-niru kaum wanita dan melaknat para wanita yang menyerupai kaum lelaki. Adapun jika khimarnya berwarna putih akan tetapi wanita tersebut tidak memakainya sebagaimana cara pakai lelaki maka jika penggunaan khimar berwarna putih tersbut merupakan adat penduduk negerinya maka tidak mengapa untuk dipakai. Adapun jika pemakaian khimar putih tidak biasa menurut adat mereka maka tidak boleh dipakai karena hal itu merupakan pakaian syuhroh (ketenaran/tampil beda) yang terlarang" (Fatwa Nuur "alaa Ad-Darb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 03 Dzul Qo'dah 1431 H / 11 Oktober 2010 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: www.firanda.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-6755180342265795235?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/6755180342265795235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/11/jilbab-selain-warna-hitam-bolehkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6755180342265795235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6755180342265795235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/11/jilbab-selain-warna-hitam-bolehkah.html' title='Jilbab Selain Warna Hitam, Bolehkah ?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-8zvjZNa8PzA/Tq_KlaWYulI/AAAAAAAAAZA/m3hAl1Kdx5k/s72-c/mus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-7896383123997363509</id><published>2011-10-13T06:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T06:30:22.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>shalat Isyra'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hW7U-B7AFiY/Tpbn6Fn-C4I/AAAAAAAAAY0/_wkvKGwCUbg/s1600/dhuhs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hW7U-B7AFiY/Tpbn6Fn-C4I/AAAAAAAAAY0/_wkvKGwCUbg/s200/dhuhs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662968566593227650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Al Ustadz Abdullah bin Taslim. MA&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك t قال : قال رسول الله r: ((من صلى الغداةَ في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجةٍ وعمرةٍ، تامة تامة تامة)) رواه الترمذي وغيره.&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna”[2].&lt;br /&gt;Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat subuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[3].&lt;br /&gt;Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:&lt;br /&gt;- Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[4] dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[5].&lt;br /&gt;- Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “… sampai matahari terbit”, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[6], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[7], karena Rasulullah r melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus ditengah-tengah langit[8].&lt;br /&gt;- Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi r sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat subuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[9].&lt;br /&gt;- Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah ta’ala di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[10].&lt;br /&gt;- Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.&lt;br /&gt;- Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[11].&lt;br /&gt;- Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.&lt;br /&gt;Artikel: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com&lt;br /&gt;Catan Kaki:&lt;br /&gt;[1] HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri.&lt;br /&gt;[2] HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani rahimahullah dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).&lt;br /&gt;[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib).&lt;br /&gt;[4] Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).&lt;br /&gt;[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79).&lt;br /&gt;[6] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).&lt;br /&gt;[7] Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah dalam “asy-Syarhul mumti’” (2/61).&lt;br /&gt;[8] Dalam HSR Muslim (no. 831).&lt;br /&gt;[9] HSR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585).&lt;br /&gt;[10] Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah.&lt;br /&gt;[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-7896383123997363509?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/7896383123997363509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/10/shalat-isyra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7896383123997363509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7896383123997363509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/10/shalat-isyra.html' title='shalat Isyra&apos;'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hW7U-B7AFiY/Tpbn6Fn-C4I/AAAAAAAAAY0/_wkvKGwCUbg/s72-c/dhuhs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-6202941099515029087</id><published>2011-10-13T05:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T05:52:22.749-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Batalkah Wudhu Bila Menyentuh Kemaluan ?</title><content type='html'>Yang dimaksudkan dengan menyentuh kemaluan adalah menyentuhnya tanpa adanya pembatas. Sedangkan apabila seseorang menyentuh kemaluan dengan pembatas misalnya dengan kain atau pakaian, maka itu tidak membatalkan wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah menyentuh kemaluan apakah membatalkan wudhu atau tidak, ada empat pendapat di kalangan ulama. Dua pendapat merupakan hasil dari mengkompromikan dalil (menjama') dan dua pendapat lain merupakan hasil dari mentarjih (memilih dalil yang lebih kuat).[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama: Menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Malik dan merupakan pendapat beberapa sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil dari pendapat ini adalah hadits dari Tholq bin 'Ali di mana ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَسِسْتُ ذَكَرِى أَوِ الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ قَالَ « لاَ إِنَّمَا هُوَ مِنْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah menyentuh kemaluanku atau seseorang ada pula yang menyentuh kemaluannya ketika shalat, apakah ia diharuskan untuk wudhu?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, “Kemaluanmu itu adalah bagian darimu.”  (HR. Ahmad 4/23. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seseorang yang mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lantas ia bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِى رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِى الصَّلاَةِ قَالَ « وَهَلْ هُوَ إِلاَّ مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai seseorang yang menyentuh kemaluannya ketika shalat?” Beliau bersabda, “Bukankah kemaluan tersebut hanya sekerat daging darimu atau bagian daging darimu?”  (HR. An Nasa-i no. 165. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berhujah dengan hadits ini, maka itu pertanda beliau menshahihkannya. Lihat Majmu' Al Fatawa, 21/241) [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua: Menyentuh kemaluan membatalkan wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini adalah pendapat madzhab Imam Malik, Imam Asy Syafi'i -pendapat beliau yang masyhur-, Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan diriwayatkan pula dari banyak sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil dari pendapat ini adalah hadits dari Buroh binti Shofwan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 181, An Nasa-i no. 447, dan At Tirmidzi no. 82. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat pula hadits yang serupa dengan di atas dari Ummu Habibah, Abu Hurairah, Arwa binti Unais, 'Aisyah, Jabir, Zaid bin Kholid, dan 'Abdullah bin 'Amr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ulama yang berpegang dengan pendapat kedua ini menyatakan bahwa hadits dari Busroh lebih rojih (lebih kuat) dari hadits Tholq yang disebutkan dalam pendapat pertama dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Tholq adalah hadits yang memiliki 'illah (cacat) sebagaimana dikatakan oleh Abu Zur'ah dan Abu Hatim.&lt;br /&gt;Seandainya hadits tersebut adalah shahih, tetap hadits Abu Hurairah yang semakna dengan hadits Busroh (pada pendapat kedua) lebih didahulukan dari hadits Tholq. Alasannya, hadits Tholq dinaskh (dihapus) dengan hadits Abu Hurairah (yang semakna dengan hadits Busroh) disebabkan Tholq datang di Madinah lebih dulu daripada Abu Hurairah. Yang mengatakan adanya naskh adalah Ath Thobroni dalam Al Kabir (8/402), Ibnu Hibban (Ihsan, 3/405), Ibnu Hazm dalam Al Muhalla (1/239), Al Hazimi dalam Al I'tibar (77), Ibnul 'Arobi dalamm Al 'Aridhoh (1/117), dan Al Baihaqi dalam Al Khilafiyat (2/289).&lt;br /&gt;Yang meriwayatkan hadits bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu lebih banyak dan haditsnya telah masyhur.&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat kebanyakan sahabat.&lt;br /&gt;Hadits Tholq dapat dipahami bahwa laki-laki yang menyentuh kemaluan tersebut bermaksud menyentuh pahanya, namun akhirnya kemaluannya (yang berada di balik pakaian) tersentuh, sebagaimana diceritakan dalam hadits bahwa laki-laki tersebut berada dalam shalat.&lt;br /&gt;Ini adalah alasan ulama yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan termasuk pembatal wudhu. Pendapat pertama dan kedua ini lebih cenderung menggunakan metode tarjih (menguatkan salah satu dalil). Sedangkan pendapat selanjutnya menggunakan metode jama' (mengkompromikan dalil yang ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ketiga: Menyentuh kemaluan membatalkan wudhu jika dengan syahwat, namun tidak membatalkan wudhu jika tanpa syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini adalah pendapat Imam Malik dan dipilih oleh Syaikh Al Albani -rahimahumallah-. Alasan yang mereka gunakan adalah mereka menyatakan bahwa hadits Busroh (yang menyatakan wudhunya batal) dimaksudkan bagi yang menyentuh kemaluan dengan syahwat. Sedangkan yang menyentuh kemaluan tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu berdasarkan hadits Tholq. Dalil yang menunjukkan pendapat ini adalah pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَهَلْ هُوَ إِلاَّ مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kemaluan tersebut hanya sekerat daging darimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika seseorang menyentuh kemaluan tanpa syahwat, maka itu sama saja seperti menyentuh anggota tubuh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat keempat: Berwudhu ketika menyentuh kemaluan adalah sunnah (dianjurkan) secara mutlak dan bukan wajib.Pendapat ini adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad dan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahumallah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini menilai bahwa perintah dalam hadits Busroh adalah sunnah (dianjurkan). Sedangkan hadits Tholq adalah dalam konteks pertanyaan yang dikiranya menyentuh kemaluan itu wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan dari pendapat terakhir ini adalah dengan menempuh metode jama' yaitu mengkompromikan dalil. Sedangkan argumen untuk pendapat lainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakan bahwa Tholq lebih dulu masuk Islam daripada Busroh tidaklah tepat dinyatakan sebagai alasan menyatakan naskh (bahwa hadits Tholq dihapus). Yang tepat, naskh dan mansukh dilihat di antara dua hadits tersebut manakah yang diucapkan lebih dulu dan manakah yang belakangan. Tanpa mengetahui tarikh (sejarah) semacam itu, maka sulit diklaim adanya naskh.&lt;br /&gt;Dalam hadits Tholq yang menyebutkan bahwa wudhu tidak batal karena menyentuh kemaluan, disebutkan 'illah (sebab adanya hukum) yaitu kemaluan merupakan bagian dari tubuh kita. Dan hukum tersebut dikaitkan dengan 'illah ini. 'Illah bahwa kemaluan merupakan bagian dari tubuh sangat mustahil dihilangkan. Sehingga klaim naskh (bahwa hadits Tholq itu dihapus) tidaklah tepat.&lt;br /&gt;Naskh (menghapus salah satu dalil) lebih tepat digunakan jika ada udzur untuk menjama' (mengkompromikan dalil). Lebih-lebih lagi jika klaim naskh tidaklah tepat sebagaimana telah kami kemukakan.&lt;br /&gt;Pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu jika dengan syahwat dan tidak membatalkan jika tanpa syahwat adalah pendapat yang perlu dikritisi lagi. Sekarang, bagaimana seseorang dikatakan syahwat ataukah tidak? Artinya, sulit sekali kita menentukan patokan atau standar syahwat ataukah tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang terkuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memandang hadits Tholq, yang disimpulkan bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu  adalah hadits yang shahih, maka pendapat keempat pantas untuk dijadikan hujjah, yaitu berwudhu ketika menyentuh kemaluan hanyalah sunnah (bukan wajib). Pendapat ini dinilai lebih tepat karena menempuh jalan pertengahan dengan mengkompromikan dalil, tanpa menghapus salah satu dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْأَظْهَرُ أَيْضًا أَنَّ الْوُضُوءَ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ مُسْتَحَبٌّ لَا وَاجِبٌ وَهَكَذَا صَرَّحَ بِهِ الْإِمَامُ أَحْمَد فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ وَبِهَذَا تَجْتَمِعُ الْأَحَادِيثُ وَالْآثَارُ بِحَمْلِ الْأَمْرِ بِهِ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ لَيْسَ فِيهِ نَسْخُ قَوْلِهِ : { وَهَلْ هُوَ إلَّا بَضْعَةٌ مِنْك ؟ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendapat yang lebih kuat, hukum berwudhu ketika menyentuh kemaluan adalah sunnah (dianjurkan) dan bukan wajib. Hal ini ditegaskan dari salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat ini telah mengkompromikan berbagai dalil sehingga dalil yang menyatakan perintah dimaksudkan dengan sunnah (dianjurkan) dan tidak perlu adanya naskh pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Bukankah kemaluan tersebut adalah sekerat daging darimu?” (Majmu' Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/241, Darul Wafa', cetakan ketiga, tahun 1426 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila ingin lebih hati-hati, ada pendapat dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin -rahimahullah- bahwa menyentuh kemaluan tanpa syahwat disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu, sedangkan jika dilakukan dengan syahwat diharuskan (diwajibkan) untuk berwudhu. Inilah pendapat beliau dalam Syarhul Mumthi' dalam rangka kehati-hatian, untuk melepaskan diri dari perselisihan ulama yang ada. Wallahu Ta'ala a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang Berkaitan dengan Menyentuh Kemaluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Apakah jika suami menyentuh kemaluan istri batal wudhunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tidak membatalkan wudhu karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut membatalkan wudhu, begitu pula sebagaimana telah dijelaskan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu menurut pendapat paling kuat. Kecuali jika yang keluar adalah madzi atau mani, maka wudhunya tersebut batal. Wudhunya batal bukan karena sebab menyentuh kemaluan ketika itu, namun karena keluarnya mani dan madzi. Sudah sangat jelas bahwa jika mani dan madzi keluar, maka akan membatalkan wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Apakah menyentuh kemaluan anak kecil membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tidak membatalkan wudhu. Inilah yang menjadi pendapat Az Zuhri dan Al Auza’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Apakah menyentuh kemaluan tidak secara langsung (misalnya mengenai kain) membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tidak membatalkan wudhu. Hal ini didukung oleh dalil dari Abu Hurairah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا أفضى أحدكم بيده إلى ذكره ليس بينه وبينه شيء فليتوضأ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang di antara kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya sedangkan di antara sentuhan dan kemaluannya tersebut tidak dihalangi sesuatu apa pun, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Al Baihaqi dan Ad Daruquthni. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Abu Malik). Dipahami dari sini, sebaliknya jika ada penghalang ketika menyentuh, maka tidak perlu berwudhu, artinya tidak membatalkan wudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Apakah menyentuh dubur membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tidak membatalkan wudhu. Inilah yang menjadi pendapat Imam Malik, Ats Tsauri dan ulama Hanafiyah, berbeda halnya dengan pendapat Imam Asy Syafi’i. Dubur tidaklah tepat diqiyaskan (dianalogikan) dengan kemaluan karena ‘illah (sebab) adanya hukum di antara keduanya tidak bisa dikaitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sajian ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disempurnakan di Panggang-GK, 15 Jumadil Ula 1431 H (29/04/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Penjelasan ini kami sarikan dari Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/133-136, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ulama lain mengatakan bahwa hadits yang semisal ini adalah hadits yang dho'if (lemah) karena adanya Qois bin Tholq. Hadits ini didho'ifkan oleh Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/133. Begitu pula Al Lajnah Ad Da-imah dalam pertanyaan kedua pada fatwa no. 6990 (5/265) mendhoifkan hadits ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-6202941099515029087?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/6202941099515029087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/10/batalkah-wudhu-bila-menyentuh-kemaluan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6202941099515029087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/6202941099515029087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/10/batalkah-wudhu-bila-menyentuh-kemaluan.html' title='Batalkah Wudhu Bila Menyentuh Kemaluan ?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-5955960280151229737</id><published>2011-09-20T20:07:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T20:12:57.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Uang Muka dalam Jual-Beli, Bolehkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Fr_5tZwH65A/TnlWJrdAZWI/AAAAAAAAAYs/0tA4NPVdYIM/s1600/download%2B%25281%2529"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Fr_5tZwH65A/TnlWJrdAZWI/AAAAAAAAAYs/0tA4NPVdYIM/s200/download%2B%25281%2529" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654645531423565154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Ustadz,&lt;br /&gt;Sudah umum terjadi, bahwasanya pada transaksi jual beli ada uang muka atau DP sebagai tanda jadi si pembeli akan membeli barang dari penjual. Apakah praktik uang muka itu dibenarkan oleh syariat?&lt;br /&gt;Jazakalloohu khoiron.&lt;br /&gt;Abu Mirza (aslijreb***@gmail.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Setiap orang tidak mungkin bisa lepas dari orang lain yang menutupi kebutuhannya. Interaksi antar individu manusia adalah perkara penting yang mendapatkan perhatian besar dalam Islam. Khususnya yang berhubungan dengan pertukaran harta. Oleh karena itu Allah berfirman:&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisaa’ 4: 29)&lt;br /&gt;Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan pertukaran harta dapat dilakukan dengan perniagaan yang berasaskan saling suka diantara para transaktornya.&lt;br /&gt;Dewasa ini banyak sekali berkembang sistem perniagaan yang perlu dijelaskan hukum syariatnya, apalagi dimasa kaum muslimin sudah menjauh dari agamanya, ditambah lagi ketidakmengertian mereka terhadap syariat Islam. Salah satu sistem perniagaan tersebut adalah jual beli dengan panjar atau uang muka atau DP.&lt;br /&gt;Jual beli ini diperbolehkan sebagaimana pendapat madzhab Hambaliyyah dan diriwayatkan juga kebolehan jual beli ini dari Umar bin Al-Khathab, Ibnu Umar, Sa’id bin Al Musayyib dan Muhammad bin Sirin.[16]&lt;br /&gt;Dasar argumentasi mereka adalah:&lt;br /&gt;a. Atsar yang berbunyi:&lt;br /&gt;عَنْ نَافِعِ بْنِ الحارث, أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ  السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ, فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ , وَ إِلاَّ فَلَهُ كَذَا وَ كَذَا&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Nafi bin Al-Harits, ia pernah membelikan sebuah bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan) apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang sekian dan sekian.&lt;br /&gt;Atsar ini dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya (5/392) dan Al Bukhari secara mu’allaq (lihat Fathul Bari 5/91) dan Al Atsram meriwayatkannya dalam kitab Sunnahnya dari jalan periwayatan Ibnu ‘Uyainah dari Amru bin Dinaar dari Abdurrahman bin Farukh dengan lafadz,&lt;br /&gt;” أن نافع بن عبد الحارث اشترى داراً للسجن من صفوان بن أمية بأربعة آلاف درهم، فإن رضي عمر فالبيع له، وإن عمر لم يرض فأربعمائة لصفوان ” .&lt;br /&gt;Demikian juga Abdurrazaaq dalam Mushonnafnya (5/148-149), Al Baihaqi dalam sunannya 6/34, Al Azraaqi dalam Akhbaar Makkah 2/165 dan Al Fakihi dalam Akhbaar Makkah 3/254 seluruhnya dari jalan Sufyan bin ‘Uyainah.&lt;br /&gt;Riwayat ini dapat dijadikan hujjah, sebagaimana dilakukan imam Ahmad bin Hambal.&lt;br /&gt;Al-Atsram berkata: Saya bertanya kepada Ahmad: “Apakah Anda berpendapat demikian?” Beliau menjawab: “Apa yang harus kukatakan? Ini Umar rodhiyallohu ‘anhu (telah berpendapat demikian).[18]&lt;br /&gt;Demikian juga Ibnul Qayyim menukilkannya dari beliau pada Bada’i Al Fawa’id 4/84.&lt;br /&gt;Ditambah kisah ini telah masyhur dikalangan para ulama dan penulis sejarah Makkah seperti Al Azraaqi, Al Fakihi dan Umar bin Syubah hingga diriwayatkan penjara ini masih ada sampai zaman Al Fakihie. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;c. Panjar ini adalah kompensasi dari penjual yang menunggu dan menyimpan barang transaksi selama beberapa waktu. Ia tentu saja akan kehilangan sebagian kesempatan berjualan. Tidak sah ucapan orang yang mengatakan bahwa panjar itu telah dijadikan syarat bagi penjual tanpa ada imbalannya.&lt;br /&gt;d. Tidak sahnya qiyas atau analogi jual beli ini dengan Al Khiyar Al Majhul (hak pilih terhadap hal yang tidak diketahui), karena syarat dibolehkannya panjar ini adalah dibatasinya waktu menunggu. Dengan dibatasinya waktu pembayaran, maka batallah analogi tersebut, dan hilanglah sisi yang dilarang dari jual beli tersebut.&lt;br /&gt;e. Jual beli ini tidak dapat dikatakan jual beli mengandung perjudian sebab tidak terkandung spekulasi antara untung dan buntung. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Bulugh Al Maram hal. 100 menyatakan: ketidak jelasan dalam jual beli Al Urbun tidak sama dengan ketidak jelasan dalam perjudian, karena ketidak jelasan dalam perjudian menjadikan dua transaktor tersebut berada antara untung dan buntung, adapun ini tidak, karena penjual tidak merugi bahkan untung dan paling tidak barangnya dapat kembali. Sudah dimaklumi seorang penjual memiliki syarat hak pilih untuk dirinya selama satu hari atau dua hari, dan itu diperbolehkan. Dan jual beli dengan uang muka ini menyerupai syarat hak pilih tersebut. Hanya saja penjual diberi sebagian dari pembayaran apabila barang dikembalikan, karena nilainya telah berkurang bila orang mengetahui hal itu walaupun hal ini didahulukan namun ada maslahat disana. Juga ada maslahat lain bagi penjual karena pembeli bila telah menyerahkan uang muka akan termotivasi untuk menyempurnakan transaksi jual belinya. Demikian juga ada maslahat bagi pembeli, karena ia masih dapat memilih mengembalikan barang tersebut bila menyerahkan uang muka. Padahal bila tidak tentu diharuskan terjadinya jual beli tersebut.&lt;br /&gt;Namun perlu diingat bila penjual mengembalikan uang muka (panjar) tersebut kepada pembeli ketika gagal menyempurnakan jual belinya, itu lebih baik dan lebih besar pahalanya disisi Allah sebagaimana disabdakan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَهُ اللَّهُ عَثْرَتَهُ&lt;br /&gt;Siapa yang berbuat iqaalah dalam jual belinya kepada seorang muslim maka Allah akan bebaskan ia dari kesalahan dan dosanya.&lt;br /&gt;Iqalah dalam jual beli dapat digambarkan dengan seorang membeli sesuatu dari seorang penjual, kemudian pembeli ini menyesal membelinya, ada kala karena sangat rugi atau sudah tidak butuh lagi atau tidak mampu melunasinya, lalu pembeli itu mengembalikan barangnya kepada penjual dan penjualnya menerimanya kembali (tanpa mengambil sesuatu dari pembeli).&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;Ust. Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;Artikel ustadzkholid.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-5955960280151229737?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/5955960280151229737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/uang-muka-dalam-jual-beli-bolehkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5955960280151229737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5955960280151229737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/uang-muka-dalam-jual-beli-bolehkah.html' title='Uang Muka dalam Jual-Beli, Bolehkah?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Fr_5tZwH65A/TnlWJrdAZWI/AAAAAAAAAYs/0tA4NPVdYIM/s72-c/download%2B%25281%2529' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-3393590509416371662</id><published>2011-09-10T02:27:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T02:39:49.242-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak Karimah'/><title type='text'>Sikap bijak terhadap bekas hitam di dahi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-7csFZYraGEE/TmsuuhAWVvI/AAAAAAAAAYk/IrGLp6LaL5I/s1600/hitam.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7csFZYraGEE/TmsuuhAWVvI/AAAAAAAAAYk/IrGLp6LaL5I/s200/hitam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650661534135113458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanya : Ada seorang teman mengatakan bahwa tanda hitam di dahi merupakan suatu cela dan pertanda niat yang tidak ikhlash. Dikatakan, bahwa tidak ada satu pun shahabat yang mempunyai tanda hitam itu. Begitu juga Nabi. Bagaimana pendapat Anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Sebaik-baik perkataan adalah yang pertengahan.&lt;br /&gt;1.      Adalah perkataan yang salah jika ada orang yang mengatakan bahwa tanda hitam di dahi merupakan ciri-ciri pasti orang yang shaalih. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyatakan demikian – sepengetahuan saya - , baik dari kalangan shahabat radliyallaahu ‘anhum, para ulama, apalagi dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, orang-orang Khawaarij - yang notabene termasuk katagori golongan sesat – pun mempunyai tanda ini.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، ثنا عَفَّانُ، ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ بِلالِ بْنِ بُقْطُرٍ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِدَنَانِيرَ، فَقَسَمَهَا، فَكُلَّمَا قَبَضَ قَبْضَةً نَظَرَ عَنْ يَمِينِهِ كَأَنَّهُ يُؤَامِرُ أَحَدًا، وَقَالَ حَمَّادٌ: وَعِنْدَهُ رَجُلٌ أَسْوَدُ مَطْمُومُ الشَّعْرِ، عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ، بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا عَدَلْتَ مُنْذُ الْيَوْمِ فِي الْقِسْمَةِ، قَالَ: فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: " مَنْ يَعْدِلُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي؟ "، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلا نَقْتُلُهُ؟ قَالَ: " لا، إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لا يَتَعَلَّقُونَ مِنَ الإِسْلامِ بِشَيْءٍ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Bilaal bin Yuqthur, dari Abu Bakrah : Bahwasannya didatangkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sejumlah uang dinar, lalu beliau membagi-bagikannya. Setiap orang segenggam-segenggam. Lalu beliau melihat ke samping kanannya seakan-akan hendak menyuruh seseorang. - Hammad berkata - : Di samping beliau ada seorang laki-laki berkulit hitam, berambut lebat, memakai dua pakaian putih, dan di antara kedua matanya terdapat tanda bekas sujud. Lalu ia berkata : “Wahai Muhammad, engkau tidak adil sejak hari ini dalam pembagian”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam marah dan bersabda : “Lantas, siapakah yang akan berbuat adil kepada kalian sepeninggalku nanti ?”. Para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, tidakkah kami bunuh saja ia ?”. Beliau menjawab : “Jangan. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya kelak akan keluar dari dien (agama Islam) seperti keluarnya anak panah dari busurnya, mereka tidak termasuk dari golongan Islam sama sekali” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘aashim dalam As-Sunnah no. 927; shahih lighairihi].&lt;br /&gt;Allah ta’ala tidaklah menjadikan ciri fisik seseorang sebagai satu kemutlakan tanda bagi keimanan, karena Allah hanya akan melihat kepada keikhlashan dan keshalihan amal. Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ&lt;br /&gt;“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 5].&lt;br /&gt;فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا&lt;br /&gt;“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" [QS. Al-Kahfiy : 110].&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ، وَأَعْمَالِكُمْ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Naaqid : Telah menceritakan kepada kami Katsiir bin Hisyaam : Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqaan, dari Yaziid bin Al-Asham, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada rupa-rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2564].&lt;br /&gt;Bahkan, telah diriwayat dari sebagian salaf yang membenci keberadaan tanda/bekas hitam di dahi.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ قَاعِدًا عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَرَأَى رَجُلًا قَدْ أَثَّرَ السُّجُودُ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ: " إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ فَلَا يَشِينُ أَحَدُكُمْ صُورَتَهُ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari Asy’ats bin Abisy-Sya’tsaa’, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah berdiri di samping Ibnu ‘Umar, lalu ia melihat seorang laki-laki yang mempunyai tanda bekas sujud di wajahnya. Ibnu ‘Umar berkata : “Sesungguhnya rupa seorang laki-laki itu ada di wajahnya. Maka, janganlah salah seorang di antara kalian memburukkan rupanya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/308; shahih].&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ أَبِي عَوْنٍ الْأَعْوَرِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ رَأَى امْرَأَةً بَيْنَ عَيْنَيْهَا مثل ثَفِنَةِ الشَّاةِ، فَقَالَ: " أَمَا إِنَّ هَذَا لَوْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ عَيْنَيْكَ كَانَ خَيْرًا لَكَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Tsaur, dari Abu ‘Aun Al-A’war, dari Abud-Dardaa’, bahwasannya ia pernah melihat seorang wanita yang di antara dua matanya ada tanda seperti tsafinatusy-syaah (kulit keras yang ada di lutut kambing = ‘kapalan’). Maka ia berkata : “Sesungguhnya tanda ini, jika tidak ada di antara dua matamu, niscaya lebih baik bagimu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/308; lemah karena Abu 'Aun seorang perawi yang maqbuul, dan ada kekhawatiran keterputusan (inqitha’) antara Abu ‘Aun (thabaqah kelima) dengan Abud-Dardaa’ (thabaqah pertama)].&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: " لَيْسَ بِهَذَا الأَثَرِ الَّذِي فِي الْوَجْهِ، وَلَكِنَّهَا الْخُشُوعُ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Mujaahid, ia berkata : “Bukanlah dengan tanda yang ada di wajah ini (yang dimaksudkan dalam ayat ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’), akan tetapi ia adalah kekhusyukan” [Az-Zuhd oleh Wakii’ bin Al-Jarraah no. 137; shahih].&lt;br /&gt;2.      Begitu juga sikap yang salah jika kita mengedepankan su’udhdhan, bahkan sampai terlontar kata-kata, bahwa orang yang mempunyai bekas/tanda hitam di dahinya merupakan orang yang tidak ikhlash dalam beramal.&lt;br /&gt;Apakah ada nash dari Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang shahih bahwasannya tanda hitam di dahi merupakan tanda kemunafikan lagi ketidakikhlashan ?. Apakah ada malaikat yang membisiki yang memberitahukannya bahwa orang itu tidak ikhlash dalam beramal, sementara keikhlashan itu merupakan amal hati ?.&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” [QS. Al-Hujuraat : 12].&lt;br /&gt;Bahkan ada riwayat shahih dari ‘Ikrimah bahwa ia menafsirkan ayat :  ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ (QS. Al-Fath : 29) adalah dhahir tanda yang melekat di wajah/dahi.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا ابْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إسْمَاعِيلَ الْخَزَّازُ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ، وَسُئِلَ " سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، قَالَ: أَثَرُ التُّرَابِ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ibnu Marzuuq : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ismaa’iil Al-Khazzaaz, dari Ibnul-Mubaarak, dari Maalik bin Diinaar, ia berkata : Aku pernah mendengar ‘Ikrimah ditanya tentang ayat : ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’, maka dia menjawab : ‘Bekas tanah/debu (yang ada di dahi)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar no. 305; shahih].&lt;br /&gt;Maksudnya, orang yang banyak melakukan shalat, maka akan ada di dahinya bekas tanah dari tempat ia sujud. Dan sebagian salaf kita mempunyai tanda tersebut.&lt;br /&gt;فَحَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، قال: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: " رَأَيْتُ فِي جَبْهَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Naafi’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku pernah melihat dahi ‘Abdullah bin Busr ada tanda/bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Abu Zur’ah dalam At-Taariikh no. 178; shahih].&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Busr adalah salah seorang shahabat kecil (shighaarush-shahaabah).&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو حَامِدِ بْنُ جَبَلَةَ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا الْعَلاءُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الأَيَامِيُّ، قَالَ: " كُنَّا نَأْتِي مُرَّةَ الْهَمْدَانِيَّ، فَيَخْرُجُ إِلَيْنَا، فَنَرَى أَثَرَ السُّجُودِ فِي جَبْهَتِهِ وَكَفَّيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ وَقَدَمَيْهِ......&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Haamid bin Habalah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ishaaq : telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Alaa’ bin ‘Abdil-Kariim Al-Ayaamiy, ia berkata : “Kami pernah mendatangi Murrah Al-Hamdaaniy, lalu ia pun keluar menemui kami. Kami melihat bekas sujud di dahinya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya….” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4/162; shahih].&lt;br /&gt;Murrah bin Syaraahiil Al-Hamdaaniy, seorang ulama dari kalangan kibaarut-taabi’iin.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ، قَالَ: أخبرنا مَعْنُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا بِلالُ بْنُ أَبِي مُسْلِمٍ، قَالَ: " رَأَيْتُ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ قَلِيلا "&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’d, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’n bin ‘Iisaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Bilaal bin Muslim, ia berkata : “Aku melihat Abaan ‘Utsmaan, di antara kedua matanya terdapat sedikit bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 5/78; namun sanadnya dla’iif karena Bilaal bin Abi Muslim, seorang yang majhuul].&lt;br /&gt;قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: " رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ حَكِيمِ بْنِ عُمَيْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ "&lt;br /&gt;Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru ia berkata : “Aku melihat di dahi Hakiim bin ‘Umair ada bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/212; shahih].&lt;br /&gt;Al-Hakiim bin ‘Umair Al-Ahwash Al-‘Ansiy adalah seorang ulama generasi taabi’iin pertengahan.&lt;br /&gt;قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: " رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ أَثَرَ السُّجُودِ "&lt;br /&gt;Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku melihat di dahi Khaalid bin Ma’daan terdapat bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/214; shahih].&lt;br /&gt;Khaalid bin Ma’daan Asy-Syaamiy Al-Himshiy, seorang ulama ahli ibadah dari generasi taabi’iin pertengahan.&lt;br /&gt;Dan yang lainnya…..&lt;br /&gt;Ikhwah,…. dapat kita lihat perbedaan di kalangan salaf dalam hal ini. Di antara mereka ada yang membencinya, di antara mereka ada pula yang membolehkannya. Oleh karena itu, Al-Imaam Ibnu Abi Syaibah membuat dua bab dalam Al-Mushannaf yang memuat ulama-ulama yang membenci dan membolehkannya [see : 1/308]. Tentu saja, ulama kita yang membolehkan harus dipahami bahwa tanda sujud tersebut merupakan satu hal yang kadang ‘tidak bisa dihindari’ bagi mereka yang giat dalam ibadah shahalatnya. Dan itu tercermin dari riwayat-riwayat sebagaimana di atas. Selain terkait banyaknya aktifitas shalat, tanda/bekas ini juga terkait sensitifitas kulit masing-masing orang. Orang yang sedikit shalat, kadang muncul tandanya hitam itu karena kulitnya tipis, dan sebaliknya kadang orang yang banyak shalat dan sujudnya lama tidak muncul tanda hitam ini karena keadaan kulitnya berbeda.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : Apakah tanda bekas sujud di dahi merupakan tanpa bagi orang yang shaalih ?, maka beliau menjawab :&lt;br /&gt;ليس هذا من علامات الصالحين ، وإنما هو النور الذي يكون في الوجه ، وانشراح الصدر ، وحسن الخلق . . . وما أشبه ذلك ، أما الأثر الذي يسببه السجود في الوجه فقد تظهر في وجوه من لا يصلون إلا الفرائض لرقة الجلد ، وقد لا تظهر في وجه من يصلي كثيراً ويطيل السجود .&lt;br /&gt;“Ini bukan (mutlak) tanda-tanda orang yang shaalih. Hanya saja ini yang dimaksud adalah cahaya yang nampak pada wajah, lapang dada, dan akhlak yang baik….dan yang semisal dengannya….. Adapun bekas tanda akibat sujud pada wajah maka bisa juga tampak pada orang tidak sholat kecuali sholat wajib saja. Karena jenis kulit yang tipis. Dan terkadang juga tidak muncul pada orang yang banyak sholat serta sujudnya lama….” [dikutip dari : http://salafyitb.wordpress.com/2007/01/11/simahum-fii-wujuhihim-min-atsaris-sujud/].&lt;br /&gt;Namun apapun itu, lebih utama bagi kita mengedepankan sikap husnudhdhan kepada saudara-saudara kita yang muslim. Jika kita melihat mereka yang mempunyai tanda/bekas hitam di dahi, kita positif thinking bahwa itu muncul karena ia rajin beribadah kepada Allah ta’ala, sehingga dapat memicu kita untuk menirunya, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita berdoa agar Allah ta’ala memperbanyak orang seperti dia, dan berharap agar amalnya (dan juga amal kita) diterima.&lt;br /&gt;Dan bagi pribadi, kita tidak perlu effort untuk mengada-adakan tanda/bekas sujud itu di dahi kita. Hendaknya kita ingat akan hadits tentang tiga jenis orang yang pertama kali dihisab di hari kiamat yang didustakan oleh Allah atas sanjungan manusia akan amal ibadah palsu mereka di dunia. Riya’ tidak akan membuahkan apa-apa kecuali kerugian dan penyesalan.&lt;br /&gt;وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا&lt;br /&gt;“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [QS. Al-Furqaan : 23].&lt;br /&gt;Hati ini sangat lemah sehingga keikhlashan seringkali tercampuri, bahkan akhirnya tertutupi, dengan riya’.&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه&lt;br /&gt;“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”.&lt;br /&gt;Itu saja yang dapat dijawab.&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwaab.&lt;br /&gt;Semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt;[abul-jauzaa’ – ngaglik, Yogyakarta].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-3393590509416371662?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/3393590509416371662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/sikap-bijak-terhadap-bekas-hitam-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3393590509416371662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3393590509416371662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/sikap-bijak-terhadap-bekas-hitam-di.html' title='Sikap bijak terhadap bekas hitam di dahi'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-7csFZYraGEE/TmsuuhAWVvI/AAAAAAAAAYk/IrGLp6LaL5I/s72-c/hitam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1593595076743145311</id><published>2011-09-10T02:03:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T02:11:35.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muslimah'/><title type='text'>Apa yang didapatkan oleh wanita ahli surga?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-tbgnx2kSulY/Tmspu5usHaI/AAAAAAAAAYc/k02nJ5LyDow/s1600/Cadar%2BJalan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 121px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-tbgnx2kSulY/Tmspu5usHaI/AAAAAAAAAYc/k02nJ5LyDow/s200/Cadar%2BJalan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650656043213790626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: "Ketika saya membaca Al-Qur'an, saya mendapati banyak ayat-ayat yang memberi kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dari kaum laki-laki, dengan balasan bidadari yang cantik sekali. Adakah wanita mendapatkan ganti dari suaminya di akhirat, karena penjelasan tentang kenikmatan Surga senantiasa ditujukan kepada lelaki mukmin. Apakah wanita yang beriman kenimatannya lebih sedikit daripada lelaki mukmin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Tidak bisa disangsikan bahwa kenikmatan Surga sifatnya umum untuk laki-laki dan perempuan. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan" (Ali-Imran:195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (An-Nahl:97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun" (An-Nisa':124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar"(Al-Ahzab:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menyebutkan bahwa mereka akan masuk Surga dalam firman-Nya: "Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan" (Yasin:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan"(Az-Zukhruf:70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyebutkan bahwa wanita akan diciptakan ulang.&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan" (Al-Waqi'ah: 35-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya mengulangi penciptaan wanita-wanita tua dan menjadikan mereka perawan kembali, yang tua kembali muda. Telah disebutkan dalam suatu hadits bahwa wanita dunia mempunyai kelebihan atas bidadari karena ibadah dan ketaatan mereka. Para wanita yang beriman masuk Surga sebagaimana kaum lelaki. Jika wanita pernah menikah beberapa kali, dan ia masuk Surga bersama mereka, ia diberi hak untuk memilih salah satu di antara mereka, maka ia memilih yang paling bagus diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Fatawal Mar'ah 1/13, yang dikutip dalam Al-Fatawa Al-Jami'ah lil Mar'atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia "Fatwa-fatwa tentang wanita"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1593595076743145311?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1593595076743145311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/apa-yang-didapatkan-oleh-wanita-ahli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1593595076743145311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1593595076743145311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/apa-yang-didapatkan-oleh-wanita-ahli.html' title='Apa yang didapatkan oleh wanita ahli surga?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tbgnx2kSulY/Tmspu5usHaI/AAAAAAAAAYc/k02nJ5LyDow/s72-c/Cadar%2BJalan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4547138571083466324</id><published>2011-09-09T02:34:00.000-07:00</published><updated>2011-09-10T02:39:03.278-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Memperbesar 'Alat Vital' (Penis)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Uz4xoTR1EzI/TmneN5JfCZI/AAAAAAAAAYU/FIX6m5IQIbY/s1600/pis.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Uz4xoTR1EzI/TmneN5JfCZI/AAAAAAAAAYU/FIX6m5IQIbY/s200/pis.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650291537773267346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad, bagaimanakah hukum memperbesar alat vital dalam pandangan islam yang sesungguhnya? Karena kita lihat banyak praktek-praktek tersebut bahkan kebanyakan mengatasnamakan agama yang disebut ilmu hikmah. Selain itu dulu terkenal juga Almarhumah Mak Erot yang berhasil membuat banyak lelaki perkasa dengan alat vital yang besar. Maaf, sebelumnya ustad, pertanyaan saya agak kolot dan agak porno. Ketika ditanya orang saya bingung jawabnya. Setahu saya merubah bentuk yang sudah diciptakan Allah hukumnya haram. Lantas mereka mengatakan hal itu malah berpahala untuk memuaskan si Istri. Bagaimana pandangan ustad? Syukron.&lt;br /&gt;Wa alaikumus salam wa rahmatullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deni Harianto (denihariXXXXXX@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Fatawa Islam (islamqa.com), pernah diajukan pertanyaan yang sama. Pembina situs tersebut, Syekh Muhammad bin Shaleh Munajid memberikan jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang mengeluhkan alat vitalnya yang kecil, lebih kecil dari ukuran normal umumnya, sehingga mempengaruhi keharmonisan keluarga, dibolehkan untuk menggunakan obat yang bisa membantu memperbesar organ vitalnya. Ini jika mendapat rekomendasi dari dokter ahli terkait dan tidak membahayakan dirinya. Bahkan dibolehkan menggunakan bahan tertentu yang membungkus organ vital, seperti kondom atau semacamnya. Apabila hal ini bisa meningkatkan kepuasan bagi istrinya. Karena setiap suami dituntut untuk memberikan pergaulan terbaik bagi istrinya dan memenuhi kebutuhan istri dalam berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika tujuan memperbesar alat tersebut hanya sebatas untuk lebih bisa menikmati organ vital ini, kami ingatkan agar penanya tidak melakukannya. Karena bisa jadi ini menjadi salah satu celah setan untuk menjerumuskan manusia kepada perbuatan yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari dua fatwa, dengan alamat link satu dan dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.KonsultasiSyariah.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4547138571083466324?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4547138571083466324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/memperbesar-alat-vital.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4547138571083466324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4547138571083466324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/09/memperbesar-alat-vital.html' title='Memperbesar &apos;Alat Vital&apos; (Penis)'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Uz4xoTR1EzI/TmneN5JfCZI/AAAAAAAAAYU/FIX6m5IQIbY/s72-c/pis.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-2330124878636077975</id><published>2011-08-30T21:37:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T06:10:28.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Adab hubungan suami-istri: seksualitas dalam tinjauan syar'i</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-zFamAD-uzzw/Tl27zaAhmxI/AAAAAAAAAYM/b51ZWdDSzkg/s1600/cnta.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 187px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-zFamAD-uzzw/Tl27zaAhmxI/AAAAAAAAAYM/b51ZWdDSzkg/s200/cnta.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646875999621716754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini penulis nukilkan beberapa perkara yang penting yang berkaitan dengan adab tatkala berjimak yang penulis ringkas dari beberapa fatwa ulama dengan menyebutkan sumber fatwa-fatwa tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Hendaknya membaca doa sebelum berhubungan dengan istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang kau anugrahkan kepada kami” [HR Al-Bukhari I/65 no 141 dan Muslim II/1058 no 1434]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa ini disunnahkan bagi sang lelaki adapaun sang wanita jika hendak membaca doa ini maka tidak mengapa karena asal dalam hukum adalah tidak adanya pengkhususan hukum terhadap lelaki atau wanita. (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/357 no 17998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh utsaimin berkata, ((Karena terkadang syaitan ikut serta bersama seseorang tatkala menjimaki istrinya sehingga ikut menikmati istrinya. Oleh karena itu Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ (الإسراء : 64 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak (QS. 17:64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata sebagian Ulama, “Ikut sertanya syaitan dalam anak-anak adalah jika seseorang tidak menyebut nama Allah tatkala hendak menjimaki istrinya maka terkadang syaitan ikut serta menikmati istrinya”)) [Asy-Syarhul Mumti’ XII/416]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Alu Bassaam, "Hadits ini merupakan dalil bahwa syaitan tidak meninggalkan seorang bani Adam. Ia selalu menyertainya dan mengikuti gerak-geriknya untuk mendapatkan kesempatan untuk menggoda dan menyesatkannya semaksimal mungkin. Akan tetapi seorang yang cerdik adalah yang tidak memberikan peluang kepada syaitan yaitu dengan berdzikir kepada Allah." [Taudhihul Ahkaam IV/458]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh bagi keduanya untuk bertelanjang karena boleh bagi keduanya untuk melihat dan menyentuh seluruh tubuh pasangannya, namun sebaiknya untuk menutup tubuh mereka berdua (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/359 no 2892 dan XIX/361 no 4250 dan XIX/361 no 4624, Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/416)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Hendaknya sang suami sebelum menjimaki istrinya melakukan pemanasan untuk menggairahkan syahwat istrinya seperti ciuman, sentuhan, dan yang lainnya, sehingga keduanya sama-sama bangkit syahwatnya. Karena hal ini akan menambah keledzatan. (Penjelasan Syaikh Utsaimin dala Asy-Syarhul Mumti’ XII/415)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh bagi keduanya untuk berbicara sedikit tatkala sedang berjimak terutama perkataan-perkataan yang menggairahkan syahwat. Bahkan terkadang perkataan-perkataan yang seperti ini dituntut. (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/416)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Terlarang bagi  sang suami untuk mencabut dzakarnya dari vagina istrinya sebelum istrinya mencapai kepuasan (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/417)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh bagi sang suami untuk menikmati (meletakkan dzakarnya) ke seluruh bagian tubuh sang istri, baik dari depan maupun dari belakang, bahkan boleh baginya untuk meletakkan dzakarnya diantara belahan dua pantat istrinya selama tidak masuk dalam lingkaran dubur. (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/351 no 6905 dan XIX/352 no 7310)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh bagi seorang suami untuk menjimaki istrinya lebih dari sekali dalam satu malam tanpa mandi atau wudhu, namun sebaiknya berwudhu sebelum mengulangi jimaknya karena akan menjadikannya lebih bersemangat. (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/349 no 13748). Namun disunnahkannya wudhu ini hanya berlaku bagi sang lelaki karena dialah yang diperintahkan untuk melakukannya dan bukan sang wanita. (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/350 no 18911)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh (dan tidak makruh) bagi sang suami untuk mengisap payudara istrinya, dan jika air susu istrinya sampai masuk ke lambungnya maka tidak menjadikannya haram (anak persusuan). (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/351 no 6657)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Boleh bagi suami untuk menjimaki istrinya yang sedang hamil kapan saja waktu kehamilannya selama tidak menimbulkan bahaya. (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/353 no 18371)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Tidak mengapa bagi suami dan istri untuk berjimak dihadapan bayi yang masih dalam persusuan karena ia tidak mengerti, adapun anak kecil yang sudah berumur tiga tahun atau empat tahun yang bisa mengungkapkan apa yang dilihatnya maka hal ini dilarang. (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/418)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Tidak boleh menjimaki sang istri di kemaluannya tatkala ia sedang haid dan nifas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (البقرة : 222 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. 2:222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/396)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Namun  boleh mencumbui atau menjimaki istri yang sedang haid dibagian mana saja dari tubuh sang istri yang penting bukan dikemaluan  atau dubur. Karena hukum asal dalam berjimak adalah halal. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إلاَّ النِّكَاح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lakukanlah segala perkara kecuali nikah (yaitu kecuali menjimaki kemaluan istri yang sedang hadih)” [ HR Muslim I/246 no 302](Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/397)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Disunnahkan bagi sang istri yang sedang haid untuk memakai sarung untuk menutup kemualuannya tatkala sang suami sedang mencumbuinya. Dan diantara hikmahnya adalah bisa jadi sang suami melihat darah haid atau mencium bau yang kurang sedap sehingga mempengaruhi perasaannya. (Atau bisa jadi syahwatnya terlalu tinggi hingga akhirnya nekat untuk menjimaki kemaluan istrinya yang sedang haidh-pen) (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/398)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Diharamkan untuk menjimaki istri melalui duburnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ (البقرة : 223 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. 2:223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dubur bukanlah tempat bercocok tanam bagi sang suami. Dan banyak hadits yang menyatakan keharaman menjimaki istri di dubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu qiyas juga menunjukan akan haramnya menjimaki istri di duburnya. Tai itu lebih kotor dan lebih menjijikan daripada darah haid, maka jika jimak ditempat keluarnya darah haid diharamkan karena ada darah haidh maka jimak ditempat keluarnya tai lebih diharamkan lagi. (Kemudian juga bahwa diharamkan jimak di tempat haidh padahal itu hukumnya sementara saja hingga berhenti darah haidh maka terlebih lagi diharamkan jimak di dubur karena dubur senantiasa dan selalu merupakan tempat kotoran-pen). Selain itu jimak di dubur seperti homoseksual, oleh karena itu sebagian ulama menamakan jimak di dubur dengan nama homoseksual kecil. (Penjelasan Syaikh Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ XII/399)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Alu Bassaam berkata, "Pada ayat di atas (QS. 2:223) terdapat dorongan dan motivasi untuk melakukan jimak karena Allah menyebutnya sebagai "bercocok tanam". Karena berocok tanam akan membuahkan hasil yang bermanfaat serta buah-buahan yang baik. Maka demikianlah juga dengan jimak yang menyebabkan banyaknya keturunan dan memperbanyak barisan kaum muslimin dan mewujudkan bangganya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam akan banyaknya pengikutnya di hadapan para nabi yang lain pada hari kiamat kelak" [Taudhihul Ahkaam IV/456]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Dilarang bagi keduanya untuk menceritakan kepada orang lain tentang jimak yang telah mereka lakukan. (Penjelasan Syaikh Utsaimin dala Asy-Syarhul Mumti’ XII/419)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Dilarang bagi keduanya untuk memotret jimak yang mereka lakukan meskipun dijaga dan tidak diperlihatkan kepada orang lain (Fatwa Lajnah Ad-Daimah XIX/367 no 22959)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.firanda.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-2330124878636077975?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/2330124878636077975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/adab-hubungan-suami-istri-seksual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2330124878636077975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2330124878636077975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/adab-hubungan-suami-istri-seksual.html' title='Adab hubungan suami-istri: seksualitas dalam tinjauan syar&apos;i'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zFamAD-uzzw/Tl27zaAhmxI/AAAAAAAAAYM/b51ZWdDSzkg/s72-c/cnta.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-3416165382704444523</id><published>2011-08-27T23:59:00.001-07:00</published><updated>2011-08-28T00:02:19.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muslimah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Menyesal karena Pernah Menolak Ikhwan yang salih</title><content type='html'>Saya seorang wanita, 30 tahun. Beberapa tahun ini saya mengalami kegelisahan yang luar biasa karena belum menikah. Beberapa kali mengalami kegagalan, bahkan di antaranya membuat saya trauma. Banyak yang suka terhadap saya, tetapi sering mengalami “maju-mundur” dalam proses menuju keseriusan. Di kala saya maju, sang lelaki yang mundur, demikian sebaliknya, di kala sang lelaki maju, saya yang mundur.&lt;br /&gt;Ada seorang lelaki muslim yang sampai saat ini membuat saya menyesal karena telah menolak hanya karena saya tidak suka padanya, padahal secara agama, lelaki tersebut baik. Itu terjadi tiga tahun yang lalu. Sekarang, dia sudah menikah dan saya belum bisa melupakan penyesalan itu. Sementara, sekarang adik saya sudah menikah dan saya semakin depresi.&lt;br /&gt;Yang ingin saya tanyakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Apakah ini musibah, cobaan, ataukah Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukum saya karena pernah menyakiti lelaki sebelumnya?&lt;br /&gt;   2. Apakah seringnya hubungan “maju-mundur” saya dengan seorang lelaki merupakan tanda-tanda bahwa itu bukan jodoh? Ataukah saya yang pilih-pilih?&lt;br /&gt;   3. Bagaimana menghilangkan rasa penyesalan saya dan membangkitkan rasa percaya diri karena belum menikah?&lt;br /&gt;   4. Bagaimana menghilangkan rasa sakit hati karena didahului oleh adik?&lt;br /&gt;   5. Bagaimana cara meredam kegelisahan hati saya, meskipun sudah seringkali saya coba dengan memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, dan pasrah kepada Allah subhanahu wa ta’ala?&lt;br /&gt;   6. Apa hukumnya diruwat, dalam pandangan agama Islam? (Diruwat adalah upacara untuk menghilangkan keburukan/kesialan dalam tubuh seseorang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Karena semua pertanyaan Saudari berurutan, ada baiknya, kami memberikan jawaban juga secara kronologis, tetapi tanpa penomoran, agar lebih mengikat. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Kami memberikan sebuah kunci kaidah saja, bahwa dalam menyikapi segala bentuk takdir, hendaknya seorang hamba pandai-pandai melakukan intropeksi. Sudahkah saya melakukan yang terbaik? Salahkah saya? Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Dan seterusnya ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal tabah dan bersyukur, jelas tidak kalah penting. Akan tetapi, percuma saja bersikap seperti orang yang tabah menghadapi segala musibah jika ternyata tidak mampu mengembangkan potensi, memperbaiki kesalahan, dan memilih yang terbaik untuk masa selanjutnya. Tentunya, seseorang itu telah berbohong jika dia mengatakan dirinya telah bersyukur, namun dia tidak mampu memperbaiki sikap di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal apabila Saudari pernah menyakiti banyak orang, cukup diselesaikan dengan bartobat saja. Meminta maaf dapat dilakukan, terkait dengan ucapan dan tindakan Saudari yang kurang tepat. Kalau soal penolakan, itu hak, tidak ada masalah benar dan salah dalam hal itu. Kalaupun Saudari menolak pinangan lelaki yang shaleh, Saudari hanya bersalah terhadap diri sendiri dan di hadapan Allah. Lagi-lagi, solusinya memang hanya satu, yaitu bertobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Saudari alami memang berkutat pada pusaran takdir. Jalan terlaksananya takdir memang bermacam-macam. Sikap Saudari itu pun sudah tercatat dalam alur takdir, sehingga mengakibatkan pernikahan Saudari seolah tertunda-tunda. Namun, sekali lagi, jangan tatap takdir itu sebagai sesuatu yang harus dikoreksi, disesali, atau diumpat. Pandang saja letak kesalahan Saudari. Terlalu memilih, mungkin itu ungkapan agak kasar yang lebih tepat untuk Saudari renungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, mencari seorang lelaki shaleh bukanlah perkara gampang. Sudah berusaha pun, belum tentu berhasil. Sementara, akibat dari menikah dengan lelaki yang tidak shaleh, sungguh merupakan bencana besar bagi wanita. Dengan harta dan uang, seorang lelaki bejat bisa mengubah surga dunia justru menjadi neraka dunia. Langkah praktisnya, cobalah berpikir realistis. Utamakan memilih lelaki yang shaleh, meskipun memiliki kekurangan fisik atau yang lainnya, tentunya selama Saudari masih mampu menerimanya. Bila sampai batas–maaf–menjijikkan dalam pandangan Saudari, bahkan dikhawatirkan bila menikahinya akan menjerumuskan Saudari dalam maksiat, silakan menolak. Itu adalah hak Saudari. Atau, ada pilihan dua atau tiga lelaki yang sama-sama shaleh, tidak bisa dibedakan yang satu dengan yang lain, sementara Saudari lebih memilih yang–taruhlah–lebih tampan, lebih kaya, dan seterunya. Itu pun tidak menjadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah …. Akan tetapi, semua sudah terjadi, dan pemaparan di atas dapat Saudari lakukan untuk masa yang akan datang. Tidak ada yang perlu disesali. Ikatan jodoh, terkadang dan bahkan seringkali, terasa aneh dan unik. Ada orang yang berusaha menikah tetapi tidak jadi-jadi, namun begitu sudah tidak terpikir menikah, tiba-tiba saja hanya dalam hitungan hari, sudah menjadi pasutri. Kalau sudah berpikir tentang takdir seperti itu, jiwa akan terasa lega dan lapang. Sabar saja, jodoh itu pasti akan datang. Yang lalu, biar saja berlalu. Lipat saja dalam gudang pengalaman Saudari. Mungkin, di hari kemudian, bisa Saudari baca dan pelajari kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gelisah, takut, khawatir, dan sejenisnya memang harus diperangi. Memang, tidak seketika saja dapat lenyap, bahkan bisa jadi selamanya tidak akan lenyap. Namun, ketika seseorang memiliki kendala hati dan ia berupaya mengantisipasinya, sebenarnya ia sedang mengais pahala. Orang pemarah yang berusaha menahan amarahnya bisa mendapat pahala jauh lebih besar daripada orang penyabar yang sedang marah kemudian menahan amarahnya, karena, perjuangannya pun lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang kuat bergulat, namun yang mampu menahan diri ketika marah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting, segala bentuk kekhawatiran, rasa takut, dan penyesalan itu bisa diredam sehingga tidak meledak; syukur-syukur dapat ditaklukkan. Bagaimana pun hasilnya, perjuangan berat itu pasti juga melahirkan kebahagaiaan di sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jodoh, tidak ada istilah perlombaan, tidak ada istilah menang atau kalah. Seperti juga rezeki, tidak jarang dua orang bersaudara kembar yang ternyata memiliki jalur rezeki yang jauh berbeda: yang satu kaya raya, yang satu miskin nelangsa. Baik, anggap saja bahwa perasaan sakit itu wajar, karena merasa didahului. Jadikan itu sebagai perang lanjutan dalam jiwa Saudari. Kembalilah untuk menaklukkan perasaan sakit itu, sambil terus berupaya berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan rasa sedih. Aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pelit dan penakut. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan kekuasaan sesama hamba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarilah, bahwa Allah lebih mengetahui kebutuhan kita ketimbang diri kita sendiri. Kalau Saudari sudah bertawakal kepada Allah, pasti segala kebutuhan Saudari akan terpenuhi. Mungkin, Saudari sedang dipersiapkan untuk menjadi lebih kuat menahan beban pernikahan yang merupakan perjuangan berat, di samping juga karunia hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tidak ada istilah percaya diri atau tidak percaya diri, kalau sudah berhadapan dengan takdir, yang ada: pasrah atau tidak pasrah, rela atau tidak rela. Sama halnya dengan masuk surga. Bagi seorang muslim, tidak ada istilah optimis masuk surga, atau kebalikannya, pesimis selamat dari siksa neraka. Yang ada, rasa takut dan berharap-harap. Tampil saja apa adanya, perbanyak beribadah, belajar dengan tekun, sambil terus berdoa. Semoga, saat masa pernikahan tiba, Saudari dalam kondisi iman di puncak, sehingga bisa menatap segala hal dengan panduan syariat secara lebih dominan ketimbang hawa nafsu. Di situ, keselamatan Saudari akan terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruwatan dan sejenisnya adalah kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dalam ajaran Islam, sudah ada pembentengan diri yang disebut dosa atau ruqyah. Dengan sering-sering membaca Al-Baqarah, segala godaan jin dan setan niscaya musnah. Dalam Islam pula, akhlak yang buruk dan komitmen agama yang rendah adalah kesialan. Wanita yang membawa sial adalah wanita yang berakhlak buruk. Demikian dijelaskan oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi. Dengan agama yang baik dan budi pekerti mulia, kita akan terbimbing menuju nasib yang mujur dunia dan akhirat, terlepas dari kenyataan bahwa Saudari akan menikah cepat atau lambat, karena itu tidak ada hubungannya dengan kesialan atau kemujuran. Saudari, kami akan membantu dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah Nikah, Vol. 3, No. 12, Maret, 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-3416165382704444523?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/3416165382704444523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/menyesal-karena-pernah-menolak-ikhwan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3416165382704444523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/3416165382704444523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/menyesal-karena-pernah-menolak-ikhwan.html' title='Menyesal karena Pernah Menolak Ikhwan yang salih'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-408630875739947210</id><published>2011-08-04T02:12:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T02:16:32.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>EKSISTENSI JIN</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Abu Nida`Chomsaha Sofwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBERADAAN JIN&lt;br /&gt;Jin termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani keberadaannya, karena dalil-dalil Al Qur`an dan As Sunnah telah menjelaskannya. Ini termasuk di antara asas akidah Islam, yaitu beriman kepada perkara ghaib. Bahwa beriman kepada yang ghaib merupakan salah satu sifat orang-orang yang bertakwa, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الــم {1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ {2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {3}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka". [Al Baqarah : 1-3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ghaib, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mas‘ud, ialah seluruh perkara yang ghaib yang telah diberitakan Allah dan RasulNya kepada kita. Begitu pula dengan keberadaan jin, bahwa Allah dan RasulNya telah mengabarkan melalui Al Qur`an ataupun hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Dari Al Qur`an, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an". [Al Ahqaf : 29].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ ءَايَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَذَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini". [Al An‘am : 130]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur`an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur`an yang menakjubkan’" [Al Jin : 1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ اْلإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan".[Al Jin : 6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Dari As Sunnah, di antaranya :&lt;br /&gt;Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Pada suatu malam, kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kami kehilangan dirinya. Maka kami pun mencari-cari Beliau di lembah-lembah dan di jalan-jalan di gunung (namun tidak menemukan Beliau), sehingga kami berkata,’Beliau dibawa terbang jin, atau Beliau telah dibunuh secara rahasia’. Maka kami melewati malam itu sebagai sejelek-jelek malam yang dialami suatu kaum. Tatkala datang pagi, tiba-tiba Beliau muncul dari arah gua Hira’. Maka kami berkata,’Wahai, Rasulullah! (Semalam) kami kehilangan dirimu, lalu kami mencari-carimu, tetapi tidak menemukanmu, maka kami melewati malam itu sebagai sejelek-jelek malam yang dialami suatu kaum’. Beliau berkata,‘Seorang utusan jin mendatangiku, maka aku pun pergi bersamanya (mendatangi para jin), lalu aku membacakan Al Qur`an kepada mereka’.” Ibnu Mas‘ud berkata,”Lalu Beliau mengajak kami dan memperlihatkan kepada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka.”&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada satupun dari segolongan kaum muslimin yang berpendapat lain dalam masalah eksistensi jin, dan tidak pula dalam masalah bahwa Allah telah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka. Mayoritas kaum kafir juga telah mengakui eksistensi mereka. Adapun ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, mereka menetapkan keberadaan jin sebagaimana kaum muslimin menetapkannya, meskipun di antara mereka ada yang mengingkarinya, sebagaimana di antara kaum muslimin (juga) ada yang mengingkarinya ... seperti Jahmiyah dan Mu‘tazilah. Namun sebagaian besar golongan dan para imam mereka menetapkannya. Hal itu, karena keberadaan jin telah mutawatir disebutkan dalam berita-berita para nabi dengan sifat mutawatir yang dimaklumi secara dharuri. Dan telah dimaklumi secara dharuri, bahwa mereka (para jin) hidup dan berakal, melakukan perbuatan dengan kehendak mereka, dan bahkan mereka (juga) diperintah dan dilarang. Mereka bukanlah sifat-sifat atau gejala-gejala yang menimpa pada manusia atau selainnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh para mulhid (atheis). Karena masalah jin ini telah mutawir beritanya dari para nabi dengan sifat mutawatir yang telah dikenal oleh orang awam maupun khas, maka tidak mungkin satu pun golongan yang menisbatkan diri kepada para rasul yang mulia untuk mengingkari keberadaan jin”. [Majmu‘ Fatawa, XIX:13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAM JIN ADALAH ALAM YANG TERSENDIRI&lt;br /&gt;Alam jin merupakan alam tersendiri, yang bukan alam manusia dan bukan pula alam malaikat. Dari bentuk fisiknya, pandangan mata manusia tak mampu melihatnya. Itulah sebabnya mereka dinamakan jin, dikarenakan ketertutupan (ijtinan) fisiknya dari pandangan mata manusia. Di dalam Al Qur`an, Allah berfirman, yang artinya : …… Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka…… . [Al A‘raf : 27].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski antara manusia dan jin berbeda alam, tetapi antara jin dan manusia terdapat titik persamaan, yaitu memiliki sifat berakal dan berpikir, mempunyai kemampuan yang sama untuk memilih jalan yang baik dan jalan yang buruk. Meski terdapat sifat yang sama, tetapi dalam banyak hal, jin juga memiliki perbedaan dengan manusia. Dan yang terpenting ialah dalam masalah asal penciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla mengabarkan, jin diciptakan dari api, yang artinya : Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. [Al Hijr : 27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَخَلَقَ الْجَآنَّ مِن ماَّرِجٍ مِّن نَّارٍ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia menciptakan jin dari nyala api". [Ar Rahman : 15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, dan Al Hasan Al Bashri serta yang lainnya menafsirkan kalimat “min marij min nar” dalam ayat di atas sebagai “bagian ujung dari lidah api”. Dalam riwayat lain disebutkan “dari bagian inti api”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al Qur`an) kepada kalian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMAMPUAN-KEMAMPUAN YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA JIN&lt;br /&gt;Allah telah memberikan kepada jin kemampuan-kemampuan yang tidak diberikan kepada manusia. Sebagian kemampuan tersebut di antaranya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Mampu bergerak dan berpindah dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;‘Ifrit dari golongan jin pernah berjanji kepada Nabi Sulaiman Alaihissallam untuk menghadirkan singgasana Ratu Saba di Yaman ke Baitul Maqdis hanya dalam waktu seseorang berdiri dari duduknya; sebelum mata berkedip. Dalam Al Qur`an Allah berfirman, yang artinya : Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata: “Ini termasuk karunia Rabb-ku…… ”. [An Naml : 39-40].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Mendahului manusia dalam mencapai ruang angkasa.&lt;br /&gt;Sudah sejak lama jin mampu naik ke tempat-tempat di langit dunia, lalu di sana mereka mencuri dengar berita-berita langit untuk mengetahui peristiwa sebelum terjadinya. Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, maka langit diperketat penjagaannya. Allah berfirman, yang artinya : Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). [Al Jin:8-9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan cara mereka mencuri dengar berita-berita langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepak-ngepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firmanNya, seolah-olah firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain -Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari-jemarinya-. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Pengetahuan jin tentang teknologi.&lt;br /&gt;Allah mengabarkan bahwa Dia telah menundukkan bangsa jin untuk Nabi Sulaiman Alaihissallam. Bangsa jin banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk beliau yang menuntut kemampuan, kepandaian dan kemahiran atau keahlian. Allah berfirman, yang artinya : Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Rabb-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami membuatnya merasakan azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). [Saba` : 12-13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah menyebutkan, ada seorang syaikh, yang dahulu mempunyai hubungan dengan jin telah menyampaikan kepada beliau, bahwa bangsa jin telah memperlihatkan kepadanya suatu benda yang bercahaya seperti air dan pelita. Mereka menampakkan kepadanya di dalam benda itu berita-berita yang dia inginkan, lalu dia menyampaikannya kepada orang-orang. Mereka (jin) juga menyampaikan kepadanya perkataan sahabat-sahabatnya yang meminta tolong kepadanya, lalu dia menjawabnya, dan para jin itu menyampaikan jawabannya itu kepada para sahabatnya tersebut. [Majmu ‘ Fatawa XI:309].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Kemampuan untuk beralih rupa atau bentuk.&lt;br /&gt;Jin memiliki kemampuan beralih rupa atau bentuk, ke bentuk manusia dan hewan. Mereka pernah mendatangi kaum musyrikin dalam wujud Suraqah bin Malik untuk menjanjikan kemenangan bagi mereka. Demikian pula, sejumlah sahabat, di antaranya Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, pernah didatangi mereka dalam wujud orang tua yang ingin mencuri zakat yang sedang dijaganya. Mereka dapat beralih rupa menjadi unta, keledai, sapi, anjing atau kucing. Seringnya mereka berubah bentuk menjadi anjing hitam dan kucing. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan, bahwa lewatnya anjing hitam di depan orang yang shalat memutuskan shalat orang itu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan sebabnya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْكَلْبُ الأَسْوَدُ شَيْطَانٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena anjing hitam itu setan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin sering berubah menjadi hewan, lalu menampakkan diri kepada manusia. Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membunuh ular yang muncul di dalam rumah, sebab dikhawatirkan itu merupakan jelmaan jin yang telah masuk Islam. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Sa ‘id Al Khudri, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat satu dari mereka, maka mintalah kepada mereka untuk keluar (dalam jangka waktu) tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya dia itu setan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengecualikan untuk ular tertentu. Dari Abu Lubabah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَقْتُلُوا الْجِنَّانَ إِلاَّ كُلَّ أَبْتَرَ ذِي طُفْيَتَيْنِ فَإِنَّهُ يُسْقِطُ الْوَلَدَ وَيُذْهِبُ الْبَصَرَ فَاقْتُلُوهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kalian (langsung) membunuh ular (di dalam rumah), kecuali setiap ular yang terpotong (pendek) ekornya dan memiliki dua garis di punggungnya, karena ular jenis ini dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. Maka bunuhlah ia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e). Setan mengalir dalam tubuh Bani Adam sebagaimana mengalirnya darah di urat nadi.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KELEMAHAN DAN KETIDAKMAMPUAN JIN&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya manusia, jin juga memiliki kekuatan dan kelemahan. Sebagian di antara kelemahan jin yang disebutkan Allah dan RasulNya ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Jin tidak memiliki kemampuan untuk menundukkan hamba-hamba Allah yang shalih.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memberikan kemampuan kepada setan untuk menguasai manusia dan memaksakan kepada mereka kesesatan dan kekafiran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu (setan) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga. [Al Isra` : 65].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَاكَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِاْلأَخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu". [Saba` : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, setan tidak mempunyai jalan untuk menguasai manusia, baik dari sisi hujjah maupun dari sisi kemampuan. Kenyataan ini telah diakui sendiri oleh setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iblis berkata: “Ya, Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". [Al Hijr : 39-40].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang mampu mereka kuasai hanyalah hamba-hamba yang rela dengan pemikiran setan, mengikutinya dengan penuh kerelaan dan ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (setan) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. [Al Hijr : 42].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَمْ تَرَ أَنَّآ أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka membuat maksiat dengan sungguh-sungguh". [Maryam : 83].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Setan takut dan lari dari sebagian hamba Allah.&lt;br /&gt;Jika Islam telah tertancap kuat pada seorang hamba, iman telah tegak di dalam hatinya, dan dia senantiasa menjaga batasan-batasan yang telah digariskan Allah, maka setan akan menjauh dan lari darinya. Sebagaimana Rasulullah n bersabda kepada Umar bin Al Khaththab: “Sesungguhnya setan takut kepadamu, wahai Umar”. [HR At Tirmidzi, no. 2913].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda tentang Umar: “Sesungguhnya aku telah benar-benar melihat bahwa setan dari kalangan jin dan manusia benar-benar lari dari Umar”. [HR At Tirmidzi, no. 2914].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Jin ditundukkan untuk Nabi Sulaiman Alaihissallam.&lt;br /&gt;Allah telah menundukkan sebagian golongan jin dan setan untuk Nabi Sulaiman Alaihissallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dia kehendaki, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. [Shad : 36-38].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu sebagai wujud dikabulkannya doa Nabi Sulaiman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَّيَنبَغِي لأَحَدٍ مِّن بَعْدِي …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia berkata: “Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku". [Shad : 35].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Jin tidak mampu menciptakan mukjizat.&lt;br /&gt;Jin tidak mampu berbuat sesuatu yang setara dengan mukjizat yang dibawa oleh para rasul untuk menunjukkan kebenaran risalah yang mereka bawa. Tatkala sebagian orang-orang kafir menilai bahwa Al Qur’an merupakan buatan setan, maka Allah berfirman, yang artinya : Dan Al Qur`an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Qur`an itu, dan mereka pun tidak akan mampu. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar Al Qur`an itu. [Asy Syuara’ : 210-212].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e). Jin tidak bisa menyerupai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mimpi seseorang.&lt;br /&gt;Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ رَآنِي فيِي المْمَنَامِ فَقَدْ رآنِي ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلَ بِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa melihatku dalam mimpinya, maka sungguh dia telah melihatku (bukan setan yang menyerupaiku), karena sesungguhnya setan tidak mampu menyerupai diriku". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhahir dari hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan, bahwa setan tidak mampu meniru bentuk dan rupa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun tidak berarti ia tidak mampu meniru bentuk dan rupa orang selain Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu mengaku sebagai Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, seseorang yang bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak boleh memastikan bahwa dia benar-benar telah bermimpi melihat Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdalil dengan hadits-hadits tersebut, kecuali orang yang dilihatnya dalam mimpi itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan ciri-ciri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disebutkan dalam kitab-kitab hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f). Jin tidak mampu menembus batasan-batasan tertentu di ruang angkasa.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). [Ar Rahman : 34-35].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g). Jin tidak mampu membuka pintu yang ditutup dengan membaca bismillah.&lt;br /&gt;Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika gelapnya malam telah merayap datang atau waktu senja telah datang, maka tahanlah anak-anak kecil kalian, karena para setan mulai menyebar pada waktu itu. Dan jika telah berlalu satu waktu dari malam, maka lepaskanlah mereka. Dan tutuplah pintu-pintu dengan menyebut nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang ditutup". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan singkat tentang jin, yang keberadaannya harus kita imani sebagai makhluk ghaib yang diciptakan Allah Azza wa Jalla. Sebagai makhluk, maka setiap perbuatan yang dilakukan oleh jin, pasti sepengetahuan dan atas izin Allah Azza wa Jalla . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;‘Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, oleh Syaikh Al Asyqar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04//Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-408630875739947210?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/408630875739947210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/eksistensi-jin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/408630875739947210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/408630875739947210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/08/eksistensi-jin.html' title='EKSISTENSI JIN'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-8203426732291870607</id><published>2011-07-19T20:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T20:01:54.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Lupa Dzikir Shalat</title><content type='html'>Pertanyaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa kesempatan ketika rukuk dalam shalat saya keliru mengucapkan dzikir. Saya keliru mengucapkan subhana rabbiy al-a’la sehingga menggantikan ucapan subhana rabbiy al-’azhim. Kekeliruan serupa juga terkadang terjadi ketika saya sujud dan saya baru menyadarinya setelah mengucapkan dzikir tersebut. Apakah saya berkewajiban melakukan sujud sahwi? Jika wajib, kapankah sujud itu dilakukan, sebelum atau sesudah salam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama yang ingin kami sampaikan adalah seorang yang mengucapkan subhana rabbiy al-a’la ketika rukuk atau mengucapkan subhana rabbiy al-’azhim ketika sujud memiliki dua kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut segera mengetahui bahwa dia keliru dalam mengucapkan dzikir kemudian mengucapkan subhana rabbiy al-’azhim sebelum bangkit dari rukuk atau segera mengucapkan subhana rabbiy al-a’la sebelum bangkit dari sujud. Pada kondisi ini, orang tersebut tidaklah wajib melakukan sujud sahwi, karena dia tidaklah meninggalkan suatu kewajiban. Akan tetapi, dia sekedar dianjurkan melakukan sujud sahwi karena mengucapkan dzikir tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tersebut mengetahui kekeliruannya setelah bangkit dari rukuk atau sujud. Maka, dalam kondisi demikian dia wajib melaksanakan sujud sahwi karena dia telah meninggalkan suatu kewajiban. Dan dalam kondisi ini sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Sebelumnya telah disebutkan perihal berbagai faktor penghalang untuk melaksanakan sujud sahwi pada soal-jawab nomor 7743.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا أتى بقول مشروع في غير موضعه، فإنه يسن له أن يسجد للسهو، كما لو قال: “سبحان ربي الأعلى” في الركوع، ثم ذكر فقال: “سبحان ربي العظيم” فهنا أتى قول مشروع وهو “سبحان ربي الأعلى”، لكن “سبحان ربي الأعلى” مشروع في السجود، فإذا أتى به في الركوع قلنا: إنك أتيت بقول مشروع في غير موضعه، فالسجود في حقك سنة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seorang mengucapkan dzikir shalat tidak pada tempatnya, maka dia disunnahkan (dianjurkan) untuk melakukan sujud sahwi. Contohnya seperti seorang yang mengucapkan subhana rabbiy al-a’la ketika rukuka kemudian (sebelum bangkit dari rukuk) dia teringat akan kekeliruannya dan mengucapkan subhana rabbiy al-’azhim. Pada kasus ini, orang tersebut mengucapkan dzikir yang masyru’, yaitu subhana rabbiy al-a’la padahal dzikir tersebut seharusnya diucapkan ketika sujud. Maka apabila seseorang mengucapkannya ketika rukuk, kami katakan bahwa anda telah mengucapkan dzikir shalat tidak pada tempatnya, dan anda disunnahkan melakukan sujud sahwi.” [Asy-Syarh al-Mumti' 3/359].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ib Jibrin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما إذا أتى بقول مشروع في غير محله سهواً فإنها لا تبطل..، فإذا قرأ وهو جالس أو تشهد وهو قائم، .. أو قال: سبحان ربي الأعلى وهو راكع، أو سبحان ربي العظيم وهو ساجد، أي أنه أتى بسنة في غير محلها مع أنها مشروعة، فإنه يسن له السجود ولا يجب؛ لأن هذا من جملة أذكار الصلاة، وهي لا تبطل بتعمده&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun jika seseorang mengucapkan dzikir tidak pada tempatnya karena lupa, maka hal ini tidaklah membatalkan shalat. Dengan demikian, apabila seseorang membaca surat sementara dia lagi duduk , mengucapkan tasyahhud ketika dia sedang berdiri, mengatakan subhana rabbiy al-a’la ketika rukuk atau mengucapkan subhana rabbiy al-’azhim ketika sujud, maksudnya dia mengerjakan sesuatu yang disyari’atkan namun dilakukan tidak pada tempatnya. Maka dalam kondisi demikian, dia disunnahkan melakukan sujud sahwi. Dalam kondisi ini, sujud sahwi bukanlah suatu kewajiban karena apa yang diucapkannya itu masih termasuk dzikir shalat dan jika diucapkan tidak pada tempatnya meski dengan sengaja hal itu tidaklah membatalkan shalat [Syarh Akhshar al-Mukhtasharat].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, apabila orang yang melaksanakan shalat berposisi sebagai makmum dan melakukan apa yang telah disebutkan di atas, maka di akhir shalat dia (disunnahkan) melakukan sujud sahwi jika dia masbuk. Jika dia mengikuti imam dari awal shalat (dan melakukan hal di atas), maka dia tetap salam bersama imam dan tidak ada kewajiban sujud sahwi atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu’Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا سها المأموم في صلاته، ولم يكن مسبوقا، أي أدرك جميع الركعات مع إمامه، كما لو نسي أن يقول: سبحان ربي العظيم في الركوع، فإنه لا سجود عليه؛ لأن الإمام يتحمله عنه، لكن لو فرض أن المأموم سها سهوا تبطل معه إحدى الركعات كما لو ترك قراءة الفاتحة نسياناً، فهنا لابد أن يقوم إذا سلم الإمام ويأتي بالركعة التي بطلت من أجل السهو، ثم يتشهد ويسلم ويسجد بعد السلام .&lt;br /&gt;أما إذا سها المأموم في صلاته، وكان مسبوقاً، فإنه يسجد للسهو، سواء كان سهوه في حال كونه مع الإمام، أو بعد القيام لقضاء ما فاته؛ لأنه إذا سجد لم يحصل منه مخالفة لإمامه حيث إن الإمام قد انتهى من صلاته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila makmum lupa dalam shalatnya dan dia tidak masbuk, maksudnya dia mendapati seluruh raka’at bersama imam kemudian dia lupa mengucapkan subhana rabbiy al-’azhim ketika rukuk, maka tidak ada kewaji ban sujud sahwi atasnya karena imam yang akan menanggungnya. Akan tetapi, jika makmum lupa mengerjakan sesuatu yang apabila tidak dikerjakan akan membatalkan salah satu raka’at seperti dia lupa membaca surat al-Fatihah, maka dalam kondisi ini dia wajib berdiri kembali ketika imam telah salam untuk menyempurnakan raka’at yang telah batal tadi kemudian dia bertasyahhud dan sujud setelah salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika makmum lupa dalam shalatnya dan dia dalam kondisi masbuk, maka dia melakukan sujud sahwi, baik lupanya itu terjadi ketika dirinya shalat bersama imam atau terjadi ketika dia berdiri menyempurnakan shalat. (Dia boleh melakukannya) karena jika dia melakukan sujud sahwi dirinya tidak dianggap menyelisihi imam karena imam telah selesai melaksanakan shalatnya. [Lihat Risalah fi Ahkam Sujud as-Sahwi karya Asy-Syaikh Ibnu'Utsaimin rahimahullah dan lihat pula soal-jawab nomor 35909].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walllahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://islamqa.com/ar/ref/170072&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-8203426732291870607?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/8203426732291870607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/lupa-dzikir-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8203426732291870607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8203426732291870607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/lupa-dzikir-shalat.html' title='Lupa Dzikir Shalat'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1046680870116596943</id><published>2011-07-12T20:41:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T20:42:45.638-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak Karimah'/><title type='text'>Tersenyumlah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-4Dm7O7fUjhs/Th0UKItCKVI/AAAAAAAAAYE/JcINiAGMxFM/s1600/senyum.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4Dm7O7fUjhs/Th0UKItCKVI/AAAAAAAAAYE/JcINiAGMxFM/s200/senyum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628677273650604370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan muka manis di hadapan seorang muslim, yang hadits ini semakna dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria“[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menampakkan wajah ceria dan berseri-seri ketika bertemu dengan seorang muslim akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala bersedekah[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh sahabat yang mulia, Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku“[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan keutamaan[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Imam adz-Dzahabi menyebutkan faidah penting sehubungan dengan masalah ini, ketika beliau mengomentari ucapan Muhammad bin Nu’man bin Abdussalam, yang mengatakan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tekun beribadah melebihi Yahya bin Hammad[6], dan aku mengira dia tidak pernah tertawa”. Imam adz-Dzahabi berkata, “Tertawa yang ringan dan tersenyum lebih utama, dan para ulama yang tidak pernah melakukannya ada dua macam (hukumnya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: (bisa jadi) merupakan kebaikan bagi orang yang meninggalkannya karena adab dan takut kepada Allah, serta sedih atas (kekurangan dan dosa-dosa yang ada pada) dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: (bisa jadi) merupakan celaan (keburukan) bagi orang yang melakukannya (tidak mau tersenyum) karena kedunguan, kesombongan, atau sengaja dibuat-buat. Sebagaimana orang yang banyak tertawa akan direndahkan (diremehkan orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak diragukan lagi, tertawa pada diri pemuda lebih ringan (dilakukan) dan lebih dimaklumi dibandingkan dengan orang yang sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tersenyum dan menampakkan wajah ceria, maka ini lebih utama dari semua perbuatan tersebut (di atas). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“. Dan Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah akhlak (mulia) dalam Islam, dan kedudukan yang paling tinggi (dalam hal ini) adalah orang yang selalu menangis (karena takut kepada Allah) di malam hari dan selalu tersenyum di siang hari. (Dalam hadits lain) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu“[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal lain (yang perlu diingatkan) di sini, (yaitu) sepatutnya bagi orang banyak tertawa dan tersenyum untuk menguranginya (agar tidak berlebihan), dan mencela dirinya (dalam hal ini), agar dia tidak dijauhi/dibenci orang lain. Demikian pula sepatutnya bagi orang yang (suka) bermuka masam dan cemberut untuk tersenyum dan memperbaiki tingkah lakunya, serta mencela dirinya karena buruknya tingkah lakunya, maka segala sesuatu yang menyimpang dari (sikap) moderat (tidak berlebihan dan tidak kurang) adalah tercela, dan jiwa manusia mesti sungguh-sungguh dipaksa dan dilatih (untuk melakukan kebaikan)”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1046680870116596943?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1046680870116596943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/tersenyumlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1046680870116596943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1046680870116596943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/tersenyumlah.html' title='Tersenyumlah'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4Dm7O7fUjhs/Th0UKItCKVI/AAAAAAAAAYE/JcINiAGMxFM/s72-c/senyum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-5474022831132824494</id><published>2011-07-05T20:44:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T20:54:27.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bid&apos;ah'/><title type='text'>Perdagangan Manusia (Human Trafficking)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ayf_evwSkJI/ThPcaSWwuII/AAAAAAAAAXs/7jz-J0knuYg/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 86px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ayf_evwSkJI/ThPcaSWwuII/AAAAAAAAAXs/7jz-J0knuYg/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626082703677896834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Nurkholis Abu Riyal bin Mursidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk Allah Azza wa Jalla yang dimuliakan, sehingga anak Adam ini dibekali dengan sifat-sifat yang mendukung untuk itu, yaitu seperti akal untuk berfikir, kemampuan berbicara, bentuk rupa yang baik serta hak kepemilikan yang Allah Azza wa Jalla sediakan di dunia, yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. Tatkala Islam memandang manusia sebagai pemilik, maka hukum asalnya ia tidak dapat dijadikan sebagai barang yang dapat dimiliki atau diperjual belikan. Hal ini berlaku jika manusia tersebut berstatus merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH HUMAN TRAFFICKING&lt;br /&gt;Wallâhu a’lam, sejak kapan awal mulanya perdagangan manusia. Tapi sebenarnya hal itu terjadi semenjak adanya perbudakan, dan perbudakan telah terjadi pada umat terdahulu jauh sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Diantara salah satu sebab suburnya perbudakan waktu itu adalah seringnya terjadi peperangan antar kabilah dan bangsa, di samping di sana terdapat faktor lain seperti perampokan, perampasan, penculikan, kemiskinan, ketidakmampuan dalam membayar hutang dan lain sebagainya, serta didukung pula dengan adanya pasar budak pada masa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi Ibrâhîm Alaihissallam sudah terjadi perbudakan, hal ini ditunjukkan oleh kisah Sarah yang memberikan jariyahnya (budak wanita) yaitu Hajar kepada Nabi Ibrâhîm Alaihissallam untuk dinikahi.[1] Demikian pula pada zaman Ya’qûb Alaihissallam, orang merdeka di masa itu bisa menjadi budak dalam kasus pencurian, yaitu si pencuri diserahkan kepada orang yang ia ambil hartanya untuk dijadikan budak.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Islam datang mengatur perbudakan ini walaupun tidak mutlak melarangnya. Akan tetapi, hal itu dapat mengurangi perlahan-lahan. Untuk itu Islam menganjurkan untuk membebaskan budak-budak yang beragama Islam,[3] bahkan salah satu bentuk pembayaran kafârah adalah dengan membebaskan budak Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini kita dapati maraknya eksploitasi manusia untuk dijual atau biasa disebut dengan Human Trafficking, terutama pada wanita untuk perzinaan, dipekerjakan tanpa upah dan lainnya, ada juga pada bayi yang baru dilahirkan untuk tujuan adopsi yang tentunya ini semua tidak sesuai dengan syari’ah dan norma-norma yang berlaku (‘urf). Kemudian bila kita tinjau ulang ternyata manusia-manusia tersebut berstatus hur (merdeka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDANGAN FIKIH ISLAM TENTANG PERDAGANGAN MANUSIA MERDEKA&lt;br /&gt;Hukum dasar muâmalah perdagangan adalah mubâh kecuali yang diharamkan dengan nash atau disebabkan gharâr (penipuan).[4] Dalam kasus perdagangan manusia, ada dua jenis yaitu manusia merdeka (hur) dan manusia budak (‘abd atau amah). Dalam pembahasan ini akan kami sajikan dalil-dalil tentang hukum perdagangan manusia merdeka yang kami ambilkan dari al-Qur’ân dan Sunnah serta beberapa pandangan ahli Fikih dari berbagai madzhab tentang masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Al-Qur’an:&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan,Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang pengambilan hukum dari ayat ini adalah; bahwa kemuliaan manusia yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada mereka yaitu dengan dikhususkannya beberapa nikmat yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain sebagai penghormatan bagi manusia. Kemudian dengan nikmat itu manusia mendapatkan taklîf (tugas) syari’ah seperti yang telah dijelaskan oleh mufassirîn dalam penafsiran ayat tersebut di atas [6]. Maka hal tersebut berkonsekwensi seseorang manusia tidak boleh direndahkan dengan cara disamakan dengan barang dagangan, semisal hewan atau yang lainnya yang dapat dijual-belikan. Imam al-Qurthûbi t berkata mengenai tafsir ayat ini “….dan juga manusia dimuliakan disebabkan mereka mencari harta untuk dimiliki secara pribadi tidak seperti hewan,...”[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Dari Sunnah&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi Allah Azza wa Jalla mengancam keras orang yang menjual manusia ini dengan ancaman permusuhan di hari Kiamat. Imam al-Bukhâri dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu :[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبيْ هُريْرَةَ رَضِيَ اللّه عنه عَنْ النَّبِيِّ صلىاللّه عليه وسلم قَاَلَ : قَالَ اللَّه : شَلاَشَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَومَ الْقِيَا مَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حَُرًافَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأ جَرَ أَ جِيرًا فَسْتَوْ فَىمِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: “ Tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka di hari Kiamat; pertama: seorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu ia tidak menepatinya, kedua: seseorang yang menjual manusia merdeka dan memakan hasil penjualannya, dan ketiga: seseorang yang menyewa tenaga seorang pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaan itu akan tetapi dia tidak membayar upahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini Ulama bersepakat atas haramnya menjual orang yang merdeka (Baiul hur), dan setiap akad yang mengarah ke sana, maka akadnya dianggap tidak sah dan pelakunya berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara pendapat mereka yaitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hanafiyah&lt;br /&gt;Ibnu Abidin rahimahullah berkata, “ Anak Adam dimuliakan menurut syari’ah, walaupun ia kafir sekalipun (jika bukan tawanan perang), maka akad dan penjualan serta penyamaannya dengan benda adalah perendahan martabat manusia, dan ini tidak diperbolehkan…” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Nujaim rahimahullah berkata dalam Al-Asybah wa Nazhâir pada kaidah yang ketujuh, “ Orang merdeka tidak dapat masuk dalam kekuasaan seseorang, maka ia tidak menanggung beban disebabkan ghasabnya walaupun orang merdeka tadi masih anak-anak” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Malikiyah&lt;br /&gt;Al-Hatthab ar-Ru’aini rahimahullah berkata, “ Apa saja yang tidak sah untuk dimiliki maka tidak sah pula untuk dijual menurut ijma’ Ulama’, seperti orang merdeka , khamr, kera, bangkai dan semisalnya “ [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Syâfi’iyyah:&lt;br /&gt;Abu Ishâq Syairazit dan Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa menjual orang merdeka haram dan bathil berdasarkan hadist di atas [12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajart menyatakan bahwa perdagangan manusia merdeka adalah haram menurut ijma’ Ulama’ [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hanâbilah&lt;br /&gt;Ulama’ Hanabilah menegaskan batalnya baiul hur ini dengan dalil hadits di atas dan mengatakan bahwa jual beli ini tidak pernah dibolehkan dalam Islam, di antaranya adalah Ibnu Qudâmah [14], Ibnu Muflih al-Hanbali [15], Manshûr bin Yûnus al-Bahuthi, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Zhâhiriyyah&lt;br /&gt;Madzhab ini menyebutkan bahwa semua yang haram dimakan dagingnya, haram untuk dijual [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKELAR TENAGA KERJA&lt;br /&gt;Dari keterangan di atas, telah jelas bagi kita bahwa Ulama bersepakat atas haramnya penjualan manusia merdeka. Bahkan memperkerjakan orang merdeka kemudian tidak menepati upah yang telah disepakati, maka perbuatan semacam ini disamakan dengan memakan hasil penjualan manusia merdeka, yaitu berupa ancaman yang terdapat dalam hadits tersebut di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَلاَشَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَومَ الْقِيَا مَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka di hari Kiamat…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula mereka yang menjadi makelar untuk memperkerjakan tenaga kerja, upah pekerja tersebut diambil oleh para makelar itu, dan akhirnya si pekerja tidak mendapatkan upah, atau karena adanya makelar tersebut mengakibatkan upah pekerja menjadi berkurang dari upah yang telah disepakati dengan majikan atau UMR. Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullah dalam kitab Syarhul Mumti’ ketika memberikan contoh masalah Ijârah Fâsidah (akad persewaan yang rusak) menyebutkan bahwa menyewakan tenaga kerja merdeka tidak diperbolehkan dengan alasan si pekerja tadi bukanlah milik (budak) si penyedia sewa (makelar). Padahal syarat Ijârah (persewaan) adalah si penyedia persewaan harus memiliki barang yang mau disewakan, dan di sini orang yang merdeka ini tidak dimilikinya (bukan budaknya). Kemudian apabila akad persewaan ini terjadi atas sepengetahuan musta’jir (penyewa/majikan) bahwa pekerja tersebut bukan budak, maka sang majikan wajib mengganti upah mitsil (standar) kepada pekerja tersebut. Akan tetapi apabila ia tidak mengetahui penipuan ini, maka ia cukup membayar kesepakatan di muka tentang upah sewa kepada pekerja tadi. Dan apabila upah tersebut kurang dari upah mitsil maka penanggungnya adalah pihak penyedia tenaga.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bisa kita ambil kesimpulan bahwa tidak ada hak bagi makelar untuk mengambil jatah upah tenaga kerja, karena mereka adalah manusia merdeka yang memiliki hak kepemilikan, bukan untuk dimiliki orang lain; begitu pula hasil kerjanya. Bila ia ingin mendapat upah, maka hendaknya di luar upah mereka. Maka hal yang demikian termasuk memakan harta dengan batil. &lt;br /&gt;Wallâhu a’lam bis shawâb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Lihat Bidâyah wa Nihâyah, Abu Fidâ‘ Ismâîl Ibn Katsîr, Kisah kelahiran Nabi Ismâ‘il. Penerbit Hajar cet. Pertama,Th.1417H, 1/354.&lt;br /&gt;[2]. Tafsir Al-Qur‘ânul Adzîm, Abu Fidâ‘ Ismâ‘îl Ibn Katsîr , tafsir Surat Yûsuf/12 :75, Dâr Thayyibah cet.kedua Th. 1420, 4/401&lt;br /&gt;[3]. Lihat Subulus Salâm Syarh Bulûghul Marâm, Muhammad bin Ismâ‘îl As-Shan’âni, Kitâbul ‘itq 4/189- 195&lt;br /&gt;[4]. Lihat Syarh shahîh Muslim Imam Nawawi rahimahullah, dalam penyebutan kaidah Baiul gharâr 10/156&lt;br /&gt;[5]. Al Isra’/17 : 70&lt;br /&gt;[6]. Lihat Fathul Qadîr, Muhammad bin Ali Asy-Syaukâni, dalam tafsir Surat al-Isrâ’/17:70, 1/1289&lt;br /&gt;[7]. Tafsir Al-Qurthubi&lt;br /&gt;[8]. Shahîul-Bukhâri No. 2227 Dalam Kitâbul Buyû’ Bab : Itsmu man bâ’a hurran dan Musnad Imam Ahmad dari riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu&lt;br /&gt;[9]. Raddul Mukhtâr Alâ Durrill Mukhtâr Syarh Tanwîril Abshar-Khasyiah Ibnu Abidîn, Muh. Amin Ibn Abidin, Cet. Dârul Kutub Beirut,Th 1423 H. 4/110&lt;br /&gt;[10]. Al-Asybah wa Nazhâir, Ibnu Nujaim al-Hanafi, Jilid 1 hlm. 146 maksud kaidah tersebut adalah ; apabila orang yang merdeka dighasab oleh seseorang, maka apabila ia mati tanpa sebab maka si ghâsib tidak menanggung harga orang tersebut, dan jika ia mati disebabkan ghâsib, maka si âqilah ghâsib (keluarga dari jalur lelaki) yang menanggung diyat orang tadi. Hal ini beda halnya jika yang di ghasab itu budak, maka ia harus menanggung harga budak tersebut dan âqilahnya menanggung diyatnya. Hal yang demikian untuk membedakan antara budak dan merdeka. Karena manusia merdeka bukanlah sebuah harta.&lt;br /&gt;[11]. Mawâhibul Jalîl lisyarhi Mukhtasar Khalîl, Abu ‘Abdillâh Muhammad al-Magribi al-Mâliki al-ma’rûf bi al-Hathab ar-Ru’ainy, Dâr ‘Alimil Kutub, cet 1, 6/.67&lt;br /&gt;[12]. Al-Majmû’ Syarh Muhazzab, An-Nawawi, cet Dârul Fikr, 9/ 228&lt;br /&gt;[13]. Lihat Fathul Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni, Bab Itsmu man bâ’a hurran, cet. Dârul Hadîts Mesir Th.1424H 4/479- 480&lt;br /&gt;[14]. Al-Mughni, Ibnu Qudâmah al-Maqdisy, Dâr Fikr, 4 / 327&lt;br /&gt;[15]. Al-Mubaddi’ Fî Syarhi Muqnî’, Abu Ishâq Ibnu Muflih al-Hanbali, Al-Maktab al-Islâmi, Cet. Beirut, 4/ 328&lt;br /&gt;[16]. Muhalla, Ibnu Hazm 4/ 481&lt;br /&gt;[17]. Lihat Syarhul Mumti’ ‘Alâ Zâdi Mustaqni’, Muhammad Shâlih al-Utsaimîn, Cet pertama Dâr Ibn Jauzi, 10/88&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-5474022831132824494?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/5474022831132824494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/perdagangan-manusia-human-trafficking.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5474022831132824494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5474022831132824494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/07/perdagangan-manusia-human-trafficking.html' title='Perdagangan Manusia (Human Trafficking)'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ayf_evwSkJI/ThPcaSWwuII/AAAAAAAAAXs/7jz-J0knuYg/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1598755229197969620</id><published>2011-06-30T19:13:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T19:17:06.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Tauhid Menggugurkan Dosa</title><content type='html'>Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dan utama di dalam agama Islam, karena sesungguhnya tauhid merupakan inti ajaran Islam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi –rahimahullah- berkata, “Ketahuilah, bahwa tauhid merupakan awal dakwah seluruh para rasul, awal tempat singgah perjalanan, dan awal tempat berdiri seorang hamba yang berjalan menuju Allah.” (Minhatul Ilahiyah Fi Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal. 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah –rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata, “Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.”  (Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196, tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, tidak mengherankan bahwa tauhid memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya adalah bahwa tauhid menggugurkan dosa-dosa. Inilah di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Dosa sepenuh bumi gugur dengan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzarr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, ‘Barangsiapa membawa satu kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kalinya, dan Aku akan menambahi. Barangsiapa membawa satu keburukan, maka balasannya satu keburukan semisalnya, atau Aku akan mengampuni. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekatinya sedepa. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan berjalan, niscaya Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Barangsiapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, dia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuinya dengan ampunan seperti itu.’” (Hadits shahih riwayat Muslim no. 2687; Ibnu Majah, no. 3821; Ahmad, no. 20853).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain diriwayatkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik , dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi, no. 3540. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memuat tiga sebab untuk meraih ampunan Allah, yaitu: berdoa disertai dengan harapan, istighfar (mohon ampun), dan tauhid. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah- berkata, “Sebab ke tiga di antara sebab-sebab ampunan adalah tauhid. Ini adalah sebab yang terbesar. Barangsiapa kehilangan tauhid, maka dia telah kehilangan ampunan dari Allah. Dan barangsiapa menghadap Allah dengan membawa tauhid, maka dia telah membawa sebab ampunan yang paling besar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’/4: 48, 116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, barangsiapa menghadap Allah dengan bertauhid, walau dengan membawa dosa sepenuh bumi, maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh bumi juga. Tetapi ini bersama dengan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuninya; Namun, jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan sebab dosa-dosanya. Kemudian, akhirnya dia tidak kekal di dalam neraka, namun akan keluar darinya, kemudian akan measuk ke dalam surga.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, juz 1, hal. 416-417, dengan penelitian Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Baajis, penerbit. Muassasah Ar-Risalah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Sembilan puluh sembilan lembar catatan keburukan gugur dengan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis-Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi. Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.” Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Alah.” (H.R. Ahmad, II/213; Tirmidzi, no:2639; Ibnu Majah, no. 4300; dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh (wafat th 1285 H) –rahimahullah- berkata di dalam kitabnya Fathul Majid:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mengatakan Laa ilaaha illa Allah dengan sempurna, yang mencegahnya dari syirik besar dan syirik kecil, maka orang ini tidak akan terus-menerus melakukan suatu dosa, sehingga dosa-dosanya diampuni dan diharamkan dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika dia mengatakannya dengan sifat yang mencegahnya dari syirik besar, tanpa syirik kecil, dan setelah itu dia tidak melakukan perkara yang membatalkannya, maka hal itu merupakan kebaikan yang tidak bisa ditandingi oleh kejelekan apapun juga. Sehingga timbangan kebaikannya menjadi berat dengan hal itu, sebagaimana tersebut di dalam hadits bithaqah, sehingga dia diharamkan dari neraka, tetapi derajatnya di surga berkurang sekadar dosa-dosanya.” (Fathul Majid I/139-140, tahqiq Dr. Al-Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Aalu Furrayyan, penerbit: Majlis Islam Al-Asiawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui hal ini, maka hendaklah kita memperhatikan tauhid dengan sebenar-benarnya, memahaminya, dan mengamalkannya, sehingga kita meraih keutamaannya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari (Anggotad Dewan Redaksi Majalah As-Sunnah, Pengasuh Ma’had Ibnu Abbas As-Salafy, Masaran, Sragen, Jawa Tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1598755229197969620?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1598755229197969620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/tauhid-menggugurkan-dosa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1598755229197969620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1598755229197969620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/tauhid-menggugurkan-dosa.html' title='Tauhid Menggugurkan Dosa'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-7435455875856722105</id><published>2011-06-25T22:49:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T22:52:17.689-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Sujud Tilawah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-BIpdrahcL_c/TgbJCGgj1MI/AAAAAAAAAXk/zF50GvfrhKI/s1600/sujud"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BIpdrahcL_c/TgbJCGgj1MI/AAAAAAAAAXk/zF50GvfrhKI/s200/sujud" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622402222762742978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim.&lt;br /&gt;Keutamaan Sujud Tilawah&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِى يَقُولُ يَا وَيْلَهُ – وَفِى رِوَايَةِ أَبِى كُرَيْبٍ يَا وَيْلِى – أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِىَ النَّارُ&lt;br /&gt;“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)&lt;br /&gt;Begitu juga keutamaan sujud tilawah dijelaskan dalam hadits yang membicarakan keutamaan sujud secara umum.&lt;br /&gt;Dalam hadits tentang ru’yatullah (melihat Allah) terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ تَعَالَى أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. فَيَعْرِفُونَهُمْ فِى النَّارِ يَعْرِفُونَهُمْ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ مِنِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ.&lt;br /&gt;“Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba-Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”. Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,&lt;br /&gt;عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً&lt;br /&gt;“Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”.&lt;br /&gt;Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu Abud Darda, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Abud Darda’ pun menjawab semisal jawaban Tsauban kepadaku.” (HR. Muslim no.488)&lt;br /&gt;Juga hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ&lt;br /&gt;“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Sujud Tilawah Wajib Ataukah Sunnah?&lt;br /&gt;Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan. Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar:&lt;br /&gt;كَانَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَيَقْرَأُ سُورَةً فِيهَا سَجْدَةٌ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ حَتَّى مَا يَجِدُ بَعْضُنَا مَوْضِعًا لِمَكَانِ جَبْهَتِهِ&lt;br /&gt;“Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Kemudian para ulama berselisih pendapat apakah sujud tilawah wajib ataukah sunnah.&lt;br /&gt;Menurut Ats Tsauri, Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sujud tilawah itu wajib.&lt;br /&gt;Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas,  ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.&lt;br /&gt;Dalil ulama yang menyatakan sujud tilawah adalah wajib, yaitu firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ&lt;br /&gt;“Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al Insyiqaq: 20-21). Para ulama yang mewajibkan sujud tilawah beralasan, dalam ayat ini terdapat perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Dan dalam ayat tersebut juga terdapat celaan bagi orang yang meninggalkan sujud. Namanya celaan tidaklah diberikan kecuali pada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.&lt;br /&gt;Yang lebih tepat adalah sujud tilawah tidaklah wajib, namun sunnah (dianjurkan). Dalil yang memalingkan dari perintah wajib adalah hadits muttafaqun ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,&lt;br /&gt;قَرَأْتُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ( وَالنَّجْمِ ) فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا&lt;br /&gt;“Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.”&lt;br /&gt;Dalil lain yang memalingkan dari perintah wajib adalah perbuatan Umar bin Khattab dan perbuatan beliau ini tidak diingkari oleh para sahabat lainnya ketika khutbah Jum’at.&lt;br /&gt;Pada hari Jum’at Umar bin Khattab pernah membacakan surat An Nahl hingga sampai pada ayat sajadah, beliau turun untuk sujud dan manusia pun ikut sujud ketika itu. Ketika datang Jum’at berikutnya, beliau pun membaca surat yang sama, tatkala sampai pada ayat sajadah, beliau lantas berkata,&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” Kemudian ‘Umar pun tidak bersujud. (HR. Bukhari no. 1077)&lt;br /&gt;Dari sinilah Ibnu Qudamah mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu sunnah (tidak wajib) dan pendapat ini merupakan ijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat). (Lihat Al Mughni, 3/96)&lt;br /&gt;Tata Cara Sujud Tilawah&lt;br /&gt;[Pertama] Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.&lt;br /&gt;[Kedua] Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.&lt;br /&gt;[Ketiga] Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuksalam.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,&lt;br /&gt;وَسُجُودُ الْقُرْآنِ لَا يُشْرَعُ فِيهِ تَحْرِيمٌ وَلَا تَحْلِيلٌ : هَذَا هُوَ السُّنَّةُ الْمَعْرُوفَةُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ عَامَّةُ السَّلَفِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْ الْأَئِمَّةِ الْمَشْهُورِينَ&lt;br /&gt;“Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)&lt;br /&gt;[Keempat] Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Wa-il bin Hujr, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir. Beliau pun bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit dari sujud.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, Ath Thoyalisiy. Hasan)&lt;br /&gt;[Kelima] Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;Dalil mereka adalah:&lt;br /&gt;إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّداً&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isro’: 107). Kata mereka, yang namanya yakhirru (menyungkur) adalah dari keadaan berdiri.&lt;br /&gt;Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)&lt;br /&gt;Apakah Disyariatkan Sujud Tilawah (Dil Luar Shalat) Dalam Keadaan Suci (Berwudhu)?&lt;br /&gt;Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam sujud tilawah disyari’atkan untuk berwudhu sebagaimana shalat. Oleh karena itu, para ulama mensyariatkan untuk bersuci (thoharoh) dan menghadap kiblat dalam sujud sahwi sebagaimana berlaku syarat-syarat shalat lainnya.&lt;br /&gt;Namun, ulama lain yaitu Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak disyari’atkan untuk thoharoh karena sujud tilawah bukanlah shalat. Namun sujud tilawah adalah ibadah yang berdiri sendiri. Dan diketahui bahwa jenis ibadah tidaklah disyari’atkan thoharoh. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Umar, Asy Sya’bi dan Al Bukhari. Pendapat kedua inilah yang lebih tepat.&lt;br /&gt;Dalil dari pendapat kedua di atas adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas. Beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سَجَدَ بِالنَّجْمِ وَسَجَدَ مَعَهُ المُسْلِمُوْنَ وَالمُشْرِكُوْنَ وَالجِنُّ وَالأِنْسُ&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sujud tilawah tatkala membaca surat An Najm, lalu kaum muslimin, orang-orang musyrik, jin dan manusia pun ikut sujud.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Al Bukhari membawa riwayat di atas pada Bab “Kaum muslimin bersujud bersama orang-orang musyrik, padahal kaum musyrik itu najis dan tidak memiliki wudhu.” Jadi, menurut pendapat Bukhari berdasarkan riwayat di atas, sujud tilawah tidaklah ada syarat berwudhu. Dalam bab tersebut, Al Bukhari juga membawakan riwayat bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berwudhu dalam keadaan tidak berwudhu.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,&lt;br /&gt;وَسُجُودُ الْقُرْآنِ لَا يُشْرَعُ فِيهِ تَحْرِيمٌ وَلَا تَحْلِيلٌ : هَذَا هُوَ السُّنَّةُ الْمَعْرُوفَةُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ عَامَّةُ السَّلَفِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْ الْأَئِمَّةِ الْمَشْهُورِينَ . وَعَلَى هَذَا فَلَيْسَتْ صَلَاةً فَلَا تُشْتَرَطُ لَهَا شُرُوطُ الصَّلَاةِ بَلْ تَجُوزُ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ . كَمَا كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَسْجُدُ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ ؛ لَكِنْ هِيَ بِشُرُوطِ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُخِلَّ بِذَلِكَ إلَّا لِعُذْرِ&lt;br /&gt;“Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur. Oleh karena itu, sujud tilawah tidaklah seperti shalat yang memiliki syarat yaitu disyariatkan untuk bersuci terlebih dahulu. Jadi, sujud tilawah diperbolehkan meski tanpa thoharoh (bersuci). Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Ibnu ‘Umar. Beliau pernah bersujud, namun tanpa thoharoh. Akan tetapi apabila seseorang memenuhi persyaratan sebagaimana shalat, maka itu lebih utama. Jangan sampai seseorang meninggalkan bersuci ketika sujud, kecuali ada udzur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)&lt;br /&gt;Asy Syaukani mengatakan,&lt;br /&gt;لَيْسَ فِي أَحَادِيثِ سُجُودِ التِّلَاوَةِ مَا يَدُلُّ عَلَى اعْتِبَارِ أَنْ يَكُونَ السَّاجِدُ مُتَوَضِّئًا وَقَدْ كَانَ يَسْجُدُ مَعَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَضَرَ تِلَاوَتَهُ ، وَلَمْ يُنْقَلْ أَنَّهُ أَمَرَ أَحَدًا مِنْهُمْ بِالْوُضُوءِ ، وَيَبْعُد أَنْ يَكُونُوا جَمِيعًا مُتَوَضِّئِينَ&lt;br /&gt;وَأَيْضًا قَدْ كَانَ يَسْجُدُ مَعَهُ الْمُشْرِكُونَ كَمَا تَقَدَّمَ وَهُمْ أَنْجَاسٌ لَا يَصِحُّ وُضُوؤُهُمْ .&lt;br /&gt;وَقَدْ رَوَى الْبُخَارِيُّ عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَسْجُدُ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ .&lt;br /&gt;“Tidak ada satu hadits pun tentang sujud tilawah yang menjelaskan bahwa orang yang melakukan sujud tersebut dalam keadaan berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersujud dan di situ ada orang-orang yang mendengar bacaan beliau, namun tidak ada penjelasan kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan salah satu dari yang mendengar tadi untuk berwudhu. Boleh jadi semua yang melakukan sujud tersebut dalam keadaan berwudhu dan boleh jadi yang melakukan sujud bersama orang musyrik sebagaimana diterangkan dalam hadits yang telah lewat. Padahal orang musyrik adalah orang yang paling najis, yang pasti tidak dalam keadaan berwudhu. Al Bukhari sendiri meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa dia bersujud dalam keadaan tidak berwudhu. ” (Nailul Author, 4/466, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;Apakah Sujud Tilawah Mesti Menghadap Kiblat?&lt;br /&gt;Asy Syaukani rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;وَأَمَّا سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَالِاسْتِقْبَالِ مَعَ الْإِمْكَانِ فَقِيلَ : إنَّهُ مُعْتَبَرٌ اتِّفَاقًا .&lt;br /&gt;“Adapun menutup aurat dan menghadap kiblat, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hal itu disyariatkan berdasarkan kesepakatan ulama.” (Nailul Author, 4/467, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;Namun karena sujud tilawah bukanlah shalat, maka tidak disyari’atkan untuk menghadap kiblat. Akan tetapi, yang lebih utama adalah tetap dalam keadaan menghadap kiblat dan tidak boleh seseorang meninggalkan hal ini kecuali jika ada udzur. Jadi, menghadap kiblat bukanlah syarat untuk melakukan sujud tilawah. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/450)&lt;br /&gt;Bagaimana Tata Cara Sujud Tilawah bagi Orang yang Sedang Berjalan atau Berkendaraan?&lt;br /&gt;Siapa saja yang membaca atau mendengar ayat sajadah sedangkan dia dalam keadaan berjalan atau berkendaraan, kemudian ingin melakukan sujud tilawah, maka boleh pada saat itu berisyarat dengan kepalanya ke arah mana saja. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/450 dan lihat pula Al Mughni)&lt;br /&gt;وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ السُّجُودِ عَلَى الدَّابَةِ فَقَالَ : اسْجُدْ وَأَوْمِئْ.&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar: Beliau ditanyakan mengenai sujud (tilawah) di atas tunggangan. Beliau mengatakan, “Sujudlah dengan isyarat.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;Bacaan Ketika Sujud Tilawah&lt;br /&gt;Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:&lt;br /&gt;(1)     Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca:&lt;br /&gt;سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى&lt;br /&gt;“Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)&lt;br /&gt;(2)    Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud:&lt;br /&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى&lt;br /&gt;“Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)&lt;br /&gt;(3)    Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ&lt;br /&gt;“Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)&lt;br /&gt;Adapun bacaan yang biasa dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana tersebar di berbagai buku dzikir dan do’a adalah berdasarkan hadits yang masih diperselisihkan keshohihannya. Bacaan tersebut terdapat dalam hadits berikut:&lt;br /&gt;(1)     Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam sujud tilawah di malam hari beberapa kali bacaan:&lt;br /&gt;سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ&lt;br /&gt;“Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa-i)&lt;br /&gt;(2)    Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat diriku sendiri di malam hari sedangkan aku tertidur (dalam mimpi). Aku seakan-akan shalat di belakang sebuah pohon. Tatkala itu aku bersujud, kemudian pohon tersebut juga ikut bersujud. Tatkala itu aku mendengar pohon tersebut mengucapkan:&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِى بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَضَعْ عَنِّى بِهَا وِزْرًا وَاجْعَلْهَا لِى عِنْدَكَ ذُخْرًا وَتَقَبَّلْهَا مِنِّى كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ&lt;br /&gt;“Allahummaktub lii bihaa ‘indaka ajron, wa dho’ ‘anniy bihaa wizron, waj’alhaa lii ‘indaka dzukhron, wa taqqobbalhaa minni kamaa taqobbaltahaa min ‘abdika dawuda”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;Kedua hadits di atas terdapat perselisihan ulama mengenai statusnya. Untuk hadits pertama dikatakan shahih oleh At Tirmidzi, Al Hakim, An Nawawi, Adz Dzahabi, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Syaikh Al Albani dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali. Sedangkan tambahan “Fatabaarakallahu ahsanul kholiqiin” dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi dan An Nawawi. Namun sebagian ulama lainnya semacam guru dari penulis Shahih Fiqih Sunnah, gurunya tersebut bernama Syaikh Abi ‘Umair dan menilai bahwa hadits ini lemah (dho’if).&lt;br /&gt;Sedangkan hadits kedua dikatakan hasan oleh At Tirmidzi. Menurut Al Hakim, hadits kedua di atas adalah hadits yang shahih. Adz Dzahabi juga sependapat dengannya. Sedangkan ulama lainnya menganggap bahwa hadits ini memang memiliki syahid (penguat), namun penguat tersebut tidak mengangkat hadits ini dari status dho’if (lemah). Jadi, intinya kedua hadits di atas masih mengalami perselisihan mengenai keshahihannya. Oleh karena itu, bacaan ketika sujud tilawah diperbolehkan dengan bacaan sebagaimana sujud dalam shalat seperti yang kami contohkan di atas.&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah- mengatakan,&lt;br /&gt;أَمَّا أَنَا فَأَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّي الْأَعْلَى&lt;br /&gt;“Adapun (ketika sujud tilawah), maka aku biasa membaca: Subhaana robbiyal a’laa” (Al Mughni, 3/93, Asy Syamilah). Dan di antara bacaan sujud dalam shalat terdapat pula bacaan “Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin”, sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Ali yang diriwayatkan oleh Muslim.Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;Hukum Sujud Tilawah Ditujukan pada Siapa Saja?&lt;br /&gt;[Pertama] Sujud tilawah ditujukan untuk orang yang membaca Al Qur’an dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama, baik ayat sajadah dibaca di dalam shalat ataupun di luar shalat.&lt;br /&gt;[Kedua] Lalu bagaimana untuk orang yang mendengar bacaan Qur’an dan di sana terdapat ayat sajadah? Apakah dia juga dianjurkan sujud tilawah?&lt;br /&gt;Dalam kasus kedua ini terdapat perselisihan di antara para ulama.&lt;br /&gt;Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang mendengar bacaan ayat sajadah dianjurkan untuk sujud tilawah, walaupun orang yang membacanya tidak melakukan sujud. Pendapat pertama ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Imam Asy Syafi’i, dan salah satu pendapat Imam Malik.&lt;br /&gt;Pendapat kedua mengatakan bahwa orang yang mendengar bacaan ayat sajadah ikut bersujud jika dia menyimak bacaan dan jika orang yang membaca ayat sajadah tersebut ikut bersujud. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Ahmad dan salah satu pendapat Imam Malik. Inilah pendapat yang lebih kuat.&lt;br /&gt;Dalil dari pendapat kedua ini adalah dua hadits shahih berikut:&lt;br /&gt;Hadits Ibnu ‘Umar: “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud pernah mengatakan pada Tamim bin Hadzlam yang saat itu adalah seorang pemuda (ghulam), -tatkala itu dia membacakan pada Ibnu Mas’ud ayat sajadah-,&lt;br /&gt;اسْجُدْ فَإِنَّكَ إِمَامُنَا فِيهَا&lt;br /&gt;“Bersujudlah karena engkau adalah imam kami dalam sujud tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari secara mu’allaq). Al Bukhari membawakan hadits Ibnu ‘Umar di atas dan riwayat Ibnu Mas’ud ini pada Bab “Siapa yang sujud karena sujud orang yang membaca Al Qur’an (ayat sajadah).”&lt;br /&gt;Perhatian: Disyariatkan bagi orang yang mendengar bacaan ayat sajadah kemudian dia ikut bersujud adalah apabila orang yang diikuti termasuk orang yang layak jadi imam. Jadi, apabila orang yang diikuti tadi adalah anak kecil (shobiy) atau wanita, maka orang yang mendengar bacaan ayat sajadah tadi tidak perlu ikut bersujud. Inilah pendapat Qotadah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Ishaq. (Lihat Al Mughni, 3/98)&lt;br /&gt;Bolehkah Melakukan Sujud Tilawah di Waktu Terlarang untuk Shalat?&lt;br /&gt;Sujud tilawah boleh dilakukan di waktu terlarang untuk shalat. Alasannya, karena sujud tilawah bukanlah shalat. Sedangkan larangan shalat di waktu terlarang adalah larangan khusus untuk shalat. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm. (LihatShahih Fiqih Sunnah, 1/452)&lt;br /&gt;Bagaimana Ketika Membaca Ayat Sajadah, Luput Dari Sujud Tilawah?&lt;br /&gt;Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah atau mendengarnya langsung bersujud setelah membaca ayat tersebut, walaupun mungkin telat beberapa saat. Namun, apabila sudah lewat waktu yang cukup lama antara membaca ayat dan sujud, maka tidak ada anjuran sujud sahwi karena dia sudah luput dari tempatnya. Inilah pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/452)&lt;br /&gt;Sujud Tilawah Ketika Shalat&lt;br /&gt;Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah agar melakukan sujud tilawah. Inilah pendapat mayoritas ulama. Hal ini dianjurkan pada shalat jama’ah atau sendirian dan shalat siriyah (shalat dengan suara lirih seperti pada shalat zhuhur dan ashar) atau shalat jariyah (shalat dengan suara keras seperti pada shalat maghrib dan isya).&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى رَافِعٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَبِى هُرَيْرَةَ الْعَتَمَةَ فَقَرَأَ ( إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ ) فَسَجَدَ فَقُلْتُ مَا هَذِهِ قَالَ سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِى الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم – فَلاَ أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ&lt;br /&gt;Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia shalat Isya’ (shalat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surat tersebut sampai aku menemukannya saat ini.” (HR. Bukhari no. 768 dan Muslim no. 578)&lt;br /&gt;Namun bagaimana jika shalatnya adalah shalat siriyah semacam shalat zhuhur dan shalat ashar? Pada shalat tersebut, makmum tidak mendengar kalau imam membaca ayat sajadah.&lt;br /&gt;Sebagian ulama Hanabilah mengatakan bahwa imam terlarang untuk membaca ayat sajadah dalam shalat yang tidak dijaherkan suaranya (dikeraskan suaranya). Jika imam tersebut tetap membaca  ayat sajadah dalam shalat semacam itu,  maka tidak perlu ada sujud. Pendapat ini juga adalah pendapat Imam Abu Hanifah. Alasan dari pendapat ini adalah agar tidak membuat kebingungan pada makmum.&lt;br /&gt;Namun ulama Syafi’iyah tidaklah melarang hal ini. Karena tugas makmum hanyalah mengikuti imam. Jadi jika imam melakukan sujud tilawah, maka makmum hanya manut saja dan dia ikut sujud. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam sujud, maka bersujudlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Begitu pula apabila seorang makmum tatkala dia berada jauh dari imam sehingga tidak bisa mendengar bacaannya atau makmum tersebut adalah seorang yang tuli, maka dia harus tetap sujud karena mengikuti imam.&lt;br /&gt;Pendapat kedua inilah yang lebih tepat. Inilah pendapat yang juga dipilih oleh Ibnu Qudamah. (Lihat Al Mughni, 3/104)&lt;br /&gt;Terlarang Meloncati Ayat Sajdah Karena Alasan Supaya Tidak Sujud&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah mengatakan, “Dimakruhkan melakukan ikhtishorus sujud yaitu melompati ayat sajadah agar tidak bersujud. Yang berpendapat seperti ini adalah Asy Sya’bi, An Nakho’i, Al Hasan, Ishaq. Sedangkan An Nu’man, sahabatnya Muhammad dan Abu Tsaur memberi keringanan dalam hal ini.” Ibnu Qudamah lalu mengatakan,&lt;br /&gt;وَلَنَا أَنَّهُ لَيْسَ بِمَرْوِيٍّ عَنْ السَّلَفِ فِعْلُهُ ، بَلْ كَرَاهَتُهُ&lt;br /&gt;“Menurut kami, tidak ada diriwayatkan dari seorang salaf pun yang melakukan semacam ini (yaitu melompati ayat sajadah agar tidak melakukan sujud tilawah), bahkan mereka (para salaf) memakruhkan hal ini.” (Lihat Al Mughni, 3/103)&lt;br /&gt;Bagaimana Jika Ayat Sajadah Berada Di Akhir Surat?&lt;br /&gt;Surat yang terdapat ayat sajadah di akhir adalah seperti surat An Najm ayat 62 dan surat Al ‘Alaq ayat 19. Maka ada tiga pilihan dalam kasus ini.&lt;br /&gt;[Pilihan pertama] Ketika membaca ayat sajadah lalu melakukan sujud tilawah kemudian setelah itu berdiri kembali dan membaca surat lain kemudian ruku’.&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ketika shalat shubuh, beliau membaca surat Yusuf pada raka’at pertama. Kemudian pada raka’at kedua, beliau membaca surat An Najm (dalam surat An Najm terdapat ayat sajadah, pen), lalu beliau sujud (yaitu sujud tilawah). Setelah itu, beliau bangkit lagi dari sujud kemudian berdiri dan membaca surat “Idzas samaa-un syaqqot” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozaq dan Ath Thohawiy dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;[Pilihan kedua] Jika ayat sajadah di ayat terakhir dari surat, maka cukup dengan ruku’ dan itu sudah menggantikan sujud.&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud pernah ditanyakan mengenai surat yang di akhirnya terdapat ayat sajadah, “Apakah ketika itu perlu sujud ataukah cukup dengan ruku’?” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jika antara kamu dan ayat sajadah hanya perlu ruku’, maka itu lebih mendekati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;[Pilihan ketika] Jika ayat sajadah di ayat terakhir di suatu surat, ketika membaca ayat tersebut, lalu sujud tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri kembali, lalu dilanjutkan dengan ruku’ tanpa ada penambahan bacaan surat.&lt;br /&gt;Dari tiga pilihan di atas, cara pertama adalah yang lebih utama. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 453-454)&lt;br /&gt;Bagaimana Jika Membaca Ayat Sajadah Di Atas Mimbar?&lt;br /&gt;Jika ayat sajadah dibaca di atas mimbar, maka dianjurkan pula untuk melakukan sujud tilawah dan para jama’ah juga dianjurkan untuk sujud. Namun apabila sujud itu ditinggalkan, maka ini juga tidak mengapa. Hal ini telah ada riwayatnya sebagaimana terdapat pada riwayat Ibnu ‘Umar yang telah lewat.&lt;br /&gt;Di Mana Sajakah Ayat Sajadah?&lt;br /&gt;Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadits, namun tidak sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Shahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)&lt;br /&gt;Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah&lt;br /&gt;1. QS. Al A’rof ayat 206&lt;br /&gt;2. QS. Ar Ro’du ayat 15&lt;br /&gt;3. QS. An Nahl ayat 49-50&lt;br /&gt;4. QS. Al Isro’ ayat 107-109&lt;br /&gt;5. QS. Maryam ayat 58&lt;br /&gt;6. QS. Al Hajj ayat 18&lt;br /&gt;7. QS. Al Furqon ayat 60&lt;br /&gt;8. QS. An Naml ayat 25-26&lt;br /&gt;9. QS. As Sajdah ayat 15&lt;br /&gt;10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)&lt;br /&gt;Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya&lt;br /&gt;1. QS. Shaad ayat 24&lt;br /&gt;2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)&lt;br /&gt;3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21&lt;br /&gt;4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)&lt;br /&gt;Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah mengatakan,&lt;br /&gt;لَمْ نَعْرِفْ لَهُمْ مُخَالِفًا فِي عَصْرِهِمْ ، فَيَكُونُ إجْمَاعًا&lt;br /&gt;“Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat telah berijma’ (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)&lt;br /&gt;Demikian pembahasan mengenai sujud tilawah. Semoga risalah ini bisa menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian.  Ya Allah, berilah manfaat terhadap apa yang kami pelajari, ajarilah ilmu yang belum kami ketahui dan tambahkanlah selalu ilmu kepada kami.&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Selesai disusun di Panggang, Gunung Kidul, rumah mertua tercinta, 20 Jumadits Tsani 1430 H&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-7435455875856722105?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/7435455875856722105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/sujud-tilawah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7435455875856722105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7435455875856722105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/sujud-tilawah.html' title='Sujud Tilawah'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BIpdrahcL_c/TgbJCGgj1MI/AAAAAAAAAXk/zF50GvfrhKI/s72-c/sujud' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-8432093027601280548</id><published>2011-06-06T00:19:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T00:22:02.468-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Bolehkah Memanjangkan Kain Celana atau Sarung melebihi mata kaki (Isbal) bagi Laki-Laki?</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="349"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube-nocookie.com/v/U528lma51O8?version=3&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube-nocookie.com/v/U528lma51O8?version=3&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="349" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-8432093027601280548?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/8432093027601280548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/bolehkah-memanjangkan-kain-celana-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8432093027601280548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8432093027601280548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/06/bolehkah-memanjangkan-kain-celana-atau.html' title='Bolehkah Memanjangkan Kain Celana atau Sarung melebihi mata kaki (Isbal) bagi Laki-Laki?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-7444896338303249906</id><published>2011-05-31T19:37:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T19:40:57.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak Karimah'/><title type='text'>Pilihan Allah Itulah yang Terbaik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/--ZhBwOFn8E0/TeWmsRyuW8I/AAAAAAAAAXU/B0oW5mszt34/s1600/jemp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--ZhBwOFn8E0/TeWmsRyuW8I/AAAAAAAAAXU/B0oW5mszt34/s200/jemp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613075790207802306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted: 29 May 2011 05:00 PM PDT&lt;br /&gt;Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat Abu Dzar, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat”. Maka al-Hasan bin ‘Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah Ta’ala) berlakukan (bagi hamba-Nya)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama[3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam atsar ini shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin dan sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat), karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untk tidak melanggar perintah Allah Ta’ala dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, dalam atsar ini, cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekwensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam, yaitu ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb (Pencipta, Pengatur, Pelindung dan Penguasa bagi alam semesta), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah I sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bersandar dan bersarah diri kepada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya[7]. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya dan ini merupakan sebab utama Allah Ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutmaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku”[8].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala[9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Takdir yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah Ta’ala maha mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik dengan kekayaan, dan demikian seterusnya[10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata,”Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah Ta’ala, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah Ta’ala, seperti Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, demikian pula (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) ‘Utsman (bin ‘Affan) dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf . Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…”[11].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orang yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Kendari, 7 Jumadal ula 1432 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-7444896338303249906?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/7444896338303249906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7444896338303249906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7444896338303249906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/pilihan-allah-itulah-yang-terbaik.html' title='Pilihan Allah Itulah yang Terbaik'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--ZhBwOFn8E0/TeWmsRyuW8I/AAAAAAAAAXU/B0oW5mszt34/s72-c/jemp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-7101839694152163845</id><published>2011-05-27T22:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-27T22:48:03.648-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><title type='text'>Bagaimana Cara Menggerakkan Jari Telunjuk yang Benar pada saat Tasyahud ?</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="349"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube-nocookie.com/v/ln67iABwwZg?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube-nocookie.com/v/ln67iABwwZg?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="349" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini sangat penting untuk diperhatikan, mengingat sebagian ikhwah masih ada yang keliru dalam permasalahan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-7101839694152163845?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/7101839694152163845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bagaimana-cara-menggerakkan-jari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7101839694152163845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7101839694152163845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bagaimana-cara-menggerakkan-jari.html' title='Bagaimana Cara Menggerakkan Jari Telunjuk yang Benar pada saat Tasyahud ?'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-7623407851945438429</id><published>2011-05-23T00:27:00.000-07:00</published><updated>2011-05-23T00:28:42.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemuda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlak tercela'/><title type='text'>Onani atau Masturbasi dalam Tinjauan Syariat Islam</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://player.vimeo.com/video/21095333?title=0&amp;amp;byline=0&amp;amp;portrait=0" width="400" height="320" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://vimeo.com/21095333"&gt;Hukum dan Akibat Fisik Bila Sering Onani (Konsultasi Syariah Yufid.TV)&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://vimeo.com/yufidtv"&gt;Tim Yufid&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://vimeo.com"&gt;Vimeo&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-7623407851945438429?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/7623407851945438429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/onani-atau-masturbasi-dalam-tinjauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7623407851945438429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/7623407851945438429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/onani-atau-masturbasi-dalam-tinjauan.html' title='Onani atau Masturbasi dalam Tinjauan Syariat Islam'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4653445461164909664</id><published>2011-05-22T21:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T21:19:02.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Bila Wanita Mimpi Basah</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah seorang wanita mengalami mimpi (mimpi basah) ? jika ia mengalami mimpi itu, apakah yang ia lakukan? Dan jika seorang wanita mengalami mimpi itu kemudian ia tidak mandi, apakah yang harus ia lakukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Terkadang wanita itu mengalami mimpi (mimpi basah), sebab kaum wanita adalah saudara kaum pria, jika kaum pria mengalami mimpi maka demikian pulalah halnya wanita. Jika seorang wanita mengalami mimpi dan tidak keluar cairan syahwat pada saat bangun dari tidurnya, maka tidak ada kewajiban bagi wanita itu untuk mandi. Akan tetapi jika mimpi itu menyebabkan adanya air dari kemaluannya, maka wanita itu diwajibkan untuk mandi. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Salim yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, apakah diwajibkan bagi seorang wanita untuk mandi jika ia bermimpi ?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Ya, jika ia melihat air"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika mimpi itu menyebabkan keluar air maka wajib baginya untuk mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mimpi itu telah berlalu lama sekali dan mimpi itu tidak menyebabkan keluar air maka tidak ada kewajiban mandi atasnya, akan tetapi jika mimpi itu menyebabkan keluarnya air maka hendaknya ia menghitung berapa shalat yang telah ia tinggalkan lalu hendaknya ia melaksanakan shalat yang ia tinggalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasa'il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalian dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atol Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan terbitan Darul Haq hal. 26 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4653445461164909664?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4653445461164909664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bila-wanita-mimpi-basah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4653445461164909664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4653445461164909664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bila-wanita-mimpi-basah.html' title='Bila Wanita Mimpi Basah'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-2414340609235725887</id><published>2011-05-20T20:04:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T20:08:33.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Bekerja di Direktorat Jenderal Pajak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-UzaRDW0bpas/TdcspVocQ3I/AAAAAAAAAW8/QQZQuAy1Q28/s1600/pajak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 166px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UzaRDW0bpas/TdcspVocQ3I/AAAAAAAAAW8/QQZQuAy1Q28/s200/pajak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609000949606269810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh&lt;br /&gt;Ustadz, saat ini saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Pekerjaan ini merupakan buah dari kuliah saya di perguruan tinggi kedinasan, sehingga saya harus menjalani masa ikatan dinas selama 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz, yang ingin saya tanyakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah hukum pajak menurut Islam?&lt;br /&gt;Bagaimana jugakah hukum penghasilan yang saya terima dari PNS Ditjen Pajak ini?&lt;br /&gt;Saran Ustadz terkait posisi saya?&lt;br /&gt;Syukran Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa terlimpahkan kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maeda D Candra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahklan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara Maeda D Candra, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam yang anda imani dan cintai ini adalah agama yang benar-benar menghormati hak asasi dan kepemilikan umat manusia. Karenanya Islam tidak membenarkan bagi siapapun untuk mengambil hak seseorang tanpa seizin darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.” (Qs. An Nisa’: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menegaskan hal ini pada banyak hadits, diantaranya beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ عَصَا أَخِيهِ، وفي رواية: مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا أَوْ جَادًّا فَمَنْ أَخَذَ عَصَا أَخِيهِ فَلْيَرُدَّهَا إِلَيْهِ. رواه أبو داوج والترمذي وحسنه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah salah seorang darimu mengambil tongkat saudaranya,-pada riwayat lain: barang saudaranya- baik karena bermain-main atau sungguh-sungguh. Dan barang siapa yang terlanjur mengambil tongkat saudaranya, hendaknya ia segera mengembalikan tongkat itu kepadanya.” (Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah syari’at agama Islam yang saudara cintai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barang siapa yang melanggar ketentuan ini, maka diberlakukan padanya hukum-hukum Islam, baik di dunia ataupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia misalnya dikenakan hukum potong tangan bagi pencuri, atau dipancung secara menyilang bagi perampok dan lain sebagainya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَيْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا. متفق عليه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا جَزَاء الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ. المائدة 33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya/diasingkan). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Qs. Al Maidah: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan prinsip ini, Islam tidak membenarkan berbagai pungutan yang tidak didasari oleh alasan yang dibenarkan, diantaranya ialah pajak. Pajak atau yang dalam bahasa arab disebut dengan al muksu adalah salah satu pungutan yang diharamkan, dan bahkan pelakunya diancam dengan siksa neraka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ صَاحِبَ المُكْسِ فِي النَّارِ. رواه أحمد والطبراني في الكبير من رواية رويفع بن ثابت رضي الله عنه ، وصححه الألباني&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pemungut upeti akan masuk neraka.” (Riwayat Ahmad dan At Thobrany dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dari riwayat sahabat Ruwaifi’ bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dan hadits ini, oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tata keuangan negara Islam, dikenal empat jenis pungutan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Zakat Mal, dan Zakat Jiwa. Pungutan ini hanya diwajibkan atas umat Islam. Dan saya yakin anda telah mengetahui perincian &amp; penyalurannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al Jizyah (Upeti)/pungutan atas jiwa, dikenakan atas ahlul kitab yang berdomisili di negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al Kharaj (semacam pajak bumi), dikenakan atas ahlul kitab yang menggarap tanah/lahan milik negara Islam. Hasil kedua pungutan dari ahlul kitab yang berdomisili di negeri Islam ini digunakan untuk membiayai jalannya pemerintahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Al ‘Usyur atau Nisful ‘Usyur, Al ‘Usyur (atau 1/10) adalah pungutan atas pedagang ahlul harb (orang kafir yang berdomisili di negeri kafir dan tidak terjalin perjanjian damai dengan negara Islam atau bahkan negara kafir yang memerangi negara Islam), dipungut dari mereka seper sepuluh dari total perniagaannya di negeri Islam. Sedangkan Nisful ‘Usyur (1/20) adalah pungutan atas para pedagang ahlul zimmah, orang kafir yang menghuni negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pungutan yang dikenal dalam syari’at Islam. Bila anda bandingkan pungutan pajak dengan ketiga jenis pungutan dalam Islam, maka lebih serupa dengan pungutan ke 2, ke 3 &amp; ke 4 (Al Jizyah, Al Kharaj &amp; Al ‘Usyur atau Nisful ‘Usyur). Padahal pajak diwajibkan atas semua warga negara, tanpa pandang bulu agamanya. Tentu ini adalah perbuatan yang tidak terpuji alias menyelisihi syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, Negara Islam membedakaan penduduknya berdasarkan agamanya, umat Islam dipungut zakat jiwa dan zakat harta kekayaan, termasuk zakat perniagaan, sedangkan non muslim dipungut Al Jizyah, Al Kharaj &amp; Al ‘Usyur atau Nisful ‘Usyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi, zakat tidak diurus dan tidak dikelola dengan baik, sedangkan Al Jizyah &amp;  Al Kharaj dikenakan atas semua warga negaranya, tidak heran bila anda mau makan saja harus membayar pungutan, anda menjual makananpun juga dikenakan upeti, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya, saudara Maeda D Candra berusaha untuk minta mutasi ke instansi lain yang tidak ada kaitannya dengan pajak atau perbankan, walaupun resikonya turun golongan. Bila solusi ini tidak dapat ditempuh, maka lebih baik saudara Maeda D Candra berhenti dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan lain yang jelas-jelas halal. Percayalah, bahwa bila saudara meninggalkan pekerjaan yang haram karena Allah, pasti Allah memberi saudara jalan keluar dan pekerjaan yang halal dan lebih baik dari yang pekerjaan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا . الطلاق 2-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. At Talaaq: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ulama’ kita menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَرَكَ شَيئاً لله عَوَّضه الله خَيراً منه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa meninggalkan suatu hal karena Allah, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’alam bisshawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. (Pembina Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)&lt;br /&gt;Sumber: www.PengusahaMuslim.com&lt;br /&gt;Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-2414340609235725887?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/2414340609235725887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bekerja-di-direktorat-jenderal-pajak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2414340609235725887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2414340609235725887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/bekerja-di-direktorat-jenderal-pajak.html' title='Bekerja di Direktorat Jenderal Pajak'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UzaRDW0bpas/TdcspVocQ3I/AAAAAAAAAW8/QQZQuAy1Q28/s72-c/pajak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-2190836267155502095</id><published>2011-05-19T01:50:00.000-07:00</published><updated>2011-05-19T01:52:39.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Masalah Hukum Fotografi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-eelCgdrlCEQ/TdTaUZ4PxmI/AAAAAAAAAWA/UEYtpX5mdt0/s1600/lamera.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-eelCgdrlCEQ/TdTaUZ4PxmI/AAAAAAAAAWA/UEYtpX5mdt0/s200/lamera.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608347480062150242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân hafizhahullâhu ditanya tentang hukum gambar, maka beliau hafizhahullâhu menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini ada perinciannya. Para ulama bersepakat akan keharaman gambar (yang dibuat) oleh tangan, sebagaimana mereka juga bersepakat akan haramnya gambar-gambar yang berfisik (jism) dan patung-patung. Inilah yang disepakati oleh para ulama (keharamannya) dan banyak nash-nash yang secara tegas menunjukkan (akan keharaman) gambar-gambar yang telah ada semenjak zaman nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun gambar-gambar yang ada di zaman ini, maka terbagi menjadi dua : yaitu gambar fotografi dan gambar video. Adapun yang pertama (yaitu fotografi) maka para ulama ahlus sunnah bersepakat akan haramnya menggantungkan gambar-gambar foto dan hukumnya sama dengan hukum gambar yang dihasilkan dari gambar tangan yang digantung. Sebab, keserupaan hasil dari gambar yang dibuat oleh tangan sama dengan gambar yang dihasilkan oleh kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun selain itu (yaitu selain digantung), maka para ulama berbeda pendapat. Diantara mereka ada yang menyamakan antara gambar foto dengan gambar tangan, yaitu hukumnya haram secara mutlak, kecuali pada keadaan tertentu yang mendesak (yang tidak bisa dihindarkan, seperti KTP, SIM, Paspor, dls, pent.). Sebagian lagi berpendapat bahwa hukum foto tidak sama dengan hukum gambar tangan, selama tidak diagungkan. Jika diagungkan, maka haram hukumnya. Mereka berargumentasi bahwa gambar fotografi itu tidak ada unsur penciptaan dan menggambar manusia di dalamnya, namun hanyalah memindahkan obyek suatu benda dan menempatkannya (di tempat lain), yang serupa dengan gambar pada cermin, dimana apabila tampak gambar manusia di dalamnya, tidak ada yang mengatakan bahwa gambar tersebut haram hukumnya. Sebab, tidak ada unsur penciptaan makhluk Alloh di dalamnya. Keserupaan akan terjadi apabila manusia masuk ke dalam penciptaan makhluk Alloh, namun dalam kondisi ini (yaitu fotografi) tidak sama dengan penciptaan makhluk Alloh. Walau demikian, tidak disukai dan dianjurkan bagi seseorang untuk memperbanyak suatu hal yang tidak begitu dibutuhkan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun gambar-gambar di kamera televisi, maka saya tidak tahu ada seorang pun dari guru-guru kami yang menfatwakan keharamannya. Sisi pandang argumentasinya adalah, bahwa hal ini tidak dianggap sebagai gambar kecuali di saat menyaksikannnya, kemudian hal ini hanyalah memindahkan (obyek) hidup di saat kejadian dan tidak termasuk gambar yang dilarang oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ditranskrip secara bebas dari Liqo`ul Maftuh Syaikh al-‘Ubailân/Abu Salma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Faqir Abdullah Sholeh Hadrami –Ghofarollohu Lahu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai gambar makhluk bernyawa kita perlu memerincinya. Memang terdapat riwayat-riwayat sahih tentang larangan patung dan gambar makhluk bernyawa sebagaimana dalam Kitab Tauhidnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab –Rahimahullah. Tidak ada khilaf di kalangan salaf akan diharamkannya kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah adalah Foto Kamera (Photografi) yang belum ada pada masa Nabi dan Salaf. Sehingga terjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama. Sebagian mengatakan masuk dalam hukum larangan dan sebagian mengatakan tidak masuk dalam larangan, karena itu bukan menggambar atau melukis akan tetapi memindahkan gambar ciptaan Allah dengan alat tertentu seperti bercermin. Tentu saja asalkan gambarnya adalah yang mubah dan bukan yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, apabila ada unsur yg merubah status hukum asalnya menjadi haram, seperti memasang gambar yg dapat menimbulkan fitnah, gambar wanita, atau gambar yang dikhawatirkan akan ada unsur kultus atau pengagungan, atau memajangnya di rumah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan tidak adanya dalil yang sahih dan sharih (jelas) tentang masalah Foto Kamera (Photografi) tersebut. Jadi, masalah ini adalah masalah ijtihad murni. Seandainya ada yang mengharamkan, maka haramnya adalah haram ijtihadi (hasil ijtihad) dan bukan haram Qoth’i (pasti)…Bukankah kita harus berlapang dada dalam masalah khilafiyyah yang sumbernya adalah ijtihad? Selama khilaf tersebut bukan dalam masalah aqidah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian hendaklah Foto tersebut tidak dipajang di dalam rumah akan tetapi di simpan saja, karena dikhawatirkan masuk dalam sabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung atau gambar-gambar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Jelas dan Bisa Dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahul Musta’aan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.kajianislam.net/modules/wordpress/2009/06/30/hukum-photo-dan-gambar/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-2190836267155502095?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/2190836267155502095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/masalah-hukum-fotografi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2190836267155502095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2190836267155502095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/05/masalah-hukum-fotografi.html' title='Masalah Hukum Fotografi'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-eelCgdrlCEQ/TdTaUZ4PxmI/AAAAAAAAAWA/UEYtpX5mdt0/s72-c/lamera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-293571530909929290</id><published>2011-04-28T20:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T03:12:54.277-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umum'/><title type='text'>Islam di Thailand</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nh60PgEevNA/TbqPIav_RNI/AAAAAAAAAV4/EmczdzJafIw/s1600/tha.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nh60PgEevNA/TbqPIav_RNI/AAAAAAAAAV4/EmczdzJafIw/s200/tha.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600946461370959058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah kita ketahui bersama, Thailand adalah negara yang sering dikenal sebaga negeri gajah putih. Negara ini juga terkenal sebagai tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Bidang pertanian juga merupakan salah satu andalan dari negeri ini. Hampir seluruh hasil pertanian dan perkebunan yang berasal dari Thailand merupakan produk unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, penduduk Thailand beragama Budha. Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, mayoritas warga Negara Thailand beragama Budha (94,6%), kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik [1]. Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar 7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand [2]. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat.&lt;br /&gt;Gambaran Umum Kehidupan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar muslim di negeri ini tinggal di Thailand bagian selatan, yang banyak berada di propinsi Yala, Narattiwat, dan Pattani. Secara budaya dan penampakan fisik, mereka lebih dekat kepada masyarakat Melayu. Jika kita melihat sejarah yang telah berlalu, wilayah-wilayah tersebut tadinya bukan merupakan bagian dari Thailand. Namun sejak tahun 1808, Thailand menjajah wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya. Tentu saja banyak pertentangan yang terjadi karena Thailand merupakan negeri Budha yang menganggap raja sebagai keturunan dewa. Sehingga banyak ritual syirik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Pemberontakan pun pernah terjadi, dan hingga saat ini pun masih ada pertentangan-pertentangan yang terjadi karena perbedaan prinsip tersebut [3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mayoritas muslim ada di bagian selatan Thailand, namun bukan berarti di bagian lain Thailand tidak ada muslim. Katakanlah Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok, kita dengan mudah dapat menemui masjid. Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu), namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah , nasyid, dan berbagai macam shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki kyai yang diagungkan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Alhamdulillah, dari kalangan pemuda (kebanyakan mahasiswa) banyak yang rajin menuntut ilmu di manhaj salaf yang mulia ini. Mereka cukup rajin mengadakan kajian-kajian ilmiah di masjid walaupun terkadang bertentangan dengan pengurus masjid itu sendiri. Meskipun mereka berhadapan dengan terbatasnya pustaka yang dapat mereka akses (karena tidak semua bisa berbahasa Arab), namun mereka sangat bersemangat untuk menegakkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih. Mereka pun menampakkan ke-Islam-an mereka dengan terang-terangan. Mereka memelihara jenggot, tidak isbal, bahkan di kampus pun kita terkadang bisa menemui saudari kita yang bercadar. Dan qadarullah, mereka pula-lah yang menjadi salah satu penyebab penulis mendapatkan hidayah untuk istiqomah di manhaj yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan Kerajaan Thailand terhadap Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Thailand merupakan negeri Budha, namun kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya. Tanggungjawab urusan mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree). Mufti ini berada di bawah kementerian dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja. Mufti bertugas untuk mengatur kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan muslim, seperti penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mufti membawahi dewan propinsial Islam yang beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar 3494 masjid yang ada di Thailand [2]. Pusat dari kegiatan tersebut berada di Bangkok, yaitu Islamic Center yang terletak di daerah Ramkhamhaeng. Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club. Biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan untuk melaksanakan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, masyarakat Thailand juga sangat toleran terhadap muslim. Mereka cukup peduli dengan makanan yang dapat kita makan, dan mereka juga sangat mudah memberi izin untuk melakukan shalat. Namun karena Thailand merupakan Negara Budha, sehingga hari besar kaum muslimin (Idul Fitri dan Idul Adha) tidak mereka liburkan. Hal ini terkadang menjadi kendala bagi para pelajar atau pegawai yang ingin melaksanakan sholat Ied berjama’ah. Namun biasanya tiap institusi memberikan keringanan untuk “membolos” pada waktu-waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengira bahwa mencari makanan halal di Thailand merupakan perkara sulit. Namun kenyataannya, makanan halal merupakan hal yang mudah didapatkan di mana saja. Katakanlah jika kita pergi ke kantin kampus. Biasanya di tiap kompleks kantin ada satu kios makanan halal. Jika kita pergi ke pasar, biasanya ada penjual daging halal yang disembelih secara syar’i. Jika kita ingin makan di warung halal sekalipun, kita cukup mencari masjid yang terdekat. Biasanya di dekat masjid ada perkampungan muslim dan juga penjual makanan halal. Di mall-mall sekalipun biasanya kita dapat menemukan rumah makan halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun salah satu hal yang membuat muslim di Thailand merasa aman akan ketersediaan makanan halal adalah adanya badan sertifikasi halal yang sangat kuat [4]. Dengan mengakses www.halal.or.th saja kita sudah dapat menemukan list produk dan restoran halal yang ada di Thailand. Bahkan produk-produk kemasan yang ada di supermarket pun sudah banyak yang bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Sehingga muslim di Thailand dapat dengan leluasa memilih mana yang bisa dimakan dan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu orang yang berjasa di bidang sertifikasi halal ini adalah Winai Dahlan, seorang associate professor di Chulalongkorn University. Beliau merupakan cucu dari KHA Dahlan. Beliau saat ini adalah direktur dari Halal Science Center di universitas tersebut. Beliau sangat giat melakukan promosi mengenai makanan halal ke seluruh dunia. Bahkan bisa dikatakan kemajuan mengenai makanan halal di Thailand sudah selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia karena promosi gencar yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;Menjadi seorang Muslim di Thailand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan di atas menunjukkan berbagai macam gambaran kehidupan muslim di Thailand. Namun secara umum, hidup menjadi seorang muslim di Thailand penuh dengan perjuangan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui bahwa Thailand merupakan negeri yang bebas. Mayoritas penduduknya menyukai kehidupan malam, pergaulan bebas, dan minum minuman keras. Selain itu dentuman musik dapat kita temui di mana saja. Para pemudi pun berpakaian sangat minim. Bagi seseorang yang sedang lemah imannya, tentu saja serbuan kemaksiatan yang ada di lingkungan merupakan tantangan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kepercayaan pun, kita dapat menemui praktik syirik tersebar di mana-mana. Hampir di setiap rumah ada kuil kecil di mana mereka meletakkan sesaji. Bahkan biasanya para pedagang pun meletakkan sesaji itu di toko mereka. Pengagungan mereka pada kerajaan pun sudah melampaui batas. Raja dianggap sebagai keturunan dewa sehingga mereka menjadikannya sesembahan. Biksu pun mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Mereka akan memberikan apapun jika bertemu biksu, hanya untuk mendapatkan berkat dari mereka. Tentu saja praktik syirik yang bertebaran di seluruh bumi Thailand ini terus bertentangan dengan hati kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, biasanya kaum muslimin di Thailand hidup berkelompok supaya dapat saling menjaga. Di dekat masjid biasanya ada perkampungan muslim. Selain itu, ada juga beberapa daerah di Bangkok yang memiliki persentase penduduk muslim yang cukup besar. Mereka berusaha membuat lingkungan yang baik supaya dapat hidup di luar gelimang kemaksiatan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kelompok-kelompok yang hidup di beberapa daerah tersebut berkumpul karena kesamaan suku. Ada daerah di Bangkok yang bernama Kampung Jawa. Di daerah tersebut, penduduknya merupakan keturunan jawa yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di kampung tersebut terdapat Masjid Jawa. Selain itu ada juga Masjid Indonesia. Ada cukup banyak warga keturunan yang berasal dari banyak negara dan membentuk komunitas sendiri. Hal itu tidak lain adalah upaya mereka untuk saling menjaga dari kehidupan budaya yang sangat berbeda dengan nilai Islam. Biasanya mereka sudah lupa dengan bahasa dari negeri mereka masing-masing. Seperti Winai Dahlan yang telah disebutkan sebelumnya, juga tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, demikianlah kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih. Barangkali kita tadinya tidak menyangka bahwa kita memiliki saudara-saudara yang terus berjuang hidup sambil mempertahankan aqidahnya di negeri kafir ini. Semoga hal ini membuat kita semua untuk senantiasa bersyukur dan juga semakin bersemangat menuntut ilmu. Mereka dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, masih terus berusaha mencari kebenaran dalam memahami dienul Islam ini. Semoga Allah selalu menjaga saudara-saudara kita ini. Dan semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Fikri Waskito (mahasiswa Chulalongkorn University, Thailand)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-293571530909929290?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/293571530909929290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/islam-di-thailand.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/293571530909929290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/293571530909929290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/islam-di-thailand.html' title='Islam di Thailand'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nh60PgEevNA/TbqPIav_RNI/AAAAAAAAAV4/EmczdzJafIw/s72-c/tha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4113235117040283018</id><published>2011-04-28T20:45:00.000-07:00</published><updated>2011-04-28T20:54:49.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><title type='text'>Anak Angkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-f6Fl7wFH_u0/Tbo1yHF5O_I/AAAAAAAAAVw/PzfpwzGrdIs/s1600/keluarga.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-f6Fl7wFH_u0/Tbo1yHF5O_I/AAAAAAAAAVw/PzfpwzGrdIs/s200/keluarga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600848221602135026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengadopsi anak adalah fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat kita, entah karena orang tersebut tidak memiliki keturunan, atau karena ingin menolong orang lain, ataupun karena sebab-sebab yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, karena ketidaktahuan banyak dari kaum muslimin tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan ‘anak angkat’, maka masalah yang terjadi dalam hal ini cukup banyak dan memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya: menisbahkan anak angkat tersebut kepada orang tua angkatnya, menyamakannya dengan anak kandung sehinga tidak memperdulikan batas-batas mahram, menganggapnya berhak mendapatkan warisan seperti anak kandung, dan pelanggaran-pelanggaran agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, syariat Islam yang agung telah menjelaskan dengan lengkap dan gamblang hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah anak angkat ini, sehingga jika kaum muslimin mau mempelajari petunjuk Allah Ta’ala dalam agama mereka maka mestinya mereka tidak akan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi sejak jaman Jahiliyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasan mengadopsi anak adalah tradisi yang sudah ada sejak jaman Jahiliyah dan dibenarkan di awal kedatangan Islam1. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya, ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadopsi Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah Ta’ala sebagai nabi, kemudian Allah Ta’ala menurunkan larangan tentang perbuatan tersebut dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)” (QS al-Ahzaab: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini turun (untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum diangkat sebagai Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sebagai anak, sampai-sampai dia dipanggil “Zaid bin Muhammad” (Zaid putranya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Allah Ta’ala ingin memutuskan pengangkatan anak ini dan penisbatannya (kepada selain ayah kandungnya) dalam ayat ini, sebagaimana juga firman-Nya di pertengahan surah al-Ahzaab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al-Ahzaab: 40)”2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status anak angkat dalam Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala di atas menghapuskan kebolehan adopsi anak yang dilakukan di jaman Jahiliyah dan awal Islam, maka status anak angkat dalam Islam berbeda dengan anak kandung dalam semua ketentuan dan hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut di atas Allah Ta’ala mengisyaratkan makna ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja”, artinya: perbuatanmu mengangkat mereka sebagai anak (hanyalah) ucapan kalian (semata-mata) dan (sama sekali) tidak mengandung konsekwensi bahwa dia (akan) menjadi anak yang sebenarnya (kandung), karena dia diciptakan dari tulang sulbi laki-laki (ayah) yang lain, maka tidak mungkin anak itu memiliki dua orang ayah3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hukum-hukum yang ditetapkan dalam syariat Islam sehubungan dengan anak angkat yang berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Larangan menisbatkan anak angkat kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu Dan tidak ada dosa bagimu terhadap apa yang kamu salah padanya, tetapi (yang ada dosanya adalah) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Ahzaab: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir berkata, “(Ayat) ini (berisi) perintah (Allah Ta’ala) yang menghapuskan perkara yang diperbolehkan di awal Islam, yaitu mengakui sebagai anak (terhadap) orang yang bukan anak kandung, yaitu anak angkat. Maka (dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan penisbatan mereka kepada ayah mereka yang sebenarnya (ayah kandung), dan inilah (sikap) adil dan tidak berat sebelah”4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak angkat tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anak angkat bukanlah mahram6, sehingga wajib bagi orang tua angkatnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak angkat tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Salim maula (bekas budak) Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tinggal bersama Abu Hudzaifah dan keluarganya di rumah mereka (sebagai anak angkat), maka (ketika turun ayat yang menghapuskan kebolehan adopsi anak) datanglah Sahlah bintu Suhail radhiyallahu ‘anhu, istri Abu Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata: Sesungguhnya Salim telah mencapai usia laki-laki dewasa dan telah paham sebagaimana laki-laki dewasa, padahal dia sudah biasa (keluar) masuk rumah kami (tanpa kami memakai hijab), dan sungguh aku menduga dalam diri Abu Hudzaifah ada sesuatu (ketidaksukaan) akan hal tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,”Susukanlah dia agar engkau menjadi mahramnya dan agar hilang ketidaksukaan yang ada dalam diri Abu Hudzaifah”7.8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Diperbolehkannya bagi bapak angkat untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, berbeda dengan kebiasaan di jaman Jahiliyah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya (menceraikannya). Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” (QS al-Ahzaab: 37).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala ingin menetapkan ketentuan syriat yang umum bagi semua kaum mukminin, (yaitu) bahwa anak-anak angkat hukumnya berbeda dengan anak-anak yang sebenarnya (kandung) dari semua segi, dan bahwa (bekas) istri anak angkat boleh dinikahi oleh bapak angkat mereka…Dan jika Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menjadikan suatu sebab bagi (terjadinya) hal tersebut, (yaitu kisah) Zaid bin Haritsah yang dipanggil “Zaid bin Muhammad” (di jaman Jahiliyah), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengangkatnya sebagai anak, sehingga dia dinisbatkan kepada (nama) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai turunnya firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka” (QS al-Ahzaab: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah itu dia dipanggil “Zaid bin Haritsah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Zaid bin Haritsah adalah Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha, putri bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah terlintas dalam hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa jika Zaid menceraikannya maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menikahinya. Kemudian Allah menakdirkan terjadinya sesuatu antara Zaid dengan istrinya tersebut yang membuat Zaid mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta izin kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menceraikan istrinya…(Kemudian setelah itu Allah Ta’ala menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha sebagaimana ayat tersebut di atas)”9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanggil ‘anak atau nak’ kepada orang lain untuk memuliakan dan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diperbolehkan dan sama sekali tidak termasuk perkara yang dilarang dalam ayat di atas. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dari Ibnu Abbas radhiayallahu ‘anhuma dia berkata: Ketika malam (menginap) di Muzdalifah, kami anak-anak kecil keturunan Abdul Muththalib datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan menunggangi) keledai, lalu beliau menepuk paha kami dan bersabda: “Wahai anak-anak kecilku, janganlah kalian melempar/melontar Jamrah ‘aqabah (pada hari tanggal 10 Dzulhijjah) sampai matahari terbit”10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada: “Wahai anakku”11.12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, imam an-Nawawi dalam kitab “shahih Muslim” (3/1692) mencantumkan hadits ini dalam bab: Bolehnya seseorang berkata kepada selain anaknya: “Wahai anakku”, dan dianjurkannya hal tersebut untuk menunjukkan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan singkat tentang hukum mengadopsi anak dalam Islam. Meskipun jelas ini bukan berarti agama Islam melarang umatnya untuk berbuat baik dan menolong anak yatim dan anak terlantar yang membutuhkan pertolongan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tidak! Yang dilarang dalam Islam adalah sikap berlebihan terhadap anak angkat seperti yang dilakukan oleh orang-orang di jaman Jahiliyah, sebagaimana penjelasan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam sangat menganjurkan perbuatan menolong anak yatim dan anak terlantar yang tidak mampu, dengan membiayai hidup, mengasuh dan mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar. Bahkan perbuatan ini termasuk amal shaleh yang bernilai pahala besar di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam 14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia melimpahkan taufik dan kemudahan dari-Nya kepada kita untuk mencapai keridhaan-Nya dengan melaksanakan semua kebaikan dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Kendari, 18 Rabi’ul awal 1432 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Lihat “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 658) dan “Aisarut tafaasiir” (3/289).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat juga kitab “Tafsir al-Qurthubi” (14/119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Mahram adalah orang yang tidak halal untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang mubah (diperbolehkan dalam agama). Lihat kitab “Fathul Baari” (4/77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 HSR Muslim (no. 1453), hadits yang semakna juga terdapat dalam “Shahih al-Bukhari” (no. 3778).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 665).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 HR Abu Dawud (no. 1940), Ibnu Majah (no. 3025) dan Ahmad (1/234), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 HSR Muslim (no.2151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/615).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (14/41) dan “Tuhfatul ahwadzi” (6/39).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4113235117040283018?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4113235117040283018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/anak-angkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4113235117040283018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4113235117040283018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/anak-angkat.html' title='Anak Angkat'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-f6Fl7wFH_u0/Tbo1yHF5O_I/AAAAAAAAAVw/PzfpwzGrdIs/s72-c/keluarga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-8117875835950447872</id><published>2011-04-19T19:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-19T19:42:34.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Suratku Untukmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-14Jto-FB-YU/Ta5IBCvIrtI/AAAAAAAAAVo/eI-tuTSgftY/s1600/ibu%2Bgendong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-14Jto-FB-YU/Ta5IBCvIrtI/AAAAAAAAAVo/eI-tuTSgftY/s200/ibu%2Bgendong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597490569619746514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Allah ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji ku panjatkan ke hadirat Allah ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.&lt;br /&gt;Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku …&lt;br /&gt;Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.&lt;br /&gt;Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.&lt;br /&gt;Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.&lt;br /&gt;Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku … &lt;br /&gt;Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.&lt;br /&gt;Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.&lt;br /&gt;Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.&lt;br /&gt;Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.&lt;br /&gt;Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.&lt;br /&gt;Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…&lt;br /&gt;Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.&lt;br /&gt;Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.&lt;br /&gt;Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.&lt;br /&gt;Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.&lt;br /&gt;Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.&lt;br /&gt;Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… &lt;br /&gt;Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.&lt;br /&gt;Yang ibu pinta kepadamu:&lt;br /&gt;Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.&lt;br /&gt;Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.&lt;br /&gt;Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.&lt;br /&gt;Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.&lt;br /&gt;Yang ibu tagih kepadamu:&lt;br /&gt;Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.&lt;br /&gt;Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… &lt;br /&gt;Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…&lt;br /&gt;Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:&lt;br /&gt;هل جزاء الإحسان إلا الإحسان&lt;br /&gt;Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!&lt;br /&gt;Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…&lt;br /&gt;Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!&lt;br /&gt;Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!&lt;br /&gt;Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!&lt;br /&gt;Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!&lt;br /&gt;Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!&lt;br /&gt;Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!&lt;br /&gt;إن الله يحب المحسنين&lt;br /&gt;Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku… &lt;br /&gt;Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!&lt;br /&gt;Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:&lt;br /&gt;الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه&lt;br /&gt;Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)&lt;br /&gt;Anakku… &lt;br /&gt;Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…&lt;br /&gt;Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:&lt;br /&gt;سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.&lt;br /&gt;Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku…&lt;br /&gt;Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…&lt;br /&gt;Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…&lt;br /&gt;Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.&lt;br /&gt;Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.&lt;br /&gt;Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…&lt;br /&gt;Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…&lt;br /&gt;Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… &lt;br /&gt;Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:&lt;br /&gt;رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)&lt;br /&gt;Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)&lt;br /&gt;Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku… &lt;br /&gt;Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…&lt;br /&gt;Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…&lt;br /&gt;Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.&lt;br /&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;br /&gt;Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.&lt;br /&gt;الجزاء من جنس العمل&lt;br /&gt;Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.&lt;br /&gt;Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakmu… &lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah… takutlah engkau kepada Allah… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…&lt;br /&gt;Anakku…&lt;br /&gt;Setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.&lt;br /&gt;Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;Dari Ibumu yang merana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- oleh ustadz Abu Abdillah Ad-Daariny, Lc)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-8117875835950447872?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/8117875835950447872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/suratku-untukmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8117875835950447872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8117875835950447872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/suratku-untukmu.html' title='Suratku Untukmu'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-14Jto-FB-YU/Ta5IBCvIrtI/AAAAAAAAAVo/eI-tuTSgftY/s72-c/ibu%2Bgendong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4558829594711696513</id><published>2011-04-10T06:25:00.000-07:00</published><updated>2011-04-10T06:31:55.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak Karimah'/><title type='text'>Makna Zuhud</title><content type='html'>Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, zuhud terhadap dunia bisa ditafsirkan dengan tiga pengertian yang kesemuanya merupakan amalan hati dan bukan amalan tubuh. Oleh karenanya, Abu Sulaiman mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَشْهَدْ لِأَحَدٍ بِالزُّهْدِ، فَإِنَّ الزُّهْدَ فِي الْقَلْبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah engkau mempersaksikan bahwa seorang itu telah berlaku zuhud (secara lahiriah), karena zuhud itu letaknya di hati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud adalah hamba lebih meyakini rezeki yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya. Hal ini tumbuh dari bersih dan kuatnya keyakinan, karena sesungguhnya Allah telah menanggung dan memastikan jatah rezeki setiap hamba-Nya sebagaimana firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا (٦)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya [Huud: 6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (٢٢)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu [Adz Dzaariyaat: 22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ (١٧)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia [Ankabuut: 17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ ضَعْفِ يَقِينِكَ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah anda lebih meyakini apa yang ada ditangan daripada apa yang ada di tangan-Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Momen yang paling aku harapkan untuk memperoleh rezeki adalah ketika mereka mengatakan, “Tidak ada lagi tepung yang tersisa untuk membuat makanan di rumah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masruq mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Situasi dimana saya mempertebal husnuzhanku adalah ketika pembantu mengatakan, “Di rumah tidak ada lagi gandum maupun dirham.” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/97)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hazim Az Zahid pernah ditanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مَالُكَ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hartamu”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats tsiqqatu billah (yakin kepada Allah) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga beliau ditanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَا أَخَافُ الْفَقْرَ وَمَوْلَايَ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى؟ !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah anda khawatir akan kefakiran?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa saya takut fakir sementara Pemelihara-ku memiliki segala yang ada di langit, bumi, apa yang ada diantara keduanya, dan di bawah tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selembar kertas pernah diserahkan kepada ‘Ali ibnu Muwaffaq, dia pun membacanya dan di dalamnya tertulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا عَلِيَّ بْنُ الْمُوَفَّقِ أَتَخَافُ الْفَقْرَ وَأَنَا رَبُّكَ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai ‘Ali ibnul Muwaffaq, masihkah engkau takut akan kefakiran sementara Aku adalah Rabb-mu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Fudhai bin ‘Iyadh mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَصْلُ الزُّهْدِ الرِّضَا عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akar zuhud adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.” [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu 'Abdirrahman As Sulami dalam Thabaqatush Shufiyah (10)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْقَنُوعُ هُوَ الزُّهِدُ وَهُوَ الْغِنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Qana’ah (puas atas apa yang diberikan oleh Allah ta’ala) merupakan sikap zuhud dan itulah kekayaan yang sesungguhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, setiap orang yang merealisasikan rasa yakin kepada Allah, mempercayakan segala urusannya kepada Allah, ridha terhadap segala pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk baik rasa takut dan harapnya, dan semua hal tadi menghalanginya untuk mencari dunia dengan sebab-sebab yang dibenci, maka setiap orang yang keadaannya demikian sesungguhnya dia telah bersikap zuhud terhadap dunia. Dia termasuk orang yang kaya meski tidak memiliki secuil harta dunia sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ammar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِينِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغُلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukuplah kematian sebagai nasehat, yakin kepada Allah sebagai kekayaan, dan ibadah sebagai kesibukan.” [Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (10556) dari 'Ammar bin Yasar secara marfu'].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْمَدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى – بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ – جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak memuji seseorang demi mendapatkan rezeki yang berasal dari Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya sserta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keraguan dan kebencian” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sebuah hadits mursal disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan do’a berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِينًا [صَادِقًا] حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي رِزْقًا قَسَمْتَهُ لِي، وَرَضِّنِي مِنَ الْمَعِيشَةِ بِمَا قَسَمْتَ لِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah saya memohon kepada-Mu iman yang mampu mengendalikan hatiku, keyakinan yang benar sehingga saya mengetahui bahwasanya hal itu tidak menghalangi rezeki yang telah Engkau bagikan kepadaku, dan jadikanlah saya ridha atas sumber penghidupan yang telah Engkau bagikan kepadaku.” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (112)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ‘Atha Al Khurasani tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ هَبْ لَنَا يَقِينًا مِنْكَ حَتَّى تُهَوِّنَ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَحَتَّى نَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنَا إِلَّا مَا كَتَبْتَ عَلَيْنَا، وَلَا يُصِيبُنَا مِنَ الرِّزْقِ إِلَّا مَا قَسَمْتَ لَنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diri-Mu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.” [Driwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (108)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan kepada kami secara marfu’ bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَغْنَى النَّاسِ، فَلْيَكُنْ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْهُ بِمَا فِي يَدِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya, maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.” [Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha'i dalamMusnad Asy Syihab (367 &amp; 368) dari hadits 'Abdullah bin 'Abbas].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud adalah apabila hamba tertimpa musibah dalam kehidupan dunia seperti hilangnya harta, anak, atau selainnya, maka dia lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut daripada hal itu tetap berada di sampingnya. Hal ini juga muncul dari sempurnanya rasa yakin kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” [HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam 'Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan gharib"].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a tersebut merupakan tanda zuhud dan minimnya kecintaan kepada dunia sebagaimana yan dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ زَهِدَ الدُّنْيَا، هَانَتْ عَلَيْهِ الْمُصِيبَاتُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud adalah hamba memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran. Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh, dan minimnya kecintaan dirinya kepada dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setiap orang yang mengagungkan dunia akan cinta kepada pujian dan benci pada celaan. Terkadang hal itu menggiring dirinya untuk tidak mengamalkan kebenaran karena takut celaan dan melakukan berbagai kebatilan karena ingin pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, setiap orang yang memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran, maka hal ini menunjukkan bahwa jabatan/kedudukan yang dimiliki manusia tidaklah berpengaruh di dalam hatinya dan juga menunjukkan bahwa hatinya dipenuhi rasa cinta akan kebenaran serta ridha kepada Allah. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 644-646.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4558829594711696513?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4558829594711696513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/makna-zuhud.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4558829594711696513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4558829594711696513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/04/makna-zuhud.html' title='Makna Zuhud'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-5812199092951167185</id><published>2011-03-14T01:53:00.000-07:00</published><updated>2011-03-14T01:54:12.842-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muslimah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Perbedaan antara Darah Haid, Istihadhah dan Darah Nifas</title><content type='html'>Redaksi Sakinah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan antara darah haid, istihadhah, dan darah nifas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu menjawab secara panjang lebar yang kami ringkaskan sebagai berikut, “Tiga macam darah yang ditanyakan keluar dari satu jalan. Namun namanya berbeda, begitu pula hukum-hukumnya, karena perbedaan sebab keluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun darah nifas sebabnya jelas, yaitu darah yang keluar dari seorang wanita karena melahirkan. Darah nifas ini merupakan sisa darah yang tertahan di dalam rahim sewaktu hamil. Bila seorang wanita telah melahirkan kandungannya, darah itu pun keluar sedikit demi sedikit. Bisa jadi waktu keluarnya lama/panjang, dan terkadang singkat. Tidak ada batasan minimal waktu nifas ini. Adapun waktu maksimalnya menurut mazhab Hambali adalah 40 hari, dan bila lebih dari 40 hari darah masih keluar sementara tidak bertepatan dengan kebiasaan datangnya waktu haid maka darah tersebut adalah darah istihadhah. Namun menurut pendapat yang shahih, tidak ada pula batasan waktu maksimal dari nifas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah yang keluar bukan karena sebab melahirkan adalah darah haid sebagai suatu ketetapan dan sunnatullah atas seorang wanita. Di mana bila si wanita sudah dapat hamil dan melahirkan maka secara umum akan datang kepadanya haid di waktu-waktu tertentu, sesuai dengan keadaan dan kebiasaan si wanita. Bila seorang wanita hamil umumnya ia tidak mengalami haid, karena janin yang dikandungnya beroleh sari-sari makanan dengan darah yang tertahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarnya darah haid menunjukkan sehat dan normalnya si wanita. Sebaliknya tidak keluarnya darah haid menunjukkan ketidaksehatan dan ketidaknormalan seorang wanita. Makna ini disepakati oleh ahli ilmi syar’i dan ilmu kedokteran, bahkan dimaklumi oleh pengetahuan dan kebiasaan manusia. Pengalaman mereka menunjukkan akan hal tersebut. Karena itulah ketika memberikan definisi haid, ulama berkata bahwa haid adalah darah alami yang keluar dari seorang wanita pada waktu-waktu yang dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang shahih, tidak ada batasan umur minimal seorang wanita mendapatkan haid. Begitu pula batasan waktu minimal lamanya haid, sebagaimana tidak ada batasan maksimalnya. Tidak ada pula batasan minimal masa suci di antara dua haid. Bahkan yang disebut haid adalah adanya darah, dan yang disebut suci adalah tidak adanya darah. Walaupun waktunya bertambah atau berkurang, mundur ataupun maju, berdasarkan zahir nash-nash syar’i yang ada, dan zahir dari amalan kaum muslimin. Juga karena tidak melapangkan bagi wanita untuk mengamalkan selain pendapat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istihadhah adalah darah yang keluar dari seorang wanita di luar kebiasaan dan kewajaran, karena sakit atau semisalnya.&lt;br /&gt;Bila seorang wanita terus menerus keluar darah dari kemaluannya, tanpa berhenti, maka untuk mengetahui apakah darah tersebut darah haid ataukah darah istihadhah bisa dengan tiga cara berikut ini secara berurutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Apabila sebelum mengalami hal tersebut ia memiliki kebiasaan (‘adah) haid maka ia kembali pada kebiasaannya (‘adah-nya). Ia teranggap haid di waktu-waktu ‘adah tersebut, adapun selebihnya berarti istihadhah. Selesai masa ‘adah-nya ia mandi dan boleh melakukan ibadah puasa dan shalat (walau darahnya terus keluar karena wanita istihadhah pada umumnya sama hukumnya dengan wanita yang suci, pent.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Bila ternyata si wanita tidak memiliki ‘adah dan darahnya bisa dibedakan, di sebagian waktu darahnya pekat/kental dan di waktu lain tipis/encer, atau di sebagian waktu darahnya berwarna hitam, di waktu lain merah, atau di sebagian waktu darahnya berbau busuk/tidak sedap dan di waktu lain tidak busuk, maka darah yang pekat/kental, berwarna hitam, dan berbau busuk itu adalah darah haid. Yang selainnya adalah darah istihadhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Apabila si wanita tidak memiliki ‘adah dan tidak dapat membedakan darah yang keluar dari kemaluannya, maka di setiap bulannya (di masa-masa keluarnya darah) ia berhaid selama enam atau tujuh hari karena adanya hadits-hadits yang tsabit dalam hal ini. Kemudian ia mandi setelah selesai enam atau tujuh hari tersebut walaupun darahnya masih terus keluar. Sedapat mungkin ia menyumpal tempat keluarnya darah (bila darah terus mengalir) dan berwudhu setiap kali ingin menunaikan shalat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, hal. 23-26 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, hal. 263-265)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=758&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-5812199092951167185?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/5812199092951167185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/03/perbedaan-antara-darah-haid-istihadhah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5812199092951167185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5812199092951167185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/03/perbedaan-antara-darah-haid-istihadhah.html' title='Perbedaan antara Darah Haid, Istihadhah dan Darah Nifas'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-5466431642139271956</id><published>2011-03-03T16:30:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T17:12:32.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><title type='text'>Bahaya Mengejek Sunnah Rasulullah Shalallahualaihiwassalam</title><content type='html'>Lisan merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang amat berharga, dan satu hal yang telah kita ketahui bersama bahwa islam adalah agama yang kaffah sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya), “Wahai Orang-Orang yang beriman masuklah ke dalam islam secara kaffah/menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya dia adalah musuh (kalian) yang nyata”. (QS : Al Baqoroh [2] : 208).&lt;br /&gt;Seorang sahabat yang mulia sekaligus merupakan ahli tafsir dari kalangan sahabat Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Yang dimaksud Kaffah (dalam ayat di atas) adalah masuklah kalian ke dalam ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam secara menyeluruh”[1]. Jika hal ini telah kita fahami maka lihatlah betapa islam begitu memberikan perhatian yang besar terhadap lisan melalui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam (yang artinya), “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata kata-kata yang baik atau ia diam”[2].&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawiy Asy Syafi’i rohimahullah mengatakan, “Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam di atas adalah jika seseorang hendak berbicara dan hal yang akan dibicarakannya itu adalah kebaikan yang ia akan diberi pahala atasnya baik itu hal yang wajib atau sunnah, maka hendaklah ia berbicara. Namun jika tidak demikian maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak berbicara  baik hal yang akan dibicarakan itu adalah suatu perkara yang haram, makruh atau mubah yang berada di antara kedua ujung (antara halal dan haram). Maka berdasarkan hal ini, perkataan yang hukumnya mubah dianjurkan untuk meninggalkannya agar tidak terjatuh dalam perkara yang haram atau makruh”[3]. Namun sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, perkataan yang baik itu ada dua macam perkataan yang baik jika [1] ditinjau semata-mata perkataan tersebut semisal dzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an dan [2] perkataan yang baik jika ditinjau dari apa yang diinginkan darinya semisal perkataan yang hukum asalnya mubah namun hal yang diinginkan dari perkataan tersebut adalah memberikan rasa gembira kepada teman duduk[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengejek atau Mengolok-olok Perkara yang Merupakan Bagian dari Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian perhatian islam dalam masalah lisan maka bagaimanakah hukum islam mengenai orang yang mengaku islam namun mengolok-ngolok salah satu ajaran Islam?? Semisal perkataan seseorang kepada saudaranya yang memelihara jenggot dengan sebutan si kambing, mengejek saudarinya yang menggunakan cadar dengan sebutan ninja, atau mengejek seorang muslimah yang memakai jilbab yang benar dengan mengatakan “Kemana-mana kok pakai baju sholat/mukenah” dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Mengenai masalah ini hendaklah kita menilik pada Al Qur’an dan As Sunnah. Kita dapat menyaksikan dalam sebuah ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” “Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir sesudah beriman”. (QS : At Taubah [9] : 65-66).&lt;br /&gt;Ayat yang mulia di atas memiliki sababun nuzul, sebagaimana yang diriwayatkan melalui jalannya Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma[5],  “Ada seseorang yang berkata dengan nada mencemooh pada saat perang Tabuk, “Aku tidak pernah melihat orang yang perutnya lebih besar (rakus terhadap makanan[6]), lebih suka berbohong serta pengecut ketika bertemu musuh dalam perang dari pada ahli qiro’ah kami (yang dia maksudkan adalah Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dan para sahabatnya rodhiyallahu ‘anhum[7])”. Maka berkatalah ‘Auf bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, “Engkau telah berdusta bahkan engkau adalah orang munafik, sungguh akan aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam”. Maka Auf pun pergi untuk menemui Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam namun ternyata Al Qur’an telah mendahuluinya. Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Sesungguhnya kami melihat orang tersebut terseret-seret sambil memegang pelana unta Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dan batu-batu melukainya seraya mengatakan, “Wahai Rosulullah sesungguhnya hal itu kami lakukan hanya untuk berbincang-bincang sekedar bergurau di perjalanan dan kami tidaklah bermaksud mengejek atau mengolok-olok”. Kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam membacakan firman Allah (yang artinya),  “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” (QS : At Taubah [9] : 65). Dan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam tidaklah menghiraukan orang tersebut dan tidak berkata lagi padanya”[8].&lt;br /&gt;Maka lihatlah kaum muslimin sekalian jika sebagian sahabat yang ikut perang bersama Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam melawan bangsa romawi saja dianggap kafir karena mengucapkan satu kalimat semisal di atas dengan tujuan hanya sekedar berbincang-bincang dan bergurau di perjalanan tanpa maksud mengolok-olok maka jelaslah bahwa orang-orang yang melontarkan kata-kata kekufuran karena takut hartanya berkurang atau kehormatannya atau basa-basi lebih besar dosanya dari pada orang yang melontarkan kata-kata tersebut dengan tujuan sebagaimana dalam hadits di atas[9].&lt;br /&gt;Berdasarkan ayat dan hadits di atas para ulama diantaranya Syaikh Prof. DR. ‘Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah mengatakan, “Para ulama kaum muslimin ijma’/sepakat menetapkan kafirnya orang yang mengejek sesuatu yang merupakan bagian dari agama Allah Subahanahu wa Ta’ala (sedangkan ia tahu bahwa hal itu merupakan bagian dari agama Allah) sama saja apakah hal tersebut dalam bentuk merendahkan ,hanya sekedar main-main/gurauan, basa-basi dengan orang kafir atau selain mereka, ketika bertengkar dengan seseorang, ketika marah, atau selain hal tersebut”[10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama membagi masalah mengejek sesuatu yang merupakan bagian dari agama Allah dengan 2 jenis:&lt;br /&gt;[1]. Pengolok-olokan terang-terangan, sebagaimana sababun nuzul surat At Taubah 65-66 di atas, semisal dengan itu orang yang mengejek tindakan orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, orang yang mengerjakan sholat karena mereka mengerjakan sholat, orang yang memilhara jenggotnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;[2]. Pengolok-olokan yang tidak terang-terangan, seperti menjulurkan lidah, atau bibir, dengan isyarat tangan ketika disampaikan/dibacakan Al Qur’an dan Hadits Rosulullah shollallahu ‘alaihi was sallam, ketika amar ma’ruf nahi mungkar ditegakkan, maka hal ini pun termasuk kekufuran[11].&lt;br /&gt;Merujuk Fatwa Ulama&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah, pernah menjabat ketua Lajnah Da’imah (semacam Komite Fatwa MUI) dan juga pakar hadits, pernah ditanyakan, “Saat ini banyak di tengah masyarakat muslim yang mengolok-olok syariat-syariat agama yang nampak seperti memelihara jenggot, menaikkan celana di atas mata kaki, dan selainnya. Apakah hal ini termasuk mengolok-olok agama yang membuat seseorang keluar dari Islam? Bagaimana nasihatmu terhadap orang yang terjatuh dalam perbuatan seperti ini? Semoga Allah memberi kepahaman padamu.”&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya dan syariat-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)&lt;br /&gt;Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati.&lt;br /&gt;Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) atau semacamnya yang hukumnya masih samar, maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.&lt;br /&gt;Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah serta takut akan murtad dari agama ini sedangkan dia tidak menyadarinya. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelekan dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Wallahu waliyyut taufiq.[12]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah diketahui bahwa bentuk mengolok-olok atau mengejek orang yang berkomitmen dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kekafiran[13], maka seseorang hendaknya menjauhinya. Dan jika telah terjatuh dalam perbuatan semacam ini hendaknya segera bertaubat. Semoga firman Allah Ta’ala berikut bisa menjadi pelajaran.&lt;br /&gt;”Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az Zumar 39: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Aditya Budiman&lt;br /&gt;Muroja’ah: M. A. Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] Lihat Tanwirul Muqbas min Tafsir Ibni Abbas hal. 32, Asy Syamilah. &lt;br /&gt;[2] HR. Bukhori no. 6475, Muslim no. 47.&lt;br /&gt;[3] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh Al Imam An Nawawiy rohimahullah dengan tahqiq Syaikh Kholil Ma’mun Syiha hal. 209/II, , terbitan Dar Ma’rifah Beirut, Lebanon.&lt;br /&gt;[4] Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 200 terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut, Lebanon.&lt;br /&gt;[5] Juga diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah. (ed)&lt;br /&gt;[6] Lihat Al Quolul Mufid oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 273/II terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.&lt;br /&gt;[7] Idem.&lt;br /&gt;[8] HR. Ibnu Jarir Ath Thobari dalam tafsirnya no. 16911 hal. 331/XIV, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsrinya no. 10538 hal. 475/XXXV. Syaikh Ahmad Muhammad Syakir mengatakan riwayat dari jalur Ibnu Umar ini shohih sebagaimana dalam tahqiq beliau untuk tafsir Ath Thobari.&lt;br /&gt;[9] Lihat At Tanbihat Al Mukhtasoroh oleh Syaikh Ibrohim bin Syaikh Sholeh bin Ahmad Al Khuraisi hal. 73, terbitan Dar Shomi’i, Riyadh, KSA.&lt;br /&gt;[10] Lihat Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah oleh Syaikh Prof. DR. ‘Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah, hal. 96-97, terbitan Makatabah Mulk Fahd Al Wathoniyah. [Akh tolong dicek ke kitab aslinya ana agak ragu dengan terjemahan ana, jazakumullah khoir]&lt;br /&gt;[11] Lihat At Tanbihat Al Mukhtasoroh oleh Syaikh Ibrohim bin Syaikh Sholeh bin Ahmad Al Khuraisi hal. 74.&lt;br /&gt;[12] Lihat Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hal.61-62 (ed)&lt;br /&gt;[13] Mohon dibedakan antara hukum masalah dan hukum perorangan. Sudah dijelaskan bahwa perbuatan mengolok-olok ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sesuatu kekufuran. Namun bagaimanakah mengenai hukum perorangan? Jawabannya, ini mesti dilihat dari kondisi setiap orang dan kita tidak bisa hukumi mereka itu kafir. Karena barangkali ada penghalang atau syarat yang belum terpenuhi sehingga ia tidak dinyatakan kafir. Wallahu a’lam. (ed)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-5466431642139271956?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/5466431642139271956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/03/bahaja-mengejek-sunnah-rasulullah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5466431642139271956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/5466431642139271956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/03/bahaja-mengejek-sunnah-rasulullah.html' title='Bahaya Mengejek Sunnah Rasulullah Shalallahualaihiwassalam'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-4171195613705933867</id><published>2011-02-28T17:02:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T17:04:14.083-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Perbedaan Air Mani, Madzi, Kencing, dan Wadi</title><content type='html'>http://al-atsariyyah.com/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.htm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukan anda apa perbedaan antara keempat perkara di atas?&lt;br /&gt;Mengetahui hal ini adalah hal yang sangat penting, khususnya perbedaan antara mani dan madzi, karena masih banyak di kalangan kaum muslimin yang belum bisa membedakan antara keduanya. Yang karena ketidaktahuan mereka akan perbedaannya menyebabkan mereka ditimpa oleh fitnah was-was dan dipermainkan oleh setan. Sehingga tidaklah ada cairan yang keluar dari kemaluannya (kecuali kencing dan wadi) yang membuatnya ragu-ragu kecuali dia langsung mandi, padahal boleh jadi dia hanyalah madzi dan bukan mani. Sudah dimaklumi bahwa yang menyebabkan mandi hanyalah mani, sementara madzi cukup dicuci lalu berwudhu dan tidak perlu mandi untuk menghilangkan hadatsnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya berikut definisi dari keempat cairan di atas, yang dari definisi tersebut bisa dipetik sisi perbedaan di antara mereka:&lt;br /&gt;1.    Kencing: Masyhur sehingga tidak perlu dijelaskan, dan dia najis berdasarkan Al-Qur`an, Sunnah, dan ijma’.&lt;br /&gt;2.    Wadi: Cairan tebal berwarna putih yang keluar setelah kencing atau setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan, misalnya berolahraga berat. Wadi adalah najis berdasarkan kesepakatan para ulama sehingga dia wajib untuk dicuci. Dia juga merupakan pembatal wudhu sebagaimana kencing dan madzi.&lt;br /&gt;3.    Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.&lt;br /&gt;4.    Mani: Cairan tebal yang baunya seperti adonan tepung, keluar dengan terpancar sehingga terasa keluarnya, keluar ketika jima’ atau ihtilam (mimpi jima’) atau onani -wal ‘iyadzu billah-, dan tubuh akan terasa lelah setelah mengeluarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung kencing dan wadi sudah jelas kapan waktu keluarnya sehingga mudah dikenali, maka berikut kesimpulan perbedaan antara mani dan madzi:&lt;br /&gt;a.    Madzi adalah najis berdasarkan ijma’, sementara mani adalah suci menurut pendapat yang paling kuat.&lt;br /&gt;b.    Madzi adalah hadats ashghar yang cukup dihilangkan dengan wudhu, sementara mani adalah hadats akbar yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub.&lt;br /&gt;c.    Cairan madzi lebih tipis dibandingkan mani.&lt;br /&gt;d.    Mani berbau, sementara madzi tidak (yakni baunya normal).&lt;br /&gt;e.    Mani keluarnya terpancar, berbeda halnya dengan madzi. Allah Ta’ala berfirman tentang manusia, “Dia diciptakan dari air yang terpencar.” (QS. Ath-Thariq: 6)&lt;br /&gt;f.    Mani terasa keluarnya, sementara keluarnya madzi kadang terasa dan kadang tidak terasa.&lt;br /&gt;g.    Waktu keluar antara keduanyapun berbeda sebagaimana di atas.&lt;br /&gt;h.    Tubuh akan melemah atau lelah setelah keluarnya mani, dan tidak demikian jika yang keluar adalah madzi.&lt;br /&gt;Karenanya jika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan mendapatkan ada cairan di celananya, maka hendaknya dia perhatikan ciri-ciri cairan tersebut, berdasarkan keterangan di atas. Jika dia mani maka silakan dia mandi, tapi jika hanya madzi maka hendaknya dia cukup mencuci kemaluannya dan berwudhu. Berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang orang yang mengeluarkan madzi:&lt;br /&gt;اِغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ&lt;br /&gt;“Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah kamu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Update: Anas bin Malik -radhiallahu anhu- berkata:&lt;br /&gt;أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ حَدَّثَتْ أَنَّهَا سَأَلَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَرْأَةِ تَرَى فِي مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ. فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ. قَالَتْ: وَهَلْ يَكُونُ هَذَا؟ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ, فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ؟! إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا أَوْ سَبَقَ يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ&lt;br /&gt;“Bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi." Ummu Sulaim berkata, "Maka aku menjadi malu karenanya". Ummu Sulaim kembali bertanya, "Apakah keluarnya mani memungkinkan pada perempuan?" Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Manapun mani dari salah seorang mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya." (HR. Muslim no. 469)&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi  berkata dalam Syarh Muslim (3/222), "Hadits ini merupakan kaidah yang sangat agung dalam menjelaskan bentuk dan sifat mani, dan apa yang tersebut di sini itulah sifatnya di dalam keadaan biasa dan normal. Para ulama menyatakan: Dalam keadaan sehat, mani lelaki itu berwarna putih pekat dan memancar sedikit demi sedikit di saat keluar. Biasa keluar bila dikuasai dengan syahwat dan sangat nikmat saat keluarnya. Setelah keluar dia akan merasakan lemas dan akan mencium bau seperti bau mayang kurma, yaitu seperti bau adunan tepung.&lt;br /&gt;Warna mani bisa berubah disebabkan beberapa hal di antaranya: Sedang sakit, maninya akan berubah cair dan kuning, atau kantung testis melemah sehingga mani keluar tanpa dipacu oleh syahwat, atau karena terlalu sering bersenggama sehingga warna mani berubah merah seperti air perahan daging dan kadangkala yang keluar adalah darah.”]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;1.    Mandi junub hanya diwajibkan saat ihtilam (mimpi jima’) ketika ada cairan yang keluar. Adapun jika dia mimpi tapi tidak ada cairan yang keluar maka dia tidak wajib mandi. Berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri secara marfu’:&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya air itu hanya ada dari air.” (HR. Muslim no. 343)&lt;br /&gt;Maksudnya: Air (untuk mandi) itu hanya diwajibkan ketika keluarnya air (mani).&lt;br /&gt;2.    Mayoritas ulama mempersyaratkan wajibnya mandi dengan adanya syahwat ketika keluarnya mani -dalam keadaan terjaga. Artinya jika mani keluar tanpa disertai dengan syahwat -misalnya karena sakit atau cuaca yang terlampau dingin atau yang semacamnya- maka mayoritas ulama tidak mewajibkan mandi junub darinya. Berbeda halnya dengan Imam Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm yang keduanya mewajibkan mandi junub secara mutlak bagi yang keluar mani, baik disertai syahwat maupun tidak. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;Demikian sekilas hukum dalam masalah ini, insya Allah pembahasan selengkapnya akan kami bawakan pada tempatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-4171195613705933867?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/4171195613705933867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/perbedaan-air-mani-madzi-kencing-dan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4171195613705933867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/4171195613705933867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/perbedaan-air-mani-madzi-kencing-dan.html' title='Perbedaan Air Mani, Madzi, Kencing, dan Wadi'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-8300045045382901500</id><published>2011-02-28T16:14:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T16:44:48.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat</title><content type='html'>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang yang hendak shalat untuk berhias diri sebagaimana dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) masjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’rof: 31). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hendak shalat diperintahkan untuk berhias diri. Tidak seperti halnya sebagian orang yang ketika shalat malah menggunakan pakaian tidur atau pakaian kerjanya (yang penuh kotor) dan tidak berhias diri kala itu. Ingatlah bahwasanya Allah itu jamiil (indah) dan menyukai yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menganggap bahwa batasan minimal berhias diri (saat shalat) yang dimaksudkan adalah menutup aurat[1]. Oleh karena itu, para ulama biasa menyebutkan bahwa menutup aurat merupakan salah satu syarat sah shalat. Shalat jadi tidak sah karena aurat terbuka. Konsekuensi dari pernyataan wajibnya menutup aurat yaitu yang penting tertutup meskipun pakaian yang dikenakan ketat atau membentuk lekuk tubuh, dan ketika itu shalatnya tetap sah. Demikianlah yang jadi pegangan para ulama madzhab dan ulama besar lainnya. Berikut kami nukilkan pendapat-pendapat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Hanafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abidin rahimahullah dalam catatan kakinya (hasyiyah-nya) terhadap kitab Ad Darul Mukhtar mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( ولا يضر التصاقه ) أي : بالألية مثلا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mengapa memakai pakaian yang ketat yang menampakkan bentuk bokong, misalnya.” Dalam Syarh Al Maniyyah disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما لو كان غليظا لا يرى منه لون البشرة إلا أنه التصق بالعضو وتشكل بشكله فصار شكل العضو مرئيا ، فينبغي أن لا يمنع جواز الصلاة ، لحصول الستر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun jika pakaian yang dikenakan itu tebal dan tidak tampak warna kulit, namun pakaian tersebut ketat dan menampakkan bentuk anggota tubuh, maka seperti ini janganlah dilarang untuk shalat karena pakaian tersebut sudah menutupi aurat.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Syafi’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi rahimahullah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلو ستر اللون ووصف حجم البشرة كالركبة والألية ونحوها صحت الصلاة فيه لوجود الستر ، وحكي الدارمي وصاحب البيان وجهاً أنه لا يصح إذا وصف الحجم ، وهو غلط ظاهر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika pakaian yang dikenakan telah menutupi warna kulit dan bentuk lekuk tubuh seperti bentuk paha atau bokong dan semacamnya masih tampak, maka shalatnya tetap sah karena aurat sudah tertutup. Sedangkan Ad Darimi dan penulis kitab Al Bayan memiliki pendapat lain, bahwa dalam kondisi demikian shalatnya tidak sah karena menampakkan bentuk lekuk tubuh. Namun pernyataan ini jelas keliru.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Maliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah kitab fiqh Maliki, Al Fawakih Ad Dawani disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( وَيُجْزِئُ الرَّجُلَ الصَّلاةُ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ ) وَيُشْتَرَطُ فِيهِ عَلَى جِهَةِ النَّدْبِ كَوْنُهُ كَثِيفًا بِحَيْثُ لا يَصِفُ وَلا يَشِفُّ ، وَإِلا كُرِهَ وَكَوْنُهُ سَاتِرًا لِجَمِيعِ جَسَدِهِ . فَإِنْ سَتَرَ الْعَوْرَةَ الْمُغَلَّظَةَ فَقَطْ أَوْ كَانَ مِمَّا يَصِفُ أَيْ يُحَدِّدُ الْعَوْرَةَ . . . كُرِهَتْ الصَّلاةُ فِيهِ مَعَ الإِعَادَةِ فِي الْوَقْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibolehkan bagi seseorang shalat dengan satu pakaian. Disyaratkan di dalamnya dengan maksud disunnahkan, yaitu pakaiannya hendaknya tebal, tidak menampakkan bentuk lekuk tubuh, dan tidak pula tipis. Jika tidak demikian, maka hal itu dimakruhkan. Jadi hendaknya seluruh aurat tertutup. Jika aurat tertutup dengan sesuatu yang tebal saja atau menampakkan bentuk lekuk tubuh …, shalat dalam keadaan seperti itu dimakruhkan dan shalatnya hendaknya diulangi ketika itu.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkataan ini menunjukkan bahwa shalat dalam keadaan pakaian yang ketat (yang membentuk lekuk tubuh) dianggap makruh dan bukan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Hambali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Bahuti rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا يعتبر ان لا يصف حجم العضو لأنه لا يمكن التحرز عنه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak teranggap pernyataan tidak membentuk lekuk tubuh karena ini adalah suatu hal yang sulit dihindari.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ كَانَ يَسْتُرُ لَوْنَهَا ، وَيَصِفُ الْخِلْقَةَ ، جَازَتْ الصَّلَاةُ ؛ لِأَنَّ هَذَا لَا يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ مِنْهُ ، وَإِنْ كَانَ السَّاتِرُ صَفِيقًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika pakaian tersebut sudah menutupi warna kulit secara sempurna, namun menampakkan bentuk lekuk tubuh (alias ketat, pen), shalatnya tetap sah karena seperti ini sulit dihindari walaupun dengan pakaian yang sempit asalkan menutupi aurat.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pendapat para ulama madzhab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ulama Besar Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Sabiq rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الواجب من الثياب ما يستر العورة وإن كان الساتر ضيقا يحدد العورة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakaian yang wajib dikenakan (ketika shalat) adalah yang menutupi aurat walaupun dengan pakaian yang sempit yang menampakkan bentuk lekuk tubuh.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah berpendapat bahwa orang yang berpakaian ketat saat shalat, shalatnya tetap sah namun ia berdosa. Beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الثياب الضيقة التي تصف أعضاء الجسم وتصف جسم المرأة وعجيزتها وتقاطيع أعضائها لا يجوز لبسها ، والثياب الضيقة لا يجوز لبسها للرجال ولا للنساء ، ولكن النساء أشدّ ؛ لأن الفتنة بهن أشدّ . أما الصلاة في حد ذاتها ؛ إذا صلى الإنسان وعورته مستورة بهذا اللباس ؛ فصلاته في حد ذاتها صحيحة ؛ لوجود ستر العورة ، لكن يأثم من صلى بلباس ضيق ؛ لأنه قد يخل بشيء من شرائع الصلاة لضيق اللباس ، هذا من ناحية ، ومن ناحية ثانية : يكون مدعاة للافتتان وصرف الأنظار إليه ، ولا سيما المرأة ، فيجب عليها أن تستتر بثوب وافٍ واسعٍ ؛ يسترها ، ولا يصف شيئًا من أعضاء جسمها ، ولا يلفت الأنظار إليها ، ولا يكون ثوبًا خفيفًا أو شفافًا ، وإنما يكون ثوبًا ساترًا يستر المرأة سترًا كاملاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakaian ketat yang masih menampakkan bentuk lekuk tubuh termasuk pada wanita di mana pakaian tersebut tipis dan terpotong pada beberapa bagian, seperti ini tidak boleh dikenakan. Pakaian semacam ini tidak boleh dikenakan pada laki-laki maupun pada wanita, dan pada wanita larangannya lebih keras dikarenakan godaan pada mereka yang lebih dahsyat. Adapun keabsahan shalatnya tergantung bagaimana pakaiannya. Jika seseorang shalat dan auratnya tertutup dengan pakaian tersebut, maka shalatnya dalam keadaan seperti ini sah karena sudah menutupi aurat. Akan tetapi ia berdosa jika shalat dengan pakaian ketat semacam itu. Alasannya karena ia telah meninggalkan perkara yang disyari’atkan dalam shalat. Alasan lainnya, berpakaian semacam ini dapat memalingkan pandangan orang lain padanya, lebih-lebih lagi pada wanita. Maka hendaklah berpakaian dengan pakaian longgar dan tidak ketat. Janganlah sampai menampakkan bentuk lekuk tubuh sehingga dapat memalingkan pandangan orang lain padanya. Jangan pula memakai pakaian yang tipis. Hendaklah berpakaian yang menutupi aurat dan pada wanita berpakaian dengan menutupi auratnya secara sempurna.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nukilan-nukilan di atas bukan berarti kami ingin melegalkan pakaian ketat dalam shalat. Pakaian ketat sudah sepatutnya dijauhi ketika bermunajat pada Allah dalam shalat. Karena ini sama saja menafikan perintah untuk berhias diri ketika shalat. Intinya, maksud bahasan di atas adalah apakah shalat dengan pakaian ketat sah ataukah tidak?[9]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu Ta’ala a’lam. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa billahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finished on 6th Rabi’ul Awwal 1432 H (09/02/2011) at Panggang-GK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-8300045045382901500?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/8300045045382901500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/hukum-memakai-celana-ketat-dalam-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8300045045382901500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8300045045382901500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/hukum-memakai-celana-ketat-dalam-shalat.html' title='Hukum Memakai Celana Ketat dalam Shalat'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-8931847074403207705</id><published>2011-02-23T22:40:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T23:25:43.530-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Firqah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bid&apos;ah'/><title type='text'>Kedustaan Pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ssdt3marKXE/TWX-3Ztf9II/AAAAAAAAAVY/wxtXQytgu-o/s1600/fg.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ssdt3marKXE/TWX-3Ztf9II/AAAAAAAAAVY/wxtXQytgu-o/s200/fg.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577143941316211842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, alhamdulillahi wa kafa… was sholatu was salamu ala rusulihil musthofa… wa ala alihi wa shohbihi wa maniktafa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini diangkat dari Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahlil, karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, cetakan pertama, tahun 2005, dari percetakan Darul Imam al-Mujaddid, Mesir. Meski hanya satu refensi yang kami jadikan pegangan, namun buku yang dikarang oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir ini merupakan buku yang istimewa. Beliau, yang berkebangsaan Pakistan, sangat menguasai dan memahami permasalahan tentang Ahmadiyah sebagaimana tertulis dengan bahasa aslinya, yaitu bahasa Urdu. Rujukan beliau banyak bertumpu pada karya-karya asli Jemaat Ahmadiyah, baik yang dikarang oleh Mirza Ghulam Ahmad atau para penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Mirza Ghulam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan, namaku Ghulam Ahmad. Ayahku Ghulam Murtadha (bin Atha’ Muhammad). Bangsaku Mongol. (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam kesempatan lain, ia mengatakan: “Keluargaku dari Mongol… Tapi berdasarkan firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti pemberitaan yang datang dari Allah Ta’ala”. (Hasyiah Al-Arbain, no. 2 hal. 17, karya Ghulam Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga pernah berkata: “Aku membaca beberapa tulisan ayah dan kakek-kakekku, kalau mereka berasal dari suku Mongol, tetapi Allah mewahyukan kepadaku, bahwa keluargaku dari bangsa Persia.” (Dhamimah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 77, karya Ghulam Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain, ia  juga pernah mengatakan: “…. karena sesungguhnya aku adalah keturunan asli dari Cina”  (Haqiqotul Wahyi matnan wa hasyiah, hal: 200, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan Fathimah r.a., putri Muhammad (Tuhfah Kolart, hal. 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, banyak versi tentang asal-usul Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari pengakuannya sendiri. Maha Benar Allah dengan firman-Nya (yang artinya): “Kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Qs. An-Nisa: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia menceritakan tentang ayahnya: “Ayahku mempunyai kedudukan di kantor pemerintahan. Dia termasuk orang yang dipercaya pemerintah Inggris. Dia pernah membantu pemerintah untuk memberontak penjajah Inggris dengan memberikan bantuan pasukan dan kuda. Namun sesudah itu, keluargaku mengalami krisis dan kemunduran, sehingga menjadi petani yang melarat.”[1] (Tuhfah Qaishariyah, hal. 16, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keluarga yang tidak jelas garis keturunan lagi melarat, Ghulam Ahmad dilahirkan. Dia berkisah: “Aku dilahirkan pada tahun 1839M atau tahun 1840M di akhir masa Sikh di Punjab.” (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Kecil Mirza Ghulam Ahmad dan Pendidikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mencapai usia tamyiz, ia mulai belajar sharaf, nahwu dan beberapa kitab berbahasa Arab, bahasa Persia dan ilmu pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata: “Aku belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Persia dengan ustadz Fadhl Ilahi. Sedangkan sharaf dan nahwu serta ilmu pengobatan, aku pelajari dari ustadz Fadhl Ahmad.” Hanya saja, sesuai dengan keterangan Mahmud Ahmad, salah seorang anaknya di Koran Al-Fadhl (5 Februari 1929), milik kelompok mereka, sebagian guru yang mengajar Ghulam Ahmad adalah pecandu opium dan ganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga sempat mengenyam pembelajaran bahasa Inggris di sebuah madrasah khusus untuk pegawai pemerintah. Satu atau dua buku bahasa Inggris saja yang ia pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan masa kecil yang dijalani Mirza Ghulam Ahmad dengan model ini (baca: yang sangat dangkal) menampakkan pengaruhnya dalam tulisan dan ucapan-ucapannya. Kesalahan-kesalahannya tidak hanya terjadi pada masalah-masalah yang pelik, tetapi juga terlihat pada perkara-perkara yang sederhana. Misalnya, ia pernah berkata: “Sesungguhnya saat Rasulullah dilahirkan, beberapa hari kemudian ayahnya meninggal.” (Baigham Shulh, hal. 19, karya Ghulam Ahmad). Padahal ayah beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- meninggal dunia ketika beliau masih di dalam kandungan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kekeliruan lainnya dalam kitabnya, Ainul Ma’rifah, hal. 286, Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan, bahwa Rasulullah mempunyai sebelas anak dan semuanya meninggal. Padahal yang benar berjumlah enam orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, keberanian merupakan ciri khas orang-orang yang mulia (bangsawan). Tetapi orang yang mengaku sebagai “Al-Masih” ini tidak pernah masuk dalam peperangan, tidak belajar ilmu-ilmu keperwiraan, yang dahulu dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah kemuliaan dan sikap kesatria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit-Penyakit yang Dideritanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang penderitaan fisik (baca: penyakit) yang dialaminya sangat banyak. Tangan kanannya patah sehingga untuk mengangkat sebuah teko pun tidak mampu. (Sirah Al-Mahdi, 1/198).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah menderita penyakit TBC dan diobati selama kurang lebih enam bulan (Hayatu Ahmad, 1/79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga pernah mengakui ditimpa dua penyakit. Di bagian atas tubuh, yaitu kepala yang sering pusing dan dibagian bawah, yaitu kencing yang berlebihan. (Haqiqatul Wahyi, hal. 206, karya Ghulam Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusing kepalanya ini sering mengganggunya. Kadang menyebabkannya terjatuh sehingga pingsan. Oleh karena itu, ia sering tidak berpuasa pada bulan Ramadhan yang ia jumpai. (Sirah Al-Mahdi, 1/51 karya anaknya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengalami gangguan syaraf, ingatan buruk tidak tergambarkan. Dua matanya sangat lemah. Anaknya menceritakan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad pernah ingin berphoto bersama murid-muridnya. Pemotret memintanya untuk membuka matanya sedikit saja, agar gambar menjadi baik. Dia pun berusaha dengan susah payah, tetapi gagal. (Sirah Al-Mahdi, 2/77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam harian Al-Hakam, 31 Oktober 1901M, otaknya juga mengalami kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan Ketenaran dan Dakwahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India Nasrani, sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani dan Hindu. Kebanyakan kaum Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. Ghulam Ahmad berfikir, bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, maka pertama kali yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan kusyufat tipuan yang ia alami. Sehingga orang-orang awam menilainya sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu saja. Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud. (Majmu’ah I’lanat Ghulam Al-Qadiyani, 1/25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880M, dengan judul Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan karakter penulisnya. Cerita tentang alam ghaib yang berhasil ia ketahui, juga berisi karomah dan kusyufatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab volume berikutnya pun bermunculan. Namun, tatkala sampai kepada masyarakat, mereka keheranan, karena mendapat isi buku tersebut tidak seperti yang dikatakan penulis pertama kali, yaitu bantahan terhadap agama Hindu dan Nasrani, tetapi justru dipenuhi dengan cerita-cerita tentang karamah dan sanjungan terhadap kolonialis Iggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, masyarakat kemudian mengetahui, ternyata lelaki ini hanyalah seorang pendusta dan pencuri harta manusia. Buku yang telah diterbitkan hanya untuk mendapatkan popularitas dan memanfaatkan kaum Muslimin, menguras harta mereka, bukan untuk membela Islam. Apalagi setelah kaum Muslimin menemukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dalam buku yang ia terbitkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ulama yang mendapat informasi, bahwa lelaki itu, sebenarnya tidak mempunyai keinginan, kecuali untuk membuat sebuah toko semata. Andai ada orang lain yang mampu membayarnya dengan jumlah yang lebih besar, maka ia akan mendukungnya, meskipun dengan melakukan pelanggaran terhadap Islam. Dan memang seperti itulah yang dikatakan oleh para ulama. Sebab, pada waktu itu, penjajah Inggris membutuhkan orang yang dapat memporak-porandakan kekuatan kaum Muslimin. Sehingga sang penjajah ini mencari orang dari kalangan kaum Muslimin untuk diperalat. Tatkala sudah mendapatkannya, kolonial ini akan memanfaatkan semaksimal mungkin. Demikian yang terjadi dengan Mirza Ghulam Ahmad. Oleh karena itu, ia penuhi kitab volume ketiganya dengan pujian-pujian kepada kolonialis Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pengakuannya dalam volume tersebut, tatkala ia menghadapi penentangan dari kaum Muslimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyatakan, ada sebagian orang dari kalangan kaum Muslimin yang menulis kepadaku, mengapa engkau memuji penjajah Inggris dalam volume ketiga? Mengapa engkau berterima kasih kepada pemerintah Inggris? Sebagian kaum muslimin mencaci-maki dan mecelaku karena sanjungan ini. Hendaknya setiap orang mengetahui, bahwa aku tidak memuji pemerintah Inggris, kecuali berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. (Barahin Ahmadiyah, vol. 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, penjajah telah memanfaatkannya dengan memberikan segala yang berharga untuknya karena pengkhianatannya kepada agama dan umat Islam. Persis seperti ayahnya yang dahulu juga berkhianat, tetapi kepada negeri India dan penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1885M, ia memproklamirkan diri sebagai mujaddid dengan mendapat bantuan dan dukungan penuh dari penjajah. Enam tahun berikutnya, tahun 1891M, ia mengklaim diri sebagai Imam Mahdi. Pada tahun itu juga, ia mengaku sebagai Al-Masih. Dan klimaksnya pada tahun 1901M, ia mendeklarasikan statusnya sebagai nabi yang mandiri, dan lebih mulia dari seluruh pada nabi dan rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama dapat mendeteksi keinginannya sebelum ia mengaku sebagai nabi (palsu). Tetapi dengan segera ia mencoba menepisnya dengan berkata: “Aku juga beraqidah Ahlus Sunnah. Aku berkeyakinan Muhammad adalah penutup para nabi. Barangsiapa mengaku sebagai nabi, maka ia kafir, pendusta. Karena aku beriman bahwa risalah itu bermula dari Adam dan berakhir dengan kedatangan Rasulullah Muhammad.” (Pernyataan Ghulam Ahmad pada 12 Oktober 1891 yang terdapat dalam kitab Tabligh Risalah, 2/2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan bisikan dari penjajah ia mengatakan untuk mengecoh: “Aku bukan nabi, tetapi Allah menjadikannku orang yang diajak bicara (kalim), untuk memperbaharui agama Al-Musthafa (Muhammad)” (Mir-atu Kamalati Al-Islam, hal. 383)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lain darinya: “Aku bukan nabi yang menyerupai Muhamamad atau datang dengan ajaran yang baru. Justru yang ada dalam risalahku, aku adalah nabi yang mengikutinya (nabiyyun muttabi)” (Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan: “Demi Allah yang ruh-ku berada di genggaman-Nya, Dialah yang mengutusku dan menyebutku sebagai nabi…. Aku akan memperlihatkan kebenaran pengakuanku dengan mukjizat-mukjizat yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus ribu mukjizat.” (Tatimmah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan pernyataan-pernyataannya. Dia betul-betul berusaha mengecoh kaum Muslimin. Padahal sebelumnya, ia mengatakan: “Siapa saja yang mengklaim diri sebagai nabi setelah Muhammad, berarti ia saudara Musailamah Al-Kadzdzab, kafir lagi busuk.” (Anjam Atsim, hal. 28, karya Ghulam Ahmad). Dia juga mengatakan: “Kami melaknat orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah Muhammad.” (Tabligh Risalah, 26/2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga disebutkan, kitab yang ia janjikan berjumlah lima puluh jilid, tidak ia selesaikan kecuali lima jilid saja. Sehingga ketika ditanya oleh para donatur, ia menjawab: “Tidak ada bedanya antara angka lima dan lima puluh, kecuali pada nolnya saja.” (Muqaddimah Barahin Ahmadiyah, 5/7, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caci Maki Mirza Ghulam Ahmad Kepada Seterunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah mengatakan, melalui “wahyu” yang konon diterimanya, bahwa salah seorang seterunya akan mati pada waktu tertentu. Tetapi ternyata, seteru yang ia sebutkan tidak mati. Maka para ulama pun menyanggahnya dengan mengatakan: “Engkau katanya nabi, tidak berbicara kecuali dengan wahyu. Bagaimana mungkin janji Allah tidak tepat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi bantahan dari para ulama ini, Mirza Ghulam Ahmad bukannya memberi jawaban dengan bukti dan dalil, tetapi justru melontarkan cacian: “Orang-orang yang menentangku, mereka lebih najis dari babi.” (Najam Atsim, hal. 21, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacian-cacian lain yang keluar dari Mirza Ghulam Ahmad ini sudah sangat keterlaluan. Sebab orang-orang umum saja tidak akan sanggup mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang anak, Mahmud Ahmad bin Ghulam pernah mendengar ada orang yang mencaci orang lain dengan sebutan “hai anak haram”, maka ia (Mahmud Ahmad) mengatakan: “Orang seperti ini, pada masa Umar dihukum pidana pukul karena melakukan qadzaf (tuduhan zina). Tetapi sekarang, dapat di dengar seseorang mencela orang lain dengan celaan itu, namun mereka tidak bereaksi. Seolah-olah celaan ini tida ada artinya di mata mereka.” (Khutbah Al-Jum’ah, Mahmud Ahmad bin Ghulam, Koran Al-Fadhl, 13 Februari 1922M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ironisnya, ayahnya justru pernah mencela seorang ulama dengan ucapan “hai anak pelacur”. (Najim Atsim, hal. 228, karya Ghulam Ahmad). Mengacu kepada pernyataan Mahmud Ahmad, bukankah berarti Mirza Ghulam ini pantas untuk dihukum pukul? Dan ucapan itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi sangat sering dilontarkan ayahnya “sang mujaddid akhlak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, di dalam khutbahnya, ia pernah menyampaikan: “Itu adalah kitab. Akan dilihat oleh setiap muslim dengan penuh kecintaan dan sayang serta ia mendapatkan manfaat darinya. Dia akan menerima dan membenarkan dakwahku, kecuali keturunan-keturunan para pelacur yang telah Allah kunci hati mereka. Mereka tidak akan menerima.” (Mir’atu Kamalati Al-Islam, hal. 546, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah contoh akhlak Mirza Ghulam Ahmad. Semoga kita terlindung dari perbuatan tercela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Mirza Ghulam Ahmad Terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang celaka muncul di muka bumi karena mencela para rasul, tetapi tidak banyak yang sekaliber Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya, dalam mencela para rasul, “mencuri” kenabian. Allah berfirman: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah…” (Qs. Al-An’am: 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengklaim sebagai nabi dan rasul-Nya, seperti yang dilakukan oleh Musailamah dan Al-Aswad An-Ansi. Langkah berikutnya, ia mengaku sebagai orang yang paling utama dari dari seluruh nabi dan rasul. Sebagaimana ia menyatakan dirinya telah dianugerahi segala yang telah diberikan kepada seluruh para nabi (Durr Tsamin, hal. 287-288, karya Ghulam Ahmad). Dalam pernyataan yang lain, ia mengatakan, sesungguhnya Nabi (Muhammad) mempunyai tiga ribu mukjizat saja. “Sedangkan aku memiliki mukzijat lebih dari satu juta jenis”, kata Ghulam Ahmad (Tadzkirah Asy-Syahadatain, hal. 72, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain tempat, katanya, Islam muncul bagaikan perjalanan hilal (bulan, dari kecil), dan kemudian ditaqdirkan mencapai kesempurnaannya di abad ini menjadi badr (bulan pernama), dengan dalil (menurutnya)… (Khutbah Al-Hamiyah, hal. 184, karya Ghulam Ahmad), sebuah tafsiran yang kental nuansa tahrifnya (penyelewengan), layaknya perlakuan kaum Yahudi terhadap Taurat. Sebuah makna yang tidak dikehendaki Allah, tidak pernah disinggung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun terbetik di benak salah seorang sahabat, para imam dan ulama tafsir. Demikian salah satu trik untuk merendahkan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang juru dakwah mereka, juga tidak ketinggalan ikut membeo merendahkan martabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan: “Sesungguhnya Muhammad pernah sekali datang kepada kami. Pada waktu itu, beliau lebih agung dari bi’tsah yang pertama. Siapa saja yang ingin melihat Muhammad dengan potretnya yang sempurna, hendaknya ia memandang Ghulam Ahmad di Qadian.” (Koran milik Qadiyaniah, Badr, 25 Oktober 1902M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Sang Nabi Palsu Terhadap Beberapa Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirza Ghulam Ahmad pernah berkomentar tentang Nabi Isa: “Sesungguhnya Isa tidak mampu mengatakan dirinya sebagai orang shalih. Sebab orang-orang mengetahui kalau dia suka minum-minuman keras dan perilakunya tidak baik.” (Hasyiyah Sitt Bahin, hal. 172, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar miring lainnya, menurutnya, Isa cenderung menyukai para pelacur. Karenanya nenek-neneknya adalah termasuk pelacur (Dhamimah Anjam Atsim, Hasyiyah, hal. 7, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski perkataan yang keluar dari mulutnya sangat kotor, tetapi ternyata Mirza Ghulam Ahmad “bersabda” dalam hadits palsunya: “Sesungguhnya celaan, makian, bukan perangai orang-orang shidiq. Dan orang yang beriman, bukanlah orang yang suka melaknat.” (Izalatul Auham, hal. 66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacian Mirza Ghulam Ahmad Kepada Para Sahabat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat pun tidak lepas dari cercaan yang dilancarkan Ghulam Ahmad. Termasuk penghulu para remaja/pemuda di surga kelak, yaitu Hasan, Husain, juga Abu Bakar dan Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirza Ghulam Ahmad ini mengataan: “Orang-orang mengatakan aku lebih utama dari Hasan dan Husain. Maka aku jawab, Itu benar. Aku lebih utama dari mereka berdua. Dan Allah akan menunjukkan keutamaan ini.” (I’jaz Ahmadi, hal. 58, karya Ghulam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang anaknya dengan congkak berkata: “Dimana kedudukan Abu Bakar dan Umar, (mereka berdua tidak ada apa-apanya) bila dibandingkan dengan kedudukan Mirza Ghulam Ahmad? Mereka berdua saja tidak pantas untuk membawa sandalnya.” (Kitab Al-Mahdi, Pasal 304, hal. 57, karya Muhammad Husain Al-Qadiyani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Abu Hurairah, Ghulam Ahmad mengatakan: “Abu Hurairah orang yang dungu. Dia tidak memiliki pemahaman yang lurus.” (I’jaz Ahmadi, hal. 140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan! Padahal ia sendirilah orang yang dungu, lagi bodoh. Lihat pengakuannya: “Sesungguhnya ingatanku sangat buruk. Aku lupa orang-orang yang sering menemuiku.” (Maktubat Ahmadiyah, hal. 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Mirza Ghulam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan sepak terjangnya yang kian menjadi, maka para ulama saat itu berusaha menasehati Mirza Ghulam Ahmad, agar ia bertaubat dan berhenti menyebarkan dakwahnya yang sesat. Nasihat para ulama ternyata tidak membuahkan hasil. Dia tetap bersikukuh tidak memperdulikan. Akhirnya, para ulama sepakat mengeluarkan fatwa tentang kekufurannya. Di antara para ulama yang sangat kuat menentang dakwah Mirza Ghulam Ahmad, adalah Syaikh Tsanaullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirza Ghulam Ahmad sangat terusik dengan usaha para ulama yang mengingatkannya. Akhirnya dia mengirimkan surat kepada Syaikh Tsanaullah. Dia meminta agar suratnya ini dimuat dan disebarkan di majalah milik Syaikh Tsanaullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara isi suratnya tersebut, Mirza Ghulam Ahmad tidak menerima gelar pendusta, dajjal yang diarahkan kepadanya dari para ulama masa itu. Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya, tetap sebagai seorang nabi, dan ia menyatakan bahwa para ulama itulah yang pendusta dan penghambat dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang nabi palsu ini menutup suratnya dengan do’a sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Allah Azza Wajall… Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di hati…  Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Allah! Dan jika saya benar, sedangkan Tsanaullah berada di atas kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti tha’un, kolera atau penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bunyi do’a Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah do’a mubahalah. Dan benarlah, do’a yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Yakni 13 bulan lebih sepuluh hari sejak do’anya itu, yaitu pada tanggal 26 bulan Mei 1908M, Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh Allah Azza wa Jalla dengan penyakit kolera, yang dia harapkan menimpa Syaikh Tsanaullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir hayatnya, saat meregang nyawa, dia sempat mengatakan kepada mertuanya: “Aku terkena penyakit kolera.” Dan setelah itu, omongannya tidak jelas lagi sampai akhirnya meninggal. Sementara itu, Syaikh Tsanaullah masih hidup sekitar empat puluh tahun setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kematian telah menjemput Mirza Ghulam Ahmad, tetapi bukan berarti ajarannya juga ikut mati. Tapi malah kian tersebar di tengah masyarakat. Karenanya, sebagai seorang muslim, hendaklah lebih berhati-hati, agar tidak terjerat dengan berbagai ajaran sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah. Perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai sebuah kebenaran, dan berilah kami kekuatan untuk melakukannya. Ya, Allah. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Oleh: Muhammad Ashim&lt;br /&gt;    * Sumber Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahlil, karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, cetakan pertama, tahun 2005, dari percetakan Darul Imam al-Mujaddid, Mesir.&lt;br /&gt;    * Artikel adalah ringkasan dari kitab diatas, dari hal: 93-115. Artikel diambil dari almanhaj.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sebagai perbandingan kunjungi situs berbahasa arab, khusus masalah Ahmadiyah: http://www.anti-ahmadiyya.org/site/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=123&lt;br /&gt;    * Yang ingin memiliki kitab rujukan aslinya, silahkan men-download-nya melalui link berikut: http://www.anti-ahmadiyya.org/site/modules.php?name=myBooks2&amp;op=open&amp;cat=10&amp;book=454&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, penulis kitab Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahtil mengatakan: “Hal itu kemungkinan lantaran pengkhianatannya kepada penduduk pribumi dan kerjasamanya dengan kekuatan kolonialis yang aniaya lagi kafir. (hal. 103) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disalin dari http://addariny.wordpress.com/2009/07/09/sejarah-keramat-sang-mirza-ghulam-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-8931847074403207705?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/8931847074403207705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/tentang-pendiri-ahmadiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8931847074403207705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/8931847074403207705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/tentang-pendiri-ahmadiyah.html' title='Kedustaan Pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ssdt3marKXE/TWX-3Ztf9II/AAAAAAAAAVY/wxtXQytgu-o/s72-c/fg.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-2000157573623617861</id><published>2011-02-17T23:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T23:53:09.918-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Subhanallah, Tiga Tahun Sudah Menghafal AlQur'an</title><content type='html'>&lt;object width="560" height="349"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube-nocookie.com/v/UYc4cEfbp6Q?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube-nocookie.com/v/UYc4cEfbp6Q?fs=1&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="349"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;.&lt;br /&gt;Putera Aljazair, Abdurrahman Farih, dalam usia 3 tahun sudah menghafalkan Al Quran.&lt;br /&gt;Video ini sebagai motivasi bagi Anda yang mendamba putera dan puteri sholih, sholihah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-2000157573623617861?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/2000157573623617861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/subhanallah-tiga-tahun-sudah-menghafal_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2000157573623617861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2000157573623617861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/subhanallah-tiga-tahun-sudah-menghafal_17.html' title='Subhanallah, Tiga Tahun Sudah Menghafal AlQur&apos;an'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-2100416645324821977</id><published>2011-02-17T22:40:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T22:45:42.789-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>JILBAB, PAKAIAN WANITA ISLAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NZsj_oPLnro/TV4VjEJ44AI/AAAAAAAAAVQ/yMNvJh6VfNQ/s1600/jl.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NZsj_oPLnro/TV4VjEJ44AI/AAAAAAAAAVQ/yMNvJh6VfNQ/s200/jl.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5574917080886075394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di antara kewajiban orang Islam adalah berpakaian sebagaimana diperintahkan oleh Alloh dan RosulNya. Alloh Yang Maha Kuasa telah memerintahkan wanita beriman untuk mengulurkan jilbab mereka pada tubuhnya. Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا&lt;br /&gt;Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini kita mengetahui bahwa wanita wajib mengenakan jilbab. Jilbab yaitu: pakaian luar wanita semacam mukena/rukuh, yang dikenakan dari atas menutupi sebagian besar tubuhnya. Adapun sifat-sifat jilbab/pakaian wanita adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup seluruh badan, kecuali bagian yang boleh dibuka.&lt;br /&gt;Alloh berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ&lt;br /&gt;Dan janganlah mereka (wanita-wanita beriman) menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka.(QS. 24:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh melarang wanita menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak. Tentang perhiasan yang biasa nampak, maka ada dua penafsiran ulama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pakaian yang dikenakan. Ini pendapat Ibnu Mas’ud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Wajah dan dua telapak tangan. Ini merupakan pendapat sahabat: Aisyah, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas. Juga merupakan pendapat Ibnu Jarir, Al-Baihaqi, Adz-Dzahabi, Al-Qurthubi, Ibnul Qoththon, Al-Albani. Dan ini pendapat yang lebih kuat, karena merupakan amal yang berlaku pada banyak wanita di zaman Nabi dan setelahnya. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal: 41, 51, 52, 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian wanita muslimah wajib menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup wajah wanita tidaklah wajib, namun bukanlah perbuatan yang berlebihan, bahkan hal itu merupakan keutamaan, karena dilakukan oleh istri-istri Nabi dan sebagian sahabat wanita di zaman itu dan setelahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bukan merupakan perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan perintah berjilbab adalah untuk menutupi perhiasan. Kalau jilbab/pakaian itu sendiri dihias-hiasi, dengan renda, bros, aksesoris, warna-warni yang menarik pandangan orang, maka ini termasuk “tabarruj” yang terlarang. Alloh berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ&lt;br /&gt;Dan janganlah para wanita mukminat itu menampakkan perhiasan mereka. (QS. 24:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu tabarruj. (QS. 33:33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabarruj artinya: perbuatan wanita yang menampakkan perhiasannya, keindahan-keindahannya, dan segala yang wajib ditutupi, yang berupa perkara-perkara yang mendorong syahwat laki-laki”. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah jika keluar rumah, hendaklah wanita memakai pakaian yang berwarna gelap, tidak menyala dan berwarna-warni sehingga akan menarik pandangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tebal, tidak menampakkan warna kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jika kainnya tipis, maka berarti tidak menutup aurot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا&lt;br /&gt;Dua jenis (manusia) di antara penduduk neraka, sekarang aku belum melihat mereka: Sekelompok laki-laki yang membawa cemeti-cemeti, seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya. Wanita-wanita yang berpakaian, (tetapi) mereka telanjang. Mereka menjauhkan orang lain (dari kebenaran), mereka (sendiri juga) menjauhi (kebenaran). Kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Para wanita ini tidak akan masuk sorga dan tidak akan mendapatkan bau sorga. Padahal baunya akan didapati dari jarak yang sangat jauh. (HR. Muslim, no: 2128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penafsiran ulama terhadap sabda Nabi: “wanita-wanita yang berpakaian, (tetapi) telanjang”, yaitu: mereka menutupi sebagian tubuhnya, tetapi menampakkan sebagian lainnya untuk memamerkan kecantikan. Atau mereka mengenakan pakaian yang tipis yang memperlihatkan warna kulitnya. Sehingga mereka itu berpakaian seperti lahiriyahnya, namun mereka telanjang karena tidak menutupi aurot..Oleh karena itulah Ibnu Hajar Al-Haitami menghitung perbuatan wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna kulitnya termasuk dosa besar! (Az-Zawajir 1/127, 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ mengatakan: “Wajib menutupi aurot dengan apa yang tidak menampakkan warna kulit…” (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 3/170. Dinukil dari hal: (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:129, karya Syeikh Al-Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Longgar, tidak ketat yang membentuk anggota tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid berkata: “Rasulullah memberiku pakaian tebal buatan Qibthi (Mesir) di antara yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Maka aku pakaikan kepada istriku. Kemudian beliau bertanya: “Kenapa engkau tidak memakai pakaian buatan Qibthi itu?” Aku menjawab: “Aku pakaikan kepada istriku”. Maka beliau bersabda: “Perintahlah dia agar memakai pakaian rangkap di dalamnya, karena aku khawatir pakaian itu membentuk ukuran tulangnya”. (HR. Dhiya’ Al-Maqdisi; Ahmad; Al-Baihaqi; dihasankan oleh Al-Albani di dalam131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menampakkan bentuk anggota tubuhnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh wanita-wanita jahiliyah di zaman ini. Kaos ketat, celana jins ketat, berpakaian tetapi telanjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak diberi wewangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً&lt;br /&gt;Setiap mata pasti berzina. Dan jika wanita memakai minyak wangi lalu dia melewati majlis (laki-laki) maka dia ini dan itu, yakni pezina. (HR. Tirmidzi, no: 2786; Abu Dawud, no: 4173; dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Huroiroh berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ&lt;br /&gt;Rosululloh melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud, no: 4098; Ibnu Majah; Ahmad; dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Al-Haitami memasukkan ini dalam dosa-dosa besar! Dengan ini jelas bahwa wanita tidak boleh memakai pakaian yang khusus bagi laki-laki, seperti jaket, celana panjang, sorban, peci, topi, dsb. ((Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kaedah yang membedakan antara pakaian laki-laki dan wanita adalah apa yang pantas dan diperintahkan agama kepada laki-laki dan wanita. Wanita diperintahkan dengan menutupi diri, dan tidak pamer keindahan. (Lihat: (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum agama Islam melarang umatnya menyerupai orang-orang kafir dalam segala perkara yang merupakan ciri khusus mereka. Termasuk dalam masalah pakaian. Maka wanita beriman terlarang meniru dan menyerupai pakaian wanita-wanita kafir atau fasik. Nabi Muhammad bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;Barangsiapa menyerupai satu kaum, maka dia termasuk mereka. (HR. Abu Dawud, no: 4031; dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui hal ini, perhatikanlah yang ada pada kebanyakan wanita muslimat! Mereka banyak meniru mode-mode baju-baju wanita-wanita kafir dan fasik. Alangkah jauhnya mereka dari tuntunan agama yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bukan pakaian syuhroh (yang menjadikan terkenal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ&lt;br /&gt;Barangsiapa memakai pakaian syuhroh, Alloh akan memakaikan padanya pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian dia dibakar padanya di dalam neraka. (HR. Abu Dawud, no: 4030; Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Atsir berkata: “Yang dimaksudkan adalah bahwa pakaiannya menjadi terkenal di kalangan orang banyak, karena warnamya berbeda dengan warna-warna pakaian mereka, sehingga orang-orang mengangkat pandangan mereka kepadanya, dan dia berlagak dengan kebanggaan dan kesombongan”. (Dinukil dari Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Al-Albani berkata: “Pakaian syuhroh adalah setiap pakaian yang diniatkan agar terkenal pada manusia. Baik pakaian itu mahal/berharga, yang pemakainya mengenakannya untuk membanggakan dengan dunia dan perhiasannya, atau pakaian buruk/rendah yang pemakainya mengenakannya untuk menampakkan zuhud (menjauhi dunia) dan riya’. (Jilbab Mar’atil Muslimah, hal:213). Al-hamdulillah Roobil ‘Alamiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUJUKAN: Jilbab Mar’atil Muslimah, karya Syeikh Al-Albani, penerbit: Maktabah Al-Islamiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Muslim Atsari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-2100416645324821977?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/2100416645324821977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/jilbab-pakaian-wanita-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2100416645324821977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/2100416645324821977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/jilbab-pakaian-wanita-islam.html' title='JILBAB, PAKAIAN WANITA ISLAM'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NZsj_oPLnro/TV4VjEJ44AI/AAAAAAAAAVQ/yMNvJh6VfNQ/s72-c/jl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1860565071813142442</id><published>2011-02-07T19:53:00.000-08:00</published><updated>2011-02-07T20:08:43.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adab'/><title type='text'>Adab di Malam Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TVDBvGikdDI/AAAAAAAAAVI/m5dCAu-jeqY/s1600/cnta.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TVDBvGikdDI/AAAAAAAAAVI/m5dCAu-jeqY/s320/cnta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571165754010924082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.&lt;br /&gt;Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua...!’”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits dari Abu Waail.&lt;br /&gt;Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Suami boleh menggauli isterinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangi-lah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ [6] Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai...” [Al-Baqarah : 223]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh". [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya".[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Isterinya Kapan Waktu Saja&lt;br /&gt;• Apabila suami telah melepaskan hajat biologisnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit hingga isterinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Rafi' radhi-yallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu malam. Beliau mandi di rumah fulanah dan rumah fulanah. Abu Rafi' berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) isterinya kapan waktu saja yang ia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi isterinya. Hal ini berdasarkan riwayat bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian beliau mendatangi isterinya -yaitu Zainab radhiyallaahu ‘anha- yang sedang membuat adonan roti. Lalu beliau melakukan hajatnya (berjima’ dengan isterinya). Kemu-dian beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan. [11] Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Karena yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata : “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak agar segera mendatangi isterinya - atau budak perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya untuk meredakan syahwatnya juga agar jiwanya menjadi tenang.” [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ketahuilah saudara yang budiman, bahwasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadits tersebut berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” .[An-Nuur : 30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Buraidah, dari ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber-sabda kepada ‘Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan pandangan lainnya karena yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu”. [14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Haram menyetubuhi isteri pada duburnya dan haram menyetubuhi isteri ketika ia sedang haidh/ nifas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah [15] isteri pada waktu haidh; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” [Al-Baqarah : 222]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang menggauli isterinya yang sedang haidh, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dilaknat orang yang menyetubuhi isterinya pada duburnya.” [17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kaffarat bagi suami yang menggauli isterinya yang sedang haidh.&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya lalu menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum suci dari haidhnya, maka ia harus bershadaqah dengan setengah pound emas Inggris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendaklah ia bershadaqah dengan satu dinar atau setengah dinar.’”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan isterinya yang sedang haidh, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima'/ bersetubuh).” [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Apabila suami atau isteri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu' terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu' seperti wudhu' untuk shalat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.” [20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu') untuk shalat.” [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Suami isteri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami isteri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat yang bathil, karena di dalam sanadnya ada seorang pendusta. [22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Haram hukumnya menyebarkan rahasia rumah tangga dan hubungan suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap suami maupun isteri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami isteri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah.&lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahasia isterinya.” [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang shahih, disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami isteri). Perumpamaannya seperti syaitan laki-laki yang berjumpa dengan syaitan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan) dilihat oleh orang banyak…” [24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata, “Apa yang dilakukan sebagian wanita berupa membeberkan maslah rumah tangga dan kehidupan suami isteri kepada karib kerabat atau kawan adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang isteri menyebarkan rahasia rumah tangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : “Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [An-Nisaa' : 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia pasangannya". [25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]&lt;br /&gt;__________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)&lt;br /&gt;[2]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H.&lt;br /&gt;[3]. Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461).&lt;br /&gt;[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H.&lt;br /&gt;[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;[6]. Pelana adalah kata kiasan untuk isteri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi isteri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi isterinya berada di atas, yaitu menunggangi isterinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi isterinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209))&lt;br /&gt;[7]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291).&lt;br /&gt;[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini.&lt;br /&gt;[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[10]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa' (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108).&lt;br /&gt;[11]. Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu.&lt;br /&gt;[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471).&lt;br /&gt;[13]. Syarah Shahiih Muslim (IX/178).&lt;br /&gt;[14]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149).&lt;br /&gt;[15]. Jangan bercampur dengan isteri pada waktu haidh.&lt;br /&gt;[16]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa' (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.&lt;br /&gt;[17]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105).&lt;br /&gt;[18]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122)&lt;br /&gt;[19]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123).&lt;br /&gt;[20]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659).&lt;br /&gt;[21]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660).&lt;br /&gt;[22]. Lihat Adabuz Zifaf hal. 109.&lt;br /&gt;[23]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadits ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadits ini semakna dengan hadits-hadits lain yang shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami isteri.&lt;br /&gt;[24]. Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457).&lt;br /&gt;[25]. Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1860565071813142442?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1860565071813142442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/adab-di-malam-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1860565071813142442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1860565071813142442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/adab-di-malam-pertama.html' title='Adab di Malam Pertama'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TVDBvGikdDI/AAAAAAAAAVI/m5dCAu-jeqY/s72-c/cnta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-1270977195054627647</id><published>2011-02-05T17:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T17:26:24.620-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Nasihat Ulama' tentang Tragedi Mesir Saat ini</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TU34sq-Nz-I/AAAAAAAAAVA/JAUFUjmrGfs/s1600/kerusuhan_mesir_bontangkreatif_5_jpg.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TU34sq-Nz-I/AAAAAAAAAVA/JAUFUjmrGfs/s320/kerusuhan_mesir_bontangkreatif_5_jpg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570381760460345314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;disalin dari blog ustadz abu salma, http://abusalma.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah terjemahan transkrip ceramah asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Ali Hasan al-Halabî yang berkaitan dengan krisis yang terjadi di Mesir baru-baru ini (termasuk juga di Tunisia). Karena banyaknya faidah dan manfaat di dalamnya, maka saya turunkan terjemahannya dalam dua seri –insyâ Alloh-. Syaikh ‘Alî al-Halabî hafizhahullâhu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalâmu’alaikum Warohmatullâhu Wabarokâtuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh. Kami menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami memohon perlindungan dari keburukan jiwa dan kejelekan amal kami. Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa yang dileluasakan dalam kesesatan maka tiada seorangpun yang dapat memberikannya hidayah. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Alloh semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’d :&lt;br /&gt;Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kalâmullâh, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Sedangkan seburuk-buruk suatu urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap urusan (di dalam agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan tiap kebid’ahan itu adalah sesat, dan setiap kesesatan itu berada di neraka. Wa ba’d :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah riwayat dari sahabat yang mulia ‘Alî bin Abî Thâlib, yang berisi tentang wasiat yang agung yang disampaikan beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kumail bin Ziyâd. Wasiat beliau  tersebut berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النَّاسُ ثَلاثةٌ : فَعَالمٌ رَبَّانِيٌ ، وَمُتَّبِعٌ عَلى سَبِيْلِ نَجَاةٍ ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أتْبَاعِ كُلِّ نَاعِقٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia itu ada tiga macam : yaitu (1) seorang ‘âlim rabbânî, (2) seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan, dan (3) orang rendahan yang membebek setiap ocehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak akan keluar dari ketiga sifat tersebut, bagaimanapun dan dimanapun keadaannya. Yaitu, (1) sebagai seorang ‘âlim robbânî, yang dinisbatkan (nama ini) kepada Rabb yang Maha Agung Jalla Jalâluh, yang mendidik manusia di atas sifat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) atau sebagai seorang yang meneladani di atas jalan keselamatan.  Dia bukanlah seorang muqollid (pembebek), muta’ashshib (fanatik) maupun mutahazzib (sektarian). Dia hanya mengharapkan Alloh dan negeri akhirat saja. Dia menginginkan Alloh dan negeri akhirat karena kedua hal inilah jalan keselamatan itu. Adapun selain daripada ini adalah jalan yang menuju kepada kerugian yang nyata, menurut tingkatan penyelisihannya yang mengantarkan kepada kerugian, sedikit maupun banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Dan golongan ketiga yaitu orang rendahan yang mengikuti semua ocehan. Mereka tidak memiliki kaidah ilmiah maupun landasan yang syar’i, dan tidak pula metoda dan asas yang diperhatikan di dalam kerangka syariat islam. Mereka ini turut berteriak bersama setiap penyeru dan mengembara di setiap lembah. Mereka ini adalah orang rendahan, yang tidak digerakkan oleh ilmu dan tidak pula dimotivasi oleh syariat. Mereka hanya membebek setiap ocehan, berdasarkan mana yang ocehan dan teriakannya paling keras, dan berdasarkan mana yang paling banyak jumlah dan kuantitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang berakal dan memiliki hati nurani, pasti akan menolak jika dikategorikan sebagai golongan ketiga ini. Walaupun terkadang, di saat emosi lebih dominan dan luapan semangat revolusi sedang menggebu-gebu, acap kali mereka ini (secara tidak sadar) termasuk golongan ketiga ini, atau berada di antara (barisan) mereka atau bahkan berada di (barisan) yang terdepan dari mereka. Karena itu hendaknya mereka mengevaluasi diri mereka, dan memperhatikan tempat berpijak kedua kakinya, serta memperhatikan perubahan hatinya dan pergerakan lisannya. Agar tidak ada lagi pada dirinya dosa dan penyelewengan, berupa sikap ikut-ikutan belaka, fanatisme, kebodohan dan semangat yang meluap-luap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dia menolak untuk digolongkan kepada golongan ketiga ini, maka sesungguhnya hal ini lantaran Alloh menganugerahkan akal kepadanya, sehingga ia juga tahu bahwa dirinya tidak termasuk golongan pertama. Golongan pertama ini adalah para ulama robbâniyîn, yang umat ini wajib mencontoh mereka, bukan sebagai bentuk fanatik kepada mereka namun sebagai bentuk peneladan. Bukan pula sebagai bentuk sikap sektarianisme (tahazzub) namun sebagai bentuk sikap yang tsabat (mantap) dan istiqômah (konsisten) di atas syariat Alloh, yaitu di atas Kitâbullâh dan Sunnah Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ini bukanlah termasuk golongan pertama bukan pula ketiga. Namun mereka berupaya mengerahkan kesungguhan dan kemampuannya agar bisa menjadi golongan yang pertengahan diantara dua golongan tadi. Mereka bukanlah seorang yang ahli dan pantas untuk menyandang sebutan ‘âlim robbânî, dan dirinya juga enggan dan tidak suka jika dianggap seperti golongan orang rendahan, yang sungguh amat disayangkan, betapa banyak mereka ini di seluruh penjuru dan belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika ia ridha untuk digolongkan sebagai golongan pertengahan, yang mengikuti jalan keselamatan, lantas apakah status golongan pertengahan ini dapat dicapai hanya dengan sekedar angan-angan? Atau dicapai hanya dengan sekedar mimpi dan khayalan belaka? (Tidak), dia harus berupaya untuk bisa menjadi golongan pertengahan ini dengan mengerahkan segala daya upaya dan kesungguhan jiwa, bersabar di dalam menuntut ilmu dan konsisten di atas perintah Alloh, walaupun menyelinap masuk ke dalam dirinya rasa enggan terhadap beberapa hal, hanya saja ia tetap berjalan dan meniti di atas sebagian jalan, walaupun tidak di atas petunjuk dari Alloh, dan meskipun tidak berada di atas keitiqomahan di dalam menjaga perintah Alloh. Hendaknya yang seperti ini dapat mendorong dan menjaga jiwanya dari hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya dia selalu ingat perkataan seorang penyair yang mengingatkan dirinya sendiri dan selainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فهذا الحق ليس به خفاء *** فدعني من بنيات الطريق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kebenaran yang tidak ada padanya kesamaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan tertipu dengan banyaknya persimpangan jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini adalah termasuk persimpangan jalan yang berlika-liku dan berkelak-kelok, yang bengkok tidak lurus, yang terletak di atas kedua sisi jalan dan manhaj yang lurus, yang Alloh dan Rasul-Nya yang mulia –Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în- memerintahkan untuk mengikutinya. Jalan ini adalah jalan yang Alloh dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam perintahkan kepada umatnya, para pengikutnya, para sahabatnya dan saudara-saudaranya yang hidup setelah beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, agar mengikuti jalan keselamatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal ini membutuhkan kesungguhan jiwa, sebagaimana Alloh Ta’âlâ berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, maka benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.” (QS al-Ankabût : 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nabi yang mulia Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi ajma’în bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المجاهد من جاهد هواه في ذات لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang mujahid itu adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mujahid yang melawan hawa nafsu itu, wahai saudara-saudaraku, bukanlah dikatakan orang yang terus menerus melawan syahwatnya. Karena terkadang pada beberapa keadaan, dia harus berjihad melawan syubuhat. Dan jihad melawan syubuhat ini, adalah lebih utama dan lebih besar tingkatan dan derajatnya daripada jihad melawan syahwat. Lebih mudah bagimu berjihad melawan syahwatmu jika Alloh memberikanmu taufiq, namun tidaklah mudah berjihad melawan syubuhat yang datang menghampiri atau menyusup lalu menyesatkanmu, dan menjauhkanmu dari al-haq dan kebenaran. Ini adalah poin mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang hal ini dan hanya sekedar sebagai pengingat saja di malam hari yang penuh berkah ini –insyâ` Alloh-. Penuh berkah karena udaranya begitu harum dengan Kalâmullâh, dan penuh berkah lantaran di dalamnya sarat dengan petunjuk Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan nafas para ulama Rabbâniyîn serta fatwa-fatwa mereka yang benar lagi dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata : Kesemua hal yang ada di hadapan kita ini adalah sebuah peringatan bagi keadaan yang sebenarnya, kita sering mendengarkannya dan diperdengarkan kepada kita, kita hidup dengannya dan merisaukan kita. Bukan hanya merisaukan kita di dalam urusan dunia saja, namun juga merisaukan, mencemaskan dan menggelisahkan di dalam urusan agama kita, sama persis. Bahkan, untuk sampai menghukumi insiden dan kejadian yang terjadi dengan hukum yang benar dan diakui, wajib untuk membangun hukum ini di atas pondasi yang tepat dan diatas pendalilan yang bagus. Yaitu dengan ucapan Alloh dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana dikatakan oleh Imam adz-Dzahabî –semoga Alloh merahmatinya- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العلم قـال الله قـال رسولـه *** قال الصحابة ليس بالتمويه&lt;br /&gt;ما العلم نصبك للخلاف سفاهة *** بين الرسول وبين رأي فقيه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu itu adalah firman Alloh dan sabda Rasul-NYa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serta perkataan sahabat, bukan sekedar kamuflase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah ilmu bagimu, orang bodoh yang mempertentangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara (ucapan) Rasul dengan pendapat seorang ahli fikih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan peristiwa yang terjadi di Mesir, sebagaimana kita perhatikan pula yang terjadi baru-baru ini di Tunisia. Kita coba cermati juga peristiwa yang terjadi saat ini di Libanon, bahkan juga yang terjadi di Amman dan yang terjadi belum lama ini di Shan’a` (Yaman). Peristiwa demi peristiwa yang selalu up to date yang hampir saja umat kita ini tidak melewatkannya dan tidak mengetahuinya. Akan tetapi, sampai saat ini, kita selalu kehilangan kebebasan bersuara secara syar’i, untuk menghukumi suatu peristiwa dengan dalil-dalilnya, tidak  berdasarkan orang yang mengucapkannya, dan dengan hujjah-hujjahnya, tidak dengan implikasi yang berasal dari kejadian suatu peristiwa sebagai suatu hukum syar’i yang lebih dekat dengan kebenaran tanpa ada keraguan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering kita mendengarkan terminologi Fiqhul Wâqi’, yang dua kubu saling bergumul tentang terminologi ini. Kubu pertama adalah kubu para penyeru revolusi dan politisi yang sentimentil dan terlalu bersemangat. Mereka menjadikan fiqhul wâqi’ ini sebagai alasan untuk mengikuti berita-berita politik dan menelaah metoda-metoda jurnalis, di antara semua kejadian untuk membakar semangat revolusi dan membebaskan luapan perasaan yang tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kubu kedua adalah kubu para ulama robbâniyûn, yang memahami fiqhul wâqi’ di atas landasan syar’i. Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah pernah menyebutkan tidak hanya di dalam satu buku pada karya tulisnya. (Yaitu) yang pertama dari fiqhul wâqi’ itu adalah, tidak terbatas hanya pada masalah politik dan derivasinya saja. Namun sesungguhnya fiqhul wâqi’ itu adalah metoda untuk menggambarkan keadaan segala peristiwa, sehingga implikasinya adalah suatu kebenaran dan keadilan. Sama saja, baik peristiwa tersebut adalah perkara politik atau syar’iyah, ataupun bahkan perkara materi duniawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah kita memahami pengertian fiqhul wâqi’ secara syar’i, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama di dalam buku-buku terminologi (ishtilâh) yang mengandung pendapat, landasan dan terminologi mereka, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحكم على الشيء فرع عن تصوره&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menghukumi sesuatu hal itu adalah cabang dari gambaran realita keadaannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita dekatkan dua ungkapan (dari dua kubu) tersebut, dan kita ikuti makna yang benar di antara dua kalimat dan dua terminologi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami katakan : Fiqhul wâqi’ yaitu peristiwa yang menjadikanmu berada di atas batasan sikap yang benar. Apabila engkau tidak memahami wâqi’ (realita) ini dengan pemahaman yang benar, maka akan menyebabkanmu jauh dari kebenaran tersebut sebatas kurangnya pengetahuan dan pemahamanmu terhadapnya. Beginilah pengertian yang benar. Bukanlah makna fiqhul wâqi’ itu dipenuhi dengan luapan semangat dan tindakan revolusi, dan disempitkan maknanya hanya pada batasan politik dan pelakunya (politisi) saja. Bukan demikian keadaannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan, inilah pendahuluan lain dariku yang berisi ayat, hadits, atsar, kaidah fikih dan fatwa para ulama yang akan kusampaikan di majlis kita di malam yang penuh berkah ini –insyâ Alloh-, sebagai bagian dari firman Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لتبيننه للناس ولا تكتمونه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya” (QS Âli ‘Imrân : 187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan bagi yang ridha meridhainya, bagi yang marah silakan marah, yang mau menuduh silakan menuduh, yang ingin mencela silakan mencela dan yang ingin menghujat silakan menghujat. Karena sesungguhnya hubungan seorang hamba terhadap Rabb-nya adalah hubungan yang tinggi. Hendaknya kejujuran di dalamnya menjadi syiar dan penolongnya tanpa melihat orang yang menyelisihi atau menyetujuinya. Kiblatnya adalah mengharapkan wajah Alloh, dan cahaya hatinya adalah sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa ‘ala Âlihi wa Shohbihi wa man wâlahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dasar ayat al-Qur`ân adalah firman Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri).” (QS an-Nisâ` : 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh ucapan para ulama tafsir tentang ayat ini berkaitan dengan dua poin, yaitu poin pertama  bahwa urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak adalah termasuk problematika yang tidak boleh menyebarluaskan dan menyiarkannya kecuali dengan poin kedua, yaitu bahwa urusan ini adalah termasuk wewenang orang-orang khusus dari kalangan ahli ilmu dan ahli istinbâth (yang pandai menggali suatu hukum syar’i). Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam ath-Thohâwî, Imam Ibnu Taimiyah, Imam ath-Thobarî dan selain mereka dari kalangan para ulama bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الأمور العامة في الأمة لا يفتي فيها ولا يعطي الحكم بشأنها إلا أهل العلم الربانيون ، الذين جعلوا قبلتهم كتاب الله ، ومهجة قلوبهم سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Urusan yang berkaitan dengan hajat orang banyak di tengah umat ini, tidak boleh seorangpun berfatwa dan memberikan hukum tentangnya kecuali ulama robbâniyûn yang menjadikan kitâbullah sebagai kiblat mereka dan sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam sebagai cahaya hati mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya menginginkan kebaikan bagi umat ini, bukannya menginginkan suatu balasan dari mereka. Mereka menginginkan kebaikan, keistiqomahan, kebahagiaan dan keberhasilan bagi umat ini, bukan menginginkan suatu bagian dari dunia, sedikit maupun banyak. Ini adalah landasan pertama dan nash (dalil) yang kita kemukakan pertama kali penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dasar kedua adalah hadits yang diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim dari Abu Hurairoh –semoga Alloh Ta’âlâ meridhai beliau-  yang berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;العبادة في الهرج كهجرة إليّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haraj adalah (masa yang penuh dengan) pembunuhan, pencampuradukan, kegoncangan dan fitnah. Manusia di saat seperti ini, hati mereka menjadi tidak menentu, akal fikiran mereka menjadi bingung dan jiwa mereka tidak tentram. Ada diantara mereka yang pada keadaan seperti ini bergabung bersama dengan orang-orang rendahan yang menyebar ke seluruh penjuru tempat, tanpa dia sadari dan dia fahami. Karena fitnah ini menyebabkan dirinya tidak sadar dan terpukul hingga menyebabkan dirinya jatuh ke tempat yang rendah, dan dia tidak mampu menoleh ke tempat yang lebih tinggi dan lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan arahan dari Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, rasul Islam dan penghulunya anak keturunan Adam. Sebagai suatu bentuk pengajaran,  peringatan dan arahan ketika berada di suatu tempat yang penuh dengan fitnah, maka wajib untuk menyibukkan diri dengan amalan yang paling utama dan paling penting, yaitu beribadah kepada Rabb Tabâroka wa Ta’âlâ, satu-satunya sesembahan yang benar subhânahu fî ‘alâhu. Daripada menyibukkan diri dengan peristiwa fitnah, yang malah semakin menyebabkan seseorang semakin jauh dari Alloh dan memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan padahal masih ada hal yang memiliki keutamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan adalah suatu perkara yang lebih sulit, sedangkan meninggalkan hal yang lebih memiliki keutamaan adalah lebih mudah. Memalingkan dirinya kepada suatu hal yang diutamakan adalah jauh dari syariat Islam, dan menjauhkannya dari sesuatu yang memiliki keutamaan, maka hal ini adalah perkara yang diperintahkan oleh syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beribadah di masa sulit adalah seperti hijrah kepadaku”, yaitu tatkala setiap orang pada sibuk masing-masing dan melakukan perbuatan yang dikehendakinya, berkumpul sekehendak mereka dan mengobarkan revolusi semau mereka. Janganlah sampai perbuatan mereka ini mengalihkan perhatianmu dari agamamu, dari manhaj kitab suci tuhanmu dan dari sunnah nabimu Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nash al-Qur`ân dan hadits nabi, jangan sampai menjadikan kita mempersamakan antara kezhaliman dengan keadilan, atau antara kebenaran dan kebathilan. Namun hendaknya menjadikan kita mengikat cara pola pikir kita, dan cara kita memperbaiki kondisi ini. Bukannya malah menyebarkan hasutan yang malah semakin berimplikasi mendatangkan bencana dan malapetaka, dan musibah demi musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat yang bijaksana ini mengikat akal, hati, lisan dan amal perbuatan kita. Mengikat hal ini seluruhnya dengan hal yang lebih sesuai dan lebih layak secara sempurna dengan tabiat dasar manusia yang telah Alloh ciptakan. Dia- berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan dia adalah Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (QS al-Mulk : 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Halus dan Mengetahui apa yang terbaik bagi mereka. Baik itu jauhnya seorang manusia dari manhaj robbânî yang benar, atau jatuhnya seseorang kepada kehinaan, atau rancunya seseorang dengan kezhaliman dan kedustaan, semoga Alloh melindungi kita dan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat yang bijaksana ini, mengikat dua aspek yang dikira oleh sebagian orang bahwa kedua hal ini saling kontradiksi, padahal hakikatnya saling bersesuaian dan berpadu. Aspek pertama adalah, larangan syariat secara keras dari sikap memberontak (keluaran dari ketaatan) terhadap penguasa muslim. Ingat, yang kita bicarakan adalah penguasa muslim, kita tidak membicarakan penguasa yang memerangi hijâb, atau memerangi adzân, atau jenggot, ataupun bahkan yang memerangi Islam. Namun kita berbicara tentang seorang penguasa muslim, walapun dirinya menyelisihi sebagian perintah Alloh, atau ada pada dirinya sifat kefasikan dan kemaksiatan, namun hal ini tidaklah menyebabkan dirinya keluar dari lingkaran agama dengan kesepakatan ahlus sunnah. Ini adalah aspek pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kedua, adalah aspek yang dikira kontradiksi dengan aspek pertama. Yaitu seorang penguasa yang Anda berada di bawah kekuasaannya, Anda tidak wajib untuk mencintainya lantaran sebab penyelewengannya terhadap syariat Alloh. Dan ketidakcintaan Anda kepadanya bukanlah termasuk bentuk keluar dari ketaatan kepadanya, atau sebagai bentuk mengobarkan revolusi. Namun hal ini, masuk ke dalam konteks sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، ذلك أضعف الإيمان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila masih tidak mampu, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah aspek kedua yang telah kuisyaratkan, bahwa aspek ini selaras secara sempurna dengan aspek pertama tadi sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm dalam sabdanya. Dengarkanlah hadits nabi ini yang mulia ini, yang begitu menakjubkan, begitu agungnya, begitu indahnya dan begitu mulianya. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خير أمرائكم الذين تحبونهم ، ويحبونكم ، وتدعون لهم ، ويدعون لكم ، وشر أمرائكم…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik penguasa kalian, adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan kebaikan kepada mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan pada kalian. Sedangkan seburuk-buruk penguasa kalian…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah, walaupun mereka disebut sebagai “seburuk-buruk”, apa yang dikatakan oleh Nabi selanjutnya? Beliau mengatakan “penguasa kalian”, dengan menyandarkan kata “sejelek-jeleknya” ini kepada “penguasa kalian”. Seburuk-buruk penguasa kalian dengan adanya keburukan pada mereka dan kalian tidak mencintainya, namun kedua hal ini masih menjadikan mereka tetap berada di dalam lingkup Islam walaupun dengan kekurangan dan keburukan padanya. Hal ini tidak menyebabkannya keluar dari agama. Mereka tidaklah melarang umat dari sholat dan tidak pula memerangi hukum-hukum Islam. Mereka tetap berpegang secara umum dengan hukum-hukum Islam, karena itulah Rasulullah menyebut mereka dengan “penguasa kalian”, sehingga kekuasaan mereka kepada kalian adalah tetap adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutan hadits tersebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… وشر أمرائكم الذين لا تحبونهم ولا يحبونكم ، وتدعون عليهم ويدعون عليكم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan seburuk-buruk penguasa kalian adalah mereka yang tidak kalian cintai dan mereka tidak mencintai kalian. Kalian doakan mereka dengan keburukan dan merekapun juga mendoakan keburukan bagi kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan dhawâbith (koridor) di dalam beramal dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setiap aspek dari kedua aspek di atas ada tempatnya tersendiri, dan setiap bab dari kedua bab tersebut ada bagiannya tersendiri. Kita tidak boleh mencampuradukkannya, membuatnya rancu dan menyamarkannya, serta merubah tata letaknya tanpa dalil dan argumentasi, tanpa hujjah dan metoda. Ini adalah kebiasaan orang-orang rendahan. Adapun ahlus sunnah dan ahli ittibâ’ yang mengharapkan keselamatan, maka mereka senantiasa mengikatkan diri dengan hukum-hukum syariat, dan mengikatkan diri dengan landasan yang diperhatikan dan kaidah-kaidah fiqhiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang ketiga adalah sebuah atsar yang terdapat di dalam Shahîhain dari Syaqîq dari Usâmah bin Zaid. Beliau ditanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ألا تدخل على عثمان فتكلمه …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersediakah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara padanya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu di zaman yang di dalamnya penuh dengan fitnah, ujian dan malapetaka. Sebagian orang menghadap Usâmah dan meminta serta menuntut beliau agar mau berbicara dengan penguasa, dan ‘Utsmân adalah penguasa pada saat itu, agar perkara ini dilihat sebagai bagian dari amar ma’rûf nahî munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata kepadanya : “Bersediakah Anda menemui ‘Utsmân dan berbicara kepadanya?” Lantas Apa gerangan jawaban beliau? Beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أترون أين أكلمه إلا أسمعكم ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian menganggap bahwa jika aku berbicara dengan belau lantas aku harus memperdengarkannya kepada kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu, kalian menghendaki bahwa saya tidak boleh berbicara dengan beliau (‘Utsmân) melainkan saya harus memperdengarkan, atau mengabarkan, atau menceritakan atau menunjukkan kepada kalian secara jelas dan terang, ataupun dengan isyarat maupun tercatat?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perhatikanlah, bagaimana beliau membantah hal ini dengan bagusnya. Beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والله لقد كلمته فيما بيني وبينه من دون أن أفتح أمرا لا أحب أن أكون أول من فتحه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Alloh! Saya telah berbicara empat mata dengan beliau. Tanpa perlu saya membuka hal yang tidak saya senangi jika saya menjadi orang yang pertama kali membukanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah akhlak seorang sahabat, akhlaknya para salaf, akhlak umat yang terbaik. Ini adalah akhlak kaum mukminin generasi awal, yang berilmu, berpengetahuian dan memiliki kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan pertama tadi ayat al-Qur`ân, yang kedua adalah hadits dan yang ketiga adalah atsar dari para salaf yang shalih. Sekarang landasan keempat, yaitu kaidah fikih. Kaidah fikih ini berbeda dengan kaidah ushul fikih. Kaidah fikih itu lebih berkaitan dengan urusan kaum muslimin di dalam aktivitas kehidupannya dan kejadian pada umumnya. Sedangkan kaidah ushul fikih itu lebih dekat dengan akal dan pemahaman para ulama, di dalam memahami dan menggali hukum dari nash. Adapun kaidah fikih, sesungguhnya landasan dasarnya digali dari keumuman kaidah-kaidah syar’iyah atau dalil-dalil syar’i, baik di dalam Kitabullah maupun di dalam sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah mendasar yang telah disepakati oleh para ulama yang kredibel di dalam memahami syariat dan pondasinya yang kokoh adalah kaidah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;درء المفاسد مقدم على جلب المصالح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil maslahat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah ini termasuk kaidah fikih yang independen lagi luas maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kaidah lain yang melekat pada kaidah pertama ini, yang memiliki konteks yang serupa, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن ارتكاب أخف الضررين هو الأصل دفعا لأكبرهما&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mengambil keburukan yang teringan dari dua keburukan, adalah landasan untuk menolak keburukan yang lebih besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada dua keburukan di hadapan kita, dan mau tidak mau kita harus memilih salah satunya dan tidak ada pilihan lain bagi kita. Lantas bagaimana perbuatan yang benar? Yang benar adalah kita memilih yang paling ringan keburukannya dan menolak yang paling besar keburukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Bersambung –insyâ Alloh-]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihbahasakan dari Muntadayat Kullas Salafiyin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1501720745430901444-1270977195054627647?l=ahndiyaz.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/feeds/1270977195054627647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/nasihat-ulama-tentang-tragedi-mesir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1270977195054627647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1501720745430901444/posts/default/1270977195054627647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahndiyaz.blogspot.com/2011/02/nasihat-ulama-tentang-tragedi-mesir.html' title='Nasihat Ulama&apos; tentang Tragedi Mesir Saat ini'/><author><name>Andi Abu Hanif Almasarani</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/SpDachxQa0I/AAAAAAAAAOc/mmBx669ZW1s/S220/images.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kay1WM9Tw4s/TU34sq-Nz-I/AAAAAAAAAVA/JAUFUjmrGfs/s72-c/kerusuhan_mesir_bontangkreatif_5_jpg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1501720745430901444.post-5251131373053540791</id><published>2011-02-05T15:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-05T15:58:55.159-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Firqah'/><title type='text'>Batalkah wdhu karena bersentuhan dengan istri?</title><content type='html'>Bagaimana hukum bersentuhan dengan isteri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;Maulana&lt;br /&gt;Bandar Lampung&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini sehingga terpolar menjadi berbagai pendapat yang cukup banyak. (Lihat Al-Majmu’ 2/34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja:&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Pendapat Pertama: Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berhujjah dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.&lt;br /&gt;أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ&lt;br /&gt;Atau kamu telah berjima’ dengan istri. (QS. An-Nisa’: 43).&lt;br /&gt;Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat Al-Umm 1/30 oleh Imam Syafi’i dan Al-Majmu’ 2/35 oleh Imam Nawawi).&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Pendapat Kedua: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:&lt;br /&gt;• Dalil Pertama: &lt;br /&gt;Asal wudhu seorang adalah suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya, sedangkan hal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi n akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/235).&lt;br /&gt;• Dalil Kedua:&lt;br /&gt;Dari Aisyah d bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah: 323. Lihat pembelaan hadits ini secara luas dalam At-Tamhid 8/504 Ibnu Abdil Barr dan Syarh Tirmidzi 1/135-138 Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh Al-Allamah As-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Nasa’i 1/104.&lt;br /&gt;• Dalil Ketiga:&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallah
